Rempah Indonesia, dari VOC sampai Inang-Inang Pasar!

Gemah Rempah Makaharya Indonesia

Gemah Rempah Mahakarya Indonesia

Indonesia itu kaya? Tentu saja.
Sebegitu kayanya, sebegitu harumnya, sampai negara Eropa jauh-jauh bersedia datang ke sini. Sayangnya, dulu mereka datang bukan untuk berdagang jujur, tapi menjajah. Kalau aja mereka mau datang beli rempah dengan baik-baik, mesti Indonesia sekarang udah luar biasa makmurnya, yah. 🙂

Sejarahnya, dulu itu bangsa Eropa belanja pasokan rempah-rempah dari pedagang Arab. Nah, jualannya pedagang Arab ini dibeli sama pedagang Alexandria dan Italia. Pedagang Alexandria dan Italia ini yang lalu menyalurkan rempah-rempah ke seluruh Eropa.  Tapi, sejak runtuhnya Konstantinopel, negara Konstantinopel dengan negara Eropa putus hubungan, trus alur perdagangan rempahnya jadi tersendat.

Rempah susah, tapi butuh. Nah, negara-negara Eropa ini putar akal cari jalan buat dapetin rempah-rempah lewat ekspedisi laut. Tahun 1947, Vasco da Gama sampai ke Kalkuta di pantai barat India. Kalkuta, waktu itu jadi bandar utama sutera, kayu manis, porselen, cengkeh, pala, lada, kemenyan, dan barang dagangan lainnya.

April 1511, giliran Albuquerque yang berlayar dari Goa menuju Malaka dengan kekuatan kira-kira 1200 orang dan 17 buah kapal. Perang dong pastinya, dan pemenangnya adalah… Portugis!
Portugis sukses, beritanya kedengeran sampe Spanyol. Spanyol, dipimpin Magelhaen,  7 April 1521 sampai di Pulau Cebu.

Belanda ga mau kalah, tahun 1596 dipimpin Cornelis de Houtman, mendarat di Banten, Indonesia. Dari Banten, Cornelis lanjut jalan ke tiap pusat rempah-rempah di Maluku.  Balik ke Belanda, bawa banyak rempah-rempah dong ya. Nah, sejak itu bangsawan Belanda banyak yang ikut datang ke Indonesia. Supaya ga ada persaingan antar sesama pedagang Belanda, tahun 1602 didirikan perserikatan perusahaan Hindia Timur atau  Vereenigde Ooost-Indische Compagnie (VOC) yang dipimpin seorang Gubernur Jendral, Pieter Both.

Ilustrasi VOC gambar dari sini
Ilustrasi VOC
gambar dari sini

Sejak adanya VOC, petani Indonesia itu diperes abis-abisan. VOC bikin aturan khusus supaya mereka bisa monopoli perdagangan. Mulai dari, penjualan cuma boleh ke VOC aja, terus rakyat mesti bayar pajak berupa hasil bumi, ada juga peraturan soal jumlah tanaman rempah-rempah yang boleh ditanam, bahkan VOC punya hak buat nebang tanaman rempah-rempah tertentu supaya ga overproduksi yang bisa bikin harganya merosot.

Buat ngawasin semua aturan itu, mereka punya pelayaran yang dibikin khusus, namanya Pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi ini pakai perahu kora-kora (perahu perang).

VOC yang dibuat tahun 1602 akhirnya bubar tahun 1732. Seratus tiga puluh tahun lho, kak.. Kebayang kan itu nasibnya orang Indonesia dulu kayak apa merananya. 🙁

============================================

Rempah, Dulu Barang Mahal

Harga rempah dulu, luar biasa mahal. Begitu mahalnya, sampai penggunaannya musti dihemat-mat-mat. Tiap butir rempah diperlakukan layaknya emas. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membeli dan memanfaatkan rempah untuk berbagai kebutuhan.

Penggunaan rempah pada masa lampau cukup bervariasi. Dulu, rempah digunakan sebagai satu pelambang kekayaan, wewangian, obat, hingga bahan pengawet makanan/tubuh manusia.

Sekarang rempah-rempah harganya ga ada yang semahal dulu. Cengkeh misalnya, bisa dibeli seharga seribu rupiah untuk beberapa butirnya. Pala, lada, ketumbar, dan rempah lain, harganya juga cukup rendah.

Rempah halus gambar dari sini
Rempah halus
gambar dari sini

Saat ini rempah sangat mudah ditemui di pasar, harganya murah dan tentu saja bisa ditawar. Belum cukup begitu, penjual masih berupaya memanjakan pembeli dengan menghaluskan rempahnya juga.  Tak perlu lagi repot menggiling lada atau ketumbar. Tak ada lagi tangan pedas karena menggiling cabai merah. Cukup bilang, “Lada halus satu ons”, atau “Bumbu rendang basah lima ribu” kepada penjualnya.

Sangat mudah.

Terlalu mudah.

Begitu mudahnya, sampai penghargaan terhadap rempah perlahan hilang, serupa asap pembakaran tertiup angin. Lama-lama lenyap tak berbekas.
Tak perlu jauh, karena terbiasa membeli dan menikmati rempah “instan” ala inang-inang di pasar, pacar saya sampai tak mampu membedakan lada dan ketumbar, juga jahe dan lengkuas.

Saya sendiri?

Besar di keluarga sumatera yang sangat sering menggunakan rempah-rempah untuk kebutuhan rumah tangga, saya mengenal rempah-rempah yang umum digunakan saja, hanya seujung kuku dibanding jutaan jenis rempah yang ada di Indonesia.

———————————-

Saya mencintai rempah dan sangat menikmati bau-bauan rempah-rempah.
Bau rempah kering selalu membawa saya terbang jauh ke masa kanak-kanak. Saat rempah masih digiling dengan tangan, dan asap kayu bakar membumbung sampai atap rumah.

 

/Salam Rempah!

 

Sumber tulisan : http://www.academia.edu.

One thought on “Rempah Indonesia, dari VOC sampai Inang-Inang Pasar!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *