Pesan Baik dari Passura’

Tak kenal maka tak sayang, pepatah ini sungguhlah terbukti pada saya ketika mengikuti perjalanan ke Toraja, Sulawesi Selatan pekan lalu. Toraja, dari sekian banyak artikel yang saya baca, adalah salah satu daerah yang menjunjung tinggi adat. Ketika mendengar kata adat, otak saya segera mengambil kesimpulan “ribet, makan waktu, dan tak penting.”

Perjalanan saya menuju Toraja awalnya semata-mata ingin melihat sendiri keribetan adat budaya yang dipelihara masyarakatnya. Sekedar, “Oh, saya sudah pernah baca yang itu, dan memang terbukti adat makan waktu panjang. Merepotkan!

Setelah melihat langsung, otak saya semacam dicuci ulang. Banyak hal baik yang saya temui dari adat Toraja, salah satunya adalah pesan dari Passura’ (hiasan/ukiran Toraja). Ukiran Toraja mudah sekali ditemui. Setiap bangunan khas, Tongkonan (rumah adat), Alang (lumbung padi), Duba-Duba (keranda), dan Erong (peti mayat kayu), pasti menggunakan motif passura’.

tongkonan
erong
duba-duba
alang

Konon, passura’ terinspirasi dari darah haid perempuan yang mengalir dan membentuk motif. Pekerja Tongkonan yang melihat lalu mencontoh aliran darah dan mengaplikasikannya pada kayu. Semula hanya ada empat ukiran dasar (garonto’ passura’). Lalu ukiran yang ada makin beranak pinak.

Referensi saya untuk tulisan ini berasal dari buku “Mengenal Ragam Hias Toraja” yang ditulis oleh C.L. Palimbong. Bersama pemerintah daerah Tana Toraja, Palimbong mengumpulkan total 130 motif ukiran.

Umumnya, bangunan tradisional menggunakan ukiran yang melukiskan benda yang ada di sekeliling manusia, seperti benda-benda langit, flora, fauna, dan benda-benda berharga. Ukiran yang ada di bangunan tidak asal dibuat begitu saja melainkan simbol kearifan, status, dan keberadaan dari pemilik (toma’rapu) tongkonan yang bersangkutan.

Semua ukiran menandakan hal baik, misalnya ukiran Pa’ dadu yang digambarkan dengan dadu. Pa’ dadu merupakan pesan kepada anak/cucu untuk tidak bermain dadu (judi) karena sangat berbahaya dan merugikan. Contoh lain adalah ukiran Pa’ Lolo Paku (tanaman pakis), yang berpesan untuk meninggalkan sikap/bicara berbelit. Ukiran Pa’ Lolo Paku berharap masyarakat Toraja selalu berkata jujur dan terbuka.

Ukiran dasar (garonto’ passura’) Toraja

  1. Pa’ Tedong
  2. Pa’ Barre Allo
  3. Pa’ Manuk Londong
  4. Pa’ Sussu’

Pa’Tedong

Ukiran Pa’ Tedong (kerbau) biasa dilukiskan pada papan besar teratas (indo’ para) dan pada dinding-dinding penyanggah badan rumah (manangnga banua). Masyarakat Toraja menganggap kerbau adalah hewan yang bernilai paling tinggi. Keberadaan kerbau pada satu tongkonan (keluarga) dijadikan sebagai standar nilai dari seluruh kekayaan.

Secara umum, ukiran Pa’ tedong melambangkan kesejahteraan dan kekayaan. Ukiran ini juga melambangkan kebangsawanan seseorang. Semakin banyak ukiran kerbau di rumah adat, semakin kaya pula satu keluarga.

Karena derajat kerbau yang demikian tinggi, keluarga Toraja menganggap serius pemeliharaan kerbau. Kerbau dimandikan, dikeramas rambutnya, disayang dan diajak berbicara. Kerbau dipelihara dengan serius, dan tidak ada satupun orang yang menggunakan bantuan kerbau untuk membajak sawah.

Untuk membajak sawah, petani Toraja menggunakan kerbau Jepang,” kata pemandu kami hari itu. Saya yang penasaran dengan kerbau Jepang lalu melongok dari jendela mobil untuk melihat penampakannya.

Tapi di luar tidak ada kerbau, Pak!” ucap saya.
Itu…,” kata Pak Naja menunjuk traktor kecil yang dioperasikan dengan tangan. Huh! Saya sudah berpikir macam-macam, entah kerbau Jepang matanya sipit atau kulitnya lebih putih. Tak tahunya kerbau mesin!

Pa’ Barre Allo

Pa’ Barre Allo adalah ukiran yang berbentuk matahari terbit sempurna. Barre memiliki arti bulat, dan Allo berarti matahari. Ukiran ini biasa ditemui di bagian depan dan belakang rumah adat Toraja pada papan atas berbentuk segi tiga (para longa). Biasanya di atas ukiran Pa’ Barre Allo ada ukiran Pa’ Manuk Londong.

Pa’ Barre Allo menandakan kepercayaan masyarakat Toraja bahwa sumber kehidupan dan segala sesuatu yang ada di bumi adalah Puang Matua (Tuhan). Tongkonan yang menggunakan ukiran ini dianggap memiliki kedudukan yang tertinggi dan mulia.

peti mati dengan ukiran matahari terbit

Khusus untuk ukiran matahari terbit yang dipasang pada pembungkus/peti mayat (Balun), maknanya adalah roh orang tua atau keluarga yang sudah meninggal lebih dulu pasti akan kembali jadi pemberi berkah kepada anak/cucu/keluarga, dan berkahnya akan jadi sumber kebahagiaan.

Pa’ Manuk Londong

Sama seperti ukiran matahari terbit, ukiran Manuk (ayam) Londong (jantan) ini biasanya terdapat pada bagian papan atas segitiga (para longa) depan dan belakang rumah adat Toraja. Biasanya Pa’ Manuk Londong diletakkan di atas ukiran Pa’ Barre Allo.

Ayam jantan, untuk masyarakat Toraja melambangkan pemimpin yang bijaksana dan mampu menyatukan pendapat dari semua unsur masyarakat (manarang pakorok londong pande metinti saungan). Selain itu ukiran ini bermakna dapat dipercaya, pintar, punya intuisi yang tepat, dan selalu berkata benar.

Ukiran ayam jantan melambangkan hukum untuk menyelesaikan persoalan seadil-adilnya, juga menandakan keberanian untuk melakukan segala sesuatu yang diperlukan.

Pa’ Sussu’

Pa’ Sussu (garis/goresan) adalah ukiran yang berbentuk garis sejajar tanpa variasi dan tidak diberi warna. Terlihat sederhana, tapi ukiran ini melambangkan kalau tongkonan memiliki peran dalam menentukan kebijakan dasar kehidupan dalam wilayah adat. Garis tanpa warna ini juga melambangkan kesatuan masyarakat.

—–

Ukiran-ukiran dari Toraja selalu menggunakan 4 warna dasar yaitu hitam, merah, kuning dan putih. Setiap warna itu memiliki arti dan makna tersendiri. Kuning melambangkan anugerah dan kekuasaan Tuhan (Puang Matua), hitam menggambarkan kematian/duka, putih menandakan tulang yang berarti kesucian, lalu merah berarti kehidupan manusia.

Pewarna yang digunakan untuk ukiran diambil dari alam. Warna kuning diambil dari batu, hitam dari arang, putih dari batu kapur, dan merah dari tanah liat. Kemarin saya sempat mencoba mewarnai ukiran kayu di salah satu toko souvenir. Kelihatannya mudah, tapi aslinya sulit karena ukirannya cukup tipis sehingga pewarnanya beberapa kali keluar garis. Mewarnai satu baris ukiran saja bisa makan waktu beberapa jam, bagaimana lagi kalau diwajibkan mewarnai satu rumah adat, ya?

Passura’ adalah satu hal yang membuat saya memandang Toraja dengan mata yang berbeda. Kisah lainnya akan saya ceritakan di postingan berikutnya. Ditunggu, ya. ^^

/salam

18 thoughts on “Pesan Baik dari Passura’”

  1. Wah saya jd teringat rumah gadang di kampung. Setiap ukiran ada maknanya dan tentu terkait dgn statusnya. Di kampung, yg mengerjakan ukirannya pun seniman sejati hehehe … Dinanti lanjutannya …

    1. DAN MASIH ADA 130 UKIRAN lagi, yang kalau dijelasin bisa buat bahan postingan 30 kali.
      Hehhehe, luar biasa ya. Luar biasa juga penelitinya, bisa cari sekian banyak motif.

    1. Kalau liat aslinya bakalan merinding kagum, kak.
      Itu sak tonggak kayunya diukir.
      Kalau bicara biayanya pasti banyak banget, belum lagi waktu yang dihabiskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *