Matahari, Senja, dan Pasir di Wediombo

Juli 2017 semacam jalan-jalan balas dendam, setelah camping ceria di Ranca Upas, Ciwidey, Bandung, kami melanjutkan perjalanan langsung ke Yogyakarta lewat jalan darat. Niatnya, setelah sampai Jogja, mau langsung melipir ke arah Gunung Kidul dan buka tenda di pantai Wediombo.

senja di Wediombo

Kedengarannya ambisius, ya. Sayang rencana tinggal rencana. Keputusan kami untuk tidak memilih jalan umum non tol menuju Jogja membuat perjalanan molor sampai enam jam! Mau dienak-enakin lanjut ke Gunung Kidul, tapi kok badan rasanya ga enak, lumayan pegal sepanjang perjalanan, euy.

Setelah diskusi sebentar, kami memutuskan menunda sehari perjalanan ke Wediombo. Jadi, sesampainya di Jogja kami lekas cari penginapan via online buat rebahan. Syukurnya, penginapan yang kami pesan membolehkan early check in karena kamarnya memang kosong. Lumayan jam delapan pagi udah bisa masuk kamar, mandi, dan lanjut tidur enak banget!

Besok paginya setelah sarapan dan packing keperluan buat di pantai, kami jalan ke Pantai Wediombo. Pantainya ini lumayan dekat dari Jogja, sekitar 75an kilometer saja. Jalan menuju lokasi udah bagus, lubang ada tapi ga banyak. Di perjalanan kali ini lagi-lagi kami berpasrah diri pada google maps! Eyang Google, sungguh kami padamuuu.. *kiss basah

Pintu gerbang Pantai Wediombo ini besar, ga mungkin kelewatan. Gerbang ini sekaligus jadi pintu masuk untuk beberapa pantai lain di kawasan Gunung Kidul, seperti Pantai Nampu, Pantai Grendan, dan Pantai Jungwok. Biaya masuknya murah saja, Rp 5000/orang. Tidak ada pungutan lain untuk biaya masuk setibanya di pantai, tetapi jika membawa kendaraan akan ada biaya parkir.

Karena akan meninggalkan kendaraan semalaman dan menginap di pantai, kami disarankan memilih parkiran yang jaraknya sekitar 400an meter dari pantai. Sebenarnya 400 meter ini ga jauh ya, tapiiii jalannya turunan dan menukik tajam. Untung saja mobilnya bisa manjat euy.

Oh iya, parkiran di pintu masuk pantai ini cukup terbatas, jadi banyak mobil yang ga kebagian parkir di bawah terpaksa ikut parkir di atas. Untuk turun ke arah pantai atau naik kembali nanti setelah beres main-main, selain jalan kaki bisa juga pakai jasa ojek. Biaya ojeknya Rp 5000 sekali jalan.

Di pintu masuk pantai, pengunjung bakal dapat sambutan hangat dari tangga beton yang lumayan banyak. Tangganya sih ga curam, enak dipakai turun dan naik, tapi beban yang saya bawa lumayan banyak jadi mesti beberapa kali berhenti buat ngatur napas.

Di ujung tangga kita akan ketemu langsung sama pantai, pasir, dan karang. Pantai Wediombo ini punya karang yang banyak banget, ga disarankan buat mandi-mandi di laut karena kulitnya bisa luka kalau tergores sudut karang yang tajam. Ombak di pantai juga lumayan besar, bahaya kalau mandi tanpa pengawasan, rawan tergulung ombak.

Sebelum datang ke pantai, kami sudah sempat riset sedikit soal kemungkinan berkemah. Beberapa tulisan dan video rujukan kebetulan ga ada yang menunjukkan lokasi persis buka tenda. Jadi, sesampainya di pantai, kami sempat bingung cari tempat. Di bibir pantai ada beberapa teras beton datar. Sayangnya teras yang sepertinya milik warung-warung di sekitar pantai itu tidak boleh digunakan untuk berkemah.

Saya kemudian meninggalkan bawaan dan berjalan ke arah kanan pantai. Sekitar dua ratus meter dari ujung tangga pintu masuk saya menemukan warung yang letaknya agak di atas. Warung-warung itu berdiri di tanah keras, bukan pasir pantai. Saya ngobrol sedikit dengan empunya warung dan minta izin buka tenda. Mbak pemilik warung memersilakan dan menarik biaya Rp 5000/tenda untuk biaya kebersihan.

Lokasi yang kami pakai ini, menurut mbaknya biasa dipakai sebagai lokasi kemah dan biasanya cukup ramai di akhir pekan. Wah, kami kan datangnya di hari kerja jadinya sendirian dong. Dududu, agak deg-degan sih, tapi karena sudah kadung sampai di lokasi, the show must go on. *iket kepala

Setelah tenda berdiri, makanan dimasak, saya kabur sebentar buat menikmati senja yang luar biasa cantik di pantai. Suasananya sepi sekali, pengunjung sudah kembali pulang, warung sudah mulai tutup. Wediombo jadi milik kami malam itu. 🙂

Kedengarannya romantis, yaa..

Iya sih.

Meskipun sudah mulai malam dan tanpa penerangan, sinar bulan yang sangat terang membuat kami bebas memandang laut sampai jauh. Air laut mulai naik, menutup sebagian besar karang yang tadinya berbaris di pinggiran pantai.

Tapi ga sepenuhnya romantis. Karena saat malam makin larut, Pantai Wediombo beneran kosong, ga ada siapa-siapa. Ga ada suara manusia, ga ada orang lewat, yang kedengeran cuma suara ombak yang pecah di pantai.

Sepi.

Sepi banget.

Karena suasana pantai yang sangat sepi itu dan khawatir kalau-kalau ada binatang liar yang berkeliaran di sekitar, kami buru-buru masuk dan menutup pintu tenda. Sayangnya itu ternyata keputusan yang buruk. Di dalam tenda panasnya luar biasa, saya sudah pakai celana dan baju lengan pendek yang tipis, tapi tetap saja kepanasan.

Nongkrong di luar sebenarnya bisa jadi solusi, duduk-duduk menghadap laut sambil ngobrol sepertinya enak. Tapi kok ya waktu itu kami ga berani dan hanya membuka pintu tenda untuk membiarkan angin masuk mengusir pengap. Kami akhirnya punya kesempatan tidur sekitar jam 3 pagi saat udara di dalam tenda mulai terasa cukup adem.

Berbeda dengan suasana malamnya, pagi di Wediombo sangat menyenangkan. Pantai baru mulai ramai sekitar pukul 9 pagi. Sebelum itu, kami puas main-main bertiga, serasa liburan di private beach, deh. 😀

Rasanya belum puas main-main, tapi matahari sudah mulai meninggi dan cuaca semakin panas. Kami kembali ke tenda dan segera berkemas. Saatnya tiba untuk pulang ke penginapan dan beristirahat karena esok harinya kami punya rencana untuk tracking ke Gunung Merbabu lewat jalur Wekas, Magelang. Perjalanan di Gunung Merbabu akan saya ceritakan di postingan yang berbeda. Tunggu, ya. ^^

Untuk teman-teman yang berencana menginap di Wediombo, saya ingin membagikan beberapa tip:

  1. Jika berkemah dalam kelompok kecil, 2-4 orang (satu tenda), lebih baik pilih akhir pekan agar tidak kesepian.
  2. Jika memaksa berkemah di hari kerja, ajak serta beberapa teman untuk menemani.
  3. Pedagang makanan kebanyakan tutup menjelang malam. Belilah makanan/perbekalan yang diperlukan sebelumnya.
  4. Bawa uang tunai secukupnya untuk keperluan pembayaran toilet/berbelanja. Toilet ada banyak dan modelnya berbayar. Bayarnya Rp 2000 untuk buang air dan Rp 5000 untuk mandi.
  5. Jika memungkinkan, pilih tenda yang cocok untuk suasana pantai. Tenda pantai biasanya dilengkapi dengan bukaan/jendela yang cukup banyak.
  6. Pilih lahan dengan tanah padat atau jika harus pasang tenda di pasir pilihlah yang pasirnya cukup padat. Untuk tenda yang dipasang di area berpasir, amankan/timpa pacaknya dengan batu.
  7. Perhatikan cuaca, pilih cuaca yang minim curah hujannya.
  8. Bangun tenda di lokasi yang cukup terlindung dari angin, misalnya di bawah pohon atau di samping dinding.
  9. Bawa serta sampahmu ketika pulang.

Selamat berkemah dan menikmati senja di pantai, teman-teman. Titip salam untuk Pantai Wediombo, ya. ^^

/salam pasir

 

9 thoughts on “Matahari, Senja, dan Pasir di Wediombo”

  1. sebelumnya, lo emang pernah tau ada yang kemah di situ apa nggak, re?
    kalo suasana sepinya luar biasa emang kadang bikin parno ya..

    1. Tau Vir, jadi udah baca beberapa tulisan, liat beberapa video. Cuma ya mereka campingnya ga pernah sendirian, pasti segrup gitu.

    1. Kalau wiken katanya rame, mba. Tapi kalau kempingnya wikdey kaya kami kemarin, lebih baik pergi berkelompok agar nyaman.

    1. Aku malah belum pernah ke parangtritis, dududu. Iya, pantai di gunung kidul itu bagus-bagus, Bil. Ada Pantai Indrayanti & Pantai Drini yang udah lumayan terkenal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *