Menggugat Tuhan

Dear, waktu tuhan menciptakan cinta, sepertinya dia terlupa, tidak menuliskan masa berlakunya.
Aku dan kamu kini jadi korbannya.
Kita pikir cinta abadi, mengikuti kemana pun kita pergi.

Sekarang, kita masih segar bugar, melonjak-lonjakkan kaki kesana kemari.
Tapi cinta kita sekarat, menjelang mati.
Karena kita pikir tuhan menciptakan dia abadi.
Kita abai, meninggalkan dia di rumah sendirian.
Menjenguknya sesekali, lalu kita terkaget sendiri, betapa banyak dia berubah.

Cinta kita melemah, kurang siram.
Saat sadar, kita cuma bisa duduk terdiam, bingung.

Kamu, aku, dan cinta kita, terduduk bertiga di pojok kamar.
Dia yang sekarang tak wangi lagi, sudah basah kuyup.

Percuma air mata.

Dear, waktu pertama kita memulakan cinta, masing-masing kita pernah berjanji, akan menjaga supaya cinta kita abadi.
Jika aku lelah, kamu yang menjaga, begitu pula sebaliknya.
Kita tak tepat janji.

Cinta kita menjelang mati.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day25

Gelisah

Sayang, beberapa malam ini tidurku tak nyenyak.
Ada resah yang mengganggu, sekelebat bayang masa depan tiba-tiba melintas di pikiranku.
Gelap dan menyeramkan
Sayang, aku takut.

Saat pertama aku mengakui cintaku padamu dulu, aku tidak berpikir jauh.
Aku pikir, sepanjang hidup kita nanti hanya akan ada senang dan cinta yang tak habis-habis.
Tapi baru lima tahun berjalan, awan gelap sudah muncul menghadang.
Aku takut, sayang.

Dulu, misteri tentang kamu bikin hidup aku penuh energi. Penasaran merajai otakku.
Semakin gelap kamu, semakin aku semangat.
Semakin kamu menolak, semakin aku memeluk lekat.
Saat ini tidak demikian.

Gelapnya hidup, gelapnya kamu, gelapnya kita, bikin aku gelisah.
Aku bingung, hendak berpegang pada apa, pada siapa.
Wajahmu kadang terang, kadang terlihat hanya serupa bayang.
Aku ketakutan, sayang.

Cinta ini, aku yang punya.
Cinta ini, aku yang memulakan.
Aku ketakutan, tapi sungguh aku tak ingin ini berakhir sekarang.

Sayang, tolong pegang tanganku, yakinkan aku.
Kita masih akan bersama sekarang, besok, dan bertahun ke depan.

Aku takut menyongsong masa depan denganmu.
Tapi, aku lebih takut sendirian.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day24

Pahlawan

Dear Spiderman, apa kabarmu hari ini?
Sudah berapa jalinan jala yang kau buat, duhai pahlawan tampanku.

Kau berjuang tak kenal waktu, hingga kau kehilangan hidupmu. Pernah kah kau marah?
Tak inginkah kau menikmati hidup tanpa resah.

Mereka semua membutuhkanmu, tetapi tak satupun dari mereka tau, apa yang kau butuhkan.

Dear Spiderman,
Berbaringlah di dekatku.
Kemarilah, akan kubasuh peluhmu.

Jika kau merasa dunia tak adil padamu, marahlah.
Jika kau merasa lelah dan kalah, tak apa menangis.
Bahkan pahlawan pun butuh jeda.

______

#30HariMenulisSuratCinta
#Day23

Mengenang Paris

Paris adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri. Hanya tiga hari memang, tapi perjalanan ini akan selalu saya kenang. Kadang, tak sadar saya tersenyum sendirian, kala sepotong ingatan datang numpang lewat di kepala. Ada salju, baju winter yang cantik, abang-abang Paris yang super ganteng, MRT yang gak pake lelet, dan croissant di mana-mana. 🙂

Kemarin saya sempat ga percaya waktu ada beberapa teman yang menyarankan supaya saya hati-hati selama di Paris. Katanya, selain banyak pencopet, disana juga banyak yang suka menipu pendatang. Masa sih? Iya! Gini nih, awalnya, saya pikir normal saja saat ada yang bertanya di jalan. Tapi di Paris sepertinya musti hati-hati deh. 🙂

“Do you speak English?” kata ibu-ibu berkerudung.
“Yes!”
Lalu dia menyodorkan sehelai kertas untuk saya baca. Isinya kurang lebih minta uang karena dia butuh untuk A, B, C, dan D.

Tadinya saya pikir mereka muslim (karena berkerudung). Tapi ada komentar di tripadvisor.co.uk dan flyertalk.com yang bilang mereka gypsy yang memang kerjanya mencari uang dengan memanfaatkan turis. Penampilan mereka bisa dilihat di link ini.

——

Sehari sebelumnya, saya sempat menyapa satu orang di peron MRT. “Do you speak english?” Tapi, orang yang saya sapa buru-buru pergi sambil menengok saya lewat ujung mata.

Belakangan saya baru sadar, ada beberapa kemungkinan. Mungkin penampilan saya yang berkerudung yang membuat saya ditolak, memang dia ga mau berbicara dengan orang asing, atau dia memang ga bisa bicara bahasa Inggris.

Baiklah, lupakan. 😀

 

——

MENGENANG PARIS

Bulan lalu, sebelum saya berangkat ke Paris, teman saya @venniem bilang : “Ambil foto yang banyak!” Saya, tentu saja dengan senang hati menuruti saran tersebut. Total ada sekitar 500 foto yang saya ambil. Begitu cantiknya Paris, sampai tiap sudut saya potret. *nyamar jadi tukang foto profesional. 😀

Jadi, ini dia oleh-oleh dari saya. Enjoy Paris!

EIFFEL

Eiffel dari dekat itu ga terlalu cantik sih, persis kerangka besi aja. Tapi jangan tanya betapa senangnya saya ketemu besi tua inih. *pegangin dada

P1000608Indah, kan?

Itu kenapa kami dengan senang hati nungguin lampu Eiffel nyala sempurna. Aduh, aduh, sambil ngetik ini perasaan saya berdebar ga karuan. :’)

LOUVRE

P1000144

Ini adalah pintu masuk Muse de Louvre. Perlu diperhatikan, Louvre itu bukan main luasnya saudara-saudara! Kemarin cuma punya waktu satu jam, kejar-kejaran mau ke Eiffel.

Karena waktunya sedikit, jadi diputuskan untuk cari Monalisa aja. Jadi kebayang kan jalannya cuma kayak liat kanan-kiri sambil agak lari. 😀

VERSAILLE

P1000281

Spot favorit saya di sekitaran Versaille. 😀

P1010776

Dalamnya Versaille banyak patung-patung. Cakep, ya. 🙂

KOTA PARIS

Paris itu seisi kotanya cantik. Gedung-gedungnya bagus, senada.

P1010650 P1010636 P1000972 P1000237 P1000236

Kemarin selama di Paris sebenernya saya agak kesulitan motret. Kombinasi udara dingin, tangan gemeteran, plus ribet buka tutup sarung tangan. Jadi ada beberapa kali (baca : banyak) saya motret dan dipotret pake kamera teman dan panitia.

Nah, foto-foto di atas itu saya ambil pake kamera Panasonic Lumix GF5. Hasil fotonya jernih, loading antar fotonya ga lama. Foto di atas ada yang diambil pas bus-nya jalan, tapi tetep bagus, kan?

Desain Panasonic Lumix juga slim, enak digenggam dan ga ngerepotin bawanya. Trus, hasil foto di dalam atau di luar ruangan sama cantiknya.

Karena udara di sana kemarin sempat minus sekian derajat celcius, saya ga bisa lama-lama diam di satu tempat. Terpaksa ambil foto sambil tetap jalan supaya kaki dan tangan ga beku dan kram. Untung aja pake kamera keren, jadi fotonya ga goyang-goyang.

Eniwei, saya paling suka foto yang ada pohon-pohon kering itu. Kesannya misterius ya liat dahan-cabang pohon tanpa daun gitu.

Tuh kan, jadi pingin ke Paris lagi..

 

/salam rindu

Ini tulisan keempat saya tentang jalan-jalan ke Paris.  Tulisan sebelumnya bisa ditengok  di link 1link 2, dan link 3.

Penglihatan

Aku tak punya kemampuan untuk melihat bagaimana hidup kita lima atau sepuluh tahun mendatang.
Aku berani mengambil risiko, bukan karena aku tak punya pilihan, tapi lebih karena penasaran.

Bagaimana kita jadinya nanti, Sayang? Setelah melewati banyak perubahan.
Kurus jadi gembrot, sehat jadi sakit, menyenangkan jadi menyebalkan.
Perhatian jadi abai, hangat jadi dingin.

Benarkah cinta hadir untuk waktu tak terbatas,
atau ia seperti makanan kemasan, pada saatnya nanti akan kadaluwarsa.
Jika benar adanya demikian,
Siapa yang lebih dulu menyerah pada hubungan kita, aku atau kamu?

Sekarang cinta kita panas menggebu,
aku penasaran, kapan ia akan membatu.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day22

Bukan Kolam Susu

Sebelum memutuskan menyelam sama kamu, aku sudah siap tenggelam.
Aku percaya, tidak ada yang pasti di dunia ini, dan seperti biasa, aku sudah menyiapkan diri pada seribu kemungkinan yang bisa terjadi.
Kemungkinan yang sangat baik, dan kemungkinan yang sangat buruk.
Aku sangat siap bahagia, dan sangat siap pula untuk sengsara.

Hidup sama kamu itu pilihan yang aku buat dalam sadar yang penuh.
Selayaknya sebuah keputusan besar, yang melibatkan banyak orang, sebagian mendukung sebagian lagi mencela.
Aku siap, sesiap kamu.

Kemudian kita menyeburkan diri sama-sama di kolam yang sudah kita persiapkan bertahun lalu.
Aku, kamu, sama-sama sadar, kolam kita bukan kolam susu.
Kadang manis, kadang pahit, kadang mendekatinya saja perut sudah mual-mual.

Tapi itu kolam kita. Kita menangis, tertawa di kolam itu.
Bertebaran hal baik di kolam kita, hanya perlu melihat lewat sisi yang berbeda untuk menemukannya.

Dear, aku cinta kamu, dan kolam kita.

——
#30HariMenulisSuratCinta
#Day21

Harus Bagaimana?

DSCN3655

Bayi saya sudah dua tahun. Saat ini dia sedang rajin-rajinnya membongkar (apapun) di rumah. Kebanyakan saya membiarkan dia bermain dengan pengawasan. Terkadang, saya tidak bisa mengawasi dia 24 jam penuh. Saya membiarkan ia bermain sendirian di ruang depan.

Kadang pula, saya terlelap saat menyusui. Setelah kenyang, dia bukannya ikut tidur, malah turun dan main sendirian. Biasanya sih, saat saya terbangun, dia sudah menyiapkan kejutan.

Kadang, air dari botol minumnya dituangkan di lantai, kadang menumpahkan isi botol minyak kayu putih, kadang menulisi tangan dan kaki saya dengan pulpen.

Apa yang saya lakukan? Saya biasanya duduk, tarik nafas panjang beberapa kali, berusaha mengendalikan emosi, dan kemudian memperbaiki semua kekacauan. Mau marah ya ga tega, anak sendiri, masih bayi, dimarahi.

Lagipula, marah ga akan menyelesaikan masalah. Sudahlah dia menangis karena sedih dimarahi ibunya, belakangan ibunya yang sedih karena merasa bersalah. Bukan solusi, menurut saya.

Selama ini, setelah beres-beres, saya biasanya mendudukkan dia di dekat saya, menanyakan mengapa dia begini, dia begitu. Kemudian menjelaskan kenapa perbuatan ini dan itu tidak baik, dan meminta dia tidak mengulanginya lagi.

Entah karena dia masih anak-anak, atau saya yang kurang pandai mengajari anak. Hal demikian tetap saja berulang, dan semakin lama semakin naik tingkatannya. 😀

bedak.

Bangun tidur siang tadi, saya terpaksa menyaksikan pemandangan yang memilukan ini. Bedak yang tadinya masih penuh, sekarang tinggal sejarah. Hebatnya, si bayi ga merasa bersalah. Dia santai saja membedaki seprai, boneka, baju, dan wajahnya sambil bilang, “Ma, bedak ma, bedak ma.”

Okeh, jadi template seperti yang sudah saja jelaskan tadi saya lakukan. Duduk, tarik nafas, beres-beres. Bedanya, kali ini saya mengabadikan sisa main-mainnya si bayi. Untuk kenang-kenangan. 😀

bedak11

Saya bukan ibu yang sabar, tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk jadi ibu yang demikian. Sesekali saya kelepasan, membentak dengan suara tinggi, atau ikut menangis saat dia tantrum. Saya juga pernah meninggalkan dia sendirian di kamar saat dia memilih melempar-lemparkan badannya di lantai daripada saya peluk.

Saya berusaha jadi ibu yang baik, dan akan terus berusaha. Saya berjanji.
*tarik napas, seribu kali. 😀

/salam

Pada Satu Masa

Ingatkah kau saat itu.
Waktu aku datang, lalu teriak lantang di depan wajahmu.
“Aku mau kamu, untuk aku!”

Lalu kau diam, terhenyak, bingung.
Berpikir beberapa saat sebelum mampu menjawab.
“Ada orang yang aku tunggu.”

Kali ini, giliranku terdiam. Mulutku terkatup.
Tapi otakku berdenyut cepat, memikirkan seribu satu kemungkinan, dan lekas mengambil satu keputusan.
“Aku mau jadi yang kedua.”

Kau sandarkan tubuhmu ke dinding.
Menghela napas berat. Susah sekali tampaknya mengeluarkan kata untuk menghentikan niatku.
“Kamu keras kepala. Jadi yang kedua tak enak. Jangan memaksa.”

Aku, menyodorkan wajahku semakin dekat. Memelototi matamu lekat. Tanganmu aku genggam erat, dan aku berkata.
“Aku tak peduli.”

Pada satu masa, cinta ini mesti diperjuangkan.
Pada satu masa, ada kesakitan dalam senyumku,
dan aku rela.

Pada satu masa, aku mencintaimu begitu rupa.
Pada masa ini, aku masih mencintaimu seakan segalanya.
Masa depan akan tetap demikian.
Percayalah.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day19

 

Karma

Yang ada di pikiran saya hanya memperjuangkan cinta.
Saya pikir, pandangan mata yang tertumbuk enggan lepas dari punggungnya itu suatu pertanda.
Saya dan dia, pasti bersama.
Dan, agar hal itu terlaksana, saya mesti bergerak.

Seperti anjing kelaparan saya mengejar.
Dimana dia ada, tidak jauh di sekitarnya, saya ada.

Jika matanya memandang sekeliling, saya duduk manis, menyiapkan senyuman.
Merayu.

Dia kekasih orang.
dan saya tak mau tahu.

Saya terus saja menggoda.
Lewat coklat dan puisi yang tak pernah habis saya sematkan di sakunya.

Dia gemetar, ragu.
dan mengiyakan saat saya minta jadi kekasih gelapnya.
Saya menang satu langkah.

——

Sepuluh tahun kemudian

Saat ini, saya, dia, hidup bahagia.

——

Karma

Saya sering memikirkan karma.
Apakah yang saya lakukan dulu, dosa?

////

Aku Cinta, Meski

Aku cinta, meski rasanya tidak manis macam madu.
Aku cinta, meski pedihnya sembilu kalah dibanding kamu.
Aku cinta, meski kenangan yang ada dulu, sudah ditumpuki debu.

Pojokan itu, tempat aku menaruh cintaku.
Sudut paling kotor di hati.
Jarang dibersihkan.
Terlupa dibersihkan.
Maka ia abadi disana.

Aku cinta, meski getar sudah lama hilang.
Aku cinta, meski belakangan suara tawa jarang mengudara.
Aku cinta, meski tidur kita saling membelakang.

Hati ini, tempat aku menyimpan dirimu.
Tak tahu bagian mana yang ada kamu.
Kubiarkan saja dia di situ.
Selamanya,
bagian itu
untuk kamu.

Aku cinta, meski
kamu
tidak.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day16