Salam Pembakti dari Penjuru Negeri

“Ayo kita foto dulu,” kata laki-laki yang kepalanya diikat kain batik kepada saya dan Mba Terry, siang itu, di depan Ballroom Hotel Marbella Anyer, tempat dihelatnya acara Persamuhan Nasional Pembakti Kampung 2019.

(ki-ka) Mba Terry, saya, Mas Duddy

Saya tidak kenal beliau, dan beliau tidak juga mengenal kami. Tapi senyumnya yang super lebar dan gerak tubuhnya yang ramah membuat saya merasa aman mengiyakan ajakannya. Setelah berfoto, kami pamit masuk ruangan. Sesaat sebelum pisah itu, Mas yang mengajak berfoto tadi menjanjikan ngobrol lanjutan di kesempatan jumpa berikutnya. Saya iya-iya saja, dan menduga ucapannya itu sekadar basa-basi.

Di dalam ruangan sudah penuh, ratusan orang dari seluruh Indonesia sudah berkumpul jadi satu. Saya sempat berkenalan dengan teman-teman pembakti kampung dari Riau, Jawa Timur, Flores, dan Sumatera. Semua senang, semua bahagia. Saya, sejujurnya masih menerka-nerka siapa mereka dan apa yang membuat saya diminta hadir di acara ini.

“Tadi foto sama Mas Duddy ya?” Mas-mas di depan saya mengajak bicara.
“Duddy?”
“Iya, dengan Mas Duddy. Saya tadi lihat fotonya,” ujar dia sambil menunjukkan foto  di smartphonenya. Oke, ternyata Mas yang menegur saya adalah followernya Mas Duddy. Lewat Instagram dia melihat foto kami dan mengenali saya.

Setelah membuka percakapan dengan kalimat tadi, kami ngobrol ngalor-ngidul, seperti sudah kenal lama. Jujur saja, awalnya, saya agak kelabakan dengan sikap ramah yang bertubi-tubi begini. 13 tahun hidup di kota besar mengajarkan saya untuk waspada pada sekeliling. Boro-boro bertegur sapa dengan orang yang melintas, melemparkan senyum pada orang yang kebetulan duduk bersanding di angkutan umum saja jarang sekali saya lakukan.

Di acara pembukaan Persamuhan Nasional Pembakti Kampung, sikap waspada dan hati-hati yang selama ini saya pegang teguh, mendadak ambrol. Pada jam pertama saya sudah berkenalan, selfie, bertukar akun media sosial, dan mendengarkan cerita-cerita baik dari seantero negeri dengan belasan orang sekaligus!

Ada Bung Sila dari Flores yang keliling Indonesia dengan sepeda motor untuk menyebarkan nilai-nilai keberagaman di penjuru tanah air (iya, nama bekennya, Sila, diambil dari kata Pancasila). Ada Cak Sifa yang menggagas Desa Wisata Sentul di Probolinggo, dan ada Seli, perempuan Maluku yang gemar sekali berbagi cinta dengan anak-anak di Desa Hukurila lewat Sekolah Adat. Sekolah adat di Desa Hukurila ini mengajarkan anak-anak tarian daerah, tuturan sejarah, musik daerah, aneka rupa penganan lokal, dan permainan tradisional. Sekolah adat ini pada proses belajar mengajarnya, bekerja sama dengan masyarakat setempat.

Bung Sila, Cak Sifa, dan Seli adalah sebagian dari pembakti yang diundang jadi peserta Persamuhan Nasional Pembakti Kampung 2019. Persamuhan nasional ini dihelat oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Di sela waktu ngopi  dan nyemil bakwan, Mas Duddy kembali menghampiri. “Janji saya sudah tunai ya, ini kita sudah ngopi,” katanya sambil tertawa lebar betul. Saya hanya terkekeh melihat gayanya yang asyik dan mirip air, mudah nyelip di mana saja. Dari hasil ngobrol-ngobrol sebentar pada waktu ngopi, saya tahu kalau Mas Duddy adalah Pemimpin Redaksi kapol.id dan juga salah satu pengajar di Kelas Multikultural di SMK Bakti Karya.

Apa itu kelas multikultural? Tonton video ini sampai selesai untuk info lengkapnya ya…

Apa itu kelas multikultural?

Apa yang ingin dicapai dari sesi pembelajaran di kelas multikultural?

  • Upaya merawat toleransi.
    Keragaman budaya dari tiap pelajarnya memungkinkan para siswa berpikir terbuka, beradaptasi dan merasakan empati pada identitas yang berbeda dari dirinya sendiri.
  • Mampu berinteraksi secara dinamis.
    Karena siswanya dari berbagai suku, agama, dan budaya yang berbeda, keragaman adalah hal yang pasti. Keragaman inilah yang membentuk interaksi dinamis. Siswa dapat belajar berinteraksi dalam lingkungan berlatar belakang aneka budaya.
  • Menjaga perdamaian
    Suasana beragam melahirkan semangat saling menjaga antar siswa. Keragaman membuat siswa selalu mengupayakan dan merawat tradisi damai.
  • Menghubungkan jarak.
    Berbedanya asal, budaya, dan latar belakang menjadi kesempatan bagi siswa untuk saling mengenal secara mendalam hingga membentuk jaringan kebangsaan.
  • Sekolah sebagai wahana eksplorasi budaya.
    Siswa menjadi duta budayanya di tengah siswa lain, semakin banyak ia menampilkan arif budayanya, semakin kaya pemahaman siswa lain tentang kebudayaan Nusantara.

Ini memang bukan sekolah kebanyakan. Sementara ini mungkin hanya orang tua yang “berani” saja yang bersedia menyekolahkan anaknya di sini. Meskipun sekolah ini tidak memungut biaya sama sekali selama masa pembelajaran.

Ada asrama gratis (putra/putri) bagi siswa yang akan tinggal selama 3 tahun, fasilitas sekolah gratis hingga lulus, bebas biaya daftar, bebas dana pokok, bebas SPP,  dan bebas biaya program. Kelebihan sekolah ini dibanding sekolah lainnya adalah: setelah lulus, siswa sekolah tidak hanya dibekali dengan keterampilan bertahan hidup dan berbagi pada sesama, tetapi juga dibekali dengan hati yang luas, lapang, dan sayang pada sesamanya.

Oh iya, sekolah ini juga memerlukan relawan lho. Silakan cek link websitenya di sini untuk info lengkap ya.

—-

Pada kesempatan lain, di antara derasnya tabuhan Rampak Bedug dari ratusan santri di Mercusuar Cikoneng, Anyer, saya duduk-duduk santai bersama seniman musik unik asal Tuban, Jawa Timur. Unen Unen Rengel namanya. Kelompok musik ini main musiknya bukan pakai gitar, bas, atau drum, tapi dengan daun-daunan dan potongan bambu yang dibentuk sedemikian rupa, dimainkan dengan mulut dan jemari, hingga mengeluarkan bunyi-bunyian ritmis.

“Namanya musik purba,” kata Mas Hewod, Si Penggagas Unen Unen Rengel.

Sebagian personel kelompok musik Unen Unen Rengel

Pada satu malam, Unen Unen Rengel ikut manggung di persamuhan dan mengajak penonton ikut mencoba. Kami kebagian sepotong kecil daun bambu. Daun itu ditempelkan ke bibir lalu dijentik-jentik dengan ujung jari. Saya mencoba, dan yang terdengar hanya bunyi tuk-tuk-tuk. Berbeda jauh hasilnya dengan nada-nada yang dihasilkan pemusik Unen Unen Rengel di atas panggung. 😀

Mengapa membentuk kelompok musik yang berbeda dari biasa? Inspirasi awalnya, kata Hewod, bermula dari pengalaman mendengar musik kuno dari alat-alat tradisional. Pengalaman itu melekat kuat di benaknya, lalu kemudian menjadi aksi nyata.

Tidak langsung bisa manggung, karena proses awalnya adalah pencarian alat musik, membuatnya kembali, dan menguasai cara memainkannya. Sekarang, kelompok musik yang sudah berusia tujuh tahun ini kerap diundang mengisi acara, tidak hanya di dalam tapi juga di luar negeri.

Kelompok musik Unen Unen Rengel saat perform di Festival Dawai Nusantara

Alat musik purba adalah cara Unen Unen Rengel untuk melestarikan nusantara.

—-

Pada Persamuhan Nasional Pembakti Kampung 2019, 26-30 Oktober 2019 kemarin, saya tak sempat bercerita dengan banyak pembakti. Cerita yang saya tulis ini hanya sebagian kecil. Meski demikian, ini adalah bukti kayanya Indonesia akan niat baik warga-warganya memintal nusantara.

Indonesia baik-baik saja, dan akan terus begitu sepanjang para pembakti terus berjuang. Mereka bukan hanya yang hadir di acara persamuhan, tapi juga yang nama-namanya bahkan belum pernah kita dengar sebelumnya. Pada mereka kita berhutang untuk damainya negeri.

Jangan pernah lelah mencintai negeri ini, begitu kata menteri favorit saya, Ibu Sri Mulyani.

Ucapan senada diucapkan Butet Kertaradjasa di Persamuhan Nasional Pembakti Kampung. “Jangan kapok mencintai Indonesia!”

Setiap orang, punya jalan untuk merawat nusantara. Para pembakti kampung berusaha dari daerahnya masing-masing. Kita, yang tak punya kampung, bisalah memulai dari diri sendiri dan keluarga. Berhati-hati saat menyebarkan berita, hentikan hoax hanya sampai di kita saja, dan sebarkan berita baik dari pelosok nusantara sebanyak-banyaknya. 🙂

Blogger dari Aceh, Medan, Riau, Palembang, Lampung, Jakarta, dan Surabaya di Persamuhan Nasional Pembakti Kampung 2019.
Blogger dari Jakarta, Aceh, Padang, Yogyakarta, Jawa Barat, dan, Medan di Persamuhan Nasional Pembakti Kampung 2019.

Dimulai dari satu orang, lalu terus bergulung semakin besar, menimbulkan gelombang harapan untuk nusantara yang damai dan penuh toleransi dalam keberagaman.

/salam sayang untuk semua

3 thoughts on “Salam Pembakti dari Penjuru Negeri”

  1. Memang keren pisan acaranya, bertemu dan berkenalan dengan pembakti desa yang terkadang tak terdengar secara nasional. Salam kenal mba ate, sering lihat ig nya dan syukurlah bisa bertemu langsung.

  2. T_T salut sama teman-teman dari daerah lain di Indonesia ini, keknya aku harus kurang-kurangin julidin pemerintah, ga guna juga soalnya, ga berkontribusi apa-apa. Malu soalnya sama orang-orang yang mbak Rere kisahkan diatas T_T mereka fokus ngerjain apa yang mereka bisa untuk sosial. Keren deh pokoknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *