Pada Indrayanti, Aku Kan Kembali

Ombak malas menjilati kaki saya, angin bertiup sepoi saja.

Puluhan orang bermain di ujung pantai sebelah kanan, puluhan lainnya sibuk berfoto pada karang besar di ujung sebelah kiri. Beberapa dari mereka duduk saja, dan sisanya seperti saya, berdiri tepat di pinggiran pantai berharap ombak sudi memandikan kaki.

Beberapa saat kemudian, ombak masih saja enggan. Lalu, teringat beberapa waktu ke belakang.

Pernah, dalam satu masa, ombak akrab dalam kehidupan saya. Bersetubuh dengan ombak, bercinta dengan kesatnya rasa garam pada kulit, menikmati lautan sendirian. Kemarin, saya hanya menikmati saja, kadang keindahan akan terlihat kalau kita menjaga jarak, bukan?

Langkah saya ayunkan mundur, angin bertiup, sedikit.

Pasir lembek, kaki saya tertanam, saya angkat pelan, ringan. Pelan saya pijakkan kaki kembali, dan lagi, kaki saya tertanam. Dalam keadaan begini, betapa inginnya saya punya ilmu meringankan tubuh, menapaki pasir serupa pelari sprint. Kencang.

Indrayanti, nama pantai ini. Saya berpikir, tidakkah para lelaki teringat pada perempuan pada masa lampau, perempuan khayalan, atau malahan perempuan di pelukan saat nama pantai ini didengungkan.

Pantai ini “cukup” saja, persis seperti pasangan dambaan. Tidak berlebihan. Ada ombak, angin, pasir bersih, pemandangan indah, karang kokoh, tempat bermalam, dan obat dahaga.

Tak ingin teringat kamu, tapi otak saya durhaka.

Kemudian ada khayal, betapa indahnya jika kita berbaring berdua di pasir itu, bergenggaman tangan, diam. Lalu sesekali kecupan ringan kamu jatuhkan di rambut, pipi, dahi, hidung, telinga.. ahh..

Indrayanti, pantai mungil di selatan Yogyakarta sukses membuat saya melamunkan yang nggak-nggak. Ini itu, ini itu… Pantai ini magis, saya pasti betah duduk berjam di pasirnya.

Pantai di Gunungkidul, Yogyakarta, ini kontroversial, namanya diambil dari nama istri pemilik restoran di lingkungan pantai, pun pantai ini masih ikelola masyarakat sekitar. Pemerintah daerah sampai sekarang tidak mengakui nama pantai bikin-bikinan itu.  Nama pantainya Pulang Syawal, demikian mereka bersabda.

Saya, entah mengapa tak peduli dengan nama yang dipasangkan pada pantai. Pantai ini bersih, ramah pengunjung, tidak ada sampah, ada fasilitas umum, makanan laut enak bergizi tinggi, dan aman. Itu yang penting, dan itu yang akan saya kenang, saya jadikan oleh-oleh.

Kesan saya pada pantai ini begitu baik, yang demikian yang penting, bukan?

/salam ombak

Catatan :

Untuk menuju ke lokasi, kamu bisa baca petunjuk yang sepertinya cukup detail di tulisan ini. Kebetulan kemarin saya dan puluhan teman lainnya dari Jelajah Gizi menuju lokasi dengan bus besar yang super nyaman, jadi saya terkantuk sepanjang perjalanan, lalu hap, tiba di lokasi. Demikian adanya, semoga dimaklumi.

One thought on “Pada Indrayanti, Aku Kan Kembali”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *