Pengalaman Mencairkan Dana BPJS Ketenagakerjaan

Akhir Mei 2019 kemarin, selain sibuk berkemas untuk pindahan, sibuk urus pindah sekolahnya anak gadis, saya juga sibuk mencairkan segala urusan perduitan yang nyangkut, salah satunya BPJS Ketenagakerjaan.

FORMULIR BPJS KETENAGAKERJAAN

Sedikit tentang pindahan, rencana awalnya adalah naik pesawat dan kirim-kirim barang yang dibutuhkan dengan jasa logistik, sudah cek informasi jadwal xtrans bandara yang cocok, cari-cari tiket pesawat yang terjangkau juga. Eh tapi terus akhirnya diputuskan lewat jalan darat saja supaya bisa bawa sebagian barang dan mampir ke rumah orang tua saya di Lampung.

Pindahan sungguh bikin pengeluaran mendadak berlipat. Pengeluaran terbesar adalah biaya masuk sekolah baru untuk Embun dan biaya beberes rumah supaya layak dikontrakkan. Sumber-sumber dana yang memungkinkan saya korek sampai dalam. Jual emas, tagih piutang, dan lalu selembar kertas tanda peserta BPJS Ketenagakerjaan (untuk selanjutnya akan ditulis BPJSTK), jadi bantuan penyelamat.

Terakhir kali iuran BPJSTK ini dibayar yaitu pada Maret 2011, beberapa bulan setelah bayi lahir dan saya berhenti bekerja kantoran. Setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga delapan tahun berlalu. Saya tak mengurus pencairan dana BPJSTK segera karena belum terlalu butuh uangnya dan malas ribet!

Mei 2019 jadi titik di mana kemalasan saya harus minggir. Setelah browsing beberapa hari, saya menuju ke kantor BPJSTK terdekat di wilayah Ciputat. Petugas menyambut saya dengan ramah. Dari tanya jawab beberapa menit, berikut kesimpulannya:

  1. Data saya tidak sesuai dan perlu perbaikan. Ketidaksesuaian data ini terjadi karena nomor KTP yang terdaftar di BPJSTK adalah nomor lama. Nomor itu berubah setelah saya memegang E-KTP. Saya diberi formulir untuk dibawa ke perusahaan tempat saya pernah bekerja. Formulir itu harus disahkan oleh HRD dan dibawa kembali ke kantor BPJSTK.
  2. Saya disarankan meminta surat berhenti kerja yang baru ke mantan kantor. Di dalam surat itu baiknya mencantumkan nomor KTP terbaru.

Maka, di bawah teriknya mentari, saya bertolak ke Gedung Aldiron, di mana kantor saya dulu berada. Sayangnya ada berita buruk, kantornya sudah pindah ke area Mega Kuningan. Untung saja bagian penerimaan tamu di Gedung Aldiron punya alamat terbarunya. Hufft.

Keesokan harinya saya menuju kantor baru, ketemu kepala HRD yang ternyata belum ganti orang dan masih ingat saya. Bapaknya sungguh membantu, urusan dokumen sekejap beres. 😀

Sekarang masuk ke bagian dramanya. Dokumen-dokumen itu harus diantarkan pagi-pagi sekali ke kantor BPJSTK. Kantor buka jam 8 pagi, Pak Satpam datang jam 7 pagi untuk catat antrian. Tapi bapaknya bilang, kalau bisa datang lebih pagi karena BPJSTK Ciputat hanya melayani 25 nomor setiap harinya.

Saya datang jam 4.30 pagi, setelah selesai sahur dan subuhan. Saya kira kantor BPJSTK masih kosong, eh taunya sudah ramai sekali seperti pasar! Waktu saya datang, orang-orang seperti menatap kasihan, lalu saya mendekati dua orang perempuan yang berdiri di depan gedung kantor. “Mba, ini antriannya sistemnya bagaimana ya?”

Mbaknya bilang, dia dan temannya sudah listing nama di warung depan kantor BPJSTK sejak jam 1 pagi dan sekarang sudah nomor 40-an (hanya 25 nama yang akan dilayani). Saya patah arang sebentar, lalu berpikir cepat dan cek sistem pencairan BPJSTK online. Sayangnya, entah mengapa, semua kantor BPJSTK terdekat sudah habis jatahnya untuk hari itu.

Setelah bengong sejenak, ukur-timbang keputusan, dan baca pengumuman di bawah ini, saya memutuskan tetap di tempat. Menunggu Pak Satpam dan keputusannya soal peserta antre terpilih.

Ada dua pengumuman yang senada di pagar. Tekad saya makin kuat, demi duit!

Saat matahari mulai benderang, Pak Satpamnya datang. Saya lari kencang sekali ke depan pintu kantor dan kebagian posisi 4. Bapaknya lalu meminta kami menuliskan nama di selembar kertas kosong. List ini akan ditutup setelah tercapai angka 25.

Nah, di sini keadaan mulai panas. Jadi, di bawah tempat saya berdiri tuh ada beberapa barang yang berjajar panjang. Sebagian besar helm, dan sisanya tas. Lalu ada bapak-bapak yang ngomel ke temannya soal saya yang nyelak antrian. Sayangnya bapaknya itu ngomel ke temennya, ga ke saya.

Setelah saya liatin lama, dan ngomelnya ga berhenti juga, bapaknya langsung saya ajak bicara.

++ “Bapak kalau perlu bicara sama saya, coba lihat muka saya, jangan ngomel aja.”
— “Ya mbak harusnya ngerti, ini orang-orang udah datang dari jam 1 pagi, ada yang sekali datang, ada yang dua kali datang. Mbaknya baru datang udah dapat antrian.”
++ “Antriannya di mana ya Pak?”
— “Ini.” Lalu, bapaknya menunjuk ke jajaran helm di lantai.

Setelah nomor antrian dianggap sah, lalu saya diberi formulir untuk diisi. Jangan lupa bawa pulpen dan materai ya kalau mau urus pencairan dana. Saya beruntung di sebelah kantor BPJSTK Ciputat ada minimarket yang sudah buka.

Jam 8 tepat, peserta mulai dipersilakan masuk dan dipanggil satu per satu untuk dicek kelengkapan berkasnya. Di awal-awal kebanyakan peserta pulang dengan tangan hampa karena beberapa alasan ini:

  1. BPJSTK masih dibayar oleh kantor lama. Jadi setelah pekerja berhenti, biasanya kantor masih membayar BPJSTK untuk sebulan/dua bulan setelahnya (tergantung kebijakan). BPJSTK yang masih dibayar artinya masih aktif dan tidak bisa dicairkan.
  2. BPJSTK sudah tidak aktif tapi masih masuk masa jeda. Setelah iuran terakhir kali dibayar oleh kantor, ada masa jeda 30 hari sebelum saldo BPJSTK bisa dicairkan.

Ketika akhirnya nomor saya dipanggil, prosesnya berlangsung sangat cepat, Dokumen terbaru diverifikasi, lalu pencairan mulai diajukan dan saya diminta menunggu maksimal 7 hari kerja. Ternyata saya bahkan tidak perlu menunggu selama itu, dua hari setelah proses pencairan, dana segar masuk ke rekening dengan selamat sentosa!

Saya tidak punya komplain apa-apa untuk bapak dan ibu petugas yang ramah, hanya sistem antrian yang ada sungguh tak manusiawi. Bayangkan harus menunggu berjam-jam di tengah dinginnya malam hanya untuk mendapatkan HAK!

Sudah 5 bulan berlalu sejak kejadian waktu itu. Semoga BPJSTK Ciputat sudah melakukan perbaikan demi kemanusiaan. Kalaupun belum, semoga tulisan ini sampai ke bagian yang berwenang untuk dijadikan bahan evaluasi.

Berikut beberapa tip dari saya untuk teman-teman yang berencana mencairkan dana BPJS Ketenagakerjaan.

  1. Pastikan data sudah benar. Cek data bisa dilakukan lewat aplikasi BPJSTKU. Isi data selengkapnya, jika langsung masuk berarti data aman. Jika tertahan berarti ada data yang belum sama. Hubungi call center BPJS di 1500910 atau datang ke kantor BPJSTK terdekat untuk konfirmasi data yang salah itu.
  2. Jika ada data yang salah: Urus data revisi, ajukan ke kantor BPJSTK untuk hasilnya dan urus pencairannya pada hari yang sama. Jika terlalu melelahkan, bisa urus lebih dulu revisi datanya dan daftarkan diri secara online untuk pencairan dananya.
  3. Jika data aman: Pantau aplikasi dan DAFTARKAN DIRI SECARA ONLINE untuk mendapatkan nomor antrian pencairan dana BPJSTK.
  4. Bawa serta kartu keanggotaan BPJS, Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga, Surat Berhenti Kerja, dan fotokopi surat keterangan berhenti kerja dari perusahaan.

CATATAN PENTING: Untuk menghindari hal-hal menegangkan seperti di atas, sebaiknya mengambil NOMOR ANTRIAN pencairan dana BPJSTK SECARA ONLINE.

Selamat urus-urus dana BPJSTK ya. Semoga uangnya selamat dan cepat sampai tujuan. ^^

/salam perduitan

2 thoughts on “Pengalaman Mencairkan Dana BPJS Ketenagakerjaan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *