Love Happens – Obati Sedihmu

Setiap kita pasti pernah sedih kan? Nah, si Burke Ryan (Aaron Eckhart) ini punya obatnya.

Buku yang ditulis Ryan tentang nasihat dan cara mengatasi masalah sukses besar di pasaran. Tak cukup hanya buku saja, si Ryan ini juga bikin seminar-seminar tentang buku-nya. Dilengkapi demo tentang cara mengatasi masalah juga. (ada demo jalan di atas bara api yang menyala juga loh).

Peserta seminarnya si Ryan ini macem-macem, ada yang ditinggal mati anaknya, ada yang ditinggal mati pasangannya, ada juga yang ditinggal mati saudaranya. (eh kok mati semua ya?) Nah, adegan-adegan waktu si Ryan bantu peserta seminarnya itu mengharukan loh, pertolongan akhirnya tidak cuma datang dari si Ryan seorang, peserta lainnya (yang meskipun masih sedih) jadi ikut-ikutan nolong kawan mereka.

Nah, singkat kata singkat cerita, si Ryan ini ketemu sama Eloise Chandler (Jennifer Aniston) di satu hotel. Eloise yang diceritakan baru aja kecewa tentang cinta-cintaan memutuskan untuk gak meduliin si Ryan.

Tapi (sama seperti cinta-cintaan yang lain), akhirnya si Eloise kepincut juga sama Ryan. Masalahnya adalah, si Ryan ini walaupun mampu nulis buku tentang cara mengatasi masalah, ternyata punya masalah juga.

Meski idenya sederhana, (menurut saya) film ini layak tonton, karena sukses bikin ketawa dan nangis dan ketawa lagi.

catatan : Bagi anda pecinta burung, film ini bolehlah ditonton. Karena, meski adegan burung-nya cuma se-iprit, tapi lucunya pooll…

/pecinta slasher yang juga cinta “lop-lopan*

juga diletak di sini

Petang Jakarta

sudah lama saya disini
selama ini, yang keluar dari bibir seksi,
cuma caci.

sudah lama saya disini
selama ini, yang keluar dari tubuh
cuma keluh, ditambah peluh

sudah lama saya disini
selama ini, yang terjadi setiap hari
cuma berlari tak henti, mendului mentari.

sudah lama saya disini
kali ini
saya jatuh
terduduk
memuji

jakartaku, cantik sekali.

/april2010

Harusnya Cinta

Harusnya cinta merah jambu
Tapi mengapa
Aku kelabu.

Harusnya cinta indah
Tapi mengapa
Aku gelisah.

Harusnya cinta ramah
Tapi mengapa
Aku berdarah.

Harusnya cinta melindungi
Tapi mengapa
Aku sepi.

Harusnya cinta nyaman
Tapi mengapa
Aku tertekan.

Harusnya cinta memahami
Tapi mengapa
Aku sendiri.

Harusnya cinta menyembuhkan
Tapi mengapa
Aku sakit bukan kepalang

Harusnya cinta selalu ada
Tapi mengapa
Aku menunggu tanpa jeda.

Harusnya cinta menemani
Tapi mengapa
Kamu
pergi.

/Jakarta-april2010

Kamu Siapa?

Kamu.
Ya, Kamu.
Mengganggu mata kemarin. Di metromini.

Debar jantung bersahutan, mata enggan tenang.
Lengan diharap sempat menyatu saat bus rombeng mendadak diam.
Badan dipasang melayang, berharap ditopang lengan idaman

Ahh, kamu.
Ya, Kamu.
Buat otakku buntu.

“halte.. halte…” kondektur berteriak.

Aku? Enggan melangkah.
Terpaksa hanya melepaskan sepandang kilas.
Hanya riap rambut panjang yang terlihat.

Kamu.
Ya, Kamu. Lelaki misterius di bus kota.
Kamu siapa?

Kau Rindukan ku?

Kau rindukanku kah? Saat malam mulai gelap dan ranjangmu tak lagi hangat.
Kau rindukanku kah? Saat ratusan lengan terpaut dan lenganmu kosong tak bergayut.
Kau rindukanku kah? Saat bibir lama tak memagut, saat kemaluanmu berdenyut.
Bulan sembunyi
Lengan sendiri
Bibir terkatup
Aku, sangat merindukanmu. Saat ini.
Saat malam sudah gelap, dan ranjangku mulai kusut.
Saat lengan dan telapakku didekap
Saat bibirku berpagut dan mulutku melenguh ribut.

Kau rindukanku kah?
Seperti mata pada cahaya.
Seperti  perampok pada bahaya.

Penting untukku jawabmu, meringankan beban, untuk ketololan.
Bukan, bukan hendak kembali padamu!
Hanya saja baik bagiku bila kau berkata ya.
Supaya aku bisa mati bahagia.

/kuningan, 3/10

Rantai Retak

 

Selama ini, Kujeritkan namamu, kurantai kakimu, kubatasi mimpimu, kututup telingamu.
Aku ingin, kau hanya berputar-putar disekitarku.

Selama ini, kuperiksa mulutmu, kudengarkan igaumu.
Aku ingin, hanya namaku yang kau desahkan.

Meski begitu, sekuat apapun usahaku, aku tahu, suatu saat kau akan sadar rugimu bersamaku.

Saat malam menjelang, genggaman tangan merenggang, yang kau sisakan hanya senyum dan ratusan pesan yang mengawang.

Pergilah! Kau kurelakan, dan jangan khawatirkan posisimu.
Kau yang terakhir, dan yang lain akan diusir.

Aku, Kau, masih ada disini sekarang.
Harapku, semoga sadarmu tak lekas datang.

/menjelang tanggal keramat ke-72. #2

Setengah Hati

Kau mencintaiku? Aku tahu. Tapi seberapa besar? Aku tak tahu.

Setahuku, saat mengunyah cintamu, aku harus berbagi dengan ratusan mimpi di otakmu dan janji yang diucapkan mulutmu.

Saat lelapmu, dunia lain datang merenggut.
Meninggalkanku sendirian yang masih nyalang menatap malam.

Kala lain, memang ada kulit bibir menempel, ada kulit tubuh menggesek, jemari menali.
Saat itu, ragamu memang bersamaku, tapi aku hampir yakin hanya setengah hatimu saja yang kau sisakan untukku…

Tak Rela

Hai kamu yang kunamai rintik.
Apa kabarmu?
Kemarin, burung puyuh membisikiku. Katanya, kau tak kan lagi mengemis cinta dikakiku.
Benarkah itu?

Hai kamu yang kunamai rintik.
Tahukah kamu, terasa ada lubang di dadaku. Tepat di hatiku!
Setelah sekian lama kau merinduiku?

Hai kamu yang kunamai rintik.
Aku berduka, bukan karena aku cinta.
Tapi karena aku tak rela, kehilangan seorang hamba.

Hilang

alone

Pagi tadi, sama seperti pagi-pagi kemarin dan kemarinnya lagi. Terasa lelah, padahal tak terdengar pekik perintah.

Siang tadi, sama dengan siang kemarin.
Suara Tawa membahana, terdengar desis tangan bekerja, ribut kaki melangkah.. tik..tuk..tik..tuk..
Aku? Kosong saja.

Malam ini, sama seperti malam-malam kemarin.
Raga dalam perjalanan pulang..

Jiwa?

Sudah seminggu menghilang.

/ode di perut sepur malang.

Karena ingatan itu pendek dan kenangan itu abadi