Pada Satu Masa

Ingatkah kau saat itu.
Waktu aku datang, lalu teriak lantang di depan wajahmu.
“Aku mau kamu, untuk aku!”

Lalu kau diam, terhenyak, bingung.
Berpikir beberapa saat sebelum mampu menjawab.
“Ada orang yang aku tunggu.”

Kali ini, giliranku terdiam. Mulutku terkatup.
Tapi otakku berdenyut cepat, memikirkan seribu satu kemungkinan, dan lekas mengambil satu keputusan.
“Aku mau jadi yang kedua.”

Kau sandarkan tubuhmu ke dinding.
Menghela napas berat. Susah sekali tampaknya mengeluarkan kata untuk menghentikan niatku.
“Kamu keras kepala. Jadi yang kedua tak enak. Jangan memaksa.”

Aku, menyodorkan wajahku semakin dekat. Memelototi matamu lekat. Tanganmu aku genggam erat, dan aku berkata.
“Aku tak peduli.”

Pada satu masa, cinta ini mesti diperjuangkan.
Pada satu masa, ada kesakitan dalam senyumku,
dan aku rela.

Pada satu masa, aku mencintaimu begitu rupa.
Pada masa ini, aku masih mencintaimu seakan segalanya.
Masa depan akan tetap demikian.
Percayalah.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day19

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *