Tag Archives: jelajah gizi

Pada Indrayanti, Aku Kan Kembali

Ombak malas menjilati kaki saya, angin bertiup sepoi saja.

Puluhan orang bermain di ujung pantai sebelah kanan, puluhan lainnya sibuk berfoto pada karang besar di ujung sebelah kiri. Beberapa dari mereka duduk saja, dan sisanya seperti saya, berdiri tepat di pinggiran pantai berharap ombak sudi memandikan kaki.

Beberapa saat kemudian, ombak masih saja enggan. Lalu, teringat beberapa waktu ke belakang.

Pernah, dalam satu masa, ombak akrab dalam kehidupan saya. Bersetubuh dengan ombak, bercinta dengan kesatnya rasa garam pada kulit, menikmati lautan sendirian. Kemarin, saya hanya menikmati saja, kadang keindahan akan terlihat kalau kita menjaga jarak, bukan?

Langkah saya ayunkan mundur, angin bertiup, sedikit.

Pasir lembek, kaki saya tertanam, saya angkat pelan, ringan. Pelan saya pijakkan kaki kembali, dan lagi, kaki saya tertanam. Dalam keadaan begini, betapa inginnya saya punya ilmu meringankan tubuh, menapaki pasir serupa pelari sprint. Kencang.

Indrayanti, nama pantai ini. Saya berpikir, tidakkah para lelaki teringat pada perempuan pada masa lampau, perempuan khayalan, atau malahan perempuan di pelukan saat nama pantai ini didengungkan.

Pantai ini “cukup” saja, persis seperti pasangan dambaan. Tidak berlebihan. Ada ombak, angin, pasir bersih, pemandangan indah, karang kokoh, tempat bermalam, dan obat dahaga.

Tak ingin teringat kamu, tapi otak saya durhaka.

Kemudian ada khayal, betapa indahnya jika kita berbaring berdua di pasir itu, bergenggaman tangan, diam. Lalu sesekali kecupan ringan kamu jatuhkan di rambut, pipi, dahi, hidung, telinga.. ahh..

Indrayanti, pantai mungil di selatan Yogyakarta sukses membuat saya melamunkan yang nggak-nggak. Ini itu, ini itu… Pantai ini magis, saya pasti betah duduk berjam di pasirnya.

Pantai di Gunungkidul, Yogyakarta, ini kontroversial, namanya diambil dari nama istri pemilik restoran di lingkungan pantai, pun pantai ini masih ikelola masyarakat sekitar. Pemerintah daerah sampai sekarang tidak mengakui nama pantai bikin-bikinan itu.  Nama pantainya Pulang Syawal, demikian mereka bersabda.

Saya, entah mengapa tak peduli dengan nama yang dipasangkan pada pantai. Pantai ini bersih, ramah pengunjung, tidak ada sampah, ada fasilitas umum, makanan laut enak bergizi tinggi, dan aman. Itu yang penting, dan itu yang akan saya kenang, saya jadikan oleh-oleh.

Kesan saya pada pantai ini begitu baik, yang demikian yang penting, bukan?

/salam ombak

Catatan :

Untuk menuju ke lokasi, kamu bisa baca petunjuk yang sepertinya cukup detail di tulisan ini. Kebetulan kemarin saya dan puluhan teman lainnya dari Jelajah Gizi menuju lokasi dengan bus besar yang super nyaman, jadi saya terkantuk sepanjang perjalanan, lalu hap, tiba di lokasi. Demikian adanya, semoga dimaklumi.

Topeng Kayu Warisan Mbah Karso

Saya tidak bisa memastikan, apa kira-kira perasaan Mbah Karso kalau mengetahui Topeng Kayu yang dulu nilainya begitu sakral, sekarang begitu mudah didapat, bahkan jadi komoditi dagangan, sumber penghasilan warga Desa Bobung, Gunungkidul, Yogyakarta.

Dulu, topeng nilainya begitu tinggi. Untuk mendapatkan setiap topeng, Mbah Karso musti menyendiri, menyepi, dan berpuasa. Topeng hasil “perenungan” Mbah Karso itu kemudian digunakan sebagai topeng tari, dan hanya digunakan khusus saat ada acara adat/pertunjukan budaya saja. Topeng, pun, kemudian mesti disimpan dengan hati-hati.

Mbah Karso telah lama meninggal. Pembuatan topeng sempat terhenti cukup lama. Hingga kemudian pada tahun 70-an, dua warga Desa Bobung, Sugiman dan Tukiran, mencoba membuat kembali topeng dari contoh yang sudah ada.

Pembuatan topeng pada awalnya semata melestarikan budaya, pembuatannya belum fokus. Sugiman dan Tukiran saat itu, bersama hampir semua warga lainnya, masih menggantungkan hidup pada sawah dan ladang.

Pemandu wisata Desa Bobung, Bapak Ismadi, bercerita, pada tahun 70-an itu, sungai mengalir indah, deras, dan cantik di Desa Bobung. Banyak wisatawan dari Jogja mampir untuk sekedar mandi-mandi, memancing, atau foto-foto.

Berputarnya kehidupan warga Desa Bobung dimulai saat seorang wisatawan, yang juga seorang pengusaha kerajinan dan furniture, bernama Bapak Harto melihat topeng hasil karya Sugiman dan Tukiran.  “Pak Harto beli topengnya beberapa, dibawa ke Jogja, terus dijual di showroomnya. Ternyata laku, dia pesan lagi dalam jumlah banyak,” ujar Ismadi.

Pesanan dalam jumlah banyak awalnya membuat Sugiman dan Tukiran kerepotan. Masalah baru kemudian timbul. Siapa yang mengerjakan pesanan?

Konflik horizontal sempat terjadi di Desa Bobung. Banyak orangtua yang menyesalkan topeng kayu jadi terkenal. Apalagi kemudian banyak generasi muda Bobung yang memilih berhenti “nyawah”.

“Orangtua jaman dulu kan mendidik anak jadi petani, karena ada perkembangan kerajinan kayu, orangtua kuatir anak-anaknya berhenti bertani dan malahan kerja bikin topeng,” ujar Ismadi mengenang.

Butuh waktu beberapa lama sampai konflik mereda dan generasi tua, para orangtua menyadari kerajinan topeng punya masa depan bagus, bisa dikembangkan, dan bisa pula menjadi sumber penghasilan.

Saat ini, malahan, dari 138 KK, ada 136 KK yang membuat kerajinan kayu. “Ada yang gak ikut bikin topeng, soalnya kerja PNS,” kata Ismadi menjelaskan.

Pesanan terus datang, kualitas kerajinan kayu Desa Bobung diakui baik, bukan hanya di pasar domestik tapi juga pasar internasional seperti Amerika, Australia, Eropa, dan Asia.

Desa Bobung sekarang sudah bisa menghasilkan 80 ribu barang kerajinan kayu per tahunnya. Bukan hanya topeng, tetapi ada barang fungsional seperti nampan, mangkuk. Ada pula hiasan berbentuk binatang dan patung berukuran besar.

aneka kerajinan kayu

Harga kerajinan kayu bervariasi, mulai Rp 7500 (gantungan kunci), Rp 300ribu (topeng), Rp 30-40ribu (hiasan binatang), Rp 30-120ribu (mangkuk dan nampan). Harganya memang tidak murah, tapi sesuai dengan modal yang dikeluarkan.

Bayangkan saja, untuk membatik satu buah topeng, dibutuhkan waktu sehari penuh. Itu hanya waktu untuk membatiknya saja, belum lagi membentuk, mengamplas, menggambar, merebus dan mengoven tiap potong kerajinan itu!

membuat kerajinan kayu

Membatiknya ya persis seperti membatik kain, ditotol satu-satu pakai canting dan malam. Pelan-pelan. Kesabaran layak dibayar mahal, bukan? Apalagi setiap kerajinan sebelum layak jual musti dikerjakan minimal oleh 4 orang pekerja.

Kerajinan kayu sekarang sudah mampu menghidupi warga. Tetapi Ismadi berharap pemerintah mau membantu memberikan pelatihan untuk peningkatan sumber daya manusia, kerajinan semakin baik pasarnya, dan Desa Bobung makin dikenal sebagai Desa Wisata.

Semoga harapannya tercapai ya, Pak… Amiinn..

—————

Saya tidak tahu persis apa perasaan Mbah Karso kalau melihat topeng batik kayu sekarang begitu mudah dimiliki dan bebas dipajang di tiap rumah, semacam hilang nilainya, tak jelas daya gunanya. Apalagi pementasan tari dan acara adat mulai jarang dilakukan pada masa kini.

Tapi saya yakin sebenar-benarnya yakin, Mbah Karso akan senang melihat anak-cucunya punya penghasilan yang terjamin dan tak perlu kuatir susah makan kalau musim panceklik tanam mampir ke Desa Bobung.

Istirahat yang tenang, Mbah.

Karyamu abadi, sekarang.

/salam topeng

Santai di Ibis Style dan Restoran Bale Raos

Hari ini waktunya istirahat, leyeh-leyeh, dan belanja-belanja. Kalau kemarin panitia minta penjelajah gizi udah rapi dan manis jam 6-an pagi -kurang lebih bersamaan lah waktunya sama ayam berkokok- kali ini panitia minta kami kumpul pukul 11 siang. Merdeka! 😀

Saya bangun pagi sih, lebih karena lapar dan pingin berenang. Kok jauh-jauh ke Jogja malahan berenang, Re? Mmm, ini karena kemaren sesorean main-main di pantai Indrayanti. Pantainya bersih, airnya bening, tapi kemarin ga berenang.

Sampe kebawa mimpi, keinget-inget, dan yak, saya memutuskan berenang di Hotel Ibis Style Yogyakarta ini.

Swimming Pool Area
foto dari tripadvisor.co.uk

Kolam renangnya kecil, tapi cantik. Posisi kolam ada di rooftop, dari kolam bisa melongok pemandangan seputaran kota Jogja. Disediakan handuk yang bukan main besarnya, bisa lilit-lilit sampai beberapa kali. 😀

Beres berenang, saya sarapan. Saya pilih bubur ayam khas Ibis Style. Berbeda dengan bubur ayam dorongan yang biasa saya makan yang kuahnya bumbu kuning, bubur ayam disini kuahnya sop sayuran. Ada potongan bunga kol, buncis, wortel,  dan suwir-suwir ayam di sop-nya. Semacam sehat, ya.

—————

Tepat pada waktu yang dijanjikan, dikumpulkanlah kami oleh panitia di bus yang super besar. Bus ini mengangkut semua penjelajah gizi ke Bale Raos. Bale Raos adalah restoran yang berlokasi di lingkungan keraton Yogyakarta.

Makanan yang dihidangkan di Bale Raos adalah makanan kesukaan Sri Sultan, bukan hanya Sultan yang sekarang, tapi juga beberapa sultan yang sebelumnya. Bukan cuma menunya yang tradisional, tapi suasananya juga.  Ada gending jawa, pelayan pake kebaya, dan logat jawa di mana-mana. 😀

Penjelajah gizi langsung disambut tiga macam cemilan dan dua macam minuman tradisional.

Kue talam, kue Bendol, dan Sosis Solo

Rasanya enak, enak pake banget. Enak betulan. Favorit saya kue talam. Aduh, kalau suatu saat saya punya kesempatan balik ke Jogja, saya mau mampir ke Bale Raos dan pesan kue talamnya satu lusin.

Bir Jawa dan Secang

Bir Jawa terbuat dari rempah-rempah dan jahe sedangkan Secang adalah minuman yang terbuat dari campuran rempah & akar secang.

—————

Suasana perpisahan sudah mengawang-awang di udara. Satu sisi senang bisa pulang ke rumah dan ketemu sama keluarga, sisi lainnya masih pingin kumpul-kumpul, jalan-jalan, senang-senang sama penjelajah gizi lainnya.

Kiri : Baceman – Lalapan – Pergedel Jagung
Tengah : Gudeg Manggar
Kanan : Ayam Kemangi – Tumis Buncis Jamur – Semur Daging Giling

Beres makan-makan dan ketemuan sama blogger-blogger terkenal di Jogja, kami pamitan. Sebagian besar penjelajah gizi balik kanan ke bandara dan terbang ke Jakarta. Sisanya? Ada yang ke Jember, Bali, Solo.

Sampai sekarang masih kerasa senengnya, terimakasih ya Nutrisi Untuk Bangsa dan Sarihusada. Nanti kalau ada jalan-jalan lagi, saya masih boleh daftar kan, ya? D

Sampai jumpa, semoga ada kesempatan ketemu-ketemu lagi lain waktu..

—————

KANDUNGAN GIZI WISATA KULINER JELAJAH GIZI HARI TIGA

BUBUR AYAM : Bahan dasar bubur  ayam adalah beras.  Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat Indonesia. Beras sebagai bahan makanan mengandung nilai gizi yang cukup tinggi yaitu kandungan karbohidrat sebesar 360 kalori, protein sebesar 6.8 gr dan kandungan mineral seperti Ca dan Fe masing-masing 6 dan 0.8 mg.

Sayuran pelengkap bubur ayam memiliki kandungan serat yang baik untuk pencernaan. Sedangkan ayam merupakan sumber protein yang cukup tinggi. Ayam juga kaya akan kandungan mineral (kalsium, tembaga, zat besi, fosfor, kalium dan zinc) dan beragam vitamin (vitamin A dan berbagai vitamin B)

CEMILAN KHAS BALE RAOS, KUE TALAM, BENDOL, dan SOSIS SOLO : Bahan dasar kue talam adalah tepung, bahan dasar bendol adalah singkong, dan bahan dasar kulit sosis solo adalah tepung. Tepung dan singkong adalah sumber karbohidrat.

Karbohidrat diperlukan sebagai sumber energi. Yang perlu diperhatikan saat nyemil kue-kue ini adalah, jangan berlebihan. Kue talam dan kue bendol sudah ditambahi gula, dan sosis solo dimasak dengan cara digoreng. Jika dikonsumsi berlebihan maka tidak akan baik efeknya untuk tubuh.

Menu Khas Bale Raos. Hampir semua makanan yang terhidang memiliki cita rasa manis.

BACEMAN : Bacem tahu dan bacem tempe, bahan baku utamanya adalah kedelai. Kedelai adalah sumber protein nabati yang baik bagi tubuh.  Berikut tabel kandungan gizi biji kedelai.

PERGEDEL JAGUNG : Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis diketahui mengandung amilopektin lebih rendah tetapi mengalami peningkatan fitoglikogen dan sukrosa.[2].

Kandungan gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:

  1. Kalori : 355 Kalori
  2. Protein : 9,2 gr
  3. Lemak : 3,9 gr
  4. Karbohidrat : 73,7 gr
  5. Kalsium : 10 mg
  6. Fosfor : 256 mg
  7. Ferrum : 2,4 mg
  8. Vitamin A : 510 SI
  9. Vitamin B1 : 0,38 mg
  10. Air : 12 gr

SEMUR DAGING : Menurut Departemen Kesehatan (1981), setiap 100 gram daging sapi mengandung kalori 207 kkcl, protein 18,8 gram, lemak 14,0 gram, calcium 11 mg, phosphor 170 mg dan besi 2,8 mg.

TUMIS BUNCIS JAMUR: Sayur berwarna hijau panjang ini dalam 100 gram-nya mempunyai komposisi : Karbohidrat 7,81%, Lemak 0,28%, Protein 1,77%, Serat kasar 2,07%, dan kadar abu 0,32%. Buncis juga dipercaya baik dikonsumsi oleh penderita diabetes mellitus.

Kandungan Vitamin pada jamur Shiitake cukup banyak, terutama vitamin B-kompleks, seperti  B₁ (tiamin), B₂ (riboflavin), B₁₂, serta niasin dan asam pantotenat, juga vitamin D. Sementara itu kandunga protein Shiitake lebih rendah daripada daging sapi, tetapi hampir sama dengan kacang-kacangan. Yaitu antara 10-29 %. Kandungan karbohidratnya 43-78 % (berat kering) dan termasuk bahan pangan rendah kalori, total mineral antara 2.6-6.5 % dengan kandungan Ca, P, Fe, Na dan K yang ideal di dalam pangan

/salam jelajah gizi

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung
http://ratraagro.blogspot.com/2010/07/kandungan-nutrisi-jamur-shiitake.html
http://integratedhealthcenter.blogspot.com
James, M. G.. “Characterization of the Maize Gene sugary1, a Determinant of Starch Composition in Kernels”. The Plant Cell 7 (4): 417-429.Direktorat Gizi,
Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan Republik Indonesia
http://cybex.deptan.go.id/

Blusukan Pasar Argosari, Batik Kayu Desa Bobung, Warung Gathot Thiwul Yu Tum, dan Pantai Indrayanti

Pagi, 3 November 2012, sekitar pukul 5 pagi, saya dikejutkan dengan ketukan di pintu kamar penginapan. Kakak penjaga penginapan berdiri tegak di depan pintu sambil membawa baki makanan di tangannya. “Ini sarapannya, Mba..”, kata dia.

Saya persilakan si kakak meletakkan sarapan di teras kamar, dan saya lanjut baring-baring lagi. Kokok ayam bersahutan, lama, tak berhenti.

Entah itu nyanyian untuk menyambut kami, para penjelajah gizi, atau memang murni kokok membangunkan penghuni penginapan. “Bangun, sudah siang, masa iya kalah saya Ayam,” demikian saya sukses menerjemahkan kokok itu pagi kemarin.

Tak lama kemudian, ketukan kedua terdengar lagi. Kali ini saya berpikir, “Ahh, mungkin ayang Ariel Noah yang datang hendak memberi pelukan selamat pagi.”

Sayangnya saya salah lagi. Adalah kakak panitia yang muncul membawakan sekotak sarapan. Iya, sarapan lagi. Haha..

dua trip sarapan

Saya sebenarnya agak curiga. Apa tujuannya kami para penjelajah gizi diberi sarapan dua porsi. Apakah kami memang sengaja di “gemukkan”, lalu belakangan akan dijadikan “korban”. Entah.

—————

BLUSUKAN PASAR

Pukul tujuh pagi, semua peserta sudah siap masuk bus dan sebelumnya, seperti biasa, berfoto dulu. Pagi itu saya mengambil dua sesi foto. Di depan kamar dan di depan wisma Joglo. Foto ini saya maksudkan bukan hanya sebagai kenangan, tapi juga doa. Semoga suatu saat saya bisa kembali lagi ke tempat yang menyenangkan ini.

bareng @titiwakmar, @memethmeong, & @ceritaeka di depan kamar

Malam sebelumnya, panitia sudah membagi peserta jadi 5 tim. Nama Tim-nya disesuaikan dengan tempat-tempat yang dikunjungi selama kegiatan. Ada Padi Gogo, Yu Tum, Indrayanti, Mbah Noto, dan Bobung.

Bus jalan seksi membawa kami ke Pasar Argosari Gunungkidul. Pasar ini adalah pasar tradisional yang berlokasi tepat di jantung kota Wonosari.

Pasar Argosari adalah pasar terbesar di Gunungkidul. Lebih 1000 pedagang berjualan di pasar ini setiap hari, mulai pukul 05.00 pagi – 17.00 sore. Pada malam hari, pelataran pasar berubah fungsi menjadi tempat makan lesehan.

Selain kebutuhan dasar seperti sembako dan sayuran, pengunjung dapat juga membeli pakaian dan alat rumah tangga. Anda dapat pula menemukan penganan tradisional beraneka rupa di pasar ini.

—————

Penampakan Tim Saya : PADI GOGO

TIM PADI GOGO

Bersama tim ini nantinya kami akan mengalami suka dan duka bersama, seharian. Bukan cuma di pasar, tapi di aula desa Bobung dan di pantai Indrayanti.

Sudah sampai di Pasar, terus mau apa? Belanja?

Bukan, kami bukan mau belanja bahan makanan, sih…

Tepatnya di tempat ini kami diberi tantangan oleh panitia. Berbelanja 20 makanan dengan uang Rp 10ribu. Mmm, jadi setiap item harus berharga rata-rata Rp 500. Jangan pikir tantangannya mudah, karena ke-20 bahan makanan/penganan itu hanya berupa clue saja.

Misalnya : Kudapan tradisional berbahan dasar beras ketan, manis berwarna kecoklatan. Jawabannya ‘wajik’. Begitu seterusnya sampai 20 clue dan penjelajah gizi harus menemukan 20 jawaban sebelum bisa melengkapi belanjaan.

Tiap tim dibekali uang, kertas petunjuk, dan tampah. Jadi gak perlu minta kresek sama penjualnya. Beli, bayar, taruh di tampah, lalu beli, bayar, taruh di tampah, begitu sampai selesai. Soal tampah ini saya terkesan, hebat panitia bisa terpikir sampai ke tampah. 😀

Atas : Pembagian tampah, uang, dan kertas petunjuk oleh panitia
Bawah : Sesi “ngotot-ngototan” dengan Pak Prof..
Atas : Hasil belanjaan lima tim
Bawah : Pose bareng tampah

Seru deh, masih pagi penjelajah gizi udah lari-lari, naik turun tangga, belanja macem-macem, dan ngotot-ngototan sama Pak Prof, si ahli gizi. “Tapi, Prof….” Haha.. Kok bisa ngotot? Karena ada beberapa clue yang menurut penjelajah gizi kurang jelas.

Misalnya, kudapan renyah berbahan dasar singkong kering? Berdasarkan clue itu, penjelajah gizi membawa berbagai macam makanan, ada yang bawa keripik, kerupuk, dan tim saya bawa OPAK..

Untung saja semua tim dianggap benar. Kebayang kan kalau ada yang dianggap salah, Pak Prof-selaku juri-bisa gak aman di perjalanan pulang. Haha..

Hasil belanjaan kemudian dinilai beramai-ramai.  Penilaian didasarkan pada kecepatan dan ketepatan. Selain blusukan pasar, ada 3 macam permainan lainnya yang mesti dilalui tiap tim, dan pada akhirnya nanti akan dinilai, tim mana yang mendapatkan nilai paling baik.

Okeh, sudah beres blusukan, dan foto-foto (lagi).. 😀

—————

DESA BOBUNG

POSYANDU

Cuaca di Gunungkidul dan sekitarnya cukup panas, bikin gerah. Jelang naik bus saya sempat membeli es dawet untuk memuaskan haus, harganya Rp 2500 saja sebungkusnya.

Saya masuk bus dalam keadaan basah kuyup berkeringat. Tapi tak lama, sebentar saja keringatnya sudah kering tertiup angin cepoi cepoi dari lobang AC di atas kepala. Nikmat..

Sesampainya di Desa Bobung, penjelajah gizi dibagi 2 tujuan, satu bus menuju aula untuk bertemu ibu-ibu PKK dan kader posyandu, sedangkan bus lainnya menuju PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Desa Bobung.

Bus saya berhenti di Posyandu, dan mata saya langsung berbinar melihat anak kecil aneka rupa. Dua diantaranya sempat saya gendong, dan iya, mereka menangis pastinya. Haha

Raffi dan Syarifa. Bukan bayi saya, tapi bayinya warga Desa Bobung.

Posyandu Nusa Indah 2, Desa Bobung, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunungkidul ini diadakan tanggal 11 tiap bulannya. Selain acara timbang-menimbang bayi, ada juga arisan dan penyuluhan.

Menimbang Bayi

Posyandu ini memfasilitasi 40 orang balita. Setiap datang, rombongan balita itu dioleh-olehi bubur kacang hijau, buah, susu, telor puyuh, atau sop. Kondisi anak semuanya baik, hanya ada satu anak saja yang berat badannya agak kurang.

Aduh, saya rasanya gak pingin pergi kemana-mana. *peluk bayi satu-satu. 😀

Beres acara timbang-menimbang, tim saya PADI GOGO, dan tim sebelah INDRAYANTI, diberi tantangan membungkus lemper talas. Bahan sudah disiapkan oleh Ibu PKK, tinggal membungkus saja.

Mudah?

Salah!

Lomba bungkus lemper.

Membungkus lemper itu susah sangat, kawan. Dari lima lemper yang tim kami bungkus, tiga diantaranya pecah, keluar dari bungkus daunnya setelah dikukus.  Iya, tim kami kalah sama tim sebelah. *merana.

Dari teman yang mampir ke PAUD saya dapat info, 3 tim yang mampir kesana mendapatkan tantangan “Mendongeng”. Huih, kebayang muka anak-anak, pasti berbinar-binar kesenangan kalo didongengi, kan? 😀

SENTRA KERAJINAN KAYU

Selamat datang di Desa Wisata Bobung

Selain pertanian, sumber utama penghasilan warga Desa Bobung adalah kerajinan kayu.

Ada dua macam kayu yang digunakan sebagai bahan baku kerajinan, yaitu kayu pule (alstonia scholaris), dan kayu sengon (albasia).

Secara kualitas, hasil kerajinan dari Kayu Pule akan tampak lebih halus dan harga jualnya lebih tinggi. Jika batang kayu pule digunakan untuk kerajinan, maka bagian kulitnya digunakan untuk bahan jamu ghodok.

Kayu gelondongan yang siap diolah jadi kerajinan

Sayangnya, pertumbuhan kayu pule relatif lambat, sehingga warga menggunakan kayu sengon sebagai pendamping bahan baku.

Proses pembuatan topeng cukup panjang. Dimulai dari membelah kayu seukuran kerajinan yang akan dibuat. Jika peruntukannya untuk topeng, tentu saja ukurannya akan berbeda dengan mangkuk.

Di bengkel, kayu yang sebelumnya tanpa bentuk itu dipahat. Ada yang berbentuk topeng, binatang, dan lainnya. Bentuk-bentuk ini dibuat sesuai permintaan. Pekerja akan mendapatkan upah harian.

Di bengkel ini, kayu gelondongan dibentuk sesuai pesanan.

Setelah selesai dipahat, kayu yang telah berbentuk kemudian direbus selama tiga jam dengan bahan pengawet. Lalu dioven selama 2 hari. Setelah benar-benar kering, kayu dipindahkan ke bagian pengamplasan.

Jika di bengkel pahat semua pekerja laki-laki, di bagian pahat ini sebaliknya. Hampir semua pekerjanya perempuan. Saya pikir ini masalah tenaga ya. Memotong dan mencungkil kayu pasti membutuhkan energi yang cukup besar.

Pengamplasan mesti dilakukan hati-hati. Kalau terlalu semangat bisa-bisa bentuk hidung pada topeng yang tadinya sudah lurus mancung malah rusak.

Beres diamplas, topeng dan kerajinan lainnya dipindahkan ke bagian gambar. Gambarnya bisa macam-macam, bunga atau bentuk bangun ruang beraneka.

Selanjutnya, kerajinan dibawa ke ruang pembatikan. Pembatikan dilakukan langsung pada kayu. Istilahnya batik kayu.  Pembantikan yang dilakukan persis seperti membatik kain, menggunakan malam dan canting.

Karena dilakukan manual dan sangat hati-hati, dalam satu hari paling hanya bisa didapatkan satu buah topeng batik kayu.

Kerajinan kayu yang sudah selesai dibatik dan dipernis

Topeng yang sudah dibatik kemudian dipernis dan dikeringkan kembali. Setelahnya tinggal dipajang di showroom.

Kerajinan batik kayu khas Desa Bobung tidak hanya diminati wisatawan dalam negeri. Kerajinan ini sudah pula diekspor ke mancanegara. Diantaranya Brazil (topeng), Eropa (barang fungsional semacam nampan), Asia (patung binatang seperti kucing/gajah), dan Australia (patung kanguru).

Untuk menjamin persaingan yang sehat antara UKM di Desa Bobung, dibentuklah Koperasi. Koperasi juga berperan sebagai pemberi modal.

Harga kerajinan batik kayu bervariasi. Mulai Rp 7500 (gantungan kunci), Rp 300ribu (topeng), Rp 30-40ribu (hiasan binatang), Rp 30-120ribu (mangkuk dan nampan).

Gelang, Mangkok, dan Topeng hasil karya warga Desa Bobung

Koperasi juga menerima pesanan kerajinan kayu ukuran besar. Khusus untuk kerajinan ukuran besar ini harganya bisa mencapai Rp 10juta.

Bapak Ismadi, pemandu yang menemani saya berkeliling desa, menyebutkan saat ini dari 138 KK, hanya 2 KK saja yang tidak ikut membuat kerajinan. “Itupun karena mereka bekerja sebagai PNS.”

Ia beharap, Desa Bobung semakin dikenal dengan kayu batiknya, dan warga desa dapat terus mendapatkan pesanan.  Aminn…

Di showroom, panitia dan penjelajah gizi ribut seribut-ributnya, bukan berantem sih, tapi pada mborong kerajinan kayu. Aduh aduh, itu wajah yang beli dan dan yang jual sama-sama berbinar kesenangan abis transaksi.

—————

MAKAN SIANG DI AULA

Yang menyenangkan dari kegiatan Jelajah Gizi adalah, bisa menikmati penganan lokal yang benar-benar nikmat. Tak kalah rasanya dengan menu internasional di mal-mal. Apalagi yang masak adalah ibu-ibu yang mungkin kemampuan masaknya sudah setara chef terkenal. 😀

Lidah penjelajah gizi hari ini dimanja dengan urap, bacem ayam+bebek, bacem tempe+tahu, sayur lombok ijo, dan lalapan. Uuhh, segarnya..

Sudah kenyang, pamitan, foto-foto. Penjelajah gizi lekas masuk ke bus dan siap lanjut ke tujuan berikutnya.

Anak-anak yang bersekolah di PAUD Desa Bobung dapet mainan baru, hadiah dari Sarihusada. 😀

—————

WARUNG GATHOT THIWUL “YU TUM”

Kangen Thiwul dan Gathot tapi sulit menemukannya di pasar tradisional? Bisa mampir saja ke warung ini.  Pemiliknya adalah perempuan cantik berumur 80 tahun yang bernama Tumirah.

Yu Tum dan saya.

Yu Tum, demikian ia biasa dipanggil, sudah meramu thiwul dan gathot sejak 1985. Dulu, ia berjualan dengan berkeliling kampung. Lalu pada 2004 lalu, warung pertamanya -Gathot Thiwul “Yu Tum”-dibuka.

Saat ini warung Yu Tum bisa menghabiskan 50 kilogram tepung singkong pada hari biasa, dan 70 kilogram tepung pada akhir pekan. Omsetnya juga luar biasa, sekitar 3-4 juta rupiah perharinya.

Oh iya, Yu Tum juga menerima pesanan khusus seperti Thiwul rasa coklat dan keju. Khusus Gathot, selain gathot biasa, ada juga gathot rasa nangka. Karena tidak menggunakan pengawet, penganan ini hanya tahan maksimal dua hari saja.

Harga tiap porsi (satu besek) thiwul atau gathot Rp 12ribu. Kamu boleh beli masing-masing setengah bagian thiwul dan setengah bagian gathot, lho. Harganya sama saja.

Proses pembuatan thiwul dan gathot sangatlah panjang. Makan waktu berhari-hari.

Oh iya, saat ini Warung Yu Tum dikelola oleh anak dan menantu. Sesekali Yu Tum masih turun ke dapur untuk meracik thiwul.

Sore itu, saya pulang dari Warung Yu Tum dengan keyakinan makanan tradisional akan berjaya.

—————

PANTAI INDRAYANTI

Hari menjelang sore. Saatnya hore-hore.

Kaki kami menjejak di pantai putih, bersih. Pantai Indrayanti namanya. Pantai ini tidak begitu lebar, tapi tetap menyajikan pemandangan yang cantik.

Pantai yang dapat berjarak sekitar 70 kilometer dari kota Jogja ini dikelola oleh swasta. Pemberian nama pantai sempat menjadi kontroversi. Pasalnya, Indrayanti adalah nama istri pemilik restoran yang beroperasi di pantai.

Saya tidak akan melupakan bersihnya pantai, lembutnya pasir. Tidak ada satu sampah pun saya lihat tercecer.

Warga menyambut pendatang dengan baik. Pedagang terlihat menawarkan barang, tetapi caranya ramah dan tidak memaksa.

Menikmati pantai akan mudah dilakukan, banyak spot-spot untuk menyendiri. Angin dan ombak terus bertiup, tapi tidak besar.

Anak kecil terlihat mandi-mandi di pinggir pantai. Orang dewasa kebanyakan berfoto atau sekedar duduk menikmati jagung bakar dan kelapa muda. Disediakan penginapan, namun jika berpasangan musti menunjukkan surat nikah lebih dulu. 😀

Penjelajah gizi tiba di pantai dan langsung tercerai-berai. Saat malam menjelang, lewat halo-halo dari MC, kami berkumpul lagi.

Saatnya game! Kali ini setiap tim wajib mengirimkan dua wakilnya untuk bermain LIMBO. Tim PADI GOGO mengirimkan Andre dan saya, lalu kami kalah.. 😀

Pemenang game LIMBO kali ini berasal dari Tim YU TUM. Sebenarnya kalau dilihat dari penampakannya wajar saja ya mereka berdua bisa menang. *hihihi.. Eniwei, selamat ya kalian..  *bersumpah pada langit, suatu saat nanti saya harus punya badan selangsing mereka.

Setiap tim sudah punya kesempatan main 3 macam game, dan sekarang saatnya pengumuman.  Tim saya, PADI GOGO berhasil menjadi juara ke-3, hadiahnya voucher belanja Rp 300ribu, juara ke-3 adalah YU TUM (hadiahnya voucher belanja Rp 500ribu), dan juara ke-1 INDRAYANTI (hadiahnya cash Rp 1juta).

pemenang games jelajah gizi

Sampai di bus, tiap tim pemenang langsung transaksi bagi-bagi hadiah. Hooh, hadiahnya tadi itu dibagi sejumlah anggota yang ada di tim masing-masing. 😀

Oh iya, tadi di pantai, setiap tim musti perform yel-yel. Sebagai mantan kekasih Ariel Noah, tentu saja saya (dibantu anggota tim lainnya), lancar membuat lirik.

Judul yel-yel kami adalah : YELGO (yel-yel padi gogo).

Haha, gak kreatip, yak..

Kamu, makannya apa?
Saya juru masaknya
Saya nasi merah,
Saya belalang,
Saya pilih mie godhok

Kita, ada dimana?
Ada di Gunungkidul
Jalan-jalan bareng,
Makan-makan bareng,
Semua jadi seneng.

Acaranya, eh acara apa?
Jelajah gizi, Sarihusada
Disini pangan lokal berjaya
Enak rasa gizi tersedia.

Padi Gogo, GO GO GO
Makan enak, YOOO…

TIM PADI GOGO sedang perform yel-yel

Kebayang kan nyanyi-nya seperti apa.. Iya, persis kayak gitu. Haha..

Dear Indrayanti, padamu aku kan kembali…..

—————

KANDUNGAN GIZI WISATA KULINER JELAJAH GIZI HARI DUA

ROTI BAKAR

Roti tawar berasal dari tepung. Kandungannya adalah karbohidrat dan protein. Karena sifatnya yang mengenyangkan, roti sering digunakan sebagai pengganti nasi pada saat sarapan.

Saat ini, selain serat, roti juga dapat diperkaya (difortifikasi) dengan berbagai macam zat gizi. Beberapa zat gizi yang umumnya ditambahkan ke dalam roti adalah vitamin, seperti thiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), dan niasin, serta sejumlah mineral berupa zat besi, iodium, kalsium, dan lain-lain. Roti juga sering diperkaya dengan asam amino tertentu untuk lebih meningkatkan mutu protein bagi tubuh.

NASI + AYAM + SAYUR + TELUR + PISANG

NASI : Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat Indonesia. Beras sebagai
bahan makanan mengandung nilai gizi yang cukup tinggi yaitu kandungan karbohidrat
sebesar 360 kalori, protein sebesar 6.8 gr dan kandungan mineral seperti Ca dan Fe masing-masing 6 dan 0.8 mg.

AYAM : Kandungan lemak pada ayam kampung lebih rendah daripada ayam ras. Ayam merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan lebih rendah kandungan lemak jenuhnya dibanding daging berwarna merah. Ayam juga kaya akan kandungan mineral (kalsium, tembaga, zat besi, fosfor, kalium dan zinc) dan beragam vitamin (vitamin A dan berbagai vitamin B). Kandungan zat gizi ayam kampung per 100 gram bahan adalah Energi (246 kkal), Protein (37.9 gr), dan Lemak (9 gr).

SAYUR LABU SIAM : Labu siam memiliki kadar vitamin C yang tinggi, rendah kalori, rendah sodium, tidak mengandung kolesterol, dan merupakan sumber serat yang baik. Labu siam juga mengandung

  • Folat. Labu siam adalah sumber folat, vitamin B yang sangat bermanfaat bagi ibu hamil dan kesehatan kardiovaskuler.
  • Vitamin C. Vitamin C adalah salah satu antioksidan kuat yang dapat melindungi sel dari kerusakan oleh radikal bebas.
  • Mangan. Mangan dalam labu siam membantu tubuh mengubah protein dan lemak menjadi energi.
  • Serat. Membantu mencegah sembelit dan melancarkan pencernaan.
  • Tembaga. Membantu yodium dalam menjaga kesehatan tiroid.
  • Zinc. Membantu menyehatkan kulit.
  • Vitamin K. Membantu kesehatan tulang dan gigi.

TELUR : Telur merupakan sumber protein yang baik, kadarnya sekitar 14%, sehingga dari tiap butir telur akan diperoleh sekitar 8 gram protein. Kandungan asam amino proteinnya juga sangat lengkap.

Telur kaya fosfor dan besi, tetapi kandungan kalsiumnya rendah. Keadaan sepeerti ini sama seperti yang dijumpai pada daging. Selain itu telur juga mengandung vitamin B kompleks, serta vitamin A dan D (dalam kuning telur). Telur sama sekali tidak mengandung vitamin C.

Kadar kolesterol yang terdapat dalam kuning telur sekitar 250 mg per butir. Para ahli gizi menganjurkan agar orang dewasa hanya mengkonsumsi telur paling banyak 4 butir per minggu.

PISANG : Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, kalsium, dan besi. Bila dibandingkan dengan jenis makanan nabati lain, mineral pisang, khususnya besi, hampir seluruhnya (100 persen) dapat diserap tubuh. Berdasarkan berat kering, kadar besi pisang mencapai 2 miligram per 100 gram dan seng 0,8 mg.

Kandungan vitaminnya sangat tinggi, terutama provitamin A, yaitu betakaroten, sebesar 45 mg per 100 gram berat kering, sedangkan pada apel hanya 15 mg. Pisang juga mengandung vitamin B, dan vitamin B6 (piridoxin).

GATHOT dan THIWUL

Dua penganan ini berbahan dasar singkong. Singkong atau ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu sumber karbohidrat lokal Indonesia yang menduduki urutan ketiga terbesar setelah padi dan jagung. Tanaman ini merupakan bahan baku yang paling potensial untuk diolah menjadi tepung.

SEAFOOD (CUMI dan UDANG)

Seafood mengandung protein yang sangat tinggi. Ada beberapa orang yang sensitif terhadap udang dan cumi-cumi.

Selain protein, cumi-cumi juga mengandung omega-3,  tembaga, seng, vitamin B dan yodium. Kandungan tembaga pada cumi baik untuk penyerapan tubuh, penyimpanan dan metabolisme besi dan pembentukan sel darah merah.

Sedangkan udang tinggi kadar vitamin B12. Vit B12 diperlukan untuk pembelahan sel dan mineral selenium yang memiliki sifat untuk melindungi dan mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh dan fungsi tiroid.

/salam sadar gizi

Sumber : http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_ntrtnhlth_roti.php
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15820/1/skm-agu2005-%20%285%29.pdf
http://majalahkesehatan.com/labu-siam-sedap-dimakan-dan-berkhasiat/
http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_ntrtnhlth_telur.php
http://id.wikipedia.org/wiki/Pisang
http://health.kompas.com/read/2012/07/03/12073798/7.Jenis.Seafood.Ini.Perkecil.Risiko.Sakit.Jantung

Warung Pari Gogo, Bidan Lies di Desa Sambirejo, Es Krim Ketela, dan Warung Mbah Noto

Entah mimpi entah nyata, saya menerima telepon dari @nutrisi_bangsa sambil bingung. Suara di ujung sana bilang tulisan saya terpilih, dan saya terpilih, bersama sembilan blogger lainnya untuk menjelajah Gunungkidul.

Bukan, bukan jelajah alam, apalagi jelajah gua yang memang kebetulan banyak di sana. Tetapi, jelajah gizi. Jelajah gizi itu kegiatan yang dilakukan untuk mengenalkan pangan, sumberdaya lokal, dan kandungan gizi yang dikandung setiap makanan.

Sangking bersemangatnya, adrenalin mengalir deras di tubuh saya. Jadi susah tidur. Tepat jam 4 pagi saya beberes, mandi, pamitan, dan menuju bandara. Aaakk, senangnyaa..

Di terminal 1 bandara Soekarno Hatta saya berjumpa blogger tangguh lainnya, adalah @titiwakmar, @didut, @matriphe, @aniringo, dan mba @eviindrawanto. Tiba jam 6 pagi dan langsung disambut dengan senyuman yang bukan main lebarnya dari perwakilan dari Event Organizer yang mengurusi acara.

“Sarapan apa, Mba?”

Uhuyy, ditrakteerrr Mba EO

Pesawat berangkat pukul 07.45 WIB, tiba di Jogjakarta  pukul 9 pagi. Bus yang super besar sudah menunggu peserta di parkiran. Belakangan, di bus, saya baru tahu ternyata peserta jelajah gizi kali ini bukan hanya blogger, tapi juga wartawan dari Jakarta dan Jogjakarta. Total peserta jadi 23 orang. Rameee 😀

Di bus, masing-masing peserta memperkenalkan diri. Disini suasana sudah cair sih ya, adalah dua (MC) Master of Ceremony kondang ibukota, Mas Kelik Ketitik dan Mas Fuad yang gak pernah kehabisan ide buat ngelawak.

—————

Tujuan Pertama : Warung Padi Gogo

Bus langsung mengarah ke Gunungkidul, menuju tempat makan siang yang populer. Warung Padi Gogo. Hati saya mulai deg-degan, seperti merasakan ada yang tidak beres. Ada yang aneh.

Benar saja, rupanya akan terjadi semacam fear factor di warung itu sodara-sodara. Baru saja duduk, peserta sudah dihidang belalang goreng.  Aaaakkkk, lambai bendera putih, menyerah kalah.

Apa ya, saya kok berpikirnya, masih banyak makanan lain yang bisa dicemil selain belalang. Matanya yang besar melotot itu mengintimidasi.

Tapi, bukankah selalu ada KALI PERTAMA UNTUK SETIAP HAL. Maka, saya resmikan hari itu, 2 November 2012 sebagai kali pertama saya makan belalang goreng. Oooh, Tuhan… 😐

Begini penampakan belalang yang masih utuh, tapi sudah matang, tapi warna coklat, yang kelihatannya garing, itu.

Kesimpulan : Menurut saya belalang goreng itu gak enak. Ada bau-bauan yang menyertai. Kalau kata Mba  @eviindrawanto, seperti bau jerami.

Kelihatannya garing, tetapi waktu dikunyah terasa bersisa di mulut, bagian sayapnya susah hancur di mulut saya. Karena kurang halus itulah, saya agak susah payah dan butuh usaha ekstra untuk menelannya.

Okeh, intinya saya sudah pernah cicip, dan gak penasaran lagi. Oh iya, untuk pengetahuan (kalau ada yang belum tahu), ikan dan belalang adalah dua binatang yang halal dimakan setelah jadi bangkai.

Selesai fear factornya, sekarang saatnya makan enaakk..  Warung Padi Gogo menyediakan berbagai macam menu kuliner, diantaranya ada nasi merah, sayur lombok ijo, tumis daun pepaya, trancam, ayam goreng bacem, dan baby fish.

Sambil makan, Senior Manajer Corporate Affairs PT Sarihusada, Bapak Arif Mujahidin cerita tentang tujuan diadakannya jelajah gizi, kenapa memilih Gunungkidul, dan harapannya pada kami, blogger dan wartawan yang ikut serta dalam program ini.

Intinya adalah, Bapak Arif ingin kami menyebarluaskan pangan lokal, kandungan gizinya dan kebaikan pangan lokal pada seluruh dunia lewat tulisan. “Pangan lokal gak selalu kampungan, tinggal bagaimana kita mengolahnya saja,” kira-kira begitu kata Pak Arif.

Selain enak, bahan pangan lokal, lanjut dia, juga mudah diperoleh. Selama ini keberadaan pangan lokal mulai tergerus aneka makanan impor. Bukannya makanan impor tidak bagus, hanya saja kenapa tidak kita yang mulai. “Enak, murah, mudah didapat. Apa lagi?” kata si Bapak.

—————

Tujuan Kedua : Desa Sambirejo

Sudah makan, sudah kenyang, peserta yang tampan-tampan sudah beres shalat Jumat, sekarang kami lanjut ke pemberhentian kedua, Desa Sambirejo.

Di Desa Sambirejo kami bersua dengan Bidan Liestiani Ritawati, pemenang Srikandi Award 2009. Bidan Liestiani memprakarsai pembuatan sumur bor di desa ini. Awalnya adalah keprihatinan akan kondisi kesehatan warga yang menurun dan susahnya persalinan.

Sebelum gempa melanda Jogja pada 2006 lalu, ketersediaan air cukup. Warga mengandalkan sendang (mata air) Desa Sambirejo. Entah mengapa setelah gempa, air di Sendang tidak lagi terisi. Sendang kering dan mesti menunggu hujan agar terisi kembali.

Sendang Sambirejo menunggu hujan datang

Kekeringan terjadi bertahun, tanah sampai retak, dan berbagai gangguan kesehatan seperti diare mengancam anak-anak. Kurangnya air menyebabkan kebersihan makanan tidak terjamin.

Sekarang aliran air dari sumur bor sudah bisa dinikmati warga, langsung ke rumah masing-masing. Warga tinggal memutar keran dan membayar sesuai penggunaan ke pengurus PDAM Tirtamukti.

PDAM Tirtamukti ini baru saja dibentuk pada 2010 lalu. Tujuannya untuk mengurus kelancaran aliran air ke rumah warga, termasuk di dalamnya memungut iuran dan memelihara sumur bor.

Ketua PDAM Tirtamukti, Bapak Suyadi

Ada 12 warga yang terpilih mengurusi PDAM itu, Ketuanya, Bapak Suyadi, bilang warga bertanggung jawab sekali membayar sesuai tagihan karena pernah merasakan sulitnya mencari air. “Jalan jauh sampai 2 kilometer, menggendong air dengan jerigen, dan harus mengantri dari tengah malam,” kata dia.

Penganan Berbahan Dasar Ketela

Selain mempelopori air, Bidan Listi juga berperan mengembangkan sumber daya pangan lokal. Apakah itu? Adalah dia ketela!

Kebun ketela di depan rumah Bidan Listi

Ketela dikenal juga sebagai ubi rambat, ubi jalar atau mantang.  Pohon ini tumbuh subur di depan rumah Bidan Listi dan saat ini mulai dikembangkan manfaatnya bersama warga.

Kemarin, kami peserta jelajah gizi sempat menikmati olahan unik dari ketela, yaitu es krim ketela dan bakpao ketela. Es krim ketela rasanya manis, masih terasa bau umbi ketelanya. Bakpao ketela, yang oleh warga Sambirejo diisi dengan kacang hijau kupas, rasanya juga enak.

Es Krim Ketela dan Bapao Ketela isi kacang hijau

—————

Wisma Joglo

Udah sore, udah keringetan, saatnya tidur, eh mandi! 😀

Setelah poto-poto narsis, iya di mana-mana ke-23 peserta #jelajahgizi ini kerjanya poto-poto aja kok. *sigh, kami masuk ke bus yang super nyaman + AC super kencang.

Tujuannya adalah Wisma Joglo. Wisma Joglo berada di dekat pusat kota Wonosari tepatnya di Jl.Sumarwi Gg. Mayang Gadungsari RT 06/12 Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Penginapannya cukup luas, kamarnya bersih, seprei dan bantal harum.

Karena bangunannya tradisional, saya tak berharap banyak pada kamar mandinya. Ternyata kamar mandinya luas, klosetnya bersih, airnya jernih, dan lantainya kesat.

—————

Wisata Kuliner, Warung Mbah Noto

Peserta, khususnya saya, sudah sangat kelaparan. Meskipun tadi udah icip 3 cup es krim ketela sih ya.. *malu.

Udah ganti baju bersih, udah mandi, lanjut makan malem di Warung Mbah Noto. Menu paling happening di warung ini adalah Mie Goreng dan Mie Godhok.

Atas : Mie godhok
Bawah : Mie Goreng

Karena belum pernah icip mie godhok, dan karena kebanyakan peserta pilih mie godhog, saya manut, ikut-ikut.

Meskipun panitia sudah memesan sejak sore hari, dan kami kesana sudah jam 8 malam, pesanan kami (yang bukan main banyaknya ini), belum selesai.

Kok gitu? Iya, emang gitu. Soalnya si pemilik warung itu masaknya cuma pakai 1 tungku. Setiap kali masak, yang jadi cuma 2 porsi. Kebayang kan?

Saya suka sih mie godhoknya, tapi lebih suka ayam goreng bacemnya. Ayamnya ayam kampung, teksturnya lembut, rasanya enak, agak manis.

Ayam Goreng Warung Mbah Noto, Gunungkidul

Sudah kenyang semuanya, saatnya istirahat..

Sampai jumpa pada petualangan penJelajah Gizi hari dua, ya.. 😀

—————

KANDUNGAN GIZI WISATA KULINER JELAJAH GIZI HARI SATU

Sepanjang perjalanan tadi, kami dikawal langsung oleh Guru Besar Ilmu Gizi Institut IPB, Prof Ahmad Sulaiman. Segala yang dikunyah dijelaskan kandungan gizinya oleh Pak Prof.

Belalang Goreng

Pada belalang yang masih segar, kandungan proteinnya sekitar 20 persen, tetapi pada yang kering sekitar 40 persen. Kulit belalang mengandung zat kitosan seperti udang. Pada musim-musim tertentu ada jenis belalang yang kandungan vitaminnya lebih tinggi. Belalang juga dapat  memenuhi 25 hingga 30 persen kebutuhan vitamin A.

Nasi Merah

Nasi merah baik untuk penderita diabetes karena memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih. Kandungan serat nasi merah yang tinggi karena tidak mengalami proses penggilingan yang menyebabkan hilangnya sebagian besar serat serta vitamin dan mineral.  Nasi merah juga kaya akan vitamin B, magnesium, dan zat besi yang diperlukan tubuh.

Ketela/Ubi Jalar

Karbohidrat ubi jalar memiliki indeks glisemik 54 (rendah). Artinya, karbohidrat pada ubi jalar tidak mudah diubah menjadi gula, sehingga cocok bagi penderita diabetes. Ubi jalar berwarna merah, mengandung serat oligosakarida bertipe larut yang berperan vital untuk menyedot kolesterol “jahat” di dalam darah.

Serat oligosakarida berperan mencegah sembelit, memudahkan buang angin, menjaga keseimbangan flora usus dan prebiotik serta merangsang pertumbuhan bakteri “baik” pada usus sehingga penyerapan zat gizi lebih efektif. Pada orang yang sangat sensitif oligosakarida, konsumsi ubi jalar dapat mengakibatkan kembung. Agar tidak kembung dan buang-buang angin, disarankan memasak ubi jalar hingga benar-benar matang.

Daun ubi jalar baik dikonsumsi (dilalap) oleh ibu menyusui untuk menambah produksi asi.

Mie Godhok dan Ayam Kampung Goreng Bacem

Mie berbahan dasar tepung, mengandung karbohidrat. Pelengkap mie godhok adalah sayur kol atau dikenal juga dengan kubis. Kubis segar mengandung banyak vitamin (A, beberapa B, C, dan E). Kandungan Vitamin C cukup tinggi untuk mencegah skorbut (sariawan akut). Mineral yang banyak dikandung adalah kalium, kalsium, fosfor, natrium, dan besi. Kubis segar juga mengandung sejumlah senyawa yang merangsang pembentukan glutation, zat yang diperlukan untuk menonaktifkan zat beracun dalam tubuh manusia.

Kandungan lemak pada ayam kampung lebih rendah daripada ayam ras. Ayam merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan lebih rendah kandungan lemak jenuhnya dibanding daging berwarna merah. Ayam juga kaya akan kandungan mineral (kalsium, tembaga, zat besi, fosfor, kalium dan zinc) dan beragam vitamin (vitamin A dan berbagai vitamin B). Kandungan zat gizi ayam kampung per 100 gram bahan adalah Energi (246 kkal), Protein (37.9 gr), dan Lemak (9 gr).

/salam kenyang

Sumber :

distan.majalengkakab.go.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Kubis”>http://id.wikipedia.org/wiki/Kubis
http://health.kompas.com

Hargai Makananmu!

Memang benar apa yang dikatakan orang-orang. “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Untuk saya, ungkapan ini mesti ditambah satu bait lagi. “Tak Kenal Maka Tak Menghargai”.

Adalah thiwul dan gathot, dua jenis pangan berbahan dasar singkong yang membuat saya semakin menghargai makanan. Dulu kala, thiwul dan gathot dikonsumsi warga Gunungkidul sebagai pengganti nasi, tapi sekarang penganan ini lebih sering dinikmati sebagai cemilan saja.

Meski sekarang mulai sulit menemukan penganan ini dijual, Thiwul adalah makanan yang sangat murah, bisa dibeli di Pasar seharga Rp 1000 saja, begitupun dengan gathot.

Harganya yang murah kerap membuat saya memandang sebelah mata. “Beli saja dulu, kalau tidak habis kan tinggal dibuang, toh murah”.

Kalau perbuatan saya ini dilihat oleh Yu Tum (Tumirah), pemilik warung thiwul dan gathot di Gunungkidul, mungkin saya sudah habis diceramahi plus dicubiti.

Pasalnya, bikin thiwul dan gathot itu tak gampang. Butuh kesabaran. Berbeda dengan makanan lain yang bisa “beli bahan pagi sore sudah jadi”, proses pembuatan thiwul dan gathot makan waktu berhari-hari.

—————

BIKIN THIWUL dan GATHOT itu TIDAK MUDAH

Cara Bikin Thiwul

Singkong segar, yang telah dikupas, dijemur sampai kering selama 3-4 hari. Singkong yang telah kering ini dinamakan gaplek. Nah, gaplek ini lalu digiling halus menjadi tepung. Didihkan air dan gula, kemudian dinginkan.

Setelah dingin campuran air+gula tadi dicampurkan dengan tepung singkong dan diaduk rata. Campuran itu kemudian diayak dan diambil butiran halusnya.

Kalau sudah, kukus thiwul mentah tadi selama 15 menit. Kalau sudah matang, angkat, dan sajikan dengan taburan kelapa parut yang sebelumnya sudah dibubuhi garam.

Cara Bikin Gathot

Singkong segar, yang telah dikupas, dilembabkan agar berfermentasi. Proses fermentasi ini dilakukan dengan cara, membasahi singkong dan menutupnya dengan plastik. Singkong dikatakan telah berfermentasi jika jamur yang berwarna kehitaman sudah muncul sampai ke bagian dalam umbi.

Kalau jamurnya sudah muncul, jemur singkong tadi di terik matahari sampai benar-benar kering. Singkong kering berjamur itu disebut gaplek gathotan. Gaplek gathotan kemudian direndam selama 1-2 malam dengan air kapur sirih. Setelah itu, iris kecil-kecil dan bersihkan kembali.

Jika sudah, rendam lagi gaplek gathotan yang sudah berbentuk irisan itu selama 1 malam. Lalu cuci bersih dan kukus selama 2 jam.

Sambil menunggu gaplek matang, cairkan gula merah sampai mendidih dan mengental. Angkat gaplek dari kukusan dan campurkan dengan gula. Aduk rata. Seperti thiwul, gathot akan lebih nikmat dimakan dengan taburan kelapa parut.

—————

Kalau kamu kangen thiwul dan gathot, tapi udah cari-cari, eh tetep aja gak ketemu penampakannya di pasar, silakan mampir ke Warung Yu Tum yang berlokasi di Jalan Pramuka No 36, Wonosari, Jogjakarta.

Yu Tum sudah meramu thiwul dan gathot sejak 1985. Dulu, ia berjualan dengan berkeliling kampung. Lalu pada 2004 lalu, warung pertamanya dibuka. Gathot Thiwul “Yu Tum” demikian warungnya diberi nama.

Saat ini warung Yu Tum bisa menghabiskan 50 kilogram tepung singkong pada hari biasa, dan 70 kilogram tepung pada akhir pekan. Omsetnya juga luar biasa, sekitar 3-4 juta rupiah perharinya.

Oh iya, Yu Tum juga menerima pesanan khusus seperti Thiwul rasa coklat dan keju. Khusus Gathot, selain gathot biasa, ada juga gathot rasa nangka. Karena tidak menggunakan pengawet, penganan ini hanya tahan maksimal dua hari saja.

—————

CARA BIKIN THIWUL dan GHATOT (dalam gambar)

Singkong segar yang telah diproses menjadi “Tepung Singkong” dan “Gaplek Gathotan”
Gaplek Gathotan yang telah direndam dan diiris. Gaplek ini kemudian direndam satu malam lagi sebelum dikukus.
Tepung singkong yang telah diaduk rata dengan (gula+air)diayak. Bagian halusnya kemudian dikukus selama 15 menit.
Pendiangan tempat mengukus thiwul. Yang unik dari usaha Yu Tum adalah penggunaan “luweng” (tungku) tradisional dan kayu bakar.
Gathot dan Thiwul yang sudah matang dan siap disajikan.
Kiri : Kelapa dikikir lebih dulu kulit luarnya
Kanan : Setelah dikikir, kelapa diparut kemudian diratakan dengan garam secukupnya.
Gathot dan Thiwul bisa dibeli masing-masing satu besek atau masing-masing setengah. Harganya Rp 12ribu per besek.

—————

Kandungan Gizi Thiwul dan Gathot

Menurut Guru Besar Ilmu Gizi Institut IPB, Prof Ahmad Sulaiman, Kandungan asam amino atau protein dalam gatot lebih besar daripada pada thiwul, karena keberadaan jamur setelah fermentasi.

Singkong atau ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu sumber karbohidrat lokal Indonesia yang menduduki urutan ketiga terbesar setelah padi dan jagung. Tanaman ini merupakan bahan baku yang paling potensial untuk diolah menjadi tepung.

Singkong segar mempunyai komposisi kimiawi terdiri dari kadar air sekitar 60%, pati 35%, serat kasar 2,5%, kadar protein 1%, kadar lemak, 0,5% dan kadar abu 1%, karenanya merupakan sumber karbohidrat dan serat makanan, namun sedikit kandungan zat gizi seperti protein.

Berikut tabel kandungan gizi singkong :

/salam singkong

sumber :

http://www.litbang.deptan.go.id/download/one/104/file/Manfaat-Singkong.pdf

Ibu Bidan Tak Hanya Urus Air Ketuban

Jangan sekali-kali meremehkan ibu bidan, apalagi ibu bidan yang satu ini. Berbagai penghargaan telah ia terima, dan berkat jasanya pula warga Desa Sambirejo, Gunungkidul mendapatkan akses air bersih.

Daerah Gunungkidul dulu sempat mengalami kekeringan yang cukup parah. Untuk mendapatkan air, warga Desa Sambirejo harus mengambil air dari sumber air terdekat yang jaraknya sekitar 2km ke arah gunung.

Sebelumnya warga menggantungkan harapan pada sendang (mata air) yang berlokasi di dalam kampung. Tetapi, entah kenapa setelah gempa Jogja 2006 lalu, air tidak mengucur lagi ke dalam sendang. Saat ini sendang berfungsi seperti sumur tadah hujan saja.

Sendang Sambirejo

Maka, tidak ada pilihan selain mengambil air dari sumber air yang jauh itu. Bukan cuma mesti jalan jauh, sampai di lokasi warga mesti antri kembali. Memang, pada akhirnya setiap warga akan mendapatkan jatah air, tetapi tidak jarang terjadi adu mulut saat mengantri.

“Iya, namanya juga sudah jalan jauh, mengantri dari jam 1-2 pagi, lalu misalnya ada yang ‘nyelak’ antrian, bisa ribut,” demikian Bidan Liestiyani Ritawati mengenang. Belum lagi jika harus mengantri air pada Bulan Ramadhan. Warga, kata dia, bukannya pendekatan pada Allah, malahan pendekatan pada AIR.

Keprihatinan Bidan Listi, demikian ia biasa dipanggil, bermula saat ia harus membantu persalinan. Proses persalinan membutuhkan air bersih agar kemungkinan terjadinya infeksi bisa diminimalkan. Bayi yang baru lahir mesti segera dibersihkan, begitu pula dengan ibu yang baru melahirkan. Tak jarang, Bidan Listi menggunakan air untuk keperluan pribadi keluarganya.

“Anak saya ke sekolah gak mandi, karena airnya saya pakai. Untung saja teman-temannya gak kebauan. Mungkin alam sudah menyatu dengan warga Sambirejo,” ujar dia terkikik.

Rumah Bidan Listi, bersebelahan dengan klinik dan sumur bor.

Ia juga mencemaskan ibu hamil yang mesti mengangkat air. “Kalau jatuh gimana, malah bahaya untuk ibu dan bayinya. Anak juga, kalau makanannya kotor nanti diare, kurus, berat badannya turun terus, malah jadi gizi buruk.”

Bidan Listi bukan warga asli Sambirejo. Ia warga Temanggung yang pindah karena tuntutan profesi.  Di Temanggung, kata dia, air berlimpah.

Wajar saja Ibu Bidan jadi frustasi, “selama empat tahun saya merasakan kekeringan, rasanya mau nangis saja,” katanya lagi. Suami Bidan Listi, Bapak Hasyim, untung saja terus menguatkan hati Ibu Bidan.

Awalnya Bidan Listi sudah mengebor air menggunakan biaya pribadi. Total dana yang dihabiskan sudah mencapai Rp 4juta dan dalamnya sumur sudah mencapai 4 meter. Tapi sayang, tidak ada air disana. Kondisi tanah Gunungkidul mengharuskan Bidan Listi mengebor jauh lebih dalam lagi, tetapi kondisi finansial saat itu sama sekali tidak memungkinkan.

Bermula dari stress kekurangan air itulah Bidan Listi berinisiatif mencari info di internet. Maksudnya, mau mencari dukungan dana.  Kebetulan saat itu Sarihusada sedang membuat program Pos Bhakti Bidan. Program ini merupakan program sosial kerjasama Sarihusada dan Ikatan Bidan Indonesia.

Proposal yang ia ajukan ternyata diterima. Ia sempat bingung dan bertanya mengapa ia bisa berhasil? Sarihusada lalu memberi alasan, ide Bidan Listi diterima karena bermanfaat bagi orang banyak.

—————

Menurunkan Angka Kematian Harus Tau Dasarnya

Bidan Listi mempunya prinsip, apapun yang ia lakukan, mesti tahu dahulu, apa dasarnya. Kesehatan dan gizi yang memburuk tidak cukup ditanggulangi dengan pemberian makanan/gizi seimbang. Harus dilihat juga, apa yang melandasi keadaan itu.

Air.. Air.. Air..

Bidan Listi sangat paham, air adalah sumber utama kehidupan. Proposal sumur bor yang ia ajukan dulu memang hanya mampu mengalirkan air ke 5 rumah saja. Tetapi, sekarang air sudah mengalir langsung ke 157 rumah.

Yang hebat, sudah ada manajemen ala PDAM untuk mengurusi air. Jadi setiap ‘pelanggan’ bisa menggunakan dan membayar sesuai hak dan kewajibannya.

Atas : Kantor PDAM Tirtamukti
Bawah : Mesin dan sumur bor buah gagasan Bidan Listi

Warga yang menggunakan jasa mesti membayar beban sebesar Rp 2500/bulan dan membayar penggunaan air sebesar Rp 2000 per meter kubik. Saat ini, kata Ketua PDAM Bapak Suyadi, warga dengan anggota keluarga di atas 5 orang rata-rata harus membayar Rp 20-25 ribu per bulannya.

“Warga memenuhi kewajibannya, gak ada yang protes. Karena semua sadar, kalau gak ada air itu susah,” kata Bapak Suyadi.

Untuk memenuhi kebutuhan air yang semakin banyak, sumur bor sudah mengalami pendalaman. Awalnya hanya sedalam 80 meter, sekarang sudah 116 meter.  Mati lampu? Jangan kuatir, PDAM  sudah memiliki mesin genset.

Sekarang seperti bunga, nama Bidan Listi begitu harum wanginya di seputaran Gunung Kidul. Prestasinya memberdayakan masyarakat malah sudah mendapatkan penghargaan dari Menko Kesra berupa “GKPM (Gelar Karya Program Masyarakat) Award 2012” untuk CSR Best Practice for MGDs.   

Senior Manajer Corporate Affairs PT Sarihusada, Arif Mujahidin menyerahkan Piagam Penghargaan Anugerah Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat Award kepada Bidan Liestiani Ritawati di Dusun Sambirejo Ngawen Gunung Kidul, Yogyakarta, 2 November 2012.

Bidan Liestiani memperoleh peringkat terbaik kedua tingkat pelaku mitra perusahaan PT Sarihusada.

Cukup air? TIDAK!

Bidan Listi juga mendorong warga sekitar, khususnya ibu-ibu PKK untuk mengembangkan sumber daya pangan lokal. Kalau sudah sejak dulu Gunungkidul punya Gathot dan Thiwul, mungkin nanti ke depannya wilayah ini akan terkenal pula dengan penganan berbahan dasar ketelanya.

Kebun ketela di depan rumah Bidan Listi

Bidan Listi mulai menanam ketela di halaman rumahnya. Ketela ini, kemudian diusahakannya bisa dikonsumsi dengan sebagai makanan yang “berbeda”. Tak lagi goreng/rebus ketela, warga Desa Sambirejo kini sudah mampu menyulap ketela jadi dua macam makanan yang tak cuma cantik, tapi juga lezat.

Ketela dikenal juga sebagai ubi rambat, ubi jalar atau mantang.   Karbohidrat ketela memiliki indeks glisemik 54 (rendah). Artinya, karbohidrat pada ketela tidak mudah diubah menjadi gula, sehingga cocok bagi penderita diabetes. Ketela merah, mengandung serat oligosakarida bertipe larut yang berperan vital untuk menyedot kolesterol “jahat” di dalam darah.

Kemarin, kami peserta jelajah gizi sempat menikmati olahan unik dari ketela, yaitu es krim ketela dan bakpao ketela. Es krim ketela rasanya manis, masih terasa bau umbi ketelanya. Bakpao ketela, yang oleh warga Sambirejo diisi dengan kacang hijau kupas, tak kalah rasanya.

Es Krim Ketela dan Bapao Ketela isi kacang hijau

Ibu Siti, salah satu warga Sambirejo bilang, Bidan Listi ini semacam malaikat. Tak cuma menghilangkan kekuatiran warga yang sedang mengandung atau melahirkan, tetapi juga mampu mengobati kekuatiran saat ada anak/warga yang sakit. “Bidan ajari kami bikin makanan sehat dan bergizi, kami beruntung Bidan Listi mau tinggal disini,” demikian katanya sembari mengucap syukur.

—————

Maka, jangan sekali-kali meremehkan Ibu Bidan Listi. Jangan pernah bilang “bidan itu harusnya mengurusi air ketuban saja”, karena ia akan marah besar.

“Itu keliru”, katanya melotot sambil menahan emosi.

—————

Sore itu, saya meninggalkan warga Sambirejo, Bidan Listi, dan “karya”nya dengan kesadaran penuh, berbuat baik bisa dilakukan asal ada kemauan, cukup kemauan. Ketika kemauan sudah ada, akan ada orang-orang baik di sekeliling dan semesta yang membantu niat itu menjadi kenyataan.

Salam hormat saya pada Ibu Bidan, semoga prestasi dan ide-ide cemerlangnya menyebar serta warga Gunungkidul semakin jaya dan makmur.

/salam