Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (kecil)

Kecelakaan bisa terjadi dimana dan kapan saja. Tidak bisa diramalkan datangnya, tetapi kadang bisa “dirasakan” baunya.  Misalnya begini, saat mengupas bawang di dapur, sempat terlintas pikiran, “aduh pisaunya harus segera dicuci nih”. Namun, saya terlupa, dan tak lama kemudian tangan tersayat pisau yang tergeletak sembarangan di bak cuci.

Contoh lainnya : Saat sedang bermain bersana anak di kasur, lompat sana lompat sini. Lalu terpikir, “ini kok lompatnya makin lama makin ke pinggir, bahaya nih”. Belum sempat memindahkan badan ke tengah kasur, si bayi sudah keburu jatuh kepentok lantai. Tinggal saya, terduduk menyesal.

Kejadian paling anyar, baru saja terjadi Senin kemarin. Kakak ipar harus tugas ke luar kota, dan saya diminta tolong mengasuh anak-anaknya. Tidak cuma mengasuh, saya berinisiatif membereskan sebagian barang yang berserakan di meja dan tempat tidur. Melipat sebagian kain, dan memasukkannya ke lemari.

Pintu lemari sebelah kanan saya buka, kurang puas, lalu saya membuka lagi pintu sebelahnya. “Brak” Pintu lemari dari jati yang bukan main beratnya itu, jatuh ke lantai. Lah ternyata pintu itu memang sudah lepas dari engsel, dan si kakak lupa memberitahu saya.

Tak tahan melihat pintu terduduk di lantai, saya angkat kembali dan saya tempelkan ke lemari. Tidak nempel engsel tak apa-apa, asal tidak terlihat “lepas”. Percobaan pertama, percobaan kedua, percobaan ketiga, dan gagal. Si Pintu tak mau nempel lemari, malah ngglosor ke lantai. Percobaan keempat, dan aaaakkkkkkk, si pintu sukses menumbuk jempol kaki saya. Dan, berdarah saudara-saudara! Sakitnya ampun, saya sempat pitam (pandangan menghitam, mengabur, menghilang), lemas, pucat, dan berkeringat dingin.

Antara sadar dan tidak, saya browsing “pertolongan pertama pada kecelakaan”, sayangnya entah karena saya masih pusing atau query-nya kurang pas, saya tidak menemukan apa yang saya cari. Beberapa teman menyarankan mengompres jempol dengan air es, untuk menyamankan sakit.

Tentu saja saya lakukan. Apapun saya lakukan agar nyut-nyut jempol ini berhenti. Demikian.

luka tepat di batas atas kuku

Karena saya memang pada dasarnya penakut (beberapa orang akan menyebutnya lebay/berlebihan), saya ke dokter umum. Saya kuatir kukunya infeksi/harus dicabut/ada gangguan lain (iya, saya memang suka mikir “macem-macem”).

Dokternya memberitahu saya, tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyamankan luka tertimpa pada hari pertama. Alasannya, tidak terlihat perubahan apapun pada kaki. Pengobatan hanya dilakukan jika terbukti terjadi infeksi, ciri-cirinya lebam melebar. Saya hanya diminta mengompres kaki dengan es (lagi-lagi kompres, kan?) agar sakitnya berkurang.

JADI INGA-INGA : KALAU TERTIMPA BARANG, SEGERA KOMPRES DENGAN ES. 

Dokter mengingatkan, kemungkinan kuku yang tumbuh akan bergelombang (acakadut) karena posisi tertimpanya persis di ujung kuku (tempat tumbuhnya kuku). Observasi harus terus dilakukan, terutama jika sakitnya menghebat dan mengganggu aktivitas.

Bagusnya adalah, kaki saya sudah jauh berkurang sakitnya, 🙂

tidak bagusnya adalah, jari manis tangan kiri saya nampaknya keseleo 🙁

/salam (sakit) tak abis-abis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *