Pada Kristus

Waktu itu sudah malam, kurang lebih sama malamnya dengan sekarang. Gereja pada malam perayaan kelahiran Kristus ramai sekali. Aku sengaja datang karena ada beberapa hal yang mengganggu pikiran.

Duduk diam di bangku Katedral, aku menunggu semua riuh hilang. Usai misa, pelan-pelan ruangan mulai lapang, dan aku punya beberapa menit sendirian. Maka, kudekati altar, kuluruskan pandangan, dan padamu yang berdiam di sana, kugumamkan pertanyaan yang terus-menerus bergolak di otak.

Apakah hati yang sebagian besarnya sudah kuserahkan, baiknya kubiarkan atau kujemput pulang?

Sungguh ini bukan perkara gampang untukku.
Rinduku sudah menganyam demikian panjang.
Hatiku sudah tenggelam demikian dalam.

Ahh, di depanmu air mataku menitik satu.
Tapi kau pasti tahu, sakit di dadaku ada seribu.

Kristus, aku terduduk di pinggir pagarmu.
Menyentuhkan lutut pada lantai.
Menyatukan tangan dalam permohonan.
Menanti jawaban untuk risau yang kupanggul sejak lama.

Untuk kau tahu, setelah sedemikian lama menunggu,
aku tetap membuka telingaku lebar-lebar.
Menunggumu berkenan membisikkan nama obat,
untuk rasa sakit yang demikian tajam.

/ode rindu nomor 91

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *