Tag Archives: DKT Indonesia

Pekan Kondom Nasional, Untuk Siapa?

KONDOM DAN REMAJA adosex

Siapa yang perlu tau tentang kondom atau pekan kondom nasional? Saya, Anda, atau semua orang?

Sampai saat ini, pendapat masyarakat tentang kondom masih terbelah. Ada yang mendukung sosialisasinya, ada yang menolak sama sekali.

Ada pula orang/badan/lembaga yang begitu peduli hingga menghelat pekan kondom nasional tiap tahun. Tahun ini adalah pekan kondom nasional ke-6. Pekan Kondom Nasional 2012.

Kondom diartikan dengan seks bebas pada satu sisi, dan diartikan sebagai pengaman seks beresiko pada sisi lain. Saya menempatkan diri pada golongan orang yang mendukung penggunaan, sosialisasi, dan penyebaran informasi tentang kondom, seluas-luasnya. Tidak terbatas pada pengguna obat-obatan terlarang, penjaja seks, dan pelaku seks bebas.

gender_625x884px
Foto diambil dari http://www.unaids.org/

Tahun lalu saya menerima kabar dari seorang teman. Tiga anak perempuan usia sekolah menengah pertama ketahuan hamil, oleh pacarnya. Ketiga bocah perempuan itu terpaksa berhenti sekolah. Miris.

Konsentrasi saya bukan pada kehamilannya saja, tetapi pada kemungkinan yang bisa saja terjadi pada perilaku seks yang demikian. Masing-masing dari mereka mungkin tidak menyadari, banyak hal yang bisa terjadi selain hamil dan putus sekolah. Mereka bisa saja tertular penyakit kelamin atau terinveksi HIV/AIDS.

Tiga bocah perempuan itu, dua diantaranya tinggal di lingkungan yang berdekatan. Tidak! mereka tidak tinggal di gang kumuh dan jorok. Tetapi mereka tinggal dan besar di lingkungan penuh rumah tembok, bersih, dan ada satu rumah ibadah besar didekatnya.

Perilaku seks beresiko bisa dilakukan siapa saja, kapan saja. Lingkungan dan orangtua kadang hanya bisa melihat setelah hal itu terjadi. Tanda-tanda awalnya tak terlihat. Hening, lalu BOOM!

Tanggung jawab siapa?

——

HIV AIDS DI INDONESIA

Penularan virus HIV di Indonesia itu tinggi. Data dari UNAIDS menunjukkan jumlah orang yang terinfeksi HIV di Indonesia meningkat hingga lebih 25 persennya dalam kurun waktu 2001-2011.

Data dari UNAIDS.
Data dari UNAIDS.

Masih berdasarkan UNAIDS Report on The Global Aids Epidemic 2012, tercatat ada 380 ribu orang yang terinfeksi di Indonesia. Angka itu menempatkan Indonesia di nomor tiga terbanyak di ASIA setelah China dan Thailand, dan nomor 13 terbanyak dunia.www.unaids.org en media unaids contentassets documents epidemiology 2012 gr2012 JC2434_WorldAIDSday_results_en.pdf

Dalam Laporan Kementerian Kesehatan Triwulan III Tahun 2012 di sini disebutkan, sejak pertama kali ditemukan (1987) sampai dengan September 2012, kasus HIV-AIDS tersebar di 341  (71%) dari 497 kabupaten/kota di seluruh (33) provinsi di Indonesia.

Pada 1987, kasus ini ditemukan pertama kali di Bali, dan kasus terakhir yang dilaporkan pada 2011 berasal dari Provinsi Sulawesi Barat. Kasus HIV terbanyak di Indonesia ada di DKI Jakarta, kemudian disusul Jawa Timur, Papua, Jawa Barat, dan Sumatera Utara.

——

TENTANG HIV / AIDS

Definisi

HIV (human immunodeficiency virus) merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.

Sedangkan AIDS (acquired immunodeficiency syndrome)  menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.

Dengan gaya hidup sehat, jarak waktu antara infeksi HIV dan menjadi sakit karena AIDS dapat berkisar antara 10-15 tahun, kadang-kadang bahkan lebih lama. Terapi antiretroviral dapat memperlambat perkembangan AIDS dengan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam tubuh yang terinfeksi.

Bagaimana penularannya?

HIV ditularkan melalui seks penetratif (anal atau vaginal) dan oral seks; transfusi darah; pemakaian jarum suntik terkontaminasi secara bergantian dalam lingkungan perawatan kesehatan, dan melalui suntikan narkoba; dan melalui ibu ke anak, selama masa kehamilan, persalinan, dan menyusui. Jelasnya tentang metode penularan HIV bisa dibaca pada laman web Komisi Penanggulan Aids di sini.

Pencegahan

setia

Catatan : Informasi ini saya kutip dari web Komisi Penanggulangan AIDS.

Penularan HIV secara seksual dapat dicegah dengan:

  • berpantang seks
  • setia pada pasangan
  • seks non-penetratif
  • penggunaan kondom pria atau kondom wanita secara konsisten dan benar

Kondom yang kualitasnya terjamin adalah satu-satunya produk yang saat ini tersedia untuk melindungi pemakai dari infeksi seksual karena HIV dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya. Ketika digunakan secara tepat, kondom terbukti menjadi alat yang efektif untuk mencegah infeksi HIV di kalangan perempuan dan laki-laki.

Tapi, agar efektif, kondom musti digunakan dengan benar. Seperti apa cara yang benar itu, simak keterangan di bawah ini.

IMG00487-20130107-2151

  • Kondom berpelumas lebih sedikit kemungkinan untuk robek saat dikenakan atau digunakan. Pelumas berbasis minyak, seperti vaselin, hendaknya tidak digunakan karena dapat merusak kondom.
  • Hanya buka bungkusan berisi kondom saat akan digunakan, kalau tidak kondom akan mengering. Berhati-hatilah agar kondom tidak rusak atau sobek ketika anda membuka bungkusnya. Bila kondom ternyata sobek, buang kondom tersebut dan buka bungkusan yang baru.
  • Kondom dikemas tergulung dalam bentuk lingkaran gepeng. Pasanglah kondom yang tergulung itu di ujung penis. Peganglah ujung kondom di antara ibu jari dan jari telunjuk untuk menekan udara supaya keluar dari ujung kondom. Tindakan ini akan menyisakan ruang untuk tempat cairan semen setelah terjadinya ejakulasi. Tetap pegang ujung kondom dengan satu tangan. Dengan tangan yang satunya, gulunglah sepanjang penis yang berereksi ke arah rambut kemaluan. Jika pria pemakai tidak disunat, ia harus menarik kulup ke arah pangkal penis sebelum menggulung kondom.
  • Bila kondom tidak cukup berpelumas, pelumas berbasis air (seperti silikon, gliserin, atau K-Y jelly) dapat ditambahkan. Bahkan air ludah dapat berfungsi dengan baik sebagai pelumas. Pelumas yang terbuat dari minyak-minyak goreng atau lemak, minyak bayi atau minyak mineral, jeli berbasis bahan turunan minyak bumi seperti vaselin dan olesan lainnya – hendaknya jangan digunakan karena dapat merusak kondom.
  • Setelah berhubungan seks, kondom perlu segera dilepaskan secara benar.
  • Segera setelah si pria pemakai mengalami ejakulasi, ia harus menahan pada ujung dekat pangkal penis untuk memastikan agar kondom tidak terlepas.
  • Kemudian, si pria harus menarik keluar penisnya selagi masih dalam keadaan ereksi.
  • Ketika penis mengecil kembali, lepaskan kondom dan buanglah kondom pada tempat yang tepat. Jangan membuang kondom ke dalam toilet dan menyentornya dengan air.
  • Bila anda akan melakukan hubungan seks lagi, gunakan kondom baru, dan ulangi proses di atas dari awal.

Catatan : Pencegahan penularan HIV/AIDS pada pelaku narkoba suntik, dari ibu ke bayi, dan saat dalam perawatan kesehatan bisa dibaca di sini.

——

KONDOM DAN KELUARGA SAYA

gambar dari sini
gambar dari sini

Saya adalah pengguna kondom aktif. Saat ini, fungsi kondom di keluarga saya lebih sebagai alat kontrasepsi. Saya dan suami sama-sama nyaman menggunakan teknologi kondom ketimbang metode lainnya.

Kondom, selain untuk kontrasepsi, juga bisa berperan sebagai dinding penghambat agar tidak terjadi pertukaran cairan, seperti darah, air mani atau cairan vagina antar pasangan yang melakukan hubungan seks. Cairan-cairan tersebut bisa mengandung bakteri atau virus HIV.

Pertukaran cairan itu bisa terjadi tidak hanya pada orang dewasa, tetapi juga bisa terjadi pada anak-anak. Seperti cerita saya di atas tadi. Bahkan, di seluruh dunia, setengah dari semua infeksi HIV baru dialami remaja berusia 15-24 tahun

Kebayang kan betapa banyak remaja yang aktif secara seksual pada usia dini, sering/pernah berganti pasangan, dan tidak menggunakan kondom secara teratur. Selain seks bebas, masanya remaja itu masanya coba-coba, nah coba-coba narkoba juga bikin mereka rentan terkena infeksi HIV.

Mereka ga tau banyak tentang HIV/AIDS, apalagi pencegahannya. Lalu, bikin mereka tau ini tanggung jawab siapa? Tanggung jawab kita yang udah gede-gede ini kan, ya?

pengaman

Sejujurnya, saya juga bingung untuk mulai mengenalkan kondom ke remaja. Empat keponakan sudah saya anggap layak mendapatkan pengetahuan seputar kondom dan HIV/AIDS. Tapi, memulainya itu, lho.

Sampai saat ini saya masih mencari cara dan bahasa yang layak supaya keponakan saya tidak menangkap makna yang berbeda dari yang saya inginkan. Nanti, kalau sudah berhasil cerita-cerita ke mereka, pasti akan saya tulis disini.

——

PEKAN KONDOM NASIONAL 2012

foto dari sini
foto dari sini (Country Manajer DKT Indonesia, Todd Callahan ; Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi)

Sejak 2007 lalu, pekan kondom nasional diadakan di Indonesia. Kegiatan yang digagas DKT Indonesia dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional ini diadakan supaya informasi tentang kondom dan manfaatnya tersebar luas.

Melihat pergerakan virus yang demikian cepat, sepertinya sudah saatnya kita semua berpikiran terbuka, Tidak lagi memandang kondom sebagai ajakan untuk jadi pelaku seks bebas, tapi juga melihat sisi positifnya. Pake kondom itu, selain murah juga mudah untuk mencegah penularan HIV dan infeksi menular seksual.

Oh iya, budaya Indonesia yang “malu-malu” juga bisa jadi salah satu penyebab bertambahnya infeksi HIV. Bahkan saya, yang sudah emak-emak ini masih saja dipandangi penuh selidik saat membayar kondom di kasir supermarket.

Pernah juga ada pengalaman saat saya hendak membeli kondom, tetapi barangnya tidak nampak di display apotik, dan tidak ada pilihan lain selain menyebutkan nama, merk, dan ukuran kemasan kondom yang hendak saya beli. Hasilnya, beberapa pengunjung lain yang ikut antri memelototi saya dari kaki sampai kepala. 😐

Pada Pekan Kondom Nasional 5 Desember 2012 lalu, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan angka pengidap HIV/AIDS di Indonesia dari kalangan usia 20-29 tahun cukup tinggi. Hal itu dinilai memprihatinkan. Sebab, bisa disimpulkan penderita mulai terkena infeksi sejak lima tahun sebelumnya atau pada usia 15 tahun.

“Ini berarti dia terinfeksi saat remaja. Itulah pentingnya kita menyampaikan pemahaman kepada 65 juta generasi usia 15-24 tahun. Dari 65juta orang itu hanya 35 persennya yang memahami pentingnya kondom dalam berhubungan seks. Ini makanya angka HIV meningkat,” kata Nafsiah.

Todd Callahan, Country Director DKT Indonesia dalam kesempatan yang sama menyatakan, Pekan Kondom Nasional ini akan terus dihelat bersama KPAN, tujuannya mengingatkan masyarakat untuk saling berbagi pengetahuan dan kepedulian mengenai pencegahan penularan virus HIV dan infeksi menular seksual lainnya (IMS).

“Seperti kita ketahui bersama, penggunaan kondom merupakan salah satu cara pencegahan yang paling efektif. Untuk itu berbagai kegiatan kami lakukan dalam “Pekan Kondom Nasional 2012” guna dapat menyampaikan pesan tersebut,” ujar Todd.

——

TANGGUNG JAWAB SIAPA

Melambatkan pergerakan virus HIV tanggung jawab kita semua. Pelaku seks bebas mesti bertanggung jawab, tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain, PAKAI KONDOM!  Tidak ada alasan absen pake kondom, toh sekarang ada kondom andalan dan kondom sutra, kondom berkualitas dengan harga terjangkau yang bisa dibeli dengan mudah di pasaran.

Lalu, pelaku narkoba suntik tidak boleh menggunakan jarum yang sama berulang kali, dan petugas kesehatan mengecek kembali peralatan/media yang digunakan sebelum melakukan tindakan.

Ethiopia saja bisa menurunkan infeksi baru hingga 90 persennya, kenapa kita tidak bisa?

Untuk kita yang rendah resiko tertularnya, boleh lho bagi-bagi informasi ke sekitar. Bisa lewat tulisan, gambar, atau ngobrol-ngobrol.

Saya, seperti yang sudah saya janjikan tadi, akan memulainya pada keluarga terdekat alias keponakan. 😀

/salam sehat.

Sumber

http://www.aidsindonesia.or.id/

http://www.dktinternational.org/country-programs/ethiopia/

http://www.dktinternational.org/wp-content/uploads/2012/01/Case-Study-Indonesia.pdf

http://www.unaids.org/en/media/unaids/contentassets/documents/epidemiology/2012/gr2012/20121120_UNAIDS_Global_Report_2012_en.pdf