Segayung Ballo’ dari Pasar Bolu

Pak, di Toraja ada minuman khas, kah?” tanya saya pada Pak Naja, pemandu kami di Toraja. Ketika Pak Naja bilang ADA, saya langsung berbahagia dan menanti-nantikan kesempatan pertama untuk mencobanya.

Tak menunggu lama, persis esok paginya, Pak Naja mengantarkan kami ke Pasar Bolu di Rantepao. Sejatinya, Toraja menetapkan hari pasar setiap enam hari sekali. Tetapi khusus untuk Pasar Bolu ada aturan yang berbeda. Demi kunjungan pariwisata, pasar ini dibuka rutin dua kali seminggu, pada Sabtu dan Selasa.

Selayaknya pasar, Bolu menyediakan segala keperluan rumah tangga. Ada beras, sayuran, perkakas, pakaian, ikan, dll. Meskipun pasar tradisional, Pasar Bolu cukup bersih dan tidak terlalu becek. Di pasar inilah kami bertemu dengan BALLO’, minuman khas Toraja yang sudah saya impikan sejak semalam.

Ballo’ di Toraja berasal dari cairan hasil sadapan tandan pohon enau/nira (Borassus flabellifer) yang difermentasi.  Pohon enau sendiri berasal dari wilayah Asia tropis, dan menyebar alami mulai dari India timur di sebelah barat, hingga sejauh Malaysia, Indonesia, dan Filipina di sebelah timur. Di Indonesia, enau tumbuh liar atau ditanam di lereng-lereng atau tebing sungai. Pohon ini akan tumbuh baik sampai ketinggian 1.400 m dpl.

Nira dari aren mengandung gula antara 10-15%. Cairan ini jika tidak difermentasi menjadi ballo’/tuak, dapat diolah menjadi minuman segar, sirup aren, gula aren, dan gula semut.

Ballo’ wajib hadir dalam ritual-ritual adat Toraja, baik sebagai kelengkapan upacara juga sebagai minuman selamat datang untuk para tamu. Minum ballo’ dipercaya dapat menghangatkan tubuh dari udara dingin (mirip-mirip dengan air jahe). Oh iya, karena kandungan gula ballo’ yang cukup tinggi, minuman ini juga berfungsi untuk menambah tenaga.

Ballo’ yang baru dipanen rasanya manis, segar, dan enak. Teksturnya cair, warnanya bening agak keruh, dan terasa lengket jika kena kulit. Penjual ballo’ yang kami kunjungi di Pasar Bolu kemarin menjual minuman khas ini dalam dua rasa, “manis saja” dan “manis dengan citarasa sedikit asam”. Perbedaan kedua rasa ini ada pada penyimpanan air sadapan nira. Ballo’ yang rasanya manis artinya baru saja diturunkan dari pohon, sedangkan yang rasanya sedikit asam sudah melalui fermentasi beberapa jam sebelumnya. Jika dibiarkan dalam waktu lama, air nira ini akan menjadi cuka dan tidak bisa dikonsumsi lagi sebagai minuman.

kayu buli

Kadang pedagang ballo’ menyiapkan juga versi ballo’ yang berwarna merah muda. Warna diambil dari kulit batang kayu buli (Sonneratia sp.). Rasa ballo’ dengan penambahan serbuk kayu buli ini mirip-mirip dengan ballo’ pahit asam hasil fermentasi. Kayu buli juga bersifat anti oksidan dan dipercaya dapat menghambat proses fermentasi air nira menjadi cuka.

Di pasar, ballo’ dijual dalam ukuran gayung. Ballo’ seukuran gayung sedang harganya Rp 20ribu, dan gayung ukuran besar Rp 30ribu. Saat sudah bersepakat soal ukuran dan harga, indo (ibu) penjual akan menuang ballo ke dalam gayung, lalu mencurahkannya ke dalam plastik.  Sebagai wadah, penjual menggunakan jerigen berbagai ukuran.

Meskipun bisa mengandung alkohol hingga 4%, ballo’ diperjualbelikan secara bebas. Selain di pasar, ballo’ dijual juga di rumah petani penyadap enau dan di warung-warung pinggir jalan. Jika membawa kendaraan sendiri di Toraja, menyetirlah pelan-pelan, di sisi kiri/kanan jalan akan ada plang-plang kecil bertuliskan, “ADA BALLO”.

Di pasar kemarin, kami membeli satu gayung ballo’ manis, sayangnya saat malam tiba cairannya sudah terfermentasi secara alami. Hanya butuh waktu sekitar delapan jam untuk mengubah rasa ballo’ jadi pahit dan berbau asam.

dijual dalam ukuran gayung, dibungkus dengan plastik kresek.

Kalau dibandingkan dengan tuak dari Sumatera Utara, menurut saya rasa ballo’ masih lebih ringan. Meski begitu, jika nanti teman-teman mencoba minuman ini saat main ke Toraja, pastikan minum secukupnya saja, ya. Terlalu banyak ballo’ bisa membuat pikiran kamu belok!

/salam sadar!

22 thoughts on “Segayung Ballo’ dari Pasar Bolu”

    1. Yang masih manis katanya memang belum ada alkoholnya ya.
      Tapi tetep aja kebanyakan bahaya sih, gulanya tinggi sekali

    1. Kalau terlalu banyak, yang sudah difermentasi mungkin bisa memabukkan. Kalau yang rasa manis ngga, karena ga melalui proses yang sama. 😀

  1. yah sayang banget yah, kalau di bawa pulang kesni minumannya pun ga keminum yah krn daya tahannya sebentar. Kok aku mikirnya dibawa ksini sih?!

    #eahh
    #penasaran

    1. Hahahha, karena ga bisa dibawa ke luar daerah mungkin nanti ada kesempatan buat kita icip langsung di tempat pengolahan asalnya? Gimana?

  2. Duh.. cocok nih minumannya buat yang sering insomnia kayak aku.. bisa nih jadi ide bikin usaha mengolah ballo jadi minuman kemasan..
    *mulai otak dagang kumat*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *