Pendidikan Tak Terbatas Teks

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” 
― Nelson Mandela

Hari ini lagi pingin nulis soal pendidikan, soalnya pas banget momennya.

Kebetulan yang pertama adalah sekarang saya lagi sibuk cari sekolah yang pas buat Embun, Juli nanti dia udah waktunya masuk TK.  Dan, kebetulan yang kedua adalah saya baru aja diundang jalan bareng di Media & Bloggers Getaway Putera Sampoerna Foundation pertengahan bulan kemarin.
Ada sekitar 20-an peserta yang diundang buat jalan-jalan plus sharing soal pendidikan. 

Bincang-bincang bareng Media dan Blogger
Bincang-bincang bareng Media dan Blogger

Namanya sharing soal pendidikan, ya tentunya sama orang-orang yang ngerti banget soal pendidikan dong ya. Ada Mba Ainun Chomsun, pendiri Akademi Berbagi, ada Ibu Nenny Soemawinata, Managing Director PSF, plus the one and only Mas M. Ikhlasul Amal, Ph.D, Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI.

Hanya Pintar Satu Bidang

“Duh, aku ga bisa bikin laporan. Kamu aja yang bikin, aku mikirin idenya aja ya.”

Pernah ga denger omongan begini dari temen yang kerjanya berhubungan dengan bidang kreatif?
Kalo Mba Ainun (@pasarsapi) bilang, dia pernah banget denger kalimat yang kaya gitu. Jadi, orang kreatif maunya ngerjain bagiannya aja, bagian keuangan maunya urus keuangan aja, trus bagian administrasi yang ga pinter ngomong.

Padahal, kata Mba Ainun, sebagai pekerja kita dituntut untuk serba bisa. Ga perlu sampai expert tapi harus tau dan bisa mengerjakan kalau dibutuhkan. Mba Ainun cerita kalau dia sempat punya bos bule, bos-nya itu mengharapkan setelah mengerjakan project apapun, si staf membuat laporan hasil pekerjaannya. Apa yang dilakukan, apa proses yang sudah dilewati, dan gimana hasilnya.

“Orang-orang yang ga terbiasa bikin laporan jadinya kalang kabut. Selama ini kan yang nulis maunya nulis aja, yang gambar maunya gambar aja.”

Nah, yang begitu itu gambaran tenaga kerja yang ada sekarang. Kebanyakan tenaga kerja di Indonesia, kata Mba Ainun cuma pintar di satu bidang saja. Padahal penerima tenaga kerja pinginnya dapat tenaga yang all in. Semua bisa.

Salah Siapa?

Sistem pendidikan itu ada di posisi salah yang nomor satu. Sistem belajarnya orang Indonesia ini fokusnya ada di “hapalan” dan “jawaban”. Siswa diminta untuk duduk manis, mendengarkan, dan mampu menjawab pertanyaan sekaligus. Tidak ada ruang yang disiapkan bagi siswa untuk keluar dari jalur yang sudah ada sebelumnya.

Siswa yang baik dan pintar adalah mereka yang mampu menghapal isi teks buku dan mampu pula menyarikan/memilah bahan hapalan itu untuk menjawab pertanyaan yang ada di kertas soal. Soal yang diajukan ke siswa pun terbatas pada pilihan ganda.

Ada A, B, C, atau D. Siswa tidak memiliki hak untuk menjawab pertanyaan dengan jawaban lain meskipun mereka memiliki alasan untuk jawaban tersebut“, kata Ibu Nenny.

Sistem pendidikan ini, kata Ibu Nenny lagi, berbeda dengan sistem pendidikan yang diterapkan di beberapa negara. “Siswa di negara maju tidak diajarkan menjawab tetapi diajarkan untuk bertanya. Dalam setiap jam pelajaran guru membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk menuntaskan rasa keingintahuan“.

Intinya, kita sekarang ini lahir dari sistem pendidikan yang demikian, dan persis demikianlah yang saya rasakan. Karena saya anak IPS, saya cenderung menghindar kalau ada buku yang bernafaskan IPA. Semacam alergi dan ada rasa menolak dari dalam diri, “ahh, itu kan nggak gw banget!

Padahal kan yang namanya ilmu itu universal, kalau punya keinginan semua bisa belajar dan semua bisa paham.

Supaya generasi berikutnya, generasi anak saya dan teman-temannya, ga merasakan hal yang sama, harus ada yang dirombak dari sistem pendidikan kita. Mau jadi apa bangsa yang besar ini kalau rakyatnya cuma pandai menghapal buku dan menjawab pilihan ganda.

STEM dari Sampoerna School System

Nah, Sampoerna Foundation datang menawarkan solusi yang namanya Sampoerna School System.  Sistem pendidikan Sampoerna School System ini berstandar internasional yang basisnya pada STEM (Science, Technology, Engineering, Math). STEM ini disarankan untuk dileburkan dalam materi pembelajaran sejak dini sekali.

Kalau SMP atau SMA sudah terlalu lama. Lebih baik dimulai pada tingkatan TK dan SD,” kata Ibu Nenny.

Agak berat ya denger namanya, ini saya awalnya kepikir anak-anak kecil baris di lab buat nyampur-nyampurin larutan atau lagi pada serius duduk di depan mikroskop untuk ngintip mikroba. Haha.,

Tapi ternyata nggak gitu! Pengadopsian sistem STEM dalam pendidikan ga melulu hal yang rumit-rumit. Dimulai dari hal yang sangat sederhana sekali.

Misalnya ada buah apel yang jatuh ke tanah. Bisa ditanyakan ke anak-anak apa yang mereka rasakan atau apa ada pertanyaan setelah lihat apel jatuh. Setelah siswa ditanya, guru bisa menerangkan kalau di bumi kita mengenal gravitasi, apapun yang dilempar ke atas akan kembali jatuh ke bumi,” Mas Ikhlasul Amal menjelaskan.

Siswa dirangsang untuk berpikir dan dirangsang keingintahuannya. Dalam sistem pendidikan STEM ini guru memegang peranan yang sangat penting. Guru harus menguasai ilmu dan bisa menjelaskan jika ada pertanyaan terkait. 🙂

Dari Sampoerna Foundation sendiri, sistem STEM akan diterapkan dalam Sampoerna Academy yang akan dibuka pada tahun ajaran 2015/2016 mendatang.

Tujuannya?

Kalau sudah terbiasa untuk bertanya, terbiasa untuk “curious“, dan terbiasa berpikir kritis, pekerjaan selanjutnya adalah membentuk karakter siswa yang mampu memecahkan masalah. Siswa yang banyak bertanya akan terus berusaha mencari jawaban, lama-lama siswa akan terbiasa mencari sendiri jawabannya dan mendiskusikan hasilnya dengan guru/teman. “Siswa jadi ulet dan tekun, terbiasa bekerja sama, dan berlatih untuk mempertahankan pendapatnya“.

Indonesia butuh tenaga kerja berkualitas karena 2015 mendatang sudah masuk pasar bebas ASEAN, apalagi Indonesia diproyeksikan akan jadi negara dengan perekonomian terbesar ke-7 di dunia pada 2030 mendatang. Masak iya kita ga siap-siap?

Bu Nenny bilang lagi kalau “Saatnya sudah tiba untuk kita menyiapkan tenaga kerja profesional. Tidak ada lagi malas-malasan. Lapangan kerja sangat luas dan akan diisi hanya oleh orang-orang yang berkualitas.

Banyak cara untuk mendapatkan sumber daya manusia berkualitas, nah Sampoerna Foundation kali ini menawarkan cara belajar ala Sampoerna School System sebagai salah satu pilihan. Harapannya nanti, setiap siswa yang digodok di Sampoerna School System terbentuk tiga nilai penting yaitu leadership, community development, dan entrepreneurship.

Amin. Moga semakin banyak lembaga dan individu yang peduli pendidikan yah. Biar Indonesia makin maju, makin cihuy, dan siap masuk bursa persaingan kerja dengan persiapan yang matang. 🙂

setelah diskusi

/salam belajar

—————————————————–

Sampoerna Academy telah membuka pendaftaran siswa baru untuk tahun ajaran 2015/2016. Sampoerna Academy berlokasi di L’Avenue Pancoran Jakarta Selatan, dan The Icon, BSD City. Pendaftaran sudah dibuka dan dapat menghubungi Sampoerna Academy di 021-5772340 ext 7480 atau email: sampoerna.schools@sampoernafoundation.org.

—————————————————–

3 thoughts on “Pendidikan Tak Terbatas Teks”

    1. Hai Mba, ini mereka bikinnya setingkat TK dan SD.
      Katanya sih niatnya mau pupuk semangat ber-STEM anak-anak dari kecil banget.

    2. Ada update nih mba. Pas banget barusan ditelepon dari sana. Jadi Sampoerna Academy itu ada di 2 tempat, kan.
      Nah yang di BSD itu untuk kindergarden dan elementary, kalau yang di Pancoran ada sampe tingkatan SMA.
      Tahun 2015 ini bakalan buka angkatan pertama.
      Semoga bermanfaat ya. 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *