Tag Archives: blog competition

Mengeruk Laba Lewat Social Media

Dulu, jamannya masih muda, mamak saya adalah pedagang ikan. Mamak adalah pedagang ikan yang setia. Lebih 20 tahun mamak berjualan ikan dengan pola yang kurang lebih hampir selalu sama.

Bangun pukul 12 malam, minum segelas teh, berangkat pukul 1 pagi ke tempat pelelangan ikan, sampai di lokasi lalu putar-putar, pilih-pilih, belanja-belanja langsung di nelayan, dan lalu ikut lelang jika kebetulan ada ikan yang diminati di tempat lelang.

Selesai belanja sekitar pukul 3-4 pagi, menunggu teman-teman dan mobil pengangkut, lalu sekitar pukul 5 berangkat ke pasar untuk berjualan. Ikan sudah rapi dan siap dijual di kios ikan mamak saya (yang hanya berupa meja batu)  pukul 6 pagi.

Mamak berjualan mulai pagi hingga siang atau sore hari. Pulang ke rumah, makan, bicara-bicara sedikit, tidur sekitar jam 8 malam, lalu kembali bangun pukul 12 malam. Begitu terus, sampai 20 tahun.

Mamak saya adalah pedagang konvensional. Hampir seluruh waktu di kehidupannya digunakan untuk berdagang. Mamak tidak mengenal cara berdagang lainnya, dan mamak percaya cara berdagang yang digunakannya adalah cara berdagang yang terbaik yang bisa dilakukannya.

Cara berdagang konvensional yang dilakoni mamak saya puluhan tahun sukses mengantarkan kami (anak-anaknya) lulus kuliah.

Lalu saya berpikir, memangnya mamak saya bisa berdagang bagaimana lagi?

Barang jualannya, yakni si ikan basah, tidak memungkinkan untuk disimpan dalam waktu lama. Kalau bisa, malahan, agar kualitasnya tidak turun, ikan habis dalam satu hari saja.

Mamak saya tidak pernah mengenal internet, dan mungkin kalau dikenalkan sekarang dia akan misuh-misuh, malas berpikir, merasa sudah tua, tak perlu tahu dan ikut perkembangan jaman.

Tapi, anaknya harus tahu, bukan?

Sayangnya, anak mamak, yaitu saya, kurang berbakat, atau malas berjualan online. Pernah mencoba, tapi enggan mengembangkan. Barang jualan saya sampai berdebu, saya simpan, gulung-gulung, lempar di atas lemari.

—————

TIDAK DEMIKIAN DENGAN TEMAN SAYA!

Teman saya, Hana, dan 4 orang temannya mengaku punya minat yang sama. Yakni FASHION. Mereka cantik, muda, punya uang, dan gaya. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan bergaya, mereka membeli pakaian dari butik busana muslimah yang terkenal dan mahal.

Pada Mei 2012, kelima amatir ini bersepakat, membuat line busana sendiri. Mengumpulkan Rp 3 juta per orang dan menggunakannya sebagai modal awal usaha bisnis pakaian “NoorElHana”.

Kami, Hana, Bunga, Dini, Sefi, Yasaka, suka shopping, awalnya iseng, karena kami berhijab dan merasa sulit cari baju yg simple, tapi tetep gaya dan pastinya harganya terjangkau. Karena kita suka beli produk-produk di Mosaicht, tapi itu mahal. Jadi kita pingin bikin sendiri dan jual dgn harga yang lebih terjangkau. Model-model baju yg kita bikin juga simple, edgy, tapi tetep manis. Karena kita semua amatir, setiap proses mengandung pembelajaran.

Mereka memang anak sekarang, anak internet, terbiasa menggunakan internet, dan kali ini berniat menjajal internet untuk bisnis. Lima kepala jadi satu, kemudian meluncurlah koleksi pertama dari NoorElHana pada 24 Juli 2012 lalu. Koleksi pertama ini terdiri dari Rok (wing skirt & umbrella skirt), celana harem, blouse (strip blouse & wavy blouse, dress, dan chiffon shawl.

Koleksi ini langsung dipajang di Facebook, Multiply, Pasar Dino, dan Toko Bagus. Menurut Hana, founder yang namanya juga digunakan untuk nama toko itu, penjualan paling tinggi saat ini ada di Facebook. Oh iya, agar nyaman, mereka sengaja tidak berjualan di akun masing-masing pendiri, tapi membuat halaman khusus untuk jualan.

Promosi, kata Hana, awalnya dilakukan mulai dari mengirimkan BlackBerry Messenger (BBM) pada teman masing-masing untuk berkunjung ke FB page NoorElHana.

Kemudian, tantangan kedua adalah, mengenalkan akun twitter @NoorElHana. Karena followernya masih sedikit, setiap tweet harus di RT oleh foundernya. Alasannya, supaya orang-orang tertarik membaca timeline dan mau follow.

Pelanggan awal NoorElHana kebanyakan teman. Setelah membeli, mereka diminta berfoto dengan produk dan setiap foto dan testimonialnya kemudian dipajang di Page NEH. “Tujuannya untuk mendapatkan kepercayaan dari calon pembeli,” kata Hana lagi.

Modal awal sudah habis sekitar Rp 4juta, dan omsetnya sudah mencapai Rp 7,5juta. Tidak semua barang laku. Untuk barang yang tidak laku kemudian dijual offline di bazaar dengan harga lebih murah. Tantangan bagi NEH saat ini adalah mencari penjahit dengan harga masuk akal tapi berkualitas.

Bayangkan, mereka hampir berhasil melipatduakan modal, itupun masih ada koleksi yang belum terjual. Dan, penjualannya dilakukan online. Artinya, tidak ada biaya sewa kios, gaji karyawan, uang keamanan.

Semua dilakukan via internet, bahkan ongkos kirim pun ditanggung pembeli.

—————

Keberanian menjajal sosial media sebagai media bisnis mestinya bukan hanya milik teman saya semata, tetapi juga milik pebisnis desa.

Awal bulan lalu saya berkunjung ke Desa Bobung, Gunungkidul, Yogyakarta. Desa Bobung adalah desa wisata penghasil topeng. Selain pertanian, sumber utama penghasilan warga Desa Bobung adalah kerajinan kayu.

Ada dua macam kayu yang digunakan sebagai bahan baku kerajinan, yaitu kayu pule (alstonia scholaris), dan kayu sengon (albasia).

Secara kualitas, hasil kerajinan dari Kayu Pule akan tampak lebih halus dan harga jualnya lebih tinggi. Jika batang kayu pule digunakan untuk kerajinan, maka bagian kulitnya digunakan untuk bahan jamu ghodok.

Kayu gelondongan yang siap diolah jadi kerajinan

Sayangnya, pertumbuhan kayu pule relatif lambat, sehingga warga menggunakan kayu sengon sebagai pendamping bahan baku.

Proses pembuatan topeng cukup panjang. Dimulai dari membelah kayu seukuran kerajinan yang akan dibuat. Jika peruntukannya untuk topeng, tentu saja ukurannya akan berbeda dengan mangkuk.

Di bengkel, kayu yang sebelumnya tanpa bentuk itu dipahat. Ada yang berbentuk topeng, binatang, dan lainnya. Bentuk-bentuk ini dibuat sesuai permintaan. Pekerja akan mendapatkan upah harian.

Di bengkel ini, kayu gelondongan dibentuk sesuai pesanan.

Setelah selesai dipahat, kayu yang telah berbentuk kemudian direbus selama tiga jam dengan bahan pengawet. Lalu dioven selama 2 hari. Setelah benar-benar kering, kayu dipindahkan ke bagian pengamplasan.

Jika di bengkel pahat semua pekerja laki-laki, di bagian pahat ini sebaliknya. Hampir semua pekerjanya perempuan. Saya pikir ini masalah tenaga ya. Memotong dan mencungkil kayu pasti membutuhkan energi yang cukup besar.

Pengamplasan mesti dilakukan hati-hati. Kalau terlalu semangat bisa-bisa bentuk hidung pada topeng yang tadinya sudah lurus mancung malah rusak.

Beres diamplas, topeng dan kerajinan lainnya dipindahkan ke bagian gambar. Gambarnya bisa macam-macam, bunga atau bentuk bangun ruang beraneka.

Selanjutnya, kerajinan dibawa ke ruang pembatikan. Pembatikan dilakukan langsung pada kayu. Istilahnya batik kayu.  Pembantikan yang dilakukan persis seperti membatik kain, menggunakan malam dan canting.

Karena dilakukan manual dan sangat hati-hati, dalam satu hari paling hanya bisa didapatkan satu buah topeng batik kayu.

Kerajinan kayu yang sudah selesai dibatik dan dipernis

Topeng yang sudah dibatik kemudian dipernis dan dikeringkan kembali. Setelahnya tinggal dipajang di showroom.

Kerajinan batik kayu khas Desa Bobung tidak hanya diminati wisatawan dalam negeri. Kerajinan ini sudah pula diekspor ke mancanegara. Diantaranya Brazil (topeng), Eropa (barang fungsional semacam nampan), Asia (patung binatang seperti kucing/gajah), dan Australia (patung kanguru).

Untuk menjamin persaingan yang sehat antara UKM di Desa Bobung, dibentuklah Koperasi. Koperasi juga berperan sebagai pemberi modal.

Harga kerajinan batik kayu bervariasi. Mulai Rp 7500 (gantungan kunci), Rp 300ribu (topeng), Rp 30-40ribu (hiasan binatang), Rp 30-120ribu (mangkuk dan nampan).

Gelang, Mangkok, dan Topeng hasil karya warga Desa Bobung

Koperasi juga menerima pesanan kerajinan kayu ukuran besar. Khusus untuk kerajinan ukuran besar ini harganya bisa mencapai Rp 10juta.

Bapak Ismadi, pemandu yang menemani saya berkeliling desa, menyebutkan saat ini dari 138 KK, hanya 2 KK saja yang tidak ikut membuat kerajinan. “Itupun karena mereka bekerja sebagai PNS.”

Ia beharap, Desa Bobung semakin dikenal dengan kayu batiknya, dan warga desa dapat terus mendapatkan pesanan.  Aminn…

—————

Pada event Melek Digital untuk Startup Business yang diadakan AXIS bulan lalu, saya terhenyak. Ternyata tak sampai 5 persen dari pedagang/pebisnis di seluruh Indonesia yang sudah memanfaatkan media digital untuk pengembangan usahanya.

Data tentang perilaku pengguna internet di Indonesia dalam berbelanja online berikut saya dapatkan dari survei Ipsos yang dirilis April lalu . Ipsos adalah perusahaan riset pasar independen yang dikelola oleh periset profesional, didirikan di Perancis kini memiliki kantor di 84 negara.

Hasil survei tersebut mengatakan bahwa 69% pengguna Internet di Indonesia melakukan pencarian web untuk mencari produk yang ingin mereka beli, serta dari jumlah total responden sebanyak 48% melakukan pembelian barang secara online, sedangkan untuk Indonesia sebesar 44%.

Pasar online di Indonesia begitu besar. Online shop diminati karena mudah dilakukan, pembeli bisa membandingkan harga tiap toko secara langsung, hemat waktu, dan tak perlu melakukan perjalanan ke toko.

Namun, bukan berarti perkembangannya bebas hambatan. Tantangan online shop sendiri adalah :

1. Alat Akses

Orang muda Indonesia mungkin banyak yang punya gadget pintar, bahkan satu orang bisa memegang lebih dari satu gadget. Tetapi generasi tua belum tentu.

2. Cara Bayar dan Kepercayaan

Persis seperti gadget, tidak semua orang memiliki rekening bank. Kalaupun ada, belum tentu mereka percaya mengirimkan sejumlah uang untuk pembayaran barang tertentu. Lah, barangnya saja belum kelihatan wujudnya kok sudah disuruh bayar. Penipuan sudah sering terjadi, kita sebagai pembeli memang harus lebih awas lagi.

Solusinya : Toko online yang baru dan ingin mendapatkan kepercayaan bisa menerapkan sistem Cash On Delivery (COD). Sistem ada uang ada barang ini cukup nyaman bagi pembeli. Minusnya : baik pembeli maupun penjual mesti menyediakan waktu khusus demi terjadinya transaksi.

—————

Pasar online di Indonesia sangat besar. Terbayang kalau ada yang mau membantu mengenalkan hasil karya Desa Bobung lewat internet. Sayang sekali hasil karya yang begitu indah penjualannya sangat terbatas.

Pasar offline kerajinan kayu dari desa ini memang sudah bagus, tetapi jika dikembangkan penjualannya lewat online pasti akan lebih berkembang, bukan?

/salam online

sumber :

http://dailysocial.net/post/hasil-survei-ipsos-dan-peluang-bagi-pelaku-jual-beli-online

http://www.ipsos-na.com/news-polls/pressrelease.aspx?id=5573

http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2012/02/24/beberapa-kendala-online-shop-di-indonesia/