Pengalaman Jual Emas di ANTAM

Pada suatu masa, enam tahun lalu, saya menjajal menabung emas. Mikirnya, sayang uangnya kalau cuma di tabungan aja. Lagian risiko uangnya habis buat jajan-sengaja atau ga sengaja-juga besar. Waktu itu saya pilih belanja emasnya online, di toko emas Empat Hati.

Empat Hati itu punyanya Widi Mulia, belinya via twitter, lanjut chat, lalu barangnya dikirim ke rumah dengan bayar biaya kurir. Kenapa beli online? Karena saya baru punya bayi dan ga sempet ke luar rumah.

Kok yakin kalau emasnya asli? Yah, untuk ini saya ga punya jawaban yang memuaskan pastinya. Saya pilih penjual dengan track record baik, waktu itu dan sampai sekarang saya ga pernah denger berita yang jelek-jelek soal Widi, jadi kenapa nggak. 🙂

Setelah beli, saya sempat cari-cari save deposit box di beberapa bank, cari yang ukuran terkecil, tapi ga ketemu, penuh semua.  Jadi, selama ini emasnya tersimpan di rumah dan rasanya ga nyaman. Karena kurang nyaman itu, saya udah sempat beberapa kali mau jual, nawarin ke temen-temen aja, tapi belum jodoh.

Sampailah ke Januari 2018, dan di komplek sempat ada kejadian kemalingan beberapa kali. Rasa ga nyaman menjadi. Lalu, saya memutuskan untuk jual emasnya langsung ke ANTAM.

Sebelum pergi, saya sempet browsing soal tata cara penjualan emas. Referensi dari beberapa artikel bilang, pembelian dan penjualan bisa dilakukan di Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia ANTAM Pulogadung. Rasanya langsung pingin selimutan trus tidur lagi. Ngebayangin Pulogadung jauhnya ampunnn…

Trus, ada tulisan lagi yang bilang kalo di ANTAM TB Simatupang udah ada Butik Emas, bisa jual beli di sana, tapi harganya ga sebagus di Pulogadung. Saya pikir, ya udahlah datang ke yang deket aja, daripada jauh-jauh ke Pulogadung trus pulangnya harus jajan cendol, jajan bakso, jajan tongseng karena kecapean. Malah buntung nanti. (cat: belakangan saya baru tau kalau ga ada perbedaan harga antara bukti emas dan unit pengolahan di Pulogadung).

butik antam

Kemarin jadi yang pertama kali buat saya masuk ke Gedung ANTAM.  Pas masuk mirip-mirip kantor biasa, ga terlalu banyak pengamanan juga. Di depan ada 2 satpam dan di pintu masuk butik ada satu lagi.

Butiknya ga terlalu besar, ada beberapa sofa untuk nunggu giliran. Oh iya pas masuk itu nanti dikasi nomor antrian, kalau nomornya dipanggil baru deh menghadap mbak-mbak di kasir. Nanti di kasir mbaknya akan tanya keperluan, apakah membeli atau menjual. Kalau menjual, emasnya dilihat dulu sama mereka, lalu kita diminta masuk ke ruang pemeriksaan.

Bukan orangnya yang diperiksa, tapi emas dan sertifikatnya. Periksa emasnya dengan timbangan dan cek sertifikatnya dengan alat khusus yang ngeluarin cahaya. Alatnya sama dengan alat buat cek uang asli/palsu. Kalau asli, nanti ada cahaya dan garis biru yang terbaca mesin.

Mbak di ruang periksa kemarin bilang, emas tanpa sertifikat tetap diterima di Butik Antam, cuma kena biaya potong Rp 5000/gr. Sertifikat palsu ini katanya lumayan banyak kasusnya, kebanyakan kejadiannya ke pelanggan yang beli emas di toko emas. Emasnya asli, sertifikatnya nggak.

Proses periksanya cepet, sat set sat set, selesai. Kalau udah selesai dari ruang periksa, balik lagi ke kasir untuk proses selanjutnya. Di kasir, nanti diminta KTP + NPWP. Lalu untuk pembayarannya hanya tersedia dengan transfer, prosesnya makan waktu 2-5 hari kerja.

Harga emas per 2 Februari 2018. Tidak ada perbedaan harga antara unit di Pulogadung dan di Butik Emas.
bukti jual emas, uang ditransfer ke rekening

Lanjut soal harganya, kemarin sih pas jual harganya lagi bagus, harga emas Rp640.000/gr. Tapi untuk penjualan kembali harganya ga setinggi itu, cuma Rp570.000/gr untuk emas di bawah 18gr dan Rp578.000 untuk emas di atas 18gr. Harganya beda karena pelanggan yang jual emas di atas 18gr udah kena potongan pajak 1,5persen.

Ada untungnya ga nyimpen emas sekian lama?

Ada sih, tapi ga gitu banyak
April 2012 lalu saya belinya Rp25.475.000
Februari 2018 saya jual Rp28.467.000

Kalau dihitung totalnya ada pertambahan nilai Rp2.992.000.
Kelihatan besar, ya? Tapi kalau dibagi ke gram, lumayan kecil. Sepanjang enam tahun disimpan, per gram emas naik harganya Rp59.840. Jika dibagi lagi kenaikannya cuma Rp9.973/gram/tahun.

Saya merasa kenaikan harganya ga setimpal dengan deg-degan nyimpen barangnya, sih. Sementara ini kayanya akan melewatkan investasi dengan logam mulia, pilih instrumen lain aja yang lebih kelihatan, misalnya reksadana atau deposito. 🙂

Oh iya, ini penting, kemarin waktu ke sana saya cuma menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Cepet yaaa. Butiknya buka mulai pukul 9.00-16.00 sore. Kalau mau ke sini, coba pilih waktu di bawah jam 12 siang, kata petugas butiknya baru mulai ramai di atas jam 12.

Semoga infonya bermanfaat!

PS: Pernah dengar omongan kalo uang tunai tuh susah dipegang? Yes, yes, yes, duitnya langsung kepake buat bayar cicilan dan uang sekolah! Hahahaha…

/salam jualan

 

9 thoughts on “Pengalaman Jual Emas di ANTAM”

    1. Sebenarnya jual di toko bisa lbh tinggi 5-10ribu per gram, coba jual ke toko emas besar atau yg biasa jual emas LM. kalo beli pun lbh murah di toko emas karena mereka sirkulasi antara emas yg dia beli dg yg dia jual, tp harus yg sudah mengerti ttg emas asli

  1. Antamku ada yang dibeli taun 2012 klo dijual masoh segitu segitu aja ya. Kirain bakal tinggi banget hehe..

    Mbak, itu yg tanda tangan Dwi Sasono artis, suaminya Widi AB Three? Baru tau mereka punya toko emas 😀

  2. Trend kenaikan harga emas sejak 2014 hingga sekarang memang boleh dibilang blm mnguntungkan, jd jgn dijual dulu…lbh baik digadai saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *