Tag Archives: #100Kata

Pelukan

Bangun, mandi, bikin sarapan, beres-beres rumah. Suami bangun, mandi, sarapan. Pelukan selamat tinggal. Suami pergi, istri sendiri.

Nonton televisi, baca tabloid, beres-beres rumah (lagi), mandi (lagi), bersiap menyambut suami. Suami masuk rumah menerima pelukan selamat datang.

Rina melakukannya setiap hari. Tiga pelukan dalam tiap-tiapnya. Waktu pagi, sore, dan satu lagi menjelang tidur malam.

Dulu, ritual pelukan itu  saja bisa makan waktu beberapa menit. Ia dan suaminya sama-sama enggan berpisah saat pagi, memeluk erat karena rindu berat saat sore. Pelukan malam lebih sering berlanjut ke hal lainnya, panas.

Sekarang, mereka melakukan sambil lalu, lebih seperti tradisi, yang mesti dilakukan seterusnya, sampai mati.

Di Mana Semuanya Bermula

Hati terbuka lebar-lebar saat dia mendekat. Dia tak mengetuk, hanya mondar-mandir di depan mata. Lalu saya jadi berharap.

Menurut saya, dia sudah jatuh terpesona. Lama saya berpikir demikian. Saya duduk manis, menunggu didatangi.

Tapi dia tak mau mampir.

Saya pikir, yang begini mestinya diperjelas dari awal, supaya saya tak jadi terluka nantinya.

Satu sore, saya tanyakan langsung. Kata dia, cuma hati saya yang merasa. Dia kosong saja.

Permulaan yang pahit. Mestinya sih, kalau pahit begini, siapa-siapa yang waras sudah mundur teratur. Menghindar sebelum luka dalam tadi jadi bernanah dan bau.

Sayangnya saya bukan salah satu dari mereka yang waras itu.