Tag Archives: #30HariMenulisSuratCinta

Perjalanan

Selamat lima tahun, Dear.
Bagaimana? Kamu masih mau lanjut atau kita terus saja begini?
Terikat satu sama lain, tapi sudah tak lagi saling mencintai.

Selamat lima tahun, Dear.
Sebenarnya untuk apa kita bertahan.
Toh, angka tahun yang terus bertambah bukan pertanda prestasi.
Tambah umur, cinta kita bukannya semakin makmur. Dia kelaparan.

Selamat lima tahun, Dear.
Aku sadar, masing-masing kita saat ini menahan diri untuk pergi pertama.
Menjadi yang ditinggalkan akan lebih mudah, mereka akan memberi simpati.
Melangkahkan kaki ke luar dari hubungan ini lebih dulu pasti berbuah caci, kan?
Kita tau, dan kita mengerti.

Selamat lima tahun, Dear.
Sampai kapan kita mau begini?
Menunggu ibu peri datang dan menaburkan bubuk keajaiban pada cinta.
Membuatnya segar dan wangi seperti dulu kita pertama bersua?

Selamat lima tahun, Dear.
Aku pernah mencintaimu.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day29

Bukan Kamu

Hampir satu bulan ini aku berpikir, untuk apa kita bersama.
Dulu, waktu kita menikahi satu sama lain, apa sebenarnya tujuan kita?
Sekedar sah saja, beroleh keturunan, atau malah kosong.

Semakin lama aku berpikir, semakin aku sadar, kebersamaan kita hampa.
Sepertinya, tanpa aku, kamu akan baik-baik saja,
dan aku, tanpa kamu, akan baik-baik saja.
Jika kita bisa hidup sendirian, untuk apa kita hidup berduaan?

Kamu, pernahkah kamu berpikir soal itu?
Atau kamu memilih menjalani hari seperti air, hanya mengalir.

Demi semesta, aku pernah mencintaimu begitu rupa.
Hingga saat mulutmu bersuara, tubuhku melemah.

Namun kini, sepertinya aku mesti memikirkan kembali soal cinta.
Beri aku waktu, aku butuh terdiam sendiri.
Aku butuh menutup mulut, sebelum dia lancang berteriak dan suaranya menyakiti kamu.

Besok, aku akan berkabar,
bersabarlah.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day28

Menangisi Kita

Gelap sekali di luar, Dear.
Tak lama, kilat datang sambar menyambar.
Kemudian langit menangis.
Saat ini bukan hanya tanah, pohon, dan jalan yang basah. Pipiku juga basah.

Aku tak mampu lagi mengerem air mata, Dear.
Dia turun tanpa perintah.
Hati sudah lelah.

Apa kabarmu hari ini, Dear.
Sudahkah kau baca suratku yang lalu.
Sudahkah kau pikirkan, atau persis seperti yang kubayangkan kemarin, kau anggap aku cemas berlebihan.

Dear, segenap darahku menyanyikan lagu rindu.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day27

Rindu Tak Putus

Dear, rindu yang tak putus ini bikin dadaku sesak.
Aku kesakitan karena rindu yang menyeruak begitu dalam.
Rindu dendam yang jadi satu, aku pikir cuma bohong saja.
Ternyata yang demikian memang ada.

Aku ingin meluapkan rindu dalam seribu cara yang bahkan sebelumnya tak pernah aku tau.
Pada saat bersamaan aku memikirkan seribu cara,
agar kau mengerti sakit karena rindu, dan kesakitan karenanya.

Aku mencintaimu, sungguh.
Hingga sekujur darahku mengalir deras saat namamu disebut.

Mencintaimu itu drama.
Senang sebentar, susah kemudian.

Aku tak tahu apa yang kau pikirkan saat membaca suratku ini.
Mungkin saja kau tertawa terbahak, dan bilang kalau aku chessy.
Atau kau duduk, termenung, berusaha empati dengan segala rasa yang aku alami.
Bisa saja kau buka sebentar, baca sekilas, kemudian lipat dan buang surat ini.

Surat ke-26 ini aku kirim mengikuti surat-surat lain yang hampir tak pernah kau balas.
Kuharap, mengertilah.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day26

Menggugat Tuhan

Dear, waktu tuhan menciptakan cinta, sepertinya dia terlupa, tidak menuliskan masa berlakunya.
Aku dan kamu kini jadi korbannya.
Kita pikir cinta abadi, mengikuti kemana pun kita pergi.

Sekarang, kita masih segar bugar, melonjak-lonjakkan kaki kesana kemari.
Tapi cinta kita sekarat, menjelang mati.
Karena kita pikir tuhan menciptakan dia abadi.
Kita abai, meninggalkan dia di rumah sendirian.
Menjenguknya sesekali, lalu kita terkaget sendiri, betapa banyak dia berubah.

Cinta kita melemah, kurang siram.
Saat sadar, kita cuma bisa duduk terdiam, bingung.

Kamu, aku, dan cinta kita, terduduk bertiga di pojok kamar.
Dia yang sekarang tak wangi lagi, sudah basah kuyup.

Percuma air mata.

Dear, waktu pertama kita memulakan cinta, masing-masing kita pernah berjanji, akan menjaga supaya cinta kita abadi.
Jika aku lelah, kamu yang menjaga, begitu pula sebaliknya.
Kita tak tepat janji.

Cinta kita menjelang mati.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day25

Gelisah

Sayang, beberapa malam ini tidurku tak nyenyak.
Ada resah yang mengganggu, sekelebat bayang masa depan tiba-tiba melintas di pikiranku.
Gelap dan menyeramkan
Sayang, aku takut.

Saat pertama aku mengakui cintaku padamu dulu, aku tidak berpikir jauh.
Aku pikir, sepanjang hidup kita nanti hanya akan ada senang dan cinta yang tak habis-habis.
Tapi baru lima tahun berjalan, awan gelap sudah muncul menghadang.
Aku takut, sayang.

Dulu, misteri tentang kamu bikin hidup aku penuh energi. Penasaran merajai otakku.
Semakin gelap kamu, semakin aku semangat.
Semakin kamu menolak, semakin aku memeluk lekat.
Saat ini tidak demikian.

Gelapnya hidup, gelapnya kamu, gelapnya kita, bikin aku gelisah.
Aku bingung, hendak berpegang pada apa, pada siapa.
Wajahmu kadang terang, kadang terlihat hanya serupa bayang.
Aku ketakutan, sayang.

Cinta ini, aku yang punya.
Cinta ini, aku yang memulakan.
Aku ketakutan, tapi sungguh aku tak ingin ini berakhir sekarang.

Sayang, tolong pegang tanganku, yakinkan aku.
Kita masih akan bersama sekarang, besok, dan bertahun ke depan.

Aku takut menyongsong masa depan denganmu.
Tapi, aku lebih takut sendirian.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day24

Pahlawan

Dear Spiderman, apa kabarmu hari ini?
Sudah berapa jalinan jala yang kau buat, duhai pahlawan tampanku.

Kau berjuang tak kenal waktu, hingga kau kehilangan hidupmu. Pernah kah kau marah?
Tak inginkah kau menikmati hidup tanpa resah.

Mereka semua membutuhkanmu, tetapi tak satupun dari mereka tau, apa yang kau butuhkan.

Dear Spiderman,
Berbaringlah di dekatku.
Kemarilah, akan kubasuh peluhmu.

Jika kau merasa dunia tak adil padamu, marahlah.
Jika kau merasa lelah dan kalah, tak apa menangis.
Bahkan pahlawan pun butuh jeda.

______

#30HariMenulisSuratCinta
#Day23

Penglihatan

Aku tak punya kemampuan untuk melihat bagaimana hidup kita lima atau sepuluh tahun mendatang.
Aku berani mengambil risiko, bukan karena aku tak punya pilihan, tapi lebih karena penasaran.

Bagaimana kita jadinya nanti, Sayang? Setelah melewati banyak perubahan.
Kurus jadi gembrot, sehat jadi sakit, menyenangkan jadi menyebalkan.
Perhatian jadi abai, hangat jadi dingin.

Benarkah cinta hadir untuk waktu tak terbatas,
atau ia seperti makanan kemasan, pada saatnya nanti akan kadaluwarsa.
Jika benar adanya demikian,
Siapa yang lebih dulu menyerah pada hubungan kita, aku atau kamu?

Sekarang cinta kita panas menggebu,
aku penasaran, kapan ia akan membatu.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day22

Bukan Kolam Susu

Sebelum memutuskan menyelam sama kamu, aku sudah siap tenggelam.
Aku percaya, tidak ada yang pasti di dunia ini, dan seperti biasa, aku sudah menyiapkan diri pada seribu kemungkinan yang bisa terjadi.
Kemungkinan yang sangat baik, dan kemungkinan yang sangat buruk.
Aku sangat siap bahagia, dan sangat siap pula untuk sengsara.

Hidup sama kamu itu pilihan yang aku buat dalam sadar yang penuh.
Selayaknya sebuah keputusan besar, yang melibatkan banyak orang, sebagian mendukung sebagian lagi mencela.
Aku siap, sesiap kamu.

Kemudian kita menyeburkan diri sama-sama di kolam yang sudah kita persiapkan bertahun lalu.
Aku, kamu, sama-sama sadar, kolam kita bukan kolam susu.
Kadang manis, kadang pahit, kadang mendekatinya saja perut sudah mual-mual.

Tapi itu kolam kita. Kita menangis, tertawa di kolam itu.
Bertebaran hal baik di kolam kita, hanya perlu melihat lewat sisi yang berbeda untuk menemukannya.

Dear, aku cinta kamu, dan kolam kita.

——
#30HariMenulisSuratCinta
#Day21

Pada Satu Masa

Ingatkah kau saat itu.
Waktu aku datang, lalu teriak lantang di depan wajahmu.
“Aku mau kamu, untuk aku!”

Lalu kau diam, terhenyak, bingung.
Berpikir beberapa saat sebelum mampu menjawab.
“Ada orang yang aku tunggu.”

Kali ini, giliranku terdiam. Mulutku terkatup.
Tapi otakku berdenyut cepat, memikirkan seribu satu kemungkinan, dan lekas mengambil satu keputusan.
“Aku mau jadi yang kedua.”

Kau sandarkan tubuhmu ke dinding.
Menghela napas berat. Susah sekali tampaknya mengeluarkan kata untuk menghentikan niatku.
“Kamu keras kepala. Jadi yang kedua tak enak. Jangan memaksa.”

Aku, menyodorkan wajahku semakin dekat. Memelototi matamu lekat. Tanganmu aku genggam erat, dan aku berkata.
“Aku tak peduli.”

Pada satu masa, cinta ini mesti diperjuangkan.
Pada satu masa, ada kesakitan dalam senyumku,
dan aku rela.

Pada satu masa, aku mencintaimu begitu rupa.
Pada masa ini, aku masih mencintaimu seakan segalanya.
Masa depan akan tetap demikian.
Percayalah.

——

#30HariMenulisSuratCinta
#Day19