Sang Pemimpi

Nanti, beberapa tahun atau beberapa puluh tahun ke depan.
Aku akan menceritakan kisah ini kepada anak, cucu, atau cicit.
Tentang dalamnya rasa, yang dengan senang hati kusebut cinta.
Walau yang bisa ditemui hanya rasa dingin dan kegelapan.
Tentang keberanian untuk jatuh ke dalamnya. Telanjang.

Aku tercebur.
Tanpa melihat sekeliling.
Tenggelam.
Cinta, tempat yang aku tuju.
Beku.
Pedih.
Sakitnya membakar, dan membuat demam berbulan.
Tapi tak apa.
Aku berniat melakukannya lagi.

Ini mimpinya Sang Pemimpi.
Bodoh.
Kacau.
Sakit.

Tak mampu memikirkan lainnya.
Terjerumus.
Tak apa, sesekali gila tidak bahaya.
Bukankah tidak ada yang tahu kemana hidup akan membawa.
Secantik dan semuram apa warnanya.

Mungkin nanti, ketika aku mengingat jauh ke belakang.
Tentang kamu, ngilu, dan rindu.
Aku akan tersenyum.
Dan tak akan menyesal untuk semua yang sudah lalu.

/ode rindu nomor tigaribu.

6 thoughts on “Sang Pemimpi”

    1. Adhams pernah bilang, postingan puisi adalah postingan yang paling sulit dikomentari.

      So I cherish all the “Hmmm….” comments.

      Hahaha.
      Terima kasih sudah mampir, Jen!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *