Paris, Mimpi yang Terwujud

Saya belum pernah ke luar negeri, selalu ada saja alasan untuk tidak ke luar negeri. Tetapi saya ingin, sangat ingin. Lalu kemudian ada kuis yang bisa diikuti di fanpage-nya XL Rame. Hadiahnya jalan-jalan ke Phuket, Jepang, dan Paris.

Saya ikut main gamenya, mulai 8 Oktober 2012-14 November 2012, setiap hari, tanpa putus. Setelah poin terkumpul, saya pilih destinasi Paris plus bikin satu tulisan (alasan) kenapa saya ingin ke sana.

Kemudian saya berdoa.

Saya sebelumnya pernah menulis soal keinginan dan harapan yang tak dinyana menjadi kenyataan. Keinginan yang jadi nyata ‘cuma’ bermodalkan harapan sekilas, keinginan sekilas.

Kali ini saya mengulangi kembali cara tersebut. Bedanya, saya tidak minta sekilas. Saya minta setiap hari dengan suara yang kencang. Saya bahkan menuliskan keinginan itu dalam bentuk postingan blog di sini dan di sana.

Semesta mengabulkan doa saya. Visa Schengen tertempel dengan cantiknya di paspor saya. Saya senang, sungguh.

——

10 Desember kemarin, saya tiba di Bandara pukul 14.00 WIB, sesuai instruksi yang disampaikan penyelenggara. Saya, dua pemenang lain, 3 tamu undangan, perwakilan dari XL dan agen yang mengurus perjalanan, terbang dengan Etihad Airlines dengan rute Jakarta – Abu Dhabi – Paris.

ke Abu Dhabi
ke Abu Dhabi

Penerbangan ke Abu Dhabi makan waktu sekitar 8 jam perjalanan. Transit 3 jam, trus masih ada 7 jam perjalanan lagi dari Abu Dhabi menuju Paris.

——

Apa rasanya ke luar negeri, Re?

Rasanya luar biasa. Selama ini naik pesawat paling jauh ke Indonesia Timur, transit Bali. Paling lama 5 jam perjalanan. Kali ini saya naik pesawat dengan waktu tempuh 3 kali lipatnya.

Jauh ya Paris itu?

Jauh sih, tapi untungnya saya sama sekali ga rasa bosan di pesawat. Soalnya ada hiburan yang bukan main asiknya di tiap bangku untuk tiap penumpang. Bisa pilih, mau nonton film, denger audio, liat maps, main game. Saya nonton beberapa film sepanjang perjalanan, kebanyakan sih film India.. *joged kelilingin pramugara ganteng.

aku cinta e-box
aku cinta e-box

Sampai di Paris jam 8 pagi. Kalau di Jakarta, udah kebayang kan ramenya kayak apa? Nah, di Paris jam segitu, pas winter gini, masih sepi pun gelap.

Keluar bandara langsung kerasa dingin, ga kuat kalo ga pake jaket. Jadi, dengan terpaksa, kayak uwak-uwak bongkar barang dagangan di pasar, saya bongkar koper di bandara, cari jaket dan sarung tangan. 😐

Taksi udah nunggu, saya dan yang lain dianter bapak sopir taksi yang kayaknya asli Paris itu ke Hotel Ibis Budget Paris Porte d’ Aubervilliers. Gak enak euy disopirin si bapak, agak mual-mual gimana gitu, rem dan gas seenaknya. Nanya ke temen di mobil sebelah, katanya gitu juga.

Gak, bapak sopir gak berhasil bikin saya bad mood. Ini senyum sama sekali ga lekang dari muka saya. Seneng.. 🙂

——

Abis masukin koper ke kamar plus ganti baju yang lebih hangat, saatnya cari sarapan.

Kami milih sarapan di dekat hotel, di Paris Saint-Ouen. Saya pilih sandwich ayam dan cappuccino. Sandwichnya pake roti perancis yang keras itu, lho. Pas pegang rotinya langsung deg-degan, bisa ga ya saya makan roti keras kayak gini. Ternyata, rotinya renyah. Gigitnya memang butuh perjuangan, tapi enak, kok.

Chicken Sandwich + Cappuccino
Chicken Sandwich + Cappuccino

——

Karena belum bisa memperkirakan kemampuan badan beradaptasi, saya pakai jaket tipis, dalamnya cuma baju ketat, ga pake kaos luaran lagi. Untuk kaki, saya turut saran beberapa teman yang bilang saya mesti pakai celana ketat + kaos kaki dua lapis.  Agak kedinginan sih, semestinya bisa lebih hangat kalau saya pakai kaos satu lapis lagi atau pakai jaket yang lebih tebal.

Hari pertama temanya free day, boleh kemana aja, lalu kami rame-rame ke Avenue des Champs-Élysées, surga belanja di Paris. Duh, itu kalo punya duit banyak, mesti kalap deh disana. Jalan sepanjang  1.91 km ini isinya toko semua. Ada LV, Disney, Zara, H&M, dll.

Karena pas kesana kemarin pas suasana Natal, di Champs Elysees dandan banget. Ada lampu warna-warni, hiasan/dekorasi natal, trus ada christmas market juga. Trus sepanjang jalan berubah jadi catwalk, ada yang gaya cakep banget, ada yang kayak ape-ape juga sih.

Di jalan ini juga ada 2 monumen yang bisa ditengok,  Arc de Triomphe dan  Place de la Concorde. Kemarin sih saya cuma mampir ke Arc de Triomphe, gegara hari cepat sekali gelap. Trus makin malem makin dingin, ga kuat euy. Kita semua balik kanan ke penginapan jadinya.

——

MRT yang Luar Biasa Keren

Pas di Paris itu pertama kalinya saya terkaget-kaget liat kereta (MRT/Metro) yang datengnya ga pake kecepetan/kelamaan. Semua tepat waktu. Ada papan elektronik yang kasi petunjuk berapa menit lagi sebelum keretanya datang. Pas menitnya berubah jadi NOL, pas itu pula keretanya muncul.

di stasiun kereta
di stasiun kereta

Harga satu kali perjalanan naik Metro di Paris adalah 1,70 Euro, sekitar Rp 21ribuan. Petugas loket ga selalu ada di tempat, jadi siap-siap uang receh untuk belanja tiket via mesin tiket.

Kalau punya rencana ngider-ngider seharian turun naik metro, bisa ambil paket full day yang harganya 10 Euro atau paket dua harian yang harganya 12,9 Euro.

Asal bisa baca, kemungkinan kesasar naik metro itu kecil. Peta selalu ada di tiap stasiun, gak cuma peta MRT, ada juga peta RAR (kereta luar kota). Tiap jalur dibedakan berdasarkan warna, ada juga penunjuk angkanya. Tipsnya, cari titik stasiun berangkat dan tujuan pada peta, susuri garis tujuan peta sampai ke ujungnya, catat nama dan nomornya (kalau ada).

PETA

Nanti kalau sudah masuk ke stasiun, tinggal cari kereta sesuai tujuan akhirnya itu. Penting sih ya untuk catat tujuan. Pertama, bahasa Perancis itu bukan bahasa ibu kita, tulisannya agak mirip-mirip, takutnya mata lihatnya A, ternyata tujuan kita B. Kedua, supaya ga bingung pas ketemu stasiun persilangan yang super gede dengan plang tujuan nempel di mana-mana.

——

Hari pertamanya lumayan sukses. Hari kedua kata mbak mas panitia, bakalan jalan-jalan dengan Open Tour.

ceritanya bersambung sih ini… ceritanya masih panjang soalnya. 😀

/salam jalan-jalan

13 thoughts on “Paris, Mimpi yang Terwujud”

  1. Keluar bandara langsung kerasa dingin, ga kuat kalo ga pake jaket. Jadi, dengan terpaksa, kayak uwak-uwak bongkar barang dagangan di pasar, saya bongkar koper di bandara, cari jaket dan sarung tangan.

    >>> Kesalahan yang biasa dilakukan orang Indonesia… Jacket itu harusnya di bawa di (tas) tangan. bukan di koper… XD

    Tapi gimanapun pasti menyenangkan banget ya mba disana… semoga masih ada kesempatan lain buat mba kembali ke Paris yaaa…

  2. jadi pengen ke paris sejak nonton film Midnight in Paris. pengen nyegat di spot-nya Gil, nunggu jam tengah malam berdentang, trus dijemput mobil yang jadi mesin waktu hohohoho….

    happy for you, reeee…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *