Tag Archives: kopi

Harum Kopi dan Hangat di Hati

Harum yang menyenangkan menguar ke udara saat puluhan barista menyeduh dan menghidangkan bergelas-gelas kopi tanpa berhenti di Stasiun Gambir, pekan lalu.

Gelas pertama saya hari itu tandas tak sampai lima menit. Usai menenggak kopi, rasanya duhhh, semua syaraf yang tadi masih males-malesan mendadak kebangun serempak. Terpujilah babang barista yang sudah bikinkan kopinya buat saya. 🙂

Suka kopi? Saya juga….
Karena itu ajakan untuk ikut hore-hore di acara minum kopi langsung saya iyakan hanya eberapa detik setelah teman saja mengajak. Sebagai peminum kopi reguler, bisa mencoba sekian judul kopi dari banyak booth jadi semacam pesta!

Tak hanya di Stasiun Gambir, kopi-kopi dalam gelas kertas dihidangkan juga di 17 stasiun dan 36 kereta dalam gelaran Ngopi Bareng KAI. Bukan kopi instan, tapi kopi yang diseduh langsung oleh para barista. Momennya mirip-miriplah dengan menikmati pesanan kopi single origin di warung kopi terkemuka. Bedanya, di stasiun kopinya bisa dinikmati tanpa membayar.

Gelaran ngopi kali ini sudah masuk ke episode 3. Pengalaman pada episode 1 dan 2 tahun lalu yang sukses besar, membuat KAI dan Komunitas Kopi Nusantara menghelat kembali Event Ngopi Bareng KAI #3. Kali ini tema yang diusung bertajuk Enjoy Your Journey With Indonesian Coffee.

Sepanjang event pada 11-12 Maret 2019 lalu, KAI menyiapkan total 50.000 cup kopi di 17 stasiun yaitu Stasiun LRT Bumi Sriwijaya, Palembang, Gambir, Pasar Senen, Bandung, Cirebon, Semarang Tawang, Purwokerto, Yogyakarta, Solo Balapan, Madiun, Surabaya Gubeng, Surabaya Pasarturi, Malang, Jember, Medan, Padang, dan Tanjung Karang.

Selain di stasiun, kopi seduhan para barista juga bisa dinikmati langsung di 36 perjalanan kereta api. Penumpang yang ingin menjajal kopi enak nusantara hanya perlu mampir ke kereta restorasi dan menunjukkan bukti download aplikasi KAI Access. Tidak ada batasan minum berapa gelas. Kalau satu dirasa kurang, tinggal minta tambah lagi sampai kenyang!

Saya beruntung bisa mencicip kopi nusantara di Stasiun Gambir, Stasiun Tugu, dan KA Taksana secara langsung! Di Gambir, saya menjajal kopi bikinan @gregah_coffee, @mainichicoffee1, @buls.coffee, @kopidulurcianjur, @twomencoffeehouse, @jungcoffee, dan @kopijadi.

Selain akun-akun Instagram kopi yang saya sebutkan barusan, tentu masih banyak lagi booth kopi yang lain. Sayang karena buru-buru hendak naik kereta Taksaka bersama dua barista dari @nutucoffee saya tak sempat coba semua.

Wangi kopi terus menemani saya sepanjang perjalanan Jakarta – Jogja – Jakarta dengan kereta Taksaka. Di kereta restorasi, @mezr_ dan @diarr.shan langsung sibuk menata botol, kemasan biji kopi, gelas, dan peralatan seduh. Pelanggan pertama mereka adalah mas-mas manis berjaket merah, @vincentiuskristanto.


Setelah mas-mas berjaket merah jangan sampai lepas, penumpang terus hilir-mudik mampir ke meja kopi. Ada yang hanya lihat-lihat saja dan ada yang mengambil segelas kopi lalu kembali ke kursi.

Selain dua golongan di atas, ada lagi penumpang yang sengaja nongkrong lama di kereta restorasi. Agaknya, seperti saya, mereka juga menikmati harum yang terbang-terbang setiap kali barista mencucurkan air ke bubuk kopi. Kalimat demi kalimat dan kartu nama dipertukarkan. beberapa jatuh cinta dan membeli biji kopi Gayo yang dipajang dalam kemasan 100 gram.

Sejatinya acara Ngopi Bareng KAI ini bukan hanya pesta hura-hura bergelimang kopi, tapi sekaligus jadi ajang memperkenalkan kopi lokal nusantara ke masyarakat yang lebih luas. Penggemar kopi bahagia, yang belum jadi penggemar bisa kenalan lebih dulu. 🙂

Dalam gelaran ini, tak hanya penumpang kereta yang kebagian kopi gratis. Saat kereta melaju kencang dan penumpang sudah nyaman, kondektur dan polisi kereta juga menikmati saat-saat santai mereka di kereta restorasi.

Dua hari penuh, 200 barista, 17 stasiun, dan 36 perjalanan kereta menjadi saksi acara yang dilangsungkan dengan niat baik ini. Ngopi Bareng KAI menjadi jalan untuk mengenalkan kopi nusantara dan membuka peluang bisnis bagi para pemilik usaha kopi dalam negeri.

Menyeduh kopi adalah pekerjaan panjang. Kesabaran dibutuhkan untuk menunggui tetes demi tetesnya yang jatuh. Untuk penggemarnya, hal yang demikian adalah bagian dari seni dan membuat tiap sesap kopi lebih bermakna.

Untuk saya, kopi adalah kenangan, soal bangun pagi, soal hidup, dan orang-orang yang saya temui di perjalanan.

/salam ngopi

#Review Nescafe Classic First Harvest

Saat ini saya masih tergabung dalam jamaah kopi instan. Ada rasa penasaran juga dengan “kepuasan” yang jamaah masak dan giling kopi sendiri rasakan, tapi saat ini saya masih pikir-pikir untuk bergabung. ^^

Dibanding tinggal menyeduh, tentu saja proses roasting dan menggiling biji kopi lebih kedengaran seksi, yah. 🙂
Tapi, kopi instan menang di sisi praktis dan hemat waktu, plus juga lebih murah. 🙂  Continue reading #Review Nescafe Classic First Harvest



Kopi, Jalan Panjang Sebelum Terhidang

I don’t know how people live without coffee, I really don’t. ~ Martha Quinn

————————————-

Saya suka kopi dan penikmat kopi instan. Saya menyesapnya tanpa batasan waktu. Tak mesti pagi saat bangun atau malam sebelum tidur.

Teman kopi tak harus sekeping kraker manis, bersama saya kopi bisa berteman baik dengan nasi goreng, tongseng, mie ayam, atau menu lainnya. Jenis kopinya tak penting, mau coklat atau hitam pekat, semua bablas lewat tenggorokan.   Continue reading Kopi, Jalan Panjang Sebelum Terhidang

Nostalgia

“Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart.” 
― 
Haruki MurakamiKafka on the Shore

Hampir satu bulan di Medan, baru di minggu terakhir saya memanfaatkan waktu dengan tujuan khusus, nostalgia.

Mencoba semuanya persis sama seperti dulu. Angkutan umum, celoteh anak sekolahan, inang-inang dengan belanjaan. Bapak-bapak perokok dengan dua kancing kemeja terbuka, klakson ribut, sopir yang ugal-ugalan.  Continue reading Nostalgia

#DiBalikSecangkirKopi – Mamak dan Kopi

Saya selalu mengandalkan kopi pada masa-masa genting kehidupan.

Mamak menyeduhkan saya kopi sewaktu bermalam-malam begadang menuju ujian masuk perguruan tinggi negeri. Saya belajar bukan main tekunnya karena semata-mata tidak ada pilihan lain selain lulus.  Mamak bilang tak ada dana untuk menguliahkan saya di kampus swasta.  Dulu, uang kuliah di kampus negeri memang jauh lebih murah, saya hanya membayar 300-an ribu rupiah per semester.  Continue reading #DiBalikSecangkirKopi – Mamak dan Kopi