Si Manis yang Berbahaya

Barusan nemu foto ini di hape, trus kebayang enaknya minum es teh manis pas cuaca lagi terik-teriknya kaya sekarang. Duh, dua gelas juga abis kayanya, ya. Es teh manisss, please come to mama..

Dulu tuh ya, saya bisa banget ngabisin es teh manis bergelas-gelas, ga kepikiran apa-apa, tenggak aja terus, sampe perut sebah. Untungnya kebiasaan minum yang manis-manis terlalu banyak ini udah saya tinggalin jauh-jauh. Bukan karena harga gula yang mahal, tapi karena takut diabetes. šŸ™

Pertama kali denger mamak sakit diabetes itu pas awal kuliah. Rasanya lemas pas tau, kebayang kalau mamak kenapa-kenapa gimana. Saya masih kuliah, adik-adik masih SMP dan SMA. Setelah terdeteksi pertama kali, kondisi mamak ga pernah benar-benar membaik dan masih bolak-balik masuk rumah sakit sampai sekarang.

Diabetes yang lumayan parah juga bikin mamak harus dioperasi. Penyakit diabetes melitus yang tidak terkontrol dalam waktu lama akhirnya menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan saraf. Luka kecil aja bisa bahaya untuk penderita diabetes. šŸ™

Setelah liat sendiri betapa sulitnya hidup dengan diabetes, saya mulai pilih-pilih makanan. Sesekali tetap minum manis, tapi udah lebih mampu membatasi diri.

Gula bahaya, ga?
Jawabannya nggak. Konsumsi gula harian dalam jumlah yang wajar ga ada bahayanya, malah diperlukan oleh tubuh. Masalahnya baru muncul ketika konsumsi gula harian sudah melebihi kebutuhan.

Gula atau glukosa adalah salah satu sumber karbohidrat yang paling dibutuhkan oleh tubuh. Di dalam tubuh, gula digunakan sebagai bahan bakar energi sama halnya seperti lemak. Sumber utama glukosa adalah karbohidrat yang ada di dalam makanan dan kemudian diserap oleh beberapa bagian tubuh seperti organ hati dan otot rangka.

Jumlah wajar asupan gula harian itu seperti apa?

– Anjuran konsumsi gula harian dari Menteri Kesehatan RI adalah 50gr atau setara dengan 4 sendok makan
– WHO menganjurkan untuk membatasi konsumsi gula harian sebanyak 25 gr atau setara dengan 2 sendok makanĀ untuk manfaat kesehatan tambahan

Iyaa, cuma 4 sendok gula setiap harinya, maksimal.
Sumber gulanya dari mana? Dari makanan dan minuman yang kita makan sehari-hari. Jadi bukan cuma dari gula putih yang kita campur secara sadar di minuman, ya.

Gula hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang bentuknya pancake, es campur, es krim, atau es podeng. Duh, liat gambarnya aja mulut berliur, yes!

Gambar-gambar di atas ini adalah makanan dan minuman dengan rasa gula yang kerasa di lidah dan bersumber dari ekstrak tebu. Tapi jangan salah, masih banyak makanan lain yang rasanya ga manis-manis amat tapi juga mengandung gula.

Contohnya:

1- Makanan Kaya Karbohidrat
Makanan utama dan sering sekali kita makan, misalnya roti, nasi, pasta, dan kentang mengandung banyak sekali karbohidrat. Di dalam tubuh, karbohidrat diubah seluruhnya jadi glukosa.


2- Makanan Kaya Lemak
Makanan seperti mentega, salad dressing, alpukat, minyak zaitun, atau cokelat mengandung banyak lemak. Lemak yang masuk ke dalam tubuh, sebanyak 10% nya akan diubah menjadi glukosa.

Banyak banget kan ya sumber gulanya. Kalo udah gini jadi kepikiran sebenernya perlu ga sih nambahin sumber gula tambahan dari gula tebu? Jangan-jangan segala nasi, roti, mie, kue, dll itu kalau ditotal udah sampai batas maksimal 50gr gula atau malah lebih..

Horor banget sih ini!

Kita bisa-bisa ga sadar seberapa banyak gula yang masuk ke dalam tubuh karena bentuk makanannya bukan gula tebu yang manis itu. Trus karena ngerasa baik-baik aja, jadi nambah cemilan-cemilin macam donat topping selai cokelat, milkshake strawberry, sama makan martabak delapan potong sendirian!

Anw, kemarin saya sempet dateng buat ngobrol-ngobrolĀ  #TentangGula diĀ #KopdarGula bareng Dokter Marshell dari @tanyadok.Ā Pak dokter bilang, gula yang berlebihan berisiko memicu diabetes dan obesitas.

Tapi udah kebiasaan makan/minum yang manis nih, mesti gimana dong? Kata Pak Dokter ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk membatasi gula dan menghindari risiko surplus gula:

  1. Pilih makanan dan minuman yang baik-baik. Pilih yang kandungan karbohidrat/gulanya tidak terlalu berlebihan
  2. Perbanyak aktivitas fisik
  3. Komitmen menjalankan poin 1 dan 2.

Haiyah, yang poin nomor 3 itu yang paling berat. Untuk poin milih makanan, bisalah kalau dipaksa-paksa. Sekarang ini kalau misalnya ada pilihan saya pasti pilih kopi tanpa gula untuk minuman plus buah-buahan buat cemilan.

Kalau ga ada pilihan yang oke dan cukup baik buat tubuh? Nah ini yang repot, tapi saya biasanya makan apa yang ada, tapi ga terlalu banyak, dikira-kira aja sesuai kebutuhan.

Jadi, udah boleh dong ya mulai memerhatikan asupan makanan sehari-hari. Apa-apa jangan berlebihan. Karena seperti kata Alam, “yang sedang-sedang saja” memang lebih baik.

/salam semanis gula

4 thoughts on “Si Manis yang Berbahaya”

  1. Ayahku kena diabetes dan akhirnya berdampak ke ginjalnya sampai akhirnya berpulang Mbak. Aku pernah pada suatu masa sangat strict sama gegulaan karena takut kena diabetes seperti Papa. Tapi tubuhku berontak jadi mudah lemas, akhirnya aku menakar sesuai dosisnya. Gak berlebih, gak kekurangan deh.

    1. Persis Mba, aku juga sekarang gitu. Ga mau musuhan sama gula karena toh tubuh perlu manfaatnya. Cuma sekarang dikira-kira aja, sebutuhnya, sebisa mungkin ga berlebihan. Takut diabetes soalnya. ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *