Ketinggalan

Malam mulai menghitam. Jemarinya melingkari pinggang, kumisnya menggesek punggung, matanya memandang jalang.

Kaki perlahan melayang, selendang mengikat dua badan. Serupa lembu melenguh kenikmatan.

Perlahan dibawanya menjejak daratan, mata terbuka, seperti baru datang dari negeri khayalan, pincang.

Ada yang tertinggal di negeri impian, entah apa.

/kuningan

Penjaga Uang

boxSekali satu bulan jadi penjaga uang, tugasnya membayar semua hutang, membiayai semua pengeluaran dan berusaha menambah tabungan.

Sekali satu bulan jadi penjaga uang, hati senang bukan kepalang, hati bimbang bukan kepalang, lantas jadi risau bukan kepalang.

Sekali satu bulan jadi penjaga uang, mata membesar, tangan dan kaki membesar, terakhir kepala yang membesar. Pusing!

Sekali satu bulan jadi penjaga uang, ingin menyenangkan kanan, ingin menyenangkan kiri, ingin menyenangkan depan, juga ingin menyenangkan belakang.

Sekali satu bulan jadi penjaga uang, menurutkan semua kemauan, memilih-milih kemauan, membentak kemauan.

Sekali satu bulan jadi penjaga uang. Angguk-angguk, angguk-geleng, geleng-geleng.

Sekali satu bulan jadi penjaga uang.
Riang,
diam,
sinting!

Dua Jantan di Pagi Hari

Menengok jantan-jantan di kereta api super cepat tadi pagi.
Berbaju rapi, sepatu cling hingga bisa dibuat mematut pipi, tas tenteng hitam, coklat, biru, dan tentu saja wangi

Disampingku ada dua jantan lagi, tampan.. ahh rezeki..

Tapi, di dadanya kulihat ada jemari mengelilingi.
Kutelusuri sambil sembunyi, rupanya itu milik si jantan tampan yang satu lagi.

Mereka, berpeluk di pagi hari.  Aku iri.mereka

Pamit

62

Tiba-tiba proses klik kanan-klik kiri pada portal intranet kantor-yang biasanya menyebalkan karena masalah koneksi lelet- jadi mengharukan.

Tiba-tiba proses menghabiskan nasi kotak, ransum terakhir-yang biasanya dicaci karena pemilihan menunya yang gak nyambung dan membosankan-jadi sama mengharukannya.

Tiba-tiba, pelukan.

Kawan, aku pamit..

/setelah persis 3 tahun 1 bulan di “rumah” itu

Puisi Perpisahan

Sahabat, waktu telah mengantarkan kita pada satu titik pemahaman
bahwa di dunia ini tak ada yg abadi

Kini saatnya kita harus berjalan sendiri
Melangkah mengikuti takdir yang telah tergariskan
Dalam ruang dan waktu yang berbeda
Ketika kebersamaan menjadi langka
Ketika canda tawa begitu berharga

Sahabat, semoga waktu tak membuat kita lupa
Bahwa kita pernah ada
Pernah punya cerita
Sahabat, abadilah tercipta lebih dari cinta

/puisi perpisahan dari Danni, pustakawan Tempo yang baik hati..