Tag Archives: kereta api

32 Jam di Perut Matarmaja

Liburan bareng Embun itu menyenangkan, anaknya santai,  mudah adaptasi, dan ga pernah kehabisan bahan cerita. Sepanjang jalan Jakarta – Malang – Jakarta, walaupun liburannya cuma berdua, rasanya tetap rame karena anaknya tuh berhenti ngomong kalau lagi tidur dan yutuban aja. ^^

Continue reading 32 Jam di Perut Matarmaja

Traveling ke Surabaya: Bisa Transit Bandung dengan Kereta Lanjutan

Kota Surabaya masih menjadi kota terbesar kedua di Indonesia. Perkembangan kotanya yang pesat dikuti juga dengan upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk meningkatkan minat wisata ke Kota Pahlawan ini. Tahun lalu melalui melalui Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH), Pemkot Surabaya mulai membangun taman sebanyak 28 titik yang tersebar di seluruh Surabaya.

Taman Bungkul Surabaya

Continue reading Traveling ke Surabaya: Bisa Transit Bandung dengan Kereta Lanjutan

Rupa Rupa Manusia Kereta

gambar dipinjam dari sini

Saya tidak bercerita tentang rupa-rupa manusia kereta yang biasa, tapi saya bercerita tentang rupa-rupa manusia kereta yang harus memberikan nyaman kursinya pada penumpang prioritas kereta :

  • ibu dengan anak kecil;
  • manusia hamil;
  • manusia lanjut usia; dan
  • manusia penyandang cacat.

Pengamatan saya menunjukkan manusia kereta berjenis kelamin laki-laki lebih mudah memberikan kursinya untuk 4 jenis manusia kereta di atas. Entah karena malu pada perempuan sekitar atau memang nyatanya rela, saya tidak tahu.

Manusia kereta perempuan biasanya melakukan tindakan seperti ini

  • Diam saja
  • Pura-pura membaca
  • Pura-pura tidak tahu
  • Memandang-mandangi manusia kereta laki-laki di sebelahnya, kemudian meminta si laki-laki memberikan kursinya

Oh iya, gerbong perempuan di kereta itu sama sekali tidak ramah perempuan hamil. Tidak ada satupun perempuan di gerbong perempuan yang pernah memberikan saya tempat duduk. Reaksi umum yang saya terima biasanya, “Ke gerbong campur aja mbak, minta tempat duduk sama laki-laki,” begitu kira-kira.

Tapi tidak semua manusia kereta perempuan seperti itu, sama halnya dengan tidak semua manusia kereta laki-laki rela dan baik hati.

Manusia kereta laki-laki biasanya

  • Pura-pura tidur
  • Pura-pura membaca koran
  • Pura-pura bermain telepon genggam (sambil menunduk dalam-dalam

Pernah, pada satu kesempatan saya bertemu manusia kereta perempuan berhijab lebar, dijemarinya ada buku kecil alma’tsurat (kumpulan surat pendek yang diambil dari Al Quran), lalu disebelahnya ada laki-laki berkopiah, sibuk membaca koran. Saya merasa senang sekali, saya berpikir manusia-manusia dengan baju agama itu adalah manusia baik hati, saya pasti akan mendapatkan hak saya.

Tapi, Si perempuan melihat perut saya sekilas saja, lalu kembali menekuri buku kecil, 5 lalu 10 menit kemudian tidak ada tanda-tanda dari si perempuan untuk memberikan kursinya pada saya.

Hal yang sama terjadi pada laki-laki berkopiah, Ia santai saja membalik korannya dari muka ke belakang. 15 menit berlalu, manusia kopiah terlihat gelisah, mungkin (hanya mungkin) ia baru melihat ada manusia hamil di depannya. Lalu dengan wajah terpaksa, sedikit mendengus ia memberikan kursinya pada saya.

Kali lain, saya dengan perut yang membelendung berjalan ke peron, menunggu kereta yang sesaat lagi akan tiba. Manusia peron laki-laki yang sedang duduk di kursi tunggu tiba-tiba berdiri, memberikan kursinya pada saya tanpa saya minta. Hanya satu kali itu saja saya mendapatkan tempat duduk di peron, sisanya? saya musti berdiri hingga kereta masuk stasiun. Memang tidak ada bangku prioritas di peron stasiun, jadi ya dinikmati saja.

Oh iya, biasanya kalau penumpang lain tidak memberikan hak saya, saya akan meminta. Selama ini saya meminta pada mereka yang duduk di depan saya, “Mas, boleh tempat duduknya untuk saya.” Reaksinya macam-macam, ada yang buru-buru berdiri sambil minta maaf, ada yang memelototi, ada yang misuh-misuh, ada yang senyum. Apapun reaksinya, ya saya duduk saja. 😀

Pada bulan-bulan akhir kehamilan, sulit untuk saya berdiri dalam waktu lama, pernah satu saat saya mesti berdiri sepanjang perjalanan, saat itu saya mesti bertahan dengan keringat dingin, pandangan mengabur, lemas, dan kelelahan.

*kalau ada diantara kalian yang pernah diminta kursinya untuk penumpang prioritas, bagaimana reaksi Anda?

/Salam kereta!

Dua Jantan di Pagi Hari

Menengok jantan-jantan di kereta api super cepat tadi pagi.
Berbaju rapi, sepatu cling hingga bisa dibuat mematut pipi, tas tenteng hitam, coklat, biru, dan tentu saja wangi

Disampingku ada dua jantan lagi, tampan.. ahh rezeki..

Tapi, di dadanya kulihat ada jemari mengelilingi.
Kutelusuri sambil sembunyi, rupanya itu milik si jantan tampan yang satu lagi.

Mereka, berpeluk di pagi hari.  Aku iri.mereka