Pendidikan, Dalam Ingatan Saya

Cerita tentang pendidikan, tak akan ada habisnya. Setiap orang punya argumentasi masing-masing. Bisa berbeda, atau sangat berbeda.  Bisa mirip, ataupun serupa.

Keluarga suami saya, misalnya, menganggap pendidikan berbasis pesantren adalah pendidikan yang paling baik. Si murid ditempa sejak pagi hingga pagi lagi, berbulan, lalu bertahun lamanya. Bukan cuma pelajaran dasar yang nantinya akan dijadikan bahan ujian, tetapi juga pendidikan akhlak, pendidikan agama. Lulusan pesantren, diharapkan bukan hanya pintar tetapi juga baik perangai dan tingkah lakunya.

Lain lagi dengan keluarga saya, kami menganggap pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bisa mengantarkan si muridnya mendapatkan pekerjaan, selekas mungkin. Kalau bisa, hari ini diwisuda, besoknya sudah masuk kerja. Pendidikan yang jadi pilihan adalah pendidikan kejuruan. “Percuma sekolah tinggi kalau otaknya tidak mampu, lebih baik masuk sekolah kejuruan, bisa langsung cari kerja,” demikian ibu saya bertutur.

Kehendak ibu saya, kebetulan tidak berlaku mutlak untuk saya. Saya, pada saat itu dianggap rajin belajar dan diramalkan memiliki masa depan cerah. Masa depan cerah dalam pikiran ibu saya adalah “karyawan bank atau pegawai negeri sipil”. Karena dirasa pintar, saya dibebaskan memilih sekolah, jurusan, dan kampus untuk kuliah.

Pendidikan yang selama ini saya kenal adalah pendidikannya sekolah negeri. Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Umum, dan Universitas saya habiskan di lembaga bersubsidi. Biaya pendidikan yang murah menjadi pertimbangan orangtua saya saat memilih sekolah untuk anaknya.

Apa yang saya ingat dari sekolah? Hampir tidak ada, kecuali ejekan serupa bullying dan pukulan maut penggarisnya papan tulis saat SD, coret-coretan cinta monyet saat SMP, dan belajar mati-matian supaya bisa masuk universitas negeri saat SMU.

Kenangan manis mungkin pernah mampir dalam hidup saya. Sayangnya kenangan tersebut tidak tinggal lama, dan terlupa sama sekali. Sekolah sama sekali tidak menyenangkan. Isi sekolah kebanyakan adalah hapalan, PR, hukuman, upacara, dan bersih-bersih kelas. Sekolah sama sekali, tidak menyenangkan. Pendidikan dalam ingatan saya adalah tekanan, hukuman, dan cara mudah untuk keluar dari rumah (tanpa terlihat nakal).

Pendidikan dalam ingatan saya adalah, duduk manis, diam rapi, tanpa suara, mendengarkan guru berbicara sekian menit, lalu mengeluarkan buku latihan. Mengerjakan tugas latihan sekian menit, lalu membawa pulang pekerjaan rumah sekian halaman. Ekspresi tidaklah haram, tetapi tidak berekspresi akan lebih baik.

Pintar atau tidaknya murid, akan dinilai dari daftar hadir, tata krama saat di sekolah, nilai latihan soal, nilai ulangan harian, dan nilai ulangan umum. Jadikan satu, jika sempurna, maka akan jadi murid idola. Semakin murid tidak menyusahkan, akan semakin baik nilainya di mata guru.

Sekolah memang menyediakan sarana menghabiskan energi muda lewat ekstrakurikuler. Tetapi apalah artinya pandai main basket/juara cheerleaders kalau nilai sekolahnya lima? 😀

To Be, or Not To Be, pilihan yang harus diambil pelajar manapun. Dedikasikan waktu untuk belajar sepenuh hatimu, usah hiraukan gejolak masa muda dan ribuan pertanyaan yang datang. Cukup ambil buku pelajaran dan hapalkan, atau latihan mengerjakan soal sebanyak mungkin. Saat masuk ujian universitas, kamu tidak akan ditanya “Apa cita-citamu,” tetapi “Kerjakan soal No 1-40, waktu 90 menit”.

Entah memang hanya di sekolah saya, atau se-Indonesia, saya kurang tau juga.

Jadi, pendidikan seperti apa sih yang saya harapkan? Pendidikan yang membebaskan, memberi keleluasaan bagi muridnya untuk memilih, jalan mana yang akan dia tapaki nanti. Entah itu jalan menari, jalan melukis, jalan laboratorium, jalan pidato, ataupun jalan lainnya. Saya pikir, sudah selesai masanya semua murid harus serupa pintar semua mata pelajaran.

Sekolah dan orangtua harusnya bisa menjadi fasilitator, berikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang, menemukan minat sejak dini, supaya ketika nanti kembangnya mekar, si murid tidak lagi bertanya, “mau jadi apa saya ini.”

Apakah, saya muluk-muluk?

Ketika Rasa Aman, Dongeng Belaka

Berita seliwar-seliwer di twitter, ada berita baik, ada pula berita buruk. Entah kenapa yang nyantol kuat di otak saya adalah berita buruk. Salah satunya adalah penodongan di Jalan Sudirman. Dua-Tiga tahun lalu, saya pernah kecopetan. di kopaja 502 dari arah tanah abang.

Sama sekali tak terlintas di pikiran, kalau saya menjadi incaran pencopet. Saat itu saya duduk di bangku panjang, paling belakang. Lalu dua lelaki naik dari sekitaran Tugu Tani, tak lama kemudian. Saya sesekali mengambil handphone untuk membalas sms yang masuk. Setelahnya handphone saya masukkan kembali ke tas.

Tujuan saya sudah dekat, saya pun berdiri, mendekat ke pintu. Dua lelaki yang naik belakangan ikut berdiri di belakang saya. Lalu, persis saat turun, saat saya memindahkan tangan dari tas dan berpegangan ke pintu kopaja, saat itu pula si copet beraksi.

Dua kaki saya jejakkan ke trotoar, dan perasaan saya tidak enak. Mata tetiba melirik ke tas, dan owalaaa, sudah terbuka dia, saudara-saudara. Kopaja masih jalan pelan usai saya turun, saya berteriak meminta kopaja berhenti. Sekejap berhenti, si kopaja meraung, kabur secepatnya.

Bajaj yang lewat saya teriaki, saya menumpang bajaj, mengejar kopaja, dan sudah pasti, tentu saja bajajnya kalah. 🙁

Paska pencopetan, sampai berbulan kemudian, saya tidak berani menggunakan kopaja lagi. Terpaksa menambah anggaran transportasi untuk ojek.

Pencopetan itu meninggalkan bekas yang cukup dalam di hati dan pikiran saya. Bukan masalah handphone yang hilang, tapi rasa aman yang menguap bersama si handphone itu. Saya yang biasanya berani menyapa teman seperjalanan-sebangku di angkutan, kini duduk diam, memandang curiga pada setiap orang.

Pegangan pada tas makin saya kuatkan, saya sanggup menahan kantuk, menjaga mata nyalang selama perjalanan. Jika tidak benar-benar diperlukan, handphone, dompet dan barang berharga lainnya tidak saya keluarkan. Siapkan uang sekedarnya untuk ongkos.

Lelah, dua kali lelah. Lelah menghabiskan waktu di perjalanan, dan lelah pula mencurigai setiap orang di sekitaran.

Berita penodongan itu menguak kembali rasa takut saya. Dalam seminggu ini, tiga hari saya keluar rumah, dan tiga hari pula saya gemetar, ketakutan. Saya kebingungan, harus memilih angkot yang sepi, atau angkot yang ramai. Saya memandangi tangan-tangan di metromini, saya lelah.

Rasa aman, cuma dongeng, buat saya.

/salam

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (kecil)

Kecelakaan bisa terjadi dimana dan kapan saja. Tidak bisa diramalkan datangnya, tetapi kadang bisa “dirasakan” baunya.  Misalnya begini, saat mengupas bawang di dapur, sempat terlintas pikiran, “aduh pisaunya harus segera dicuci nih”. Namun, saya terlupa, dan tak lama kemudian tangan tersayat pisau yang tergeletak sembarangan di bak cuci.

Contoh lainnya : Saat sedang bermain bersana anak di kasur, lompat sana lompat sini. Lalu terpikir, “ini kok lompatnya makin lama makin ke pinggir, bahaya nih”. Belum sempat memindahkan badan ke tengah kasur, si bayi sudah keburu jatuh kepentok lantai. Tinggal saya, terduduk menyesal.

Kejadian paling anyar, baru saja terjadi Senin kemarin. Kakak ipar harus tugas ke luar kota, dan saya diminta tolong mengasuh anak-anaknya. Tidak cuma mengasuh, saya berinisiatif membereskan sebagian barang yang berserakan di meja dan tempat tidur. Melipat sebagian kain, dan memasukkannya ke lemari.

Pintu lemari sebelah kanan saya buka, kurang puas, lalu saya membuka lagi pintu sebelahnya. “Brak” Pintu lemari dari jati yang bukan main beratnya itu, jatuh ke lantai. Lah ternyata pintu itu memang sudah lepas dari engsel, dan si kakak lupa memberitahu saya.

Tak tahan melihat pintu terduduk di lantai, saya angkat kembali dan saya tempelkan ke lemari. Tidak nempel engsel tak apa-apa, asal tidak terlihat “lepas”. Percobaan pertama, percobaan kedua, percobaan ketiga, dan gagal. Si Pintu tak mau nempel lemari, malah ngglosor ke lantai. Percobaan keempat, dan aaaakkkkkkk, si pintu sukses menumbuk jempol kaki saya. Dan, berdarah saudara-saudara! Sakitnya ampun, saya sempat pitam (pandangan menghitam, mengabur, menghilang), lemas, pucat, dan berkeringat dingin.

Antara sadar dan tidak, saya browsing “pertolongan pertama pada kecelakaan”, sayangnya entah karena saya masih pusing atau query-nya kurang pas, saya tidak menemukan apa yang saya cari. Beberapa teman menyarankan mengompres jempol dengan air es, untuk menyamankan sakit.

Tentu saja saya lakukan. Apapun saya lakukan agar nyut-nyut jempol ini berhenti. Demikian.

luka tepat di batas atas kuku

Karena saya memang pada dasarnya penakut (beberapa orang akan menyebutnya lebay/berlebihan), saya ke dokter umum. Saya kuatir kukunya infeksi/harus dicabut/ada gangguan lain (iya, saya memang suka mikir “macem-macem”).

Dokternya memberitahu saya, tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyamankan luka tertimpa pada hari pertama. Alasannya, tidak terlihat perubahan apapun pada kaki. Pengobatan hanya dilakukan jika terbukti terjadi infeksi, ciri-cirinya lebam melebar. Saya hanya diminta mengompres kaki dengan es (lagi-lagi kompres, kan?) agar sakitnya berkurang.

JADI INGA-INGA : KALAU TERTIMPA BARANG, SEGERA KOMPRES DENGAN ES. 

Dokter mengingatkan, kemungkinan kuku yang tumbuh akan bergelombang (acakadut) karena posisi tertimpanya persis di ujung kuku (tempat tumbuhnya kuku). Observasi harus terus dilakukan, terutama jika sakitnya menghebat dan mengganggu aktivitas.

Bagusnya adalah, kaki saya sudah jauh berkurang sakitnya, 🙂

tidak bagusnya adalah, jari manis tangan kiri saya nampaknya keseleo 🙁

/salam (sakit) tak abis-abis.

Flu Singapura aka Hand Foot Mouth Disease (HFMD)

Bayi, mulai lahir sampai usia 5 tahun, kata-katanya memang gampang sakit. Batuk, pilek, demam, meler, diare, muntah, itu biasa. Tapi, biar sudah seribu kali saya membaca, tetap saja saya akan risau bin galau saat si bayi tergeletak tak berdaya, meracau tak henti, tak mau lepas-nempel di bahu saya bak lem.

Saya patah hati.

Kronologisnya begini, Senin siang saya mengajak serta si bayi ke rumah sakit, menemani bapaknya yang harus rontgen kaki, konsultasi dokter+fisioterapi. Bapaknya si bayi pertengahan bulan lalu kecelakaan, dan kakinya patah. Sudah operasi dan pasang pen sementara, menunggu tulang yang patah menyatu kembali.

Saat menunggui bapaknya itu, badan si bayi mulai hangat. Saya sebenarnya sungguh mengerti sebaiknya tidak membawa bayi sehat ke rumah sakit, karena akan mudah terpapar penyakit yang dibawa pasien lainnya. Tapi, karena satu dan lain hal, si bayi terpaksa saya bawa.

Menjelang sore, badan makin panas. Saya minta tolong suster jaga mengukur suhu si bayi, 39 derajat celcius lewat telinga. Saya sontak kaget, lalu si bayi diukur kembali suhunya lewat termometer ketiak, 38 derajat celcius. Saya agak lega.

Tiba di rumah, si bayi tampak lemas, berjalan tertatih, kebanyakan duduk, suhu badan makin tinggi. Lewat 38,3 derajat celcius, saya meminumkan paracetamol sirup untuk meredakan rasa tidak nyamannya. Suhu sedikit turun, dan si bayi terlihat mau beraktivitas kembali.

Sejak pagi si bayi makan sedikit sekali, sekitar dua suap sekali makan. Sisanya, sepanjang hari dia hanya minum asi saja, langsung dari gentongnya.

Dua-tiga jam sejak minum obat pertama, suhu kembali naik. Kali ini suhunya mencapai 39,3 derajat celcius. Bayi rewel dan lemas. Saya terus memberi asi sembari mengecek frekuensi buang air kecilnya. Alhamdulillah, popok si bayi selalu basah setiap kurang dari enam jam. Observasi dan pencegahan dehidrasi terus dilakukan, sembari mengecek tanda-tanda kegawatdaruratan.

Alhamdulillah tanda gawat darurat seperti, mata cekung, tidak pipis lebih dari enam jam, susah dibangunkan, sesak napas, kejang, muntah/diare terus menerus- tidak terjadi. Saya bertahan tidak berangkat ke rumah sakit.

Sebenarnya akan lebih mudah untuk saya dan suami membawa si bayi ke rumah sakit, antarkan ke UGD, lalu rawat inap. Tapi, nanti saya dan suami tak tambah ilmu, menyerahkan semuanya pada dokter/suster. Tak tahu penyakit, tak tahu penanganan, dan si bayi rentan overtreatment.

Sepanjang malam si bayi saya kompres dengan air hangat.

demam tinggi, kompres air hangat

Saya memakaikan baju longgar dan celana pendek, plus menjaga suhu kamar agar tidak panas-tapi tidak pula terlalu dingin. Jelang tengah malam, paracetamol kedua saya berikan kembali. Si bayi sempat tertidur, bangun, tertidur, bangun, masih rewel tapi suhu mulai normal.

Ada beberapa gelembung isi air di kulit si bayi, saya curiga cacar air. Tetapi, saat usia 6 bulan si bayi sudah pernah terkena. Apa cacar air bisa berulang? *bingung. Konsultasi pada seorang teman, mbak @sisilmahadaya, terus saya lakukan sembari terus belajar, buka buku, browsing web. Belakangan mbak sisil menunjukkan jalan yang terang benderang. “Yakin cacar, bukan hfmd? coba browsing dulu apa gejalanya sama?”

Berdasarkan web milis sehat halaman ini , hfmd bisa bergejala dan bisa juga tidak, kadang orangtua tidak bisa mendeteksi karena si anak hanya luka di tenggorokan. Bagi penderita yang bergejala, bisa cek lepuh di sekitar mulut, gusi, pipi bagian dalam, atau langit-langit. Kadang lepuh berisi cairan itu ada di beberapa bagian tubuh lain. Gejala lainnya adalah demam, rewel. tidur terus menerus, dan mengences.

Penampakan si bayi

bintik merah di sekitar mulut dan pipi bagian dalam
Lepuh Kaki, Tangan, Mulut

Tidak ada penanganan medis yang bisa menyembuhkan flu singapur aka Hand Foot Mouth Disease ini. Penyakit akan sembuh dengan sendirinya sesuai perjalanannya. Jadi, obatnya ya cuma sabar, tenang, dan tidak panik. 😀

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang sangat menular, walaupun biasanya tidak berat, yaitu coxsackievirus & enterovirus. Virus ini hidup di saluran cerna manusia dan biasanya menyebar lewat tangan yang tidak dicuci atau permukaan yang terkontaminasi feses. Anak usia 1-4 tahun paling rentan terkena penyakit ini.

Supaya tidak terkena? biasakan mencuci tangan.

Sampai saat ini, observasi terus saya lakukan, demam sudah mulai reda, tetapi nafsu makan/keinginan mengunyah si bayi sama sekali hilang. Kalau sudah begini, giliran saya putar otak, membuat makanan yang bergizi dan gampang dikunyah si bayi.

Semangaaatttt!

Yuk, acak-acak!

Memang sudah fitrahnya anak-anak, untuk acak-acak. Bermain sendiri, atau bersama teman, kekacauan yang ditimbulkan kurang lebih sama saja. :p

Sebagai mamah muda (mahmud-demikian teman saya menjuluki), saya membaca banyak hal. diantara banyak hal tersebut, terselip satu kalimat, “jangan halangi anak anda bereksplorasi, bergerak akan mengembangkan kemampuan motoriknya”. Jadi, karena demikianlah saya memasrahkan diri membereskan segala yang telah “dihancurkan” si bayi.

Sebisa mungkin saya membiarkan si bayi acak-acak. Terkadang kegiatan acak-acak ini bisa berlangsung sangaaatt lama, pada waktu lain, tak sampai semenit, dia sudah bosan. :p

Menyenangkan adalah, melihat mimik si bayi saat mengacak-acak. Dia sungguh bahagia. 😀

acak sendiri
acak rame-rame

/salam sayang

Kamis, dan cairan tubuhmu, Manis

Teguk sepuasnya, ini kamis!
Kata mereka menjerit, Lepaskan!

Bunuh orang kafir!
Katamu sembari menguarkan jerit dan peluh nikmat!
Bunuh! Lalu kau terkapar kelelahan.

Ini kamis, manis.
Maka siapkan tubuhmu, kita akan berbuat sekotor mungkin,
besok hari bersih-bersih, bukan?

Nabimu bilang hari ini hari baik, maka surga mendekatimu.
Cairan tubuh bersatu, senyum lebar, lutut terasa hilang, ingatlah, surgamu mendekatimu.

Ini Kamis. Begitu bukan?

Aku?
Maaf tak ikut bersuka, hanya saja kurang begitu percaya.
Rasulku, bukan pengangguran-yang punya begitu banyak waktu,
sampai-sampai mengabarkan padaku,
kapan hari baik untukku,
mengobral mani.

/salam

Saya Lop Yu

Jutaan orang punya bayi, maka bayi mustinya bukan lagi hal aneh, harusnya punya bayi biasa saja, seperti layaknya orang yang punya bayi. Hanya punya, membesarkan, melihatnya pergi, dan kemudian kita mati (ini dalam pikiran saya, tapi maut siapa pula yang tahu).

Punya bayi bukan hal biasa buat saya. Sejak dulu saya tidak terpikir untuk menikah, lalu ternyata saya menikah cukup muda, 24 tahun. Sejak dulu saya tidak terpikir punya anak, lalu saya punya anak saat 27 tahun. Dalamnya laut bisa diukur, isi otak tak ada yang tahu.

Maka disinilah saya, menimang bayi. Baiknya saya jelaskan kepada Anda, menimang bayi dalam otak saya semacam masuk jaman purbakala. Sudah bukan jamannya. Teknologi sudah memungkinkan pindah ke planet lain, dan saya malah menyusui. Mustinya, proses reproduksi sudah bisa dilakukan mesin. Pancarkan sinar X, Y, Z, tambahkan energi, lahirlah bayi yang kemudian dibesarkan dalam tabung hingga dewasa. (Pikiran macam apa pula ini).

Saya, bahkan tidak menyangka, mampu mengulangi satu kata, puluhan ratusan kali sehari, sambil menunjuki benda-benda di sekeliling. “Nenen… ne nen, ne nen, ne nen,” kata saya sambil menyodorkan payudara. Lalu “Buma.. bu ma.. bu ma…,” menunjuk diri saya, terus berkali-kali, mulai bangun hingga tidur malam, diulang lagi, terus.

Dan saya tidak lelah mengulang kata, meski akhirnya si bayi lebih memilih berujar “nggakkk… dan mbakk” sebagai kata pertamanya. Saya tidak menyerah.

Aktivitas macam apa ini?
Saya tidak tahu persis.
Oh iya, kamu, saya lop yu.

/berharap suatu saat nanti kita bisa berbicara layaknya teman.

Berita Baru

Masa datang dengan ribuan berita, sebagian sama sekali asing, sebagian biasa saja, sebagian bahagia, dan sebagian luka.
Rupa berita, tak gampang direka, ketika berharap bahagia, luka datang, ketika isi pikir semuanya tentang luka, berita bahagia terbentang.

Kemarin, berita yang datang entahlah apa. Bukan asing, bukan biasa, bahagia, atau luka. Berita ini tidak biasa, semacam mengosongkan isi perut tiba-tiba, nyeri, mual, (sedikit) sedih.

Pikirku belum pernah berurusan dengan berita serupa ini, reaksi hanya diam, entah menyesal.

Duhai kumbang, sebelah sayapmu masih kutahan dalam pikiran, kenangan masih kukulum semalaman. Bagaimana bisa kau terbang?

Berita baru, undangan biru.

/salamberita.

Perkara Sempak

Ini cerita tadi pagi.
Bang, mau berangkat kerja ya? Cium dulu dong..
Mmmuaacchh
Gitu aja? Gak pake grepe-grepe?
Si Abang grepe-grepe, lalu tiba-tiba diam.
Kenapa Bang?
Tiba-tiba Si Abang nyanyi “Sempakmuuu duluuuu, tak beginiiii. Dulu sempak cantik, warna warniiii”

Itu adalah nyanyian yang membuat saya makjleb beberapa jam ini. Memang sih, memang, saya tadi pagi pakai sempak waktu hamil. Tau kan sempaknya gimana? Sempak lebar warna peach, lengkap dengan karet pengatur besarnya perut. Hampir serupa sempak nenek-nenek.

Tapi, sempaknya itu nyaman, sama nyamannya dengan daster lusuh dan robek (sedikitttt) itu.  Saya musti gimana dong?

Lalu saya terpikir, sejak kapan sih sempak diciptakan ketat? Seingat saya, dan sepenglihatan saya, dari film-film Eropa, film-film kerajaan Eropa itu, bentuk sempak perempuan kurang lebih memang seperti celana nenek-nenek. Dengan karet di pinggang dan lututnya.

Jadi, kenapa sempak sekarang musti sesak dan tidak nyaman? Lah, memang ada beberapa merk sempak yang menjanjikan kenyamanan, seperti tidur di awan, kira-kira begitu. Tapi,  mana sanggup saya membeli kenyamanannya.

Omong-omong tentang sejarah sempak, si sempak ini hadir masa Revolusi Perancis waktu Kakak Catherine de Medici pingin naik kuda, mengangkang, tapi paha dan onderdil didalamnya terlindung.  Jelasnya bisa lihat disini.

 

Sempak berbentuk lucu, jaring-jaring, bertali, warna-warni, memanglah sungguh cantik, tapi ya bolehlah ya sekali-kali saya pakai sempak warna putih, biru muda, gak berbentuk, ukuran raksasa. Mereka sungguhlah tak nyaman dipandang, tapi saya sudah kadung sayang.

/salam sempak

Susu oh… Susu

Tidak ada yang tahu kapan penyakit akan menghampiri Anda. Tiba-tiba dia datang, dan dhuarr, kita baru sadar kalau tidak punya persiapan apapun. Pertengahan bulan lalu, saya terpaksa dirawat inap di rumah sakit, bukan sehari, atau dua, tapi sepuluh hari.

Bagi ibu menyusui seperti saya, yang paling saya butuhkan adalah stok asi perah dan pengasuh yang rela menjaga bayi 24 jam. Stok asi perah di rumah, selalu saya siapkan cukup untuk 3 hari, stok ini terus saya kejar selama seminggu pertama di RS, sebelum tindakan pembedahan dilakukan. Produksi ASI saya cukup baik selama di RS, sehari saya bisa mengumpulkan hingga 1liter ASI perah untuk si bayi yang hampir berumur empat bulan.

Minggu sore, beberapa tetangga yang menjenguk membawa serta bayi saya ke RS, duh… seminggu tidak menyusui langsung, rasanya rindu berat. Sudah terbayang decapan mulut si bayi. Saat si bayi sudah di dekapan saya, segera saya menyodorkan sebelah payudara. Dan, dia menolak. Saya masih berprasangka baik, mungkin posisinya tidak nyaman. Saya coba posisi menyusui tidur, duduk, dan sambil berdiri, lalu si bayi mengamuk.

Dia haus, tapi tidak mau menyusu langsung. Duh Gusti, rasanya hancur hati saya. Susah payah saya menahan air mata di depan ibu-ibu komplek.  Si bayi sudah “lupa” payudara ibunya.

Lalu, hari pembedahan pun tiba.

Saya tersadar pukul 2 siang, dan hal yang pertama kali saya pikirkan adalah, saya belum memerah. Saat itu badan saya penuh selang, dari hidung, mulut, dan kemaluan. Nyeri bukan main + ngantuk pengaruh bius yang belum sepenuhnya hilang. Jam 6 sore saya paksakan memiringkan tubuh ke kanan dan ke kiri untuk memerah, hasilnya mengecewakan. Gabungan nyeri, kuatir asi tidak cukup dan bayangan si bayi bingung puting membuat produksi asi menurun.

Saya panik.

dan ASI semakin lambat keluarnya.

Meminta donor ASI adalah hal terakhir yang saya pikirkan, bukan karena saya tak percaya pada si pendonor, tapi saya percaya asi yang saya perah langsung bukan cuma berisi makanan, tapi juga cinta, kasih sayang, dan rasa aman.

Berbekal dua post di twitter, saya berdoa. Twit itu ternyata di RT dan direply banyak orang, beberapa bahkan mengontak langsung saya lewat pesan singkat. Terimakasih saya haturkan pada teman (yang bahkan belum pernah bertemu) untuk bantuannya. Satu liter asi perah beku malam itu berpindah ke kulkas saya. 😀

Sampai di rumah, saya memutuskan membuang asi yang saya perah usai pembedahan. Asi perah itu, tidak terjamin keamanannya untuk si bayi. Memang, saya sudah meminta dokter memberikan obat yang aman untuk menyusui, tapi melihat banyak sekali cairan yang diinjeksikan ke dalam infus pasca operasi, saya tidak yakin.

Rasanya membuang asi seember itu seperti….. entahlah. Saya matikan perasaan saya, saya tutup mata saya.

Oh iya, bukan saya yang membuang asinya ke saluran air, tapi ibu saya. *Kalau saya yang membuang, bisa-bisa asinya balik saya simpan lagi di kulkas. :p

Ah kawan, terimakasih untuk dukungan dan doanya.. Sekarang saya sedang belajar menyusui lagi, si bayi sedang belajar menyedot puting lagi, semoga saja akhirnya si bayi sadar puting saya lebih nikmat daripada dot plastik ituh.

/salam susu

Karena ingatan itu pendek dan kenangan itu abadi