Dua Jantan di Pagi Hari

Menengok jantan-jantan di kereta api super cepat tadi pagi.
Berbaju rapi, sepatu cling hingga bisa dibuat mematut pipi, tas tenteng hitam, coklat, biru, dan tentu saja wangi

Disampingku ada dua jantan lagi, tampan.. ahh rezeki..

Tapi, di dadanya kulihat ada jemari mengelilingi.
Kutelusuri sambil sembunyi, rupanya itu milik si jantan tampan yang satu lagi.

Mereka, berpeluk di pagi hari.  Aku iri.mereka

Dua Singa

Pernah kubilang, aku suka.
Lalu dia tanya, kenapa?
Aku bilang, entahlah, mungkin karena kita berdua berbintang singa.
Lantas dia bilang, aku tak mau membuat yang lain terluka.
Aku bilang, ahh kalau tidak mau tak usah banyak bicara.

Cukup bilang saja.

Tidak.

Itu sudah.

Pamit

62

Tiba-tiba proses klik kanan-klik kiri pada portal intranet kantor-yang biasanya menyebalkan karena masalah koneksi lelet- jadi mengharukan.

Tiba-tiba proses menghabiskan nasi kotak, ransum terakhir-yang biasanya dicaci karena pemilihan menunya yang gak nyambung dan membosankan-jadi sama mengharukannya.

Tiba-tiba, pelukan.

Kawan, aku pamit..

/setelah persis 3 tahun 1 bulan di “rumah” itu

Puisi Perpisahan

Sahabat, waktu telah mengantarkan kita pada satu titik pemahaman
bahwa di dunia ini tak ada yg abadi

Kini saatnya kita harus berjalan sendiri
Melangkah mengikuti takdir yang telah tergariskan
Dalam ruang dan waktu yang berbeda
Ketika kebersamaan menjadi langka
Ketika canda tawa begitu berharga

Sahabat, semoga waktu tak membuat kita lupa
Bahwa kita pernah ada
Pernah punya cerita
Sahabat, abadilah tercipta lebih dari cinta

/puisi perpisahan dari Danni, pustakawan Tempo yang baik hati..

Karena ingatan itu pendek dan kenangan itu abadi