Tag Archives: BPJS

Pengalaman Klaim Kacamata dengan BPJS

Saya mendaftar keanggotaan BPJS pada 2014, beberapa bulan setelah diluncurkan pemerintah. Kenapa ikutan BPJS? Karena dulu itu ada rumor yang bilang kalau BPJS akan jadi wajib. Momennya pas pula dengan kondisi saya yang pekerja lepas, tanpa kantor, tanpa asuransi.

Meski sudah jadi anggota, sebisa mungkin saya ga pakai BPJS sih. Siapa pula yang mau sakit kan ya. Nah, setelah 4 tahun lebih jadi anggota, kali ini saya memutuskan untuk coba klaim kacamata. Berhasil atau nggak yaa?

Continue reading Pengalaman Klaim Kacamata dengan BPJS

Atur Uang Ala Freelancer

Seperti melihat kebun tetangga, begitulah sebagian orang menilai gaya hidup freelancer (pekerja lepas). Kelihatannya memang enak ya, numpang kerja dari kafe ke kafe, ga perlu bangun pagi setiap hari, ga perlu kena macet, bisa bekerja sesuka hati, juga terhindar dari politik kantor.

Numpang kerja di working space gratisan

Continue reading Atur Uang Ala Freelancer

Berobat Dengan Kartu Sakti

Kartu Sakti

Lagi pingin cerita soal pengalaman urus ayah dan mamak yang berbarengan lagi sakit sekarang. Mamak, yang udah hampir dua puluh tahun positif Diabetes Melitus (DM), minggu lalu ambruk (lagi), Mamak cukup sering diopname, kalau yang lalu kami berobat dengan biaya pribadi, kali ini kami coba pakai kartu sakti, kartu keanggotaan BPJS.

Minggu lalu mamak sudah sakit tiga hari di rumah sebelum benar-benar lemas dan akhirnya diangkut ke rumah sakit. Sesuai prosedur, adik dan kakak mengantar mamak ke puskesmas rujukan. Puskesmas rujukan ini tertera di kartu BPJS-nya. Jadi, ga mungkin tertukar. 🙂

Sampai di puskesmas, mamak tidak diperiksa maupun diberi rujukan, tetapi langsung diarahkan masuk lewat Unit Gawat Darurat rumah sakit terdekat.

Sampai di UGD RS Urip Sumoharjo, Lampung, dan mendaftarkan kartu, mamak langsung diperiksa,  dan diminta untuk rawat inap sesuai kelas yang diambil saat mendaftar BPJS.

Pindah Kelas Rawat Inap

Kelas yang kami daftarkan untuk mamak dan ayah adalah kelas 1, tetapi atas pertimbangan tertentu, diantaranya jumlah penunggu pasien yang terbatas, kami memutuskan mamak dirawat di kelas VIP.

BPJS boleh naik kelas?
Boleh, kok.. Tetapi, ada beberapa hal yang harus jadi pertimbangan sebelum memutuskan naik kelas. Pasien yang seharusnya bisa gratis jika dirawat sesuai kelasnya, terpaksa harus membayar selisih biaya kamar, selisih biaya kontrol dokter, dan biaya lainnya yang ditentukan rumah sakit.

Seperti asuransi lainnya, BPJS juga punya aturan yang mesti diikuti, aturan itu antara lain:

  1. BPJS hanya menanggung biaya sesuai kelasnya saja
  2. BPJS BISA Menanggung kenaikan kelas Maksimal hanya 3 hari, lebih dari itu pasien akan dikenakan tarif sesuai dengan tarif yang berlaku di rumah sakit tersebut.

Untuk poin nomor 2 itu gampangnya bisa dijelaskan begini. Pasien yang naik kelas, boleh bayar selisih biaya kamar dan perawatan selama tiga hari aja. Lewat tiga hari, pasien diperlakukan seperti pasien umum biasa dan dikenakan biaya penuh. BPJS-nya berhenti cover biaya.

Pasien bisa terus menggunakan kartu BPJSnya lagi kalau setelah dirawat 3 hari dengan kenaikan kelas, pasien turun lagi ke kelas yang sesuai dengan premi BPJS-nya.

Rawat Jalan

Keluar dari rumah sakit, mamak bawa oleh-oleh obat segepok dan surat kontrol. Obat-obatan ini semuanya gratis. Duh, bersyukur kemarin sempat daftarin mamak ikutan BPJS jadinya. 😀

Lalu, setelah keluar rumah sakit dengan biaya yang sangat enteng karena sebagian besar biaya ditanggung BPJS, berikutnya apa?

Berikutnya tentu saja rawat jalan, kak… Hebatnya BPJS, ga seperti asuransi swasta yang hanya cover biaya rawat inap saja, BPJS ini dengan baik hati menutup biaya rawat jalan. Berguna banget buat mamak yang pengobatan sakitnya akan terus berlangsung seumur hidup.

Ribet?
Memang urusannya jadi lebih panjang. Sampai di rumah sakit untuk kontrol dokter seminggu kemudian, kami diarahkan ke kantor BPJS lebih dulu. Jadi, pendaftarannya dibedakan.

Ke loket BPJS, kasi surat kontrol, dapat cap sakti, lalu ke loket kembali dan dapat nomor antrian dokter. Oh iya, karena kami datangnya ga pake telepon dulu, kami ga bisa bertemu dokter yang merawat mamak waktu sakit, jadwalnya tidak sesuai. RS Urip Sumoharjo sudah punya jadwal khusus untuk pasien BPJS.

Soal jadwal ini mungkin bisa berbeda di tiap rumah sakit, ada baiknya telepon dulu jika ingin bertemu dengan dokter tertentu. RS Urip menjadwalkan kontrol dengan dokter penyakit dalam hanya bisa dilakukan oleh satu dokter setiap harinya. Jam-nya pun dibatasi. Ada baiknya datang pagi-pagi sekali. 🙂

Ketemu Dokter

Mamak kontrol ke dokter yang berbeda, untungnya dokternya baik sekali, mau menerangkan pelan-pelan soal penyakit mamak dan komplikasi yang bisa terjadi kalau gula darahnya dibiarkan tidak terkontrol. Mamak dijadwalkan bertemu ahli gizi untuk mengatur diet, dan tentu saja dapat resep obat-obatan.

Dua jam kemudian, kontrol dokter, konsultasi ahli gizi, obat-obatan, semua sudah di tangan. Biaya yang dihabiskan : NOL.

Oh iya, untuk Diabetes Melitus, ternyata BPJS punya aturan tidak bisa cover semua biaya obatnya. Jadi, sebagian resep cair jadi obat, lalu kami diberi salinan resep untuk ditebus di apotik manapun dengan biaya pribadi. Menurut petugas BPJS yang saya temui, DM tidak termasuk ke dalam 10 penyakit kritis yang obatnya ditanggung.

Saya sih merasa terbantu sekali dengan BPJS ini. Memang prosesnya lebih panjang karena harus minta surat rujukan dari puskesmas lebih dulu, tetapi manfaat yang  kami dapatkan jauh lebih besar,

Untuk pasien yang sudah payah atau tua dan tidak terbiasa wara-wiri sendirian, dianjurkan sekali untuk ditemani, karena harus mondar-mandir urus suratnya. Kalau ada yang kurang jelas, bisa tanya juga ke loket BPJS, berdasarkan pengalaman, kalau kita tanya baik-baik, mereka mau bantu jelasin. 🙂

Pendaftaran BPJS

Dulu saya mendaftarkan mamak dan ayah ke kantor BPJS dengan bawa fotokopi KTP, fotokopi KK, dan foto masing-masing ukuran 3×4 satu lembar saja.

Pendaftarannya gratis. Awal masuk diberi formulir dan nomor antrian. Isi formulir, tunggu nomornya dipanggil, dan diproses. Tidak sampai 10 menit prosesnya. Setelah diberi resi, lakukan pembayaran pertama di kasir bank yang diinginkan.

Di kantor BPJS Bandar Lampung ada loket Bank Mandiri, tetapi antriannya luar biasa. Untuk yang punya kartu debit Mandiri, petugas menyarankan pakai mesin EDC yang sudah tersedia di sana. Ada juga mesin EDC bank lainnya yang ikut bekerjasama.

Sekitar satu jam prosesnya. Gampang. Ga ribet.
Saya ga punya hal yang harus dikomplain ke BPJS. Intinya sih kalau mau pakai layanan BPJS, harus sabar-sabar. Ikuti prosedur yang berlaku, jangan lupa telepon rumah sakitnya jika ada yang ingin ditanyakan (misalnya soal jadwal), dan siapkan pasiennya (karena waktu tunggu/urus dokumennya bisa lebih panjang).

Oh iya, buat yang rumahnya jauh dari kantor BPJS, bisa juga mendaftar online lewat website BPJS atau ke klinik terdekat yang bekerjasama.

Terimakasih, BPJS. 😀

Sehat terus ya, Mak!
Sehat terus ya, Mak!

/Salam senang.