Kamis, dan cairan tubuhmu, Manis

Teguk sepuasnya, ini kamis!
Kata mereka menjerit, Lepaskan!

Bunuh orang kafir!
Katamu sembari menguarkan jerit dan peluh nikmat!
Bunuh! Lalu kau terkapar kelelahan.

Ini kamis, manis.
Maka siapkan tubuhmu, kita akan berbuat sekotor mungkin,
besok hari bersih-bersih, bukan?

Nabimu bilang hari ini hari baik, maka surga mendekatimu.
Cairan tubuh bersatu, senyum lebar, lutut terasa hilang, ingatlah, surgamu mendekatimu.

Ini Kamis. Begitu bukan?

Aku?
Maaf tak ikut bersuka, hanya saja kurang begitu percaya.
Rasulku, bukan pengangguran-yang punya begitu banyak waktu,
sampai-sampai mengabarkan padaku,
kapan hari baik untukku,
mengobral mani.

/salam

Saya Lop Yu

Jutaan orang punya bayi, maka bayi mustinya bukan lagi hal aneh, harusnya punya bayi biasa saja, seperti layaknya orang yang punya bayi. Hanya punya, membesarkan, melihatnya pergi, dan kemudian kita mati (ini dalam pikiran saya, tapi maut siapa pula yang tahu).

Punya bayi bukan hal biasa buat saya. Sejak dulu saya tidak terpikir untuk menikah, lalu ternyata saya menikah cukup muda, 24 tahun. Sejak dulu saya tidak terpikir punya anak, lalu saya punya anak saat 27 tahun. Dalamnya laut bisa diukur, isi otak tak ada yang tahu.

Maka disinilah saya, menimang bayi. Baiknya saya jelaskan kepada Anda, menimang bayi dalam otak saya semacam masuk jaman purbakala. Sudah bukan jamannya. Teknologi sudah memungkinkan pindah ke planet lain, dan saya malah menyusui. Mustinya, proses reproduksi sudah bisa dilakukan mesin. Pancarkan sinar X, Y, Z, tambahkan energi, lahirlah bayi yang kemudian dibesarkan dalam tabung hingga dewasa. (Pikiran macam apa pula ini).

Saya, bahkan tidak menyangka, mampu mengulangi satu kata, puluhan ratusan kali sehari, sambil menunjuki benda-benda di sekeliling. “Nenen… ne nen, ne nen, ne nen,” kata saya sambil menyodorkan payudara. Lalu “Buma.. bu ma.. bu ma…,” menunjuk diri saya, terus berkali-kali, mulai bangun hingga tidur malam, diulang lagi, terus.

Dan saya tidak lelah mengulang kata, meski akhirnya si bayi lebih memilih berujar “nggakkk… dan mbakk” sebagai kata pertamanya. Saya tidak menyerah.

Aktivitas macam apa ini?
Saya tidak tahu persis.
Oh iya, kamu, saya lop yu.

/berharap suatu saat nanti kita bisa berbicara layaknya teman.

Berita Baru

Masa datang dengan ribuan berita, sebagian sama sekali asing, sebagian biasa saja, sebagian bahagia, dan sebagian luka.
Rupa berita, tak gampang direka, ketika berharap bahagia, luka datang, ketika isi pikir semuanya tentang luka, berita bahagia terbentang.

Kemarin, berita yang datang entahlah apa. Bukan asing, bukan biasa, bahagia, atau luka. Berita ini tidak biasa, semacam mengosongkan isi perut tiba-tiba, nyeri, mual, (sedikit) sedih.

Pikirku belum pernah berurusan dengan berita serupa ini, reaksi hanya diam, entah menyesal.

Duhai kumbang, sebelah sayapmu masih kutahan dalam pikiran, kenangan masih kukulum semalaman. Bagaimana bisa kau terbang?

Berita baru, undangan biru.

/salamberita.

Perkara Sempak

Ini cerita tadi pagi.
Bang, mau berangkat kerja ya? Cium dulu dong..
Mmmuaacchh
Gitu aja? Gak pake grepe-grepe?
Si Abang grepe-grepe, lalu tiba-tiba diam.
Kenapa Bang?
Tiba-tiba Si Abang nyanyi “Sempakmuuu duluuuu, tak beginiiii. Dulu sempak cantik, warna warniiii”

Itu adalah nyanyian yang membuat saya makjleb beberapa jam ini. Memang sih, memang, saya tadi pagi pakai sempak waktu hamil. Tau kan sempaknya gimana? Sempak lebar warna peach, lengkap dengan karet pengatur besarnya perut. Hampir serupa sempak nenek-nenek.

Tapi, sempaknya itu nyaman, sama nyamannya dengan daster lusuh dan robek (sedikitttt) itu.  Saya musti gimana dong?

Lalu saya terpikir, sejak kapan sih sempak diciptakan ketat? Seingat saya, dan sepenglihatan saya, dari film-film Eropa, film-film kerajaan Eropa itu, bentuk sempak perempuan kurang lebih memang seperti celana nenek-nenek. Dengan karet di pinggang dan lututnya.

Jadi, kenapa sempak sekarang musti sesak dan tidak nyaman? Lah, memang ada beberapa merk sempak yang menjanjikan kenyamanan, seperti tidur di awan, kira-kira begitu. Tapi,  mana sanggup saya membeli kenyamanannya.

Omong-omong tentang sejarah sempak, si sempak ini hadir masa Revolusi Perancis waktu Kakak Catherine de Medici pingin naik kuda, mengangkang, tapi paha dan onderdil didalamnya terlindung.  Jelasnya bisa lihat disini.

 

Sempak berbentuk lucu, jaring-jaring, bertali, warna-warni, memanglah sungguh cantik, tapi ya bolehlah ya sekali-kali saya pakai sempak warna putih, biru muda, gak berbentuk, ukuran raksasa. Mereka sungguhlah tak nyaman dipandang, tapi saya sudah kadung sayang.

/salam sempak

Susu oh… Susu

Tidak ada yang tahu kapan penyakit akan menghampiri Anda. Tiba-tiba dia datang, dan dhuarr, kita baru sadar kalau tidak punya persiapan apapun. Pertengahan bulan lalu, saya terpaksa dirawat inap di rumah sakit, bukan sehari, atau dua, tapi sepuluh hari.

Bagi ibu menyusui seperti saya, yang paling saya butuhkan adalah stok asi perah dan pengasuh yang rela menjaga bayi 24 jam. Stok asi perah di rumah, selalu saya siapkan cukup untuk 3 hari, stok ini terus saya kejar selama seminggu pertama di RS, sebelum tindakan pembedahan dilakukan. Produksi ASI saya cukup baik selama di RS, sehari saya bisa mengumpulkan hingga 1liter ASI perah untuk si bayi yang hampir berumur empat bulan.

Minggu sore, beberapa tetangga yang menjenguk membawa serta bayi saya ke RS, duh… seminggu tidak menyusui langsung, rasanya rindu berat. Sudah terbayang decapan mulut si bayi. Saat si bayi sudah di dekapan saya, segera saya menyodorkan sebelah payudara. Dan, dia menolak. Saya masih berprasangka baik, mungkin posisinya tidak nyaman. Saya coba posisi menyusui tidur, duduk, dan sambil berdiri, lalu si bayi mengamuk.

Dia haus, tapi tidak mau menyusu langsung. Duh Gusti, rasanya hancur hati saya. Susah payah saya menahan air mata di depan ibu-ibu komplek.  Si bayi sudah “lupa” payudara ibunya.

Lalu, hari pembedahan pun tiba.

Saya tersadar pukul 2 siang, dan hal yang pertama kali saya pikirkan adalah, saya belum memerah. Saat itu badan saya penuh selang, dari hidung, mulut, dan kemaluan. Nyeri bukan main + ngantuk pengaruh bius yang belum sepenuhnya hilang. Jam 6 sore saya paksakan memiringkan tubuh ke kanan dan ke kiri untuk memerah, hasilnya mengecewakan. Gabungan nyeri, kuatir asi tidak cukup dan bayangan si bayi bingung puting membuat produksi asi menurun.

Saya panik.

dan ASI semakin lambat keluarnya.

Meminta donor ASI adalah hal terakhir yang saya pikirkan, bukan karena saya tak percaya pada si pendonor, tapi saya percaya asi yang saya perah langsung bukan cuma berisi makanan, tapi juga cinta, kasih sayang, dan rasa aman.

Berbekal dua post di twitter, saya berdoa. Twit itu ternyata di RT dan direply banyak orang, beberapa bahkan mengontak langsung saya lewat pesan singkat. Terimakasih saya haturkan pada teman (yang bahkan belum pernah bertemu) untuk bantuannya. Satu liter asi perah beku malam itu berpindah ke kulkas saya. 😀

Sampai di rumah, saya memutuskan membuang asi yang saya perah usai pembedahan. Asi perah itu, tidak terjamin keamanannya untuk si bayi. Memang, saya sudah meminta dokter memberikan obat yang aman untuk menyusui, tapi melihat banyak sekali cairan yang diinjeksikan ke dalam infus pasca operasi, saya tidak yakin.

Rasanya membuang asi seember itu seperti….. entahlah. Saya matikan perasaan saya, saya tutup mata saya.

Oh iya, bukan saya yang membuang asinya ke saluran air, tapi ibu saya. *Kalau saya yang membuang, bisa-bisa asinya balik saya simpan lagi di kulkas. :p

Ah kawan, terimakasih untuk dukungan dan doanya.. Sekarang saya sedang belajar menyusui lagi, si bayi sedang belajar menyedot puting lagi, semoga saja akhirnya si bayi sadar puting saya lebih nikmat daripada dot plastik ituh.

/salam susu

Asi Perah dan Apel Merah

Saya bersyukur untuk nikmat yang Tuhan berikan, sampai hari ini, makanan Embun cukuplah adanya. Saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makanan tambahan, cukup air susu emaknya saja.

Kadangkala, makanan Embun cukup melimpah. Saya sampai menyimpan sebagian di freezer. Lemari pendingin satu pintu membatasi saya menyimpan asi perah dalam jumlah banyak. Selain ukuran freezer yang kecil, suhu yang berubah setiap kulkas dibuka, membuat asi perah tak awet lama.

Lalu, dikemanakan Re? Sampai saat ini, sudah empat kali asi perah beku saya donorkan. Empat kali untuk 3 bayi. “Semoga bermanfaat ya adek-adek bayi, nanti kalo udah pada gede, kopdar sama Embun ya…”

Dua kali saya mendonorkan asi untuk bayi laki-laki seorang bapak. Bayi si bapak lahir prematur, hingga lewat satu bulan, beratnya dua kilo saja. Seorang dokter menyarankan si bapak mengganti asupan susu formula si bayi menjadi air susu ibu, untuk sementara, hingga berat badan si bayi mencapai ukuran aman. Dokternya membantu si bapak untuk mencari asi donor sementara.

Satu sore, si bapak datang dengan tas, 10 botol kosong pengganti,  dan es batu. Tiba-tiba kantong plastik merah yang cukup berat disodorkan pada saya. Duhh, saya lupa bilang pada si bapak untuk tidak membawa apapun untuk saya selain botol kosong pengganti. Saya jadi tidak enak.

Sembari membereskan asi perah beku, si bapak berujar. “Yang dikasi banyak, ya banyak, yang dikasi dikit, ya dikit.” Duh Gusti, hancur hati saya, rasanya sedih mendengar seorang berkata begitu. Sedikit rasa bersalah menelusup ke batin saya.

Lalu si bapak, berhati-hati mengikatkan kotak berisi asi perah beku itu di motornya. “Semoga bermanfaat ya Pak.”

Sepulangnya si bapak, saya membuka bungkusan plastik yang diberikannya kepada saya tadi. Air mata tiba-tiba meluncur bebas di pipi saya. Tidak jelas kenapa saya menangis, tapi air mata tidak bisa berhenti. Kenapa sih si bapak musti bawa-bawa, saya benar-benar tidak enak jadinya. Makin merasa bersalah.

Omong-omong, pada kesempatan kedua, si bapak bikin saya nangis lagi, dia bawa roti. hiks. Semoga si dedek lekas ndut ya Pak, semoga bermanfaat.

Omong-omong, apelnya manis, dan rotinya lembut sekali.

/salam perah.

Rupa Rupa Manusia Kereta

gambar dipinjam dari sini

Saya tidak bercerita tentang rupa-rupa manusia kereta yang biasa, tapi saya bercerita tentang rupa-rupa manusia kereta yang harus memberikan nyaman kursinya pada penumpang prioritas kereta :

  • ibu dengan anak kecil;
  • manusia hamil;
  • manusia lanjut usia; dan
  • manusia penyandang cacat.

Pengamatan saya menunjukkan manusia kereta berjenis kelamin laki-laki lebih mudah memberikan kursinya untuk 4 jenis manusia kereta di atas. Entah karena malu pada perempuan sekitar atau memang nyatanya rela, saya tidak tahu.

Manusia kereta perempuan biasanya melakukan tindakan seperti ini

  • Diam saja
  • Pura-pura membaca
  • Pura-pura tidak tahu
  • Memandang-mandangi manusia kereta laki-laki di sebelahnya, kemudian meminta si laki-laki memberikan kursinya

Oh iya, gerbong perempuan di kereta itu sama sekali tidak ramah perempuan hamil. Tidak ada satupun perempuan di gerbong perempuan yang pernah memberikan saya tempat duduk. Reaksi umum yang saya terima biasanya, “Ke gerbong campur aja mbak, minta tempat duduk sama laki-laki,” begitu kira-kira.

Tapi tidak semua manusia kereta perempuan seperti itu, sama halnya dengan tidak semua manusia kereta laki-laki rela dan baik hati.

Manusia kereta laki-laki biasanya

  • Pura-pura tidur
  • Pura-pura membaca koran
  • Pura-pura bermain telepon genggam (sambil menunduk dalam-dalam

Pernah, pada satu kesempatan saya bertemu manusia kereta perempuan berhijab lebar, dijemarinya ada buku kecil alma’tsurat (kumpulan surat pendek yang diambil dari Al Quran), lalu disebelahnya ada laki-laki berkopiah, sibuk membaca koran. Saya merasa senang sekali, saya berpikir manusia-manusia dengan baju agama itu adalah manusia baik hati, saya pasti akan mendapatkan hak saya.

Tapi, Si perempuan melihat perut saya sekilas saja, lalu kembali menekuri buku kecil, 5 lalu 10 menit kemudian tidak ada tanda-tanda dari si perempuan untuk memberikan kursinya pada saya.

Hal yang sama terjadi pada laki-laki berkopiah, Ia santai saja membalik korannya dari muka ke belakang. 15 menit berlalu, manusia kopiah terlihat gelisah, mungkin (hanya mungkin) ia baru melihat ada manusia hamil di depannya. Lalu dengan wajah terpaksa, sedikit mendengus ia memberikan kursinya pada saya.

Kali lain, saya dengan perut yang membelendung berjalan ke peron, menunggu kereta yang sesaat lagi akan tiba. Manusia peron laki-laki yang sedang duduk di kursi tunggu tiba-tiba berdiri, memberikan kursinya pada saya tanpa saya minta. Hanya satu kali itu saja saya mendapatkan tempat duduk di peron, sisanya? saya musti berdiri hingga kereta masuk stasiun. Memang tidak ada bangku prioritas di peron stasiun, jadi ya dinikmati saja.

Oh iya, biasanya kalau penumpang lain tidak memberikan hak saya, saya akan meminta. Selama ini saya meminta pada mereka yang duduk di depan saya, “Mas, boleh tempat duduknya untuk saya.” Reaksinya macam-macam, ada yang buru-buru berdiri sambil minta maaf, ada yang memelototi, ada yang misuh-misuh, ada yang senyum. Apapun reaksinya, ya saya duduk saja. 😀

Pada bulan-bulan akhir kehamilan, sulit untuk saya berdiri dalam waktu lama, pernah satu saat saya mesti berdiri sepanjang perjalanan, saat itu saya mesti bertahan dengan keringat dingin, pandangan mengabur, lemas, dan kelelahan.

*kalau ada diantara kalian yang pernah diminta kursinya untuk penumpang prioritas, bagaimana reaksi Anda?

/Salam kereta!

Mamak…. Aku Padamu….


Perempuan paling hebat di dunia. Perempuan yang tidak pernah kehabisan rasa cinta.
Perempuan yang mampu menyayangi sepanjang jaman. Perempuan terindah, kemarin, sekarang, dan nanti.

Padamu, kusampaikan terimakasih tak terhingga, untuk cinta yang tak lelah kau berikan sejak aku lahir ke dunia.
Padamu, tak akan mampu aku membalas jasa, meski kulit mengelupas, air mata berubah darah, kasihmu tak akan terbalas.
Engkau, tempatku bersandar, kala lelah datang, kala sedih menerjang.

Mamak, sejuta cinta, untukmu, selamanya.

/Selamat Hari Ibu, duhai Mamakku sayang.

Aku Cinta, Meski

Aku cinta, meski rasanya tidak manis macam madu.
Aku cinta, meski pedihnya sembilu kalah dibanding kamu.
Aku cinta, meski kenangan yang ada dulu, sudah ditumpuki debu.

Pojokan itu, tempat aku menaruh cintaku.
Sudut paling kotor di hati.
Jarang dibersihkan.
Terlupa dibersihkan.
Maka ia abadi disana.

Aku cinta, meski getar sudah lama hilang.
Aku cinta, meski belakangan suara tawa jarang mengudara.
Aku cinta, meski tidur kita saling membelakang.

Hati ini, tempat aku menyimpan dirimu.
Tak tahu bagian mana yang ada kamu.
Kubiarkan saja dia di situ.
Selamanya,
bagian itu
untuk kamu.

Aku cinta, meski
kamu
tidak.

/cintamati

Karena ingatan itu pendek dan kenangan itu abadi