#Resepkuno

Jaman buyut-nenek-mamak dulu, untuk menyembuhkan semacam penyakit kambuhan tidak perlu repot ke dokter. Banyak rumus-rumus yang terbukti ampuh.

Misalnya?

Gini nih.. kalau kaki kesemutan, obatnya cukup dengan ambil kertas kecil terus ludahin deh kertasnya, abis itu kertas yang udah basah dan bau iler ituh ditempelkan di jempol kaki. Tunggu sebentar, dijamin kesemutannya hilang..

Ada lagi, kalau ada yang cegukan tak hilang-hilang, obatnya bisa dengan “dikagetin” aja.

Ayok, mari sama-sama berpikir, mengingat-ingat resep kuno apa yang pernah diwariskan oleh pendahulu mu… 😀

/Nenek moyang kreatif.

Bebek Belur Film Indonesia

foto dari cineplex.com

Pertama nonton film ini, sebenernya kepala saya sudah tidak berharap apa-apa, saya sudah keburu kaciwa dengan film Indonesia. Pernah, dalam satu kesempatan saya ke satu sinema di kawasan Blok M, yang tersedia hanya film Indonesia, 4 layar film Indonesia semuanya. Tiga layar di sinema itu menampilkan tokoh-tokoh dari keluarga hantu semacam, pocong, tuyul, dan kawan-kawannya, satu layar lagi akan menampilkan film yang cukup kontroversial. “ada adegan pijit-pijitan di film ituh”

Oke, saya sudah dewasa, tak ada salahnya nonton film pijit memijit bukan? Hehe.. hasilnya? Pijit memijit disensor, dan saya kecewa pol dengan filmnya.

Berdasarkan pengalaman maka saya anggap wajar saja kalau saya memasang tingkat kepuasan di tingkat terendah saat akan nonton film Bebek Belur malam itu. Karena ekspektasi saya rendah, saya pastikan akan menikmati fim tanpa marah, dan kaciwa.

Perlahan film mulai, ceritanya tentang laki-laki tua, buncit, beruban, dan sudah beristri dari kampung cibebek. Bapak tua ini jatuh cinta pada kembang desa di kampung sebelah, sangking cintanya si bapak sampai mengganti nama dan status. “saya duda,” kata dia. Ibu si gadis, yang mata duitan menerima si bapak dengan tangan terbuka, si anak kelihatannya nunut saja.

Dalam film ini, digambarkan dunia memang nyatanya seperti daun kelor, tokoh yang satu ternyata mengenal tokoh yang lain, tokoh yang lain itu mengenal tokoh yang lain lagi. Nah, tokoh-tokoh itu, yang berkenalan belakangan akhirnya bersepakat menolong laki-laki, pacar si kembang desa, yang berpotensi besar ditinggalkan sang pacar demi si bapak tua.

Keseluruhan, film ini cukup menghibur. Kelasnya jauh di atas film “pijit-pijit Kontroversial” yang saya ceritakan di atas. Layak tonton, pemain film kawakan bertebaran di mana-mana. Oh iya, jangan menebak akhir ceritanya, nikmati saja. 😀

Frozen, Nyeri

Film ini bertutur tentang tiga mahasiswa yang sedang liburan dan berski di bukit salju. Pada tahun-tahun sebelumnya, Dan & Joe selalu menghabiskan liburannya berdua saja, tapi kali ini, Dan membawa pacarnya, Parker.

Dan & Joe digambarkan teman sejak kecil, persahabatan terus berlanjut sampai sekarang. Drama mulai terjadi sejak awal film dimulai. Protes-protes Joe pada Dan, yang belakangan banyak menghabiskan waktu bersama Parker jadi pembuka yang manis. Percakapan ala lelaki ini, yang sepertinya cuma sekilas, menyentuh.

Parker digambarkan sebagai perempuan yang cantik dan manja. Ketidakbisaannya ber-ski menjadi bahasan utama 15 menit pertama.

Nyeri mulai bermula saat Joe mengusulkan satu putaran ski lagi sebelum istirahat. Di sini tanda-tanda “kesuraman” mulai terlihat.

Untuk naik ke atas bukit salju mereka mesti menumpang kereta salju (duduk di kursi yang dikerek menanjak). Di tengah perjalanan, ada miskomunikasi antara operator kereta dan petugas yang menggantikannya. Kereta salju berhenti, mesin kerek mati tiba-tiba, semua lampu juga padam.

Mereka mesti menyelamatkan diri sendiri, pasalnya bukit salju itu hanya buka akhir minggu. Artinya mereka akan mati kedinginan di kereta kalau tidak melakukan apa-apa.

Ketegangan demi ketegangan susul menyusul dari pertengahan sampai akhir film, Seterusnya? mesti nonton sendiri…. 😀

Film ini jauh dari membosankan, meski saya nonton menjelang tengah malam, ngantuk tak terasa sama sekali. Adegan-adegan yang ditampilkan sangat natural. Saya yakin, sepuluh orang penonton malam itu di blitz, merasakan nyeri yang sangat di beberapa bagian tubuh mereka.

Berani?

diletak juga di sini, dan di sini

My name is Khan and I’m not a terrorist

“Ini murni kisah cinta. Bukan cuma cinta orangtua, pasangan, tapi juga cinta sesama. ”

Hampir seluruh fase kehidupan Rizvan Khan (Shahrukh Khan) diceritakan dalam bentuk kilas balik. Rizvan kecil yang penderita Sindrom Asperger diceritakan hidup bersama ibu dan adiknya.

Fase masa kecil ini merupakan fase paling penting dalam kehidupan Rizvan. Karena kondisinya, sang ibu mesti memberikan perhatian lebih, yang akhirnya membuat sang adik cemburu.

Sepeninggal ibunya, Rizvan menyusul adiknya yang lebih dulu pindah ke Amerika. Awalnya semua berjalan baik, sampai Rizvan bertemu Mandira (Kajol) yang seorang Hindu.

Setelah menikah, keluarga Khan terus mengalami kesulitan. Semunya dimulai dari tragedi 9/11. Pandangan negatif akan Islam tak hanya datang dari lingkaran masyarakat. Di sekolah, Islam bahkan digambarkan sebagai agama yang penuh kekerasan.

Rizvan yang muslim akhirnya pergi ke beberapa kota di Amerika untuk menunaikan janji pada Mandira. Di perjalanan Rizvan memiliki misi menyebarkan kebaikan untuk membuktikan Islam adalah agama yang cinta damai.
Fav Qoute :

Manusia dibedakan dari 2 hal, baik dan buruk. Manusia yang baik selalu mengerjakan hal yang baik, sedangkan Manusia yang buruk selalu mengerjakan hal yang buruk”.

Note: adegan penutup di film ini saya rasakan lebay (gaya alay). Terlalu berlebihan. Positifnya, sepanjang film kita disuguhi gambar-gambar aduhai. Entah kenapa pemukiman padat India jadi terlihat eksotis, LOL.

juga diletak di sini

Love Happens – Obati Sedihmu

Setiap kita pasti pernah sedih kan? Nah, si Burke Ryan (Aaron Eckhart) ini punya obatnya.

Buku yang ditulis Ryan tentang nasihat dan cara mengatasi masalah sukses besar di pasaran. Tak cukup hanya buku saja, si Ryan ini juga bikin seminar-seminar tentang buku-nya. Dilengkapi demo tentang cara mengatasi masalah juga. (ada demo jalan di atas bara api yang menyala juga loh).

Peserta seminarnya si Ryan ini macem-macem, ada yang ditinggal mati anaknya, ada yang ditinggal mati pasangannya, ada juga yang ditinggal mati saudaranya. (eh kok mati semua ya?) Nah, adegan-adegan waktu si Ryan bantu peserta seminarnya itu mengharukan loh, pertolongan akhirnya tidak cuma datang dari si Ryan seorang, peserta lainnya (yang meskipun masih sedih) jadi ikut-ikutan nolong kawan mereka.

Nah, singkat kata singkat cerita, si Ryan ini ketemu sama Eloise Chandler (Jennifer Aniston) di satu hotel. Eloise yang diceritakan baru aja kecewa tentang cinta-cintaan memutuskan untuk gak meduliin si Ryan.

Tapi (sama seperti cinta-cintaan yang lain), akhirnya si Eloise kepincut juga sama Ryan. Masalahnya adalah, si Ryan ini walaupun mampu nulis buku tentang cara mengatasi masalah, ternyata punya masalah juga.

Meski idenya sederhana, (menurut saya) film ini layak tonton, karena sukses bikin ketawa dan nangis dan ketawa lagi.

catatan : Bagi anda pecinta burung, film ini bolehlah ditonton. Karena, meski adegan burung-nya cuma se-iprit, tapi lucunya pooll…

/pecinta slasher yang juga cinta “lop-lopan*

juga diletak di sini

Petang Jakarta

sudah lama saya disini
selama ini, yang keluar dari bibir seksi,
cuma caci.

sudah lama saya disini
selama ini, yang keluar dari tubuh
cuma keluh, ditambah peluh

sudah lama saya disini
selama ini, yang terjadi setiap hari
cuma berlari tak henti, mendului mentari.

sudah lama saya disini
kali ini
saya jatuh
terduduk
memuji

jakartaku, cantik sekali.

/april2010

Harusnya Cinta

Harusnya cinta merah jambu
Tapi mengapa
Aku kelabu.

Harusnya cinta indah
Tapi mengapa
Aku gelisah.

Harusnya cinta ramah
Tapi mengapa
Aku berdarah.

Harusnya cinta melindungi
Tapi mengapa
Aku sepi.

Harusnya cinta nyaman
Tapi mengapa
Aku tertekan.

Harusnya cinta memahami
Tapi mengapa
Aku sendiri.

Harusnya cinta menyembuhkan
Tapi mengapa
Aku sakit bukan kepalang

Harusnya cinta selalu ada
Tapi mengapa
Aku menunggu tanpa jeda.

Harusnya cinta menemani
Tapi mengapa
Kamu
pergi.

/Jakarta-april2010

Kamu Siapa?

Kamu.
Ya, Kamu.
Mengganggu mata kemarin. Di metromini.

Debar jantung bersahutan, mata enggan tenang.
Lengan diharap sempat menyatu saat bus rombeng mendadak diam.
Badan dipasang melayang, berharap ditopang lengan idaman

Ahh, kamu.
Ya, Kamu.
Buat otakku buntu.

“halte.. halte…” kondektur berteriak.

Aku? Enggan melangkah.
Terpaksa hanya melepaskan sepandang kilas.
Hanya riap rambut panjang yang terlihat.

Kamu.
Ya, Kamu. Lelaki misterius di bus kota.
Kamu siapa?

Kau Rindukan ku?

Kau rindukanku kah? Saat malam mulai gelap dan ranjangmu tak lagi hangat.
Kau rindukanku kah? Saat ratusan lengan terpaut dan lenganmu kosong tak bergayut.
Kau rindukanku kah? Saat bibir lama tak memagut, saat kemaluanmu berdenyut.
Bulan sembunyi
Lengan sendiri
Bibir terkatup
Aku, sangat merindukanmu. Saat ini.
Saat malam sudah gelap, dan ranjangku mulai kusut.
Saat lengan dan telapakku didekap
Saat bibirku berpagut dan mulutku melenguh ribut.

Kau rindukanku kah?
Seperti mata pada cahaya.
Seperti  perampok pada bahaya.

Penting untukku jawabmu, meringankan beban, untuk ketololan.
Bukan, bukan hendak kembali padamu!
Hanya saja baik bagiku bila kau berkata ya.
Supaya aku bisa mati bahagia.

/kuningan, 3/10