Pengalaman Pap Smear di Yayasan Kanker Indonesia

Sudah pernah pap smear? Pap smear adalah tes untuk memeriksa keadaan sel di serviks (leher rahim) dan vagina. Pap smear memungkinkan kita mendeteksi apakah ada perubahan sel yang mungkin bisa berkembang menjadi kanker atau malah sudah menjadi kanker. Perempuan yang sudah aktif secara seksual dianjurkan untuk tes pap smear setahun sekali.

foto dari https://www.mamamia.com.au

Sebelum pap smear yang saya lakukan baru-baru ini, sudah ada dua kesempatan lainnya. Sekali waktu masih kerja, sekitar 9 tahun lalu, dan kali lainnya sekitar 6 tahun lalu sewaktu tes medical check up lengkap di Eka Hospital. Tes pertama dan kedua hasilnya baik, ga ada yang aneh-aneh. Karena hasilnya yang memuaskan itu, butuh lama sekali buat saya menyadari kalau tes ini perlu dilakukan rutin.

Lalu sepanjang 2017 kemarin, niat pap smear muncul lagi. Sebagian karena berita soal Julia Perez dan penyakit kanker serviks yang merenggut nyawanya. Sebagian lagi karena kesadaran yang makin ke sini semakin tebal soal tanggung jawab menjaga diri sendiri demi kelangsungan hidup anak bayi.

Semakin usia anak bertambah dan semakin banyak biaya yang dibutuhkan, semakin takut saya akan sakit. Sebagai pekerja lepas, sakit artinya melepaskan kemampuan untuk mencari penghasilan. Membayangkannya saja saya seram. Karena itu, tindakan pencegahan, salah satunya pap smear, semakin dalam saya pikirkan.

Saya sudah sempat telepon BPJS soal pap smear. Tapi pembicaraan sepanjang 20 menit dengan operator ternyata kurang memuaskan. Hasilnya adalah: BPJS tidak menanggung biaya pap smear sebagai tindakan pencegahan. Pap smear hanya bisa dilakukan dengan tanggungan jika diagnosis dokter merujuk ke kanker serviks.

Oke, jadi tidak ada pilihan lain, saya harus bayar sendiri biaya tesnya. Penjelajahan berikutnya adalah untuk mencari biaya pap smear di rumah sakit dan laboratorium. Hasilnya, biayanya cukup bervariasi, mulai dari Rp 300.000 – Rp 500.000. Sampai di sini, saya lalu berpikir-pikir kembali soal biayanya.

Sampai pada satu waktu, saya ngobrol dengan Tika soal pap smear. Lalu dia mengusulkan untuk tes di Yayasan Kanker Indonesia (YKI). Saat itu juga saya menghubungi YKI dan mendapatkan kepastian biaya. Biaya pap smear di YKI adalah Rp 150.000, dan ada tambahan biaya Rp 15.000 sebagai administrasi untuk pasien baru.

Pap smear bisa dilakukan tanpa perjanjian, mulai Senin – Jumat, jam 08.00 – 14.00 WIB. Oh iya sebelum pap smear ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Kalau udah aman semua, baru boleh pap smear. Informasi di bawah ini saya kutip dari website Prodia.

Sebelum melakukan pap smear, ikuti beberapa panduan berikut agar hasil lebih akurat:

  1. Waktu terbaik pengambilan lendir serviks adalah dua minggu setelah hari pertama mendapat haid, agar dinding serviks benar-benar bersih dari bercak darah.
  2. Jangan menggunakan pembasuh atau sabun antiseptik di sekitar vagina selama 72 jam sebelum pengambilan contoh lendir serviks.
  3. Sebaiknya, tidak melakukan hubungan seksual selama 48 jam sebelum pengambilan contoh lendir serviks.
  4. Saat pengambilan lendir, usahakan agar otot-otot vagina dalam kondisi santai (rileks), agar lendir dapat terambil dalam jumlah yang cukup.
  5. Laporkan jika Anda menggunakan pil KB atau preparat hormon wanita lainnya.
  6. Perhatikan adanya kelainan di sekitar vagina, apakah ada gatal, keputihan, dan kondisi lain yang mencurigakan.

Kemarin saya berkunjung ke YKI yang ada di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Tempatnya lumayan besar, parkiran juga cukup luas. Setelah melewati bagian registrasi, saya diminta menunggu sebentar sebelum dipanggil masuk ke kamar-kamar kecil yang diperuntukkan sebagai ruang periksa.

Setelah masuk, saya diminta menanggalkan celana lalu tiduran sambil meletakkan kaki di gantungan. Rasanya ga nyaman ya, ngangkang lebar gitu dengan segala jeroan terpapar luas. Ada malu, kesal, mau marah, benci, dll. Sungguh ingin cepat berakhir. 🙁

Di saat-saat seperti itu, niat turun dari tempat tidur, pake celana cepat-cepat dan membanting pintu ruang periksa sangat besar. Tapi terus saya tarik napas, masuk-keluar, keluar-masuk, masuk-keluar, begitu terus, berharap akan tenang.

TAPI TERNYATA GA BISA TENANG. :((

foto dari alodokter

Apalagi waktu spekulum alias cocor bebek mulai merangsek masuk ke dalam. Duh gusti, itu ya, kalau ga inget dulu guru ngaji sempat ngajarin hadist soal berkata baik, rasanya ingin ku berkata kasar.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”

Maka saya memilih diam, walaupun hati sungguh perih. Apalagi kemudian cocor bebeknya kemudian dibiarkan terbuka di dalam dan mbak perawat colok-colok dan putar bagian sana dengan cotton bud. 🙁

Ga sakit, tapi mau ngamuk. Kesal.
Ditanya kesalnya apa, ya ga tau juga.
*sigh

Waktu mba perawat bilang selesai, rasanya darah turun lagi ke sekujur tubuh setelah tadi mampet lama di kepala. Rasanya lega. Trus saya beres-beres dan disuruh pulang. Nanti balik lagi setelah dua minggu untuk ambil hasil tesnya.

Syukurnya hasil tes saya bagus. Semua dalam kondisi baik. Di kertasnya tertulis seperti ini:

Kesimpulan: Tidak ditemukan sel-sel abnormal
Mikroskopik: Sediaan apus terdiri atas sel-sel epitel skuamosa normal, bacillus vaginalis, dan leukosit.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, saya banyak senyum. Memang ada harga yang harus dibayar untuk rasa aman, tapi saya ikhlas Fahri. Saya ikhlas.

/salam tes-tesan

18 thoughts on “Pengalaman Pap Smear di Yayasan Kanker Indonesia”

  1. Aku belum pernah pap smear, ya itu tadi kesal rasanya kalo di obok2, mungkin trauma karena beberapa kali transvaginal, dan HSG. Tapi tahun ini harus nekad pap smear kayaknya..khawatir juga.

    1. Aku juga nekat, Mba.
      Biar udah beberapa kali USG transvaginal dan udah pernah pap smear, rasanya tetep aja ga enak. 🙁

  2. ahahah bener banget, blom lama gw periksa rahim juga begitu bok! diubek2 pengen marah pengen nyubit mba suster dan dokternya tapi gimanaa coba?

    Btw, makasih ya infonya. Aku udah lama dapet info dari temen soal YKI ini tp blom sempet2 ke sana. Abis baca artikel ini jadi pengen ngusahain bgt buat ke sana..

  3. Mba rere pas pertama aku papsmear juga begitu kesel banget, suruh bukanpaha lebar, duuh sesuatu banget deh. Tapi kedua dan ketiga udah santai aja gitu hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *