Kamu Siapa?

Kamu.
Ya, Kamu.
Mengganggu mata kemarin. Di metromini.

Debar jantung bersahutan, mata enggan tenang.
Lengan diharap sempat menyatu saat bus rombeng mendadak diam.
Badan dipasang melayang, berharap ditopang lengan idaman

Ahh, kamu.
Ya, Kamu.
Buat otakku buntu.

“halte.. halte…” kondektur berteriak.

Aku? Enggan melangkah.
Terpaksa hanya melepaskan sepandang kilas.
Hanya riap rambut panjang yang terlihat.

Kamu.
Ya, Kamu. Lelaki misterius di bus kota.
Kamu siapa?

Kau Rindukan ku?

Kau rindukanku kah? Saat malam mulai gelap dan ranjangmu tak lagi hangat.
Kau rindukanku kah? Saat ratusan lengan terpaut dan lenganmu kosong tak bergayut.
Kau rindukanku kah? Saat bibir lama tak memagut, saat kemaluanmu berdenyut.
Bulan sembunyi
Lengan sendiri
Bibir terkatup
Aku, sangat merindukanmu. Saat ini.
Saat malam sudah gelap, dan ranjangku mulai kusut.
Saat lengan dan telapakku didekap
Saat bibirku berpagut dan mulutku melenguh ribut.

Kau rindukanku kah?
Seperti mata pada cahaya.
Seperti  perampok pada bahaya.

Penting untukku jawabmu, meringankan beban, untuk ketololan.
Bukan, bukan hendak kembali padamu!
Hanya saja baik bagiku bila kau berkata ya.
Supaya aku bisa mati bahagia.

/kuningan, 3/10

Rantai Retak

 

Selama ini, Kujeritkan namamu, kurantai kakimu, kubatasi mimpimu, kututup telingamu.
Aku ingin, kau hanya berputar-putar disekitarku.

Selama ini, kuperiksa mulutmu, kudengarkan igaumu.
Aku ingin, hanya namaku yang kau desahkan.

Meski begitu, sekuat apapun usahaku, aku tahu, suatu saat kau akan sadar rugimu bersamaku.

Saat malam menjelang, genggaman tangan merenggang, yang kau sisakan hanya senyum dan ratusan pesan yang mengawang.

Pergilah! Kau kurelakan, dan jangan khawatirkan posisimu.
Kau yang terakhir, dan yang lain akan diusir.

Aku, Kau, masih ada disini sekarang.
Harapku, semoga sadarmu tak lekas datang.

/menjelang tanggal keramat ke-72. #2

Setengah Hati

Kau mencintaiku? Aku tahu. Tapi seberapa besar? Aku tak tahu.

Setahuku, saat mengunyah cintamu, aku harus berbagi dengan ratusan mimpi di otakmu dan janji yang diucapkan mulutmu.

Saat lelapmu, dunia lain datang merenggut.
Meninggalkanku sendirian yang masih nyalang menatap malam.

Kala lain, memang ada kulit bibir menempel, ada kulit tubuh menggesek, jemari menali.
Saat itu, ragamu memang bersamaku, tapi aku hampir yakin hanya setengah hatimu saja yang kau sisakan untukku…

Tak Rela

Hai kamu yang kunamai rintik.
Apa kabarmu?
Kemarin, burung puyuh membisikiku. Katanya, kau tak kan lagi mengemis cinta dikakiku.
Benarkah itu?

Hai kamu yang kunamai rintik.
Tahukah kamu, terasa ada lubang di dadaku. Tepat di hatiku!
Setelah sekian lama kau merinduiku?

Hai kamu yang kunamai rintik.
Aku berduka, bukan karena aku cinta.
Tapi karena aku tak rela, kehilangan seorang hamba.

Hilang

alone

Pagi tadi, sama seperti pagi-pagi kemarin dan kemarinnya lagi. Terasa lelah, padahal tak terdengar pekik perintah.

Siang tadi, sama dengan siang kemarin.
Suara Tawa membahana, terdengar desis tangan bekerja, ribut kaki melangkah.. tik..tuk..tik..tuk..
Aku? Kosong saja.

Malam ini, sama seperti malam-malam kemarin.
Raga dalam perjalanan pulang..

Jiwa?

Sudah seminggu menghilang.

/ode di perut sepur malang.

Senja Buta

Love (Two red hearts)

Dada berdebar, rasa bergetar, bibir gemetar,

Harap datang perlahan, dimulai dari bilik-bilik kecil di notebook kesayangan

Percakapan sambil lalu, percakapan sebelum lelap, percakapan adiktif.

Senyum-senyum tiap pagi.

Lantas, pada satu malam, lelaki di ujung sana berkata tak bisa lagi menemaninya mewarnai bilik-bilik mimpi, padahal di seberangnya, ada yang mulai bersemi

Lekas ditimbun dengan berton-ton tanah, sambil merapal mantra “aku baik-baik saja”

Tapi, mantra agaknya tak kuat bertahan lama

Seseorang dari negeri peri, memberinya sapu terbang, sapu itu akan berhenti di negeri yang pernah terpisah dinding.
Negeri itu, kebetulan dekat dengan negeri si lelaki.

Dan, terulang lagi

Dada berdebar, rasa bergetar, bibir gemetar.

/ gadis malang yang bimbang.

aksara mencari cinta

mencari cinta

Aksara berarak, berjalan pelan, membuka buku, mencari petunjuk.lantas lihat kiri, lihat kanan, diam-diam membentuk kata,

Tapi bentukan tak selesai sepenuhnya, ada yang kurang, terasa timpang.

Aksara kembali berjalan lagi, kali ini ada yang membisiki, katanya kali ini harus lebih cepat, aksara nunut, tak peduli meski langkahnya menyakiti.

Toh, aksara merasa belum mampu membentuk kata, “sedikit lagi” katanya, meminta pengertian pada semua.

Kali lain, ada yang menyikut. Bilang kalau aksara harus ngebut. Serupa motor, aksara pasang gigi empat. Dia berharap bisa jalan lebih cepat.

Tapi perjalanan malah tersendat, karena aksara banyak nabrak. Aksara mesti banyak berhenti untuk minta maaf pada orang-orang yang mengumpat.

Aksara bingung, terduduk sendirian, meratap. Dia telah mencoba banyak jalan, semestinya salah satu diantaranya berhasil bukan?

Belakangan, setelah diam sejenak, aksara menyadari.  Jalan pelan, bergegas, hingga menjatuhkan orang tak akan ada guna.

Karena, tak ada rumus sempurna, untuk membentuk kata cinta.

/re

Bom Bunuh Diri

Ada istri, yang suaminya pergi.
Dia pikir, suaminya bekerja merangkai melati untuk dia dan si buah hati.

Ada dua putra dan putri, yang ayahnya pamit kemarin pagi.
Mereka pikir, ayahnya akan kembali, seperti hari-hari yang sudah mereka lewati.

Tak pernah mereka bermimpi, suami dan ayah tercinta sibuk mempersiapkan bom bunuh diri.
Ayah mereka yakin, bom sama dengan jihad di jalan Ilahi.

Kemudian, kotak segiempat di rumah mereka tak henti bernyanyi. Katanya ada bom yang meledak di dua tempat penginapan bergengsi.

Sembilan Mati.
Ayah mereka dicari.

Istri dan rombongan dengan senyum peri itu terus menanti, tak percaya akan kata yang membuat sakit hati.
Mereka, menutup telinga kanan dan kiri.

Selarik doa dipanjatkan saban hari. Memohon Ilahi menjaga lelaki yang dikasihi.

Tapi, jantung serasa berhenti.
Saat tahu,
ayah mereka,
ditembaki polisi, dan
Tak akan pernah kembali.

/untuk Ibrohim dan keyakinannya.

Karena ingatan itu pendek dan kenangan itu abadi