Oops, she did it again!

Saya tau kalau anak-anak yang umurnya di bawah 5 tahun itu ya kerjaannya main-main. Saya paham kalau di usianya sekarang ini, si Embun lagi senang-senangnya eksplorasi.

Tapi…

Ya kalau udah dikasitau, jelas-jelas, baik-baik, dan sudah bilang iya akan turut kesepakatan yang dibuat bersama, maunya kan tepat janji, ya.

embun potong rambut

Jadi, ceritanya anak gadis tersayang ini kan poninya udah cukup panjang ya. Sudah hampir menutupi alis, dan mulai bikin risih. Dia minta dirapikan rambutnya, saya menyetujui, dan kemudian terjadilah percakapan ini:

Saya : Poninya mau dipotong?
Dia.. : Iya, udah nutup mata.
Saya : Rambutnya mau dirapikan sekalian atau poni aja?
Dia.. : Boleh, rambut juga boleh.
Saya : Kalau gitu nanti kita ke salon, ya. Biar sekaligus cantik.
Dia.. : Oke. Thanks Mom!

Kalau dibaca dan ditilik-tilik dari percakapannya sih, keliatan anaknya udah setuju banget, ya.

Tapi ya, ternyata pas saya balik ke rumah malamnya, nemu Embun, poninya udah kepotong pendek dan awur-awuran. Saya langsung nebak, mesti ini anak motong rambutnya sendiri deh, kayak waktu dulu itu.

Tarik napas panjaaaaaangg….
Lalu bicara dengan dia.

Saya : Kamu rambutnya kenapa?
Dia.. : Trus dia pasang tampang kaya di atas itu lho, tampang melas, minta dikasihani gitu. Ndak penting banget, sumpah. hahaha.
Saya : Lha, kenapa? Aku kan tanya.
Dia.. :  Aku potong, waktu sama Ghaitsa (sepupunya).
Saya : Tapi kemarin kita janji mau ke salon sama-sama?
Dia.. : Iya, tapi kan rambutnya udah panjang. Trus ada gunting. Trus dipotong rambutnya.

Saya ya ndak mau marah. Percuma juga mau marah, ndak ada gunanya.

Kalau marah:
1. Rambutnya tetap akan begitu bentuknya, ga berubah.
2. Saya menyesal setelah marah-marah.
3. Anak saya patah hati dimarahi.
4. Masalahnya ndak ketemu solusi.

Ini bukan cuma soal rambut. Kebetulan aja kali ini ketemunya di persoalan rambut. Saya pingin sekali si Embun belajar menepati janji dari kecil, patuh pada kesepakatan awal, dan bicara kalau di tengah-tengah kesepakatan dia punya pendapat lain.

Boleh banget dia kemukakan pendapatnya, lalu kita bicarakan lagi baik-baik. Bisa jadi, pendapatnya dia lebih OK untuk diterapkan waktu itu, kan?

Namanya manusia itu bisa berubah. Malahan gampang sekali berubah. Segampang waktu Embun ketemu gunting, dan tetiba memutuskan membabat rambutnya. Semudah dapet telepon dari mantan kemudian memutuskan putus dengan pacar yang sekarang.

Ya gitu deh.

Namanya juga hidup.

/salam gunting.

6 thoughts on “Oops, she did it again!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *