Pilih Obat atau Jamu?

Setelah bulan lalu saya diajak teman main ke Omah Jamu Jeng Ratu, saya jadi kepikiran buat nulis soal jamu-jamuan yang pernah saya coba di rumah waktu kecil. Iya, hampir semua dicoba waktu saya masih kecil dan tinggal bareng sama orang tua. Setelah besar, saya benar-benar lupa soal jamu-jamuan dan pasrah sama obat-obatan hasil beli di apotek.

Kenapa ga minum jamu?
Karena ribet, anak kos kaya saya ini kan barang-barangnya terbatas, repot pula belanja bahan-bahannya ke pasar, dan alasan yang paling berat adalah, malas! Kebayang harus menghaluskan rempah-rempah dengan parutan, rebus sana-rebus sini, belum lagi rasanya yang, uhm… ya begitu deh.

Saya suka jamu tentu saja, tapi masih jamu-jamu yang cukup umum, seperti kunyit asem, beras kencur. Kalau jamu-jamuan yang bikinnya aja udah sophisticated dan ‘wangi’ nya ga biasa, nggak dulu deh. ūüôĀ

Oke, balik ke obat-obatan dari bahan herbal yang selama ini pernah saya cobain. Apa aja, yaaa..

Kunyit untuk Diare

foto milik temen saya, Titis

Anak mamak itu ada enam, kalau sakit bisa gantian, abis kakak, trus adek, trus saya, gitu terus muter-muter. Saya ingat dulu pernah diare parah, sampai lemas. Sama orang tua diobatin dengan kunyit.

Caranya:
– Beli kunyit yang potongannya besar, kalau ada pilih induk kunyit.
– Parut kunyit, peras, jangan ditambahkan air
– Iris gula merah, masukkan sedikit saja ke perasan kunyit
– Aduk rata, minum

Kandungan kunyit luar biasa banya, ada minyak atsiri, arabinosa, fruktosa, glukosa, pati, tanin, dammar, plus ada mineral seperti magnesium besi, mangan, kalsium, natrium, kalium, timbal, seng, kobalt, aluminium dan bismuth.

Kalau diarenya lumayan parah, minumnya dua kali sehari, pagi dan sore. Sementara itu makannya dijaga, kurang-kurangin makan santan dan cabe sampai kondisi perutnya bener-bener normal.

Bawang Merah untuk Perut Kembung

Kalau perut udah kembung, duhh, bawaannya riweh sendiri, balik kanan salah, balik kiri salah. Semua salah! Minum salah, makan salah, tapi laper, tapi kembung, dan susah banget mau napas. Pas begini ini, mamak datang dengan jurus andalannya, bawang merah!

Caranya:
– Ambil bawang merah dua siung, pilih yang besar
– Geprek bawang merah sampai penyet
– Campurkan bawang merah penyet dengan minyak telon
– Aduk-aduk, lalu balurkan ke perut

Meski jitu, ramuan bawang merah + minyak telon ini ga bisa sembarangan dipakai untuk bayi. Rasanya lumayan hangat di perut, khawatirnya bayi ga kuat dengan panasnya dan kulitnya iritasi. Kalau untuk anak-anak yang sudah lebih besar/dewasa sepertinya aman aja. ^^

Bawang merah sendiri mengandung banyak senyawa Aktif, seperti Allisin dan Alliin. Allisin dan Alliin bersifat hipolipidemik, yaitu dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan punya fungsi lain sebagai antiseptik. Lalu ada Flavonoid sebagai anti inflamasi atau anti radang.

Bawang merah juga mengandung Alilpropil Disulfide (dapat menurunkan kadar lemak darah), Fitosterol (lemak nabati yang baik dikonsumsi), Flavonol (antibiotik alami untuk menghambat pertumbuhan virus, bakteri, maupun cendawan), Pektin (menurunkan kadar kolesterol), Saponin (antikoagulan, yang berguna untuk mencegah penggumpalan darah), dan Tripropanal Sulfoksida (senyawa perangsang aktivitas fungsi organ-organ tubuh).

Jahe untuk Mual dan Flu

Kali lain, waktu badan rasanya gereges ga karuan, ada mual, ada batuk dan flu, mamak bikinin rebusan jahe. Diminum hangat-hangat beberapa kali sehari, duh rasanya enakk..

Cara bikinnya:
– Pilih jahe yang gendut dan segar beberapa buah
– Geprek jahe sampai gepeng
– Rebus dengan tambahan air beberapa gelas
– Tambah sedikit gula jika suka manis

Oh iya, air rebusan jahe ini ga cuma bagus diminum waktu badan lagi ga enak, tapi pas sehat juga oke. Jahe, yang sering dipakai sebagai bumbu masak ini, punya banyak kandungan baik. Ada minyak atsiri, mineral sineol, damar, fellandren, borneol, kamfer, zingiberin, gigerol, zingiberol, zingeron, lipidas, asam amino, vitamin A, B1, C, niacin serta protein.

Kalau lagi males bikin air jahe sendiri, saya suka mampir ke abang-abang penjual wedang jahe di dekat rumah. Mayan, abis minum jahe tidurnya jadi lebih enak. ^^
—————–

Tadi sempet nanya-nanya juga ke temen segrup wasap, mereka pernah minum obat herbal apa aja. Ini ada beberapa di antaranya, kalau temen-temen ada resep lain info ya, biar bisa ditambahin

1. Rebusan apel malang + sereh untuk obat lutut
2. Teh + kayu manis, untuk lutut
3. Rebusan sereh + daun salam untuk melunturkan lemak
4. Perasan lemon untuk meredakan batuk

Selain saya dan temen-temen, Pak Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat juga suka minum jamu, lho! Waktu ketemu di Simposium & Workshop Pengembangan Ilmu Kesehatan Tradisional dalam Pendidikan Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta minggu lalu, Pak Irwan sempat cerita soal pengalamannya minum obat alami.

Dulu Pak Irwan beberapa kali sakit, dia pernah minum jamu kunyit untuk bantu penyembuhan luka pasca operasi, lalu daun pepaya untuk demam berdarah, dan daun sirsak untuk problem prostat. Setelah nyoba manfaatnya langsung dan terbukti cespleng, Sido Muncul lalu bikin produk jamu-jamuan dalam bentuk kapsul.

Tapi ya, kalau sakit parah, ga bisa dong memasrahkan diri ke jamu sepenuhnya. Keburu tambah parah nanti, apalagi jamu kan kerjanya lama. Pak Irwan bilang, herbal itu pendekatannya beda dengan obat. Obat itu sistematis langsung ke tujuan yang sakit. kalau herbal lebih ke peningkatan daya tahan tubuh agar tidak rentan terkena penyakit.

Sekarang, meskipun sudah benar-benar sembuh, beliau tetap minum 8 kapsul jamu tiap pagi, dan 8 lagi di sore hari.

“Setiap hari, pagi dan sore, ¬†saya minum 2 kapsul sari kunyit, 2 kapsul sari daun sirsak, 2 kapsul sari kulit manggis, 2 kapsul sari daun pepaya”

Indonesia, kata Pak Irwan, punya banyak sekali sumber daya alam. Dari sekian banyak itu, yang dikulik-kulik manfaatnya baru sebagian kecil saja. Supaya makin banyak penelitian soal tanaman obat ini, Sido Muncul lalu bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi. Sampai saat ini, perguruan tinggi yang bekerja sama ada Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan Universitas Maranatha Bandung, dan terakhir dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Seru juga ya kalau nanti obat medis dan obat herbal bisa digandeng bareng-bareng dan diresepin sama dokter. Mungkin atau nggak, ya kita lihat aja nanti. Pastinya sih, riset soal obat herbal akan menguntungkan masyarakat. Bayangin berapa banyak uang yang bisa dihemat kalau kita bisa ambil dan bikin obat dari tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah sendiri. ^^

/salam jamu!

2 thoughts on “Pilih Obat atau Jamu?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *