Review: Sasono Putro Guest House, Yogyakarta

Sasono Putro Guest House adalah penginapan terakhir yang saya kunjungi di Yogyakarta sebelum jatah me time (yang rencana awalnya sebulan lalu direvisi jadi dua bulan) habis. Saya suka menginap di sini karena suasananya nyaman dan lumayan dekat ke beberapa tempat nongkrong. Lalu, ada pula warung es pisang ijo enak yang jaraknya sepelemparan kolor dari penginapan.

Kamarnya ga begitu banyak, semuanya menghadap ke arah sungai. Sedikit cerita soal sungainya. Jadi, waktu sampai ke Sasono Putro itu kan udah malem, sekeliling udah gelap. Trus saya denger suara air ngucur deres banget. Kirain hujan. Pas tanya ke masnya, katanya itu suara air yang mengalir jatuh dari tanggul sungai.

Untung kagetnya sebentar aja, setelah beberapa lama di kamar saya justru menikmati. Suara air bikin suasananya seperti sedang buka kemah di pinggir sungai. 😀

Kamar saya ada di lantai 2, akses ke atasnya lewat tangga. Sebenarnya agak repot untuk naik karena kaki mendadak sakit dan harus dibebat. Tapi karena ga ada pilihan, ya udah dipaksa naik. *salah siapa liburan pas lagi banyak-banyaknya hari libur kejepit*
Rezeki anak baik, tangganya cukup nyaman, jarak antar anak tangganya ga terlalu tinggi, dan cukup lebar. *elus-elus kaki

Untuk kamarnya, yang paling saya suka itu bed covernya. Tebelnya pas, enak keruntelan di dalem. Trus ada termos air panas yang diisi ulang tiap hari, ada kopi, teh, gula. Buat saya kamarnya cukup besar. Selain tempat tidur ada dua meja, satu lemari gantung, dua cermin, dan satu wastafel.

Tamu yang menginap juga langsung dapat handuk bersih dan amenities yang isinya sabun, sikat gigi, pasta gigi. Ada tissue di kamar mandi, ini juga diganti/ditambah setiap hari saat kamar dirapikan. Untuk penginapan yang ratenya Rp 200an ribu per malam, buat saya ini mewah banget, sih. Fasilitasnya udah mirip dengan hotel bintang tiga!

Sarapannya disesuaikan dengan jumlah tamu, kalau ramai disajikan ala buffet, kalau sepi ya dikirim ke kamar.

gedung sarapan
sarapan di Sasono Putro
bisa sarapan di teras luar juga
sarapan yang dikirim ke kamar

Tadi kan sempet cerita kalau lokasinya Sasono Putro ini dekat dengan tempat nongkrong. Nah, selama nginep di sana, saya kerjanya bolak-balik pesen gojek, nyari tempat ngopi yang enak buat kerja sambil cuci mata.

Terdekat dari lokasi ada Klinik Kopi (sayang pas ke sana klinik kopinya tutup, ikut liburan), lalu ada Bilik Koffie (saya sampai dua kali ke sini, kopinya enak sangat dan mas baristanya tampan, double happiness), Epic Coffee and Epilog Furniture (warkop Jogja yang keren abis interiornya, tapi harganya ga beda jauh sama Jakarta), dan Peacock Coffee (cuma beli minum sudah boleh numpang wifi dan colokan. Peacock buka 24 jam).

Sempet juga nyobain makan siang di Cengkir Heritage Resto & Coffee karena diajakin ketemuan sama Sukma, temen SMA di Lampung. Aduh ya, Cengkir ini makanannya enak-enak, banyak pilihan cemilan, harganya juga ga mahal. Bikin kangen banget, euy. Cengkir itu cukup dekat dari penginapan, sayang saya baru tau di hari terakhir, kalau saja lebih cepat kan bisa ngulang ke sana tiga kali sebelum pulang. ^^

Nah, kalau yang di bawah ini es pisang ijo, ya iyalah pasti udah tau itu es pisang ijo. Dodol deh. Hehehe. Maksudnya ini es yang saya ceritain di paragraf pertama. Nama warung yang jual La-Capila. Rasa esnya enak, porsinya banyak, dan harganya cuma Rp 7500 sepiring gede gitu. Kalau males jalan (yang mana kelewatan soalnya warungnya deket), bisa pesen pakai gofood. Di go-food harganya beda, lebih mahal sedikit, tapi tetep terjangkau dan tetep enak. :p

Saya rekomendasikan penginapannya buat lone traveler, buat keluarga, dan buat teman-teman yang ke Yogyakarta untuk urusan kerjaan. Guest house ini cocok untuk semua karena banyak warung, restoran, pedagang kaki lima di dekat guest house, suasananya rindang karena banyak pohon, dan stafnya siap 24 jam kalau-kalau butuh bantuan untuk ini-itu.

Semua kamar menghadap ke halaman, jadi suara-suara dari kamar lain (kalau ada yang berisik), langsung terbang terbawa angin dan tamu yang ada di sebelah kanan dan kiri ga akan terganggu. Oh iya, ini kamarnya kedap suara juga sepertinya, soalnya kalau saya tutup pintu, seketika suara air dari bendungan ga terdengar sama sekali.

Sasono Putro ga nyediain air mineral. Air ada tapi hanya di gedung sarapan dan bisa diambil kalau kebetulan hari itu sarapannya disediakan ala buffet. Jadi, pastiin belanja air dulu kalau mau balik ke kamar, ya.

Soal air ini, saya mau titip pesan untuk pengelola, semoga aja mereka baca ya. Penginapan ini bakalan lebih keren kalau ada galon air minum yang disediakan di tiap lantai. Ga perlu ada di tiap kamar, tapi selantai cukup satu aja. 🙂

/salam liburan

Postingan lain soal penginapan di Jogja:
1. OMAHDJOKDJA: http://atemalem.com/review-omahdjokdja-tempat-menginap-nyaman-untuk-keluarga/
2. RAINTREE: http://atemalem.com/review-raintree-serasa-tinggal-di-rumah-mewah/
3. BHUMI HOSTEL: http://atemalem.com/delapan-malam-di-bhumi/
4. HOUSE OF NASI BUNGKUS: http://atemalem.com/nasi-bungkus-hostel-rasa-rumah/
5. PESONA JOGJA: http://atemalem.com/pesona-jogja-homestay/
6. SASONO PUTRO: http://atemalem.com/review-sasono-putro-guest-house-yogyakarta/

Sasono Putro Guest House
Situs web
Jalan Pandean Sari Blok. 1 No. 1, Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
(0274) 885764
Petunjuk Lokasi
Penginapan ini bisa dipesan via traveloka, booking.com, dan pegi-pegi.

23 thoughts on “Review: Sasono Putro Guest House, Yogyakarta”

  1. kenapa mbak kakinyaa? 🙁 cepet sembuh mbak 🙂

    rumah sha deket sungai, tapi gaada gemericik airnya. Kebayang bobo sambil denger gemericik airr 😀

    itu minuman yang kemerah-merahan apa namanya ya mbak?

    1. Semacam keseleo. 😀
      Kalo tidur sambil buka pintu enak banget kayanya, suara airnya enak didenger. Tapi kan ga berani tho, jadi tutup pintu, trus di kamar cuma kedengeran suara tipi. 😀

      Minumannya itu wedang oewoeh. Dia merah karena pakai kayu secang. Rasanya manis karena dikasi gula batu. Agak pedes juga.

    1. Karena waktu nginep di sini udah terakhir mau balik Jakarta. Trus masi ada duit sisa, terus ga harus hemat, terus jajan deh. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *