Tag Archives: embun

Pertama Kali Terima Rapor Anak

Waktu anak pertama kali sekolah, saya seperti emak-emak lainnya ya deg-degan, gimana ya dia di sekolah? Bisa gabung/akrab dengan temennya ga ya? Dia suka sekolah ga, ya? Lewat sebulan, pertanyaannya udah hilang, saya santai, anak santai, semua seneng.

Ga ada masalah dong ya. Asik dong ya?
Ya ada sih, anak gadis agak males-malesan kalo dibangunin bangun pagi, tapi kalo udah di sekolah senengnya luar biasa, main bolak-balik, ga selesai-selesai. Ini masih jadi tugas besar buat kami di rumah. Continue reading Pertama Kali Terima Rapor Anak

Embun dan Film Dewasa

Lagi pingin cerita soal celotehannya Embun, deh. Namanya balita gitu kan biasanya ucapannya selalu dipercaya kebenarannya, yak. Buat apa juga anak kecil boong, kan? Bukan, Si Embun bukan boong, cuma ucapannya dipahami berbeda aja, dan emaknya Embun yang kena getahnya. 😀

Karena anak baru sebijik, saya mayan cukup lah pengawasannya. Si Embun cuma nonton TV di saluran dan waktu yang dibolehin sama emak/bapaknya. Lain itu, nggak.  Continue reading Embun dan Film Dewasa

Cerita Bayi : Lomba Pertama

embun - cooking roadshow

Embun hampir 4 tahun, sampai hari ini belum sekolah. Agak ga biasa mungkin yah? Apalagi zaman sekarang mah anak-anak dari enam bulan juga udah disekolahin.

Tapi Embun ga termasuk yang sekolahnya cepet, dengan berbagai pertimbangan tentu. Nah, tahun ini dengan berbagai pertimbangan lagi, rencananya mau daftarin anak bayi masuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), sayangnya ga rejeki, PAUD yang deket dari rumah udah ga nerima siswa baru lagi. Saya terlambat daftar karena kelamaan mudik di Medan kemarin. 🙂  Continue reading Cerita Bayi : Lomba Pertama

Tak Akan Kembali, Waktu yang Hilang

bumabumi

Pergantian nama bulan selalu saja membuat dada saya jadi sesak. Pelan benak saya berputar, mencari-cari kenangan yang sudah lewat minggu lalu, sebulan lalu, setahun lalu. Sebentar saya tersenyum mengingat tingkah lucu anak saya yang sekarang sudah tiga tahun. Lain waktu saya bersedih kalau ingat kejadian yang kurang menyenangkan hati.

Sejak anak saya lahir, saya berhenti kerja kantoran dan mengambil pekerjaan di rumah. Seharusnya, sebagai emak-emak rumahan alias “stay at home mom”, saya punya waktu yang luar biasa banyak  untuk anak. Emang gitu?

Iya, memang kadang-kadang gitu. Mulai si kecil bangun, sampai waktunya dia tidur lagi, mata saya tak lepas memandang, tangan saya tak luput menyayang, mulut saya tak henti berdendang untuk dia.

Tapi, di lain hari, saya terlupa. Terlalu asik ngobrol dengan teman, terlalu asik liat-liat barang lucu di online store, terlalu asik dengan pekerjaan. Dan saya dengan sengaja, mengabaikannya.

“Ahh, cuma sebentar, kok.. “ begitu saya sering berucap pada diri sendiri, maksudnya sih untuk menenangkan hati.
Kemudian, saya kebablasan, yang sebentar itu berubah jadi setengah lama, lama, dan lama sekali. Saya membiarkan anak saya teronggok sepi sendirian, dengan banyak mainan yang saya belikan atas maksud membuatnya ‘anteng’.

Saya menyesali tiap-tiap perbuatan saya yang begitu. Teman saya bisa menunggu, tapi anak saya tidak.

Setahun belakangan, saya mengurangi sekali aktivitas yang tidak perlu, memberikan batasan untuk diri sendiri, demi saya sendiri, juga anak saya.

Saya sebisa mungkin peluk dia waktu bangun pagi, saya usahakan juga menemani anak saya kalau mau tidur malam. Saya meluangkan waktu membacakan buku cerita kesukaannya sekali sehari, dan tentu saja bernyanyi bersama setiap kami ingin.

Terus saya jadi ga ngobrol dengan teman, gitu?
Ga gitu juga sih.. Saya masih berinteraksi dengan teman-teman, hanya saja waktunya yang diganti. Saya memilih waktu-waktu tidur anak saya untuk “me time”. Entah internetan, chatting, twitteran, juga ngeblog.

Biar sudah begitu terpusatnya perhatian saya untuk dia, tetap saja saya merasa ketinggalan. Tiba-tiba anak saya sudah tiga tahun. Saya kok mikirnya ini anak saya ditiup pakai pompa, lalu sekejap jadi besar. Saya ibunya, yang tiap hari sama-sama saja sering kaget, apalagi yang jarang ketemu seperti nenek dan kakeknya, yah?

Saya bersyukur bisa menemani anak saya di semua fase pertumbuhannya. Mulai dari tergeletak telentang di kasur, mulai guling ke samping kanan-kiri, tengkurap, duduk, belajar jalan, sampai sekarang anaknya jago lari.

Untungnya juga, biar dulu sering ditinggal sama mbak asisten di rumah, dia tetap nempel ke emaknya. Kalau emaknya ada di rumah, mbak asisten libur pegang anak saya sama sekali, deh. 🙂

Keliatannya sih fase pertumbuhannya oke. Tinggi badan, berat badan, lingkar kepala seimbang. Sekarang saya mau fokus di perkembangannya. Mau latih terus cara berpikirnya, kemampuan bicaranya, mau latih juga kemandiriannya, mau ajarin juga ke dia kalo bumi ini isinya rame, manusianya beda-beda, ga homogen.

Saya juga kepingin terus latih kemampuan kognitifnya. Supaya ia belajar mengingat lebih lama, lebih bisa fokus kalau dengerin emak-bapaknya ngomong. Trus kepingin latih keterampilannya juga, yang sederhana aja sih, misal ngelipet kertas jadi dua bagian sama besar, atau cara ngiket dua tali plastik jadi satu.

Mau terus latih psikomotorik juga. Selama ini sih saya paling joget-joget berdua aja sama si kecil, terus ajak dia tiru gerakan saya ke kanan atau ke kiri.

Trusss, saya juga pingin anak saya pinter ngakalin kalo ada masalah, misal ada kue dua biji di rumah tapi yang kepingin makan kue ada empat orang. Nah, gimana tuh? Hehe..

Kemampuan kognitif anak saya yang lumayan sukses menurut saya itu soal bahasa. Dia lumayan cepat belajar ngomong, terus pantang menyerah, mau ngulang-ngulang satu kata yang agak sulit sampe bener-bener bisa ngucapinnya. Eh, tapi dia belum bisa bilang huruf “R” dengan benar, sih. Masi sebut “R” dengan “L”. 😀

———————————–

Saya banyak pinginnya yah..
Iyaa… Tapi si kecil udah 3 tahun aja nih. Masih kekejer kan ya?
Tiba-tiba kuatir…

Kalo udah gitu, trus mikir harus ngapain, apa anaknya disekolahin aja cepet-cepet biar ibu guru yang ngajarin?

Ah, tapi kan mau sekolah di mana juga, ga bener kalo emak-bapaknya lepas tangan sama perkembangan si anak. Iya kan yah?

Terus, mau gimana Re?

Uhm, sekarang sih saya lagi rajin-rajinnya browsing, cari ide permainan bareng anak. Trus lagi sering baca artikel soal tumbuh kembang juga. Moga-moga ga cuma sampe tahap cari ide & baca artikel aja, tapi juga sukses diterapin ke anak. Aminn..

Eh, cuma saya aja nih yang kuatir?
Cari temen. 😀

/Salam Mak Risau

*******************************************************************************

 

 

 

 

Kalau Anak Sakit

Kalau anak sakit, kepala sampai kaki rasanya ikut lemas. Tak tega rasanya melihat si anak berjuang melawan sakitnya. Rasanya, kalau bisa, pingin minta sama tuhan supaya sakitnya si anak dipindahkan saja ke saya.

Jadi, setelah semalaman tak tenang melihat si bayi muntah dan diare terus-terusan, pagi-nya saya bawa dia ke dokter.

Dari omong-omong hampir setengah jam, kurang lebih dokternya mendiagnosis bayinya kena GE (Gastroenteritis acute). Dokter berharap saya tenang, terus perhatikan asupan cairan dan tanda-tanda kegawatdaruratan pada si anak. Tanda-tanda kegawatdaruratan itu merupakan petunjuk buat saya untuk segera membawa si anak ke rumah sakit (lagi).

Sementara saya hanya diminta observasi, menghitung asupan masuk, memperhatikan asupan keluar dan mengusahakan pengganti cairan tubuh (oralit) bisa masuk ke badannya si anak.

Oh iya, saya juga diminta untuk memperhatikan plan A dan plan B dari WHO untuk kasus acute gastroenteritis ini.

Sekarang anaknya masih lemes, ibunya apalagi.

Dia harus sembuh, dia pasti sembuh.

/salam emak risau

 

Tentang Kehilangan

gambar dari sini
gambar dari sini

 

Fase ini memang harus saya lewati, sekarang atau nanti, tidak ada pilihan bagi saya selain memaklumi. Pasrah, dan mengikhlaskan si bayi tumbuh besar dan berkembang.

Sekarang dia sudah menolak menyusu pada payudara saya. Nanti, akan ada masanya saya kesakitan saat pelukan saya ditolak olehnya, kemudian telepon saya dianggap mengganggu, dan nasehat saya dianggap angin lalu.

Saya harus siap, sekarang atau nanti.

Masalahnya adalah, berat sekali membiarkan kebiasaan yang membuat saya dan bayi sama-sama nyaman, hilang begitu saja. Awalnya adalah kepergian saya untuk berlibur lima hari. Tiba di rumah, dia langsung menarik saya ke tempat tidur dan minta “nenen”.

Satu dua kenyotan, lalu dilepas. “ga enak,” katanya sambil menjauh.

Saya sadar, ketidakhadiran saya selama beberapa saat pasti ada efeknya. Tapi saya tidak menyangka si bayi akan lepas menyusu selekas ini.

Saya rindu.

Saya kesakitan.

Beberapa hari ini saya habiskan dengan bertanya pada beberapa teman perihal berhenti nenen. Beberapa saran seperti, “coba dikasi saat bayinya tidur” dan “jangan dipaksa, nanti dia mau sendiri”, sudah saya lakukan. Tapi belum ada hasilnya.

Lalu kemudian, seorang teman, sebut saja Bang Jensen memberi saran. “Mungkin harus makan makanan lokal lagi baru rasa asinya kembali seperti semula.” BINGO!

Malam ini saya hendak mencoba jalan ketiga, membuang semua air susu di payudara dan membiarkan tubuh saya memproduksi asi baru.

Semoga bayinya mau.

Karena, saya sudah kadung sangat rindu.

 

/salam menyusui