Pengalaman Berobat di Puskesmas

Seingat saya, terakhir kali saya berobat ke puskesmas itu waktu kelas 3 atau 4 SD. Saya mampir ke puskesmas karena gigi susu saya mulai hitam-hitam dan goyah, jadi harus dicabut segera.

Dulu itu sih pengalaman saya horor, ya. Puskesmasnya ada di dekat rumah, perawatnya nggak ramah, dokternya ga ada senyum. Saya didudukkan di kursi, lalu ada tang, ada suntik, kemudian saya menjerit. Ga ada manis-manisnya.

Pengalaman traumatis soal gigi itu bikin saya selalu ketakutan kalau diajak periksa gigi, bahkan ke dokter sekalipun. Pernah waktu gigi saya yang lainnya goyang, saya ditemani orangtua antri di klinik dekat rumah. Jelang nomor saya dipanggil masuk, badan saya membiru dan dingin. Dokter giginya ga berani menangani, kami diminta pulang dan kembali lagi kalau sudah nggak panik. 🙁

Oke, balik lagi soal puskesmas. Jadi setelah lebih 20 tahun saya ga ke puskesmas, awal bulan kemarin saya mampir lagi. Kali ini saya bukan mau periksa gigi, tapi mau periksa si Embun.

Jadi, ceritanya si Embun ini demam tinggi, kalau sore panasnya naik, kalau pagi kadang panas banget kadang hangat aja. Saya udah berusaha tenang, dengan berpegang ke segala ilmu soal RUM (rational use of medicine) yang bertahun-tahun saya pelajari dan bertanya ke teman-teman yang lebih paham.

Tapi…

Namanya juga lagi di rumah nenek. Si nenek ini panik, nggak tahan, kuatir liat cucunya tergeletak demam di kasur. Mulailah si nenek mendesak saya untuk bawa Embun ke dokter. Saya yang awalnya kuat, lama-lama ya jadi ikutan lemah dan panik. Trus jadi mikir macem-macem, gimana kalo itu thypus, gimana kalau demam dengue?

Duhhh…

Wajar sih neneknya mikir gitu, soalnya pas banget waktu Embun sakit itu, kakeknya lagi dirawat di RS karena thypus dan DBD.  Paniknya langsung berlipat. Emaknya Embun gagal tenang. 🙁

Saya akhirnya ngomong ke Embun kalau punya niat untuk bawa dia cek darah. Dia belum pernah, dan takut dong pastinya. Awalnya saya ditolak mentah-mentah. Saya butuh waktu dua hari, kami cerita-cerita soal suntikan, darah yang dicek di laboratorium, kesehatan, keberanian, sampai dia akhirnya memutuskan bersedia. Buat saya penting banget untuk tanya kesediaan dia, karena saya nggak mau dia trauma.

Setelah dapet ijin Embun, akhirnya kami sepakat ke rumah sakit. Pas mau berangkat dapat kabar kalau RS Advent, yang jadi tujuan berobat administrasinya tutup di hari Sabtu, yang buka cuma UGD aja. Karena niatnya cuma cek darah dan menegakkan diagnosa, kami berubah arah, ke puskesmas aja deh. 🙂

antrian

Sampai di Puskesmas Rawat Inap Kedaton, ada 3 macam kartu antrian yang disediakan:

  1. Kartu antrian untuk peserta BPJS / ASKES / JAMKESMAS
  2. Kartu antrian UMUM
  3. Kartu antrian JAMKESDA (syaratnya KTP & KK setempat)

Embun sebenarnya udah terdaftar BPJS, tapi karena kami ada di Lampung, BPJS nya nggak berlaku. Kemarin ngobrol-ngobrol sama petugas, BPJS lintas area katanya berlaku untuk UGD.

puskesmas kedaton

Ini loket pendaftarannya. Bangkunya banyak, antriannya tertib dan rapi. Pasien bisa duduk menunggu sampai nomor antriannya dipanggil. Waktu itu saya nunggunya nggak sampai 5 menit, mendaftarkan nama, diberi kartu, lalu masuk ke ruang periksa.

tes darah

Sampai di ruang periksa, ngobrol-ngobrol sama dokternya, saya minta diberikan rujukan ke laboratorium. Dokter menandai beberapa poin lalu saya diminta membayar biaya lab lebih dulu.

Untuk periksa thypus dengan tes widal, dan periksa hematologi (hemoglobin, leukosit, trombosit, hematokrit, dan LED), saya dikenakan biaya Rp 35ribu saja. Saya bolak-balik minta mba kasirnya mengulangi jumlah biaya yang dibebankan, eh jumlahnya tetap sama, lho. Kebayang dong kalau di rumah sakit biayanya udah berapa. Huihhh…

cek darah

Sekarang naik ke laboratorium di lantai 2. Di ruangan ini mba-mba petugas menyambut Embun dengan ramah. Senyumnya lebar, sapaannya hangat, dan membangkitkan semangat.

“Wah, adek udah sekolah. Pinter ya mau diambil darahnya. Nanti sakit sedikit, tapi ga lama, kok,”

Ada bantal hello kitty untuk penahan tangan, ada tali warna pink untuk mengikat pergelangan. Suasana ceria bikin Embun nggak takut. Ga pake drama deh, dia kasi tangannya sambil senyum, dia lihat waktu jarumnya ditusukkan dan darahnya diambil.

Embun cuma bilang, “sakit”, tapi nggak nangis. Abis darahnya diambil dia bilang, “Embun pinter kok, kan darahnya diambil sedikit aja.”

Duh.. *peluk anaknya kenceng-kenceng*.

Hasil laboratoriumnya bisa ditunggu beberapa menit, dan ternyata semuanya normal. Emaknya bahagia banget, ternyata demamnya cuma common cold aja. *lap keringet*

resi dan resep

Habis konsultasi hasil lab dengan dokternya, trus si Embun dibikinkan resep. Ada antibiotik yang nggak saya pakai karena Embun nggak butuh, ada vitamin untuk balikin staminanya, dan ada paracetamol untuk bikin nyaman badannya kalau dia demam tinggi lagi.

Biaya pendaftaran, konsultasi dokter, dan obat-obatan itu cuma Rp 15ribu rupiah saja. Murah yaa.. *kaget*
Duh, kalau berobat ke dokter anak di rumah sakit deket rumah tarifnya udah Rp 300ribu aja lho, kak! Belum lagi kalau harus tebus obat. Lima ratus ribu sih nggak kemana.

Selain obat yang nggak perlu itu, saya puas banget sama pelayanannya Puskesmas. Besok-besok kalau butuh, semoga nggak butuh, saya bakalan ke puskesmas aja, deh.

Berikut ini tips ke puskesmas dari saya:

  1. Pakai baju yang nyaman dan menyerap keringat. Nggak semua puskesmas dilengkapi dengan air conditioner
  2. Datang pagi hari untuk menghindari antrian panjang
  3. Bekali diri dengan ilmu kesehatan. Banyak-banyak browsing soal gejala, jadi punya amunisi buat ngobrol dengan dokternya.
  4. Perhatikan obat-obatan yang diresepkan. Kalau dirasa nggak perlu, silakan ditolak.

Semoga bermanfaat, yaa..

/salam puskesmas!

8 thoughts on “Pengalaman Berobat di Puskesmas”

  1. Rata-rata memang kalau puskesmas rawat inap, selain fasilitasnya lumayan lengkap, gedung yang mirip RS, tentunya sebisa mungkin melakukan pelayanan yang maksimal kepada pasiennya. Tapi tidak tiap puskesmas begitu sih. Kalau di tempatku (Banjarnegara) karcis pendaftaran berobat biasa Rp 5,500 (tanpa tambahan cek lab, suntik kb/tindakan lain)

  2. wih bagus banget puskesmasnya. aku pernah ke puskesmas serpong buat nyari surat keterangan sehat… semrawut banget. kalo waktu itu aku datang karena sakit mungkin akan tambah sakit. semoga akan makin banyak puskesmas yang bisa mengutamakan pelayanan dan kenyamanan pasien macem gitu ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *