RINDU. SENDIRIAN.

nona menarik napas panjang
pelan-pelan, pelan-pelan
sampai paru-paru puas terisi udara
lalu hembus pelan. pelan-pelan
sampai kosong. sempurna

bernapas mulai sulit sekarang
karena nona kehilangan alasan
untuk mengalirkan udara dari dada
dan membuat tubuhnya tetap hidup
saat ada bagian lain di dadanya yang remuk

duh, patah hati…
nona sudah mendengarkan banyak cerita soal ini
tapi ternyata, rasanya jauh lebih pedih
saat semesta bikin nona mengalami sendiri
seperti burung yang terus terantuk jendela kaca
tetap berusaha terbang meski kepalanya penuh luka

nona tahu, tak ada jalan mudah untuk sembuh
dari bilur-bilur yang tercetak lekat
juga dari genta yang berbunyi keras di telinga, dan
mengingatkannya pada banyak kisah
soal kasih yang musnah

halo tuan, apa kabar?
untuk nona, sore ini perih seperti sore kemarin
sepi, seperti sore kemarin
dan pada dinding kosong
nona bertanya lirih..
mengapa, bahkan pada saat begini
rindu tak juga angkat kaki

ahhh, tuan…
sudah hampir gelap di sini
tapi nona masih duduk sendiri
menemani bumi yang perlahan kehilangan warna
dan menyisakan hanya kelabu

hanya kelabu

#oderindu nomor 8189


One thought on “RINDU. SENDIRIAN.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *