Perbedaan Itu Ada

Saya mensyukuri banyak hal dalam kehidupan yang membentuk diri sebagaimana adanya. Pengalaman berbudaya, beragama, yang beragam di keluarga besar membuat saya sadar dan merayakan perbedaan.

different-nationalities-1124478_960_720

Ayah pindah agama setelah jalan-jalan ke Aceh, Mamak pindah agama karena pernikahan, 6 anaknya lahir mengikuti agama baru yang dianut orangtua. Belakangan satu anak memilih pindah karena pernikahan. Keluarga kami baik-baik saja.

Sejak kecil, kami selalu diajak mamak dan ayah untuk berkunjung saat Natal dan Tahun Baru. Selayaknya berkunjung, kami makan besar, minum sirop, dan bersukaria sama-sama. Natal itu, ada makan besar, kue-kue manis yang biasanya selalu enak, dan salam tempel dari saudara-saudara tidak seiman yang kami kunjungi. 😀

Apalah yang lebih membahagiakan buat anak kecil daripada salam tempel?

Tanpa saya sadari, pengalaman masa kecil ini membentuk pribadi saya yang sekarang. Ga usah jauh-jauh, di lingkungan sekecil rumah saya aja orangnya beragam, apalagi se-Indonesia. Mau sama? Ya ga bisa. Model penciptaan manusia itu bukan macam kue pancong, sekali cetak 12 biji.

Kita berbeda, waktu lahir ga bisa pilih-pilih warna kulit, ga bisa pilih-pilih siapa bapaknya, siapa ibunya, apa agamanya. Ga bisa pilih lahir dalam keadaan kaya/miskin. Ga bisa milih lahir di New York atau Papua New Guinea.

Trus lucu banget kalau sekarang menistakan Si A atau Si B karena berbeda. Lha mereka ga minta dan mereka melanjutkan hidup dengan meyakini apa yang diwariskan ke mereka. Persis kaya kita. Memangnya pernah, kamu-kamu yang terlahir di agama mayoritas mempertanyakan kebenaran agamamu?

Dan itu ga salah. Yakin itu penting, apalagi di dunia yang segala-gala ga pasti gini. Punya pegangan dalam hidup itu membantu kita ngadepin aral-rintang di depan.

Ada yang pegangannya agama.

Ada yang pegangannya kenangan mantan. Bebas.

Yang bikin eneg itu, kalau udah mulai nunjuk-nunjuk.
– Kamu salah, kamu ga boleh begini karena menurut saya itu salah.
– Kamu minoritas diem aja, kalo ibadah jangan berisik, saya terganggu
– Kamu ga boleh bikin kegiatan selain di rumah ibadah
– Kamu ga boleh bagi-bagi selebaran, itu namanya cari massa
– dll

Lha, memangnya bumi yang dari ujung ke ujung aja belum pernah kita kelilingin ini, punya mbah-nya kita?

Ndak, kan?

Kita semua lahir dari Mbah yang berbeda. Tiap Mbah punya pengalaman hidup berbeda pula, turun ke generasinya masing-masing. Warna kulitnya beda, matanya beda, makanannya beda. Ada yang makan anjing, ada yang sedih anjing dimakan, ada yang ga mau deket-deket sama anjing, ada yang pernah digigit anjing.

Pengalamannya beda.

Adil itu cuma empat huruf, tapi susah.
Mau coba adil? Coba tempatkan dirimu dalam kondisi subjek-nya. Jangan langsung marah-marah, pahami sebentar, pakai sepatu mereka, coba berjalan di rute yang pernah mereka lewati. Rasakan bahagia mereka, sedih mereka, gusar mereka.

Susah ya. Iya.

Kalau belum dicoba udah klaim Si Anu begini, Si Ini begitu, ya rusuh. Kalau udah begini, quotenya Imam Ali udah yang paling bener, deh.

“Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan” ~ Ali bin Abi Thalib

/salam beda-beda

6 thoughts on “Perbedaan Itu Ada”

  1. Setuju kak Rere, cerita ini persis dengan suara hatiku…kemana yang namanya toleransi, seperti yang aku baca postingan mbak shasya kalau toleransi itu cuma teori bukan praktek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *