Perkara Sempak

Ini cerita tadi pagi.
Bang, mau berangkat kerja ya? Cium dulu dong..
Mmmuaacchh
Gitu aja? Gak pake grepe-grepe?
Si Abang grepe-grepe, lalu tiba-tiba diam.
Kenapa Bang?
Tiba-tiba Si Abang nyanyi “Sempakmuuu duluuuu, tak beginiiii. Dulu sempak cantik, warna warniiii”

Itu adalah nyanyian yang membuat saya makjleb beberapa jam ini. Memang sih, memang, saya tadi pagi pakai sempak waktu hamil. Tau kan sempaknya gimana? Sempak lebar warna peach, lengkap dengan karet pengatur besarnya perut. Hampir serupa sempak nenek-nenek.

Tapi, sempaknya itu nyaman, sama nyamannya dengan daster lusuh dan robek (sedikitttt) itu.  Saya musti gimana dong?

Lalu saya terpikir, sejak kapan sih sempak diciptakan ketat? Seingat saya, dan sepenglihatan saya, dari film-film Eropa, film-film kerajaan Eropa itu, bentuk sempak perempuan kurang lebih memang seperti celana nenek-nenek. Dengan karet di pinggang dan lututnya.

Jadi, kenapa sempak sekarang musti sesak dan tidak nyaman? Lah, memang ada beberapa merk sempak yang menjanjikan kenyamanan, seperti tidur di awan, kira-kira begitu. Tapi,  mana sanggup saya membeli kenyamanannya.

Omong-omong tentang sejarah sempak, si sempak ini hadir masa Revolusi Perancis waktu Kakak Catherine de Medici pingin naik kuda, mengangkang, tapi paha dan onderdil didalamnya terlindung.  Jelasnya bisa lihat disini.

 

Sempak berbentuk lucu, jaring-jaring, bertali, warna-warni, memanglah sungguh cantik, tapi ya bolehlah ya sekali-kali saya pakai sempak warna putih, biru muda, gak berbentuk, ukuran raksasa. Mereka sungguhlah tak nyaman dipandang, tapi saya sudah kadung sayang.

/salam sempak

6 thoughts on “Perkara Sempak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *