Sedu Kering Sudah

Hai Johanus

Kaki membawaku menyusuri jalan kita dulu.
Mestinya ada senyum mengembang, dada gemuruh. Mestinya.
Sayang beribu sayang, gadis terantuk malang. 

Ini kali, ada pilihan untuk jadi sadar, jalannya lebar, tapi sulit dijalani.
Hati tak mampu pergi.
Luka jadi teman.
Semacam asesoris, yang tanpanya gamang.

“Ting!”
Elevator terbuka lebar.
Kosong.
Tak seperti pertemuan kita usai perpisahan sewindu.

Apa sudah tiba waktu, meninggalkan harap, melepaskan pekat.
Harapan tipu-tipu, bahkan otakku pun tak percaya.
Tapi mau bagaimana lagi. Sedu kering sudah. Sendiri nyata sudah.

/ode untuk rindu
/Jakarta, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *