Tag Archives: pendidikan

Pendidikan Tak Terbatas Teks

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” 
― Nelson Mandela

Hari ini lagi pingin nulis soal pendidikan, soalnya pas banget momennya.

Kebetulan yang pertama adalah sekarang saya lagi sibuk cari sekolah yang pas buat Embun, Juli nanti dia udah waktunya masuk TK.  Dan, kebetulan yang kedua adalah saya baru aja diundang jalan bareng di Media & Bloggers Getaway Putera Sampoerna Foundation pertengahan bulan kemarin.
Ada sekitar 20-an peserta yang diundang buat jalan-jalan plus sharing soal pendidikan.  Continue reading Pendidikan Tak Terbatas Teks

Pendidikan, Dalam Ingatan Saya

Cerita tentang pendidikan, tak akan ada habisnya. Setiap orang punya argumentasi masing-masing. Bisa berbeda, atau sangat berbeda.  Bisa mirip, ataupun serupa.

Keluarga suami saya, misalnya, menganggap pendidikan berbasis pesantren adalah pendidikan yang paling baik. Si murid ditempa sejak pagi hingga pagi lagi, berbulan, lalu bertahun lamanya. Bukan cuma pelajaran dasar yang nantinya akan dijadikan bahan ujian, tetapi juga pendidikan akhlak, pendidikan agama. Lulusan pesantren, diharapkan bukan hanya pintar tetapi juga baik perangai dan tingkah lakunya.

Lain lagi dengan keluarga saya, kami menganggap pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bisa mengantarkan si muridnya mendapatkan pekerjaan, selekas mungkin. Kalau bisa, hari ini diwisuda, besoknya sudah masuk kerja. Pendidikan yang jadi pilihan adalah pendidikan kejuruan. “Percuma sekolah tinggi kalau otaknya tidak mampu, lebih baik masuk sekolah kejuruan, bisa langsung cari kerja,” demikian ibu saya bertutur.

Kehendak ibu saya, kebetulan tidak berlaku mutlak untuk saya. Saya, pada saat itu dianggap rajin belajar dan diramalkan memiliki masa depan cerah. Masa depan cerah dalam pikiran ibu saya adalah “karyawan bank atau pegawai negeri sipil”. Karena dirasa pintar, saya dibebaskan memilih sekolah, jurusan, dan kampus untuk kuliah.

Pendidikan yang selama ini saya kenal adalah pendidikannya sekolah negeri. Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Umum, dan Universitas saya habiskan di lembaga bersubsidi. Biaya pendidikan yang murah menjadi pertimbangan orangtua saya saat memilih sekolah untuk anaknya.

Apa yang saya ingat dari sekolah? Hampir tidak ada, kecuali ejekan serupa bullying dan pukulan maut penggarisnya papan tulis saat SD, coret-coretan cinta monyet saat SMP, dan belajar mati-matian supaya bisa masuk universitas negeri saat SMU.

Kenangan manis mungkin pernah mampir dalam hidup saya. Sayangnya kenangan tersebut tidak tinggal lama, dan terlupa sama sekali. Sekolah sama sekali tidak menyenangkan. Isi sekolah kebanyakan adalah hapalan, PR, hukuman, upacara, dan bersih-bersih kelas. Sekolah sama sekali, tidak menyenangkan. Pendidikan dalam ingatan saya adalah tekanan, hukuman, dan cara mudah untuk keluar dari rumah (tanpa terlihat nakal).

Pendidikan dalam ingatan saya adalah, duduk manis, diam rapi, tanpa suara, mendengarkan guru berbicara sekian menit, lalu mengeluarkan buku latihan. Mengerjakan tugas latihan sekian menit, lalu membawa pulang pekerjaan rumah sekian halaman. Ekspresi tidaklah haram, tetapi tidak berekspresi akan lebih baik.

Pintar atau tidaknya murid, akan dinilai dari daftar hadir, tata krama saat di sekolah, nilai latihan soal, nilai ulangan harian, dan nilai ulangan umum. Jadikan satu, jika sempurna, maka akan jadi murid idola. Semakin murid tidak menyusahkan, akan semakin baik nilainya di mata guru.

Sekolah memang menyediakan sarana menghabiskan energi muda lewat ekstrakurikuler. Tetapi apalah artinya pandai main basket/juara cheerleaders kalau nilai sekolahnya lima? 😀

To Be, or Not To Be, pilihan yang harus diambil pelajar manapun. Dedikasikan waktu untuk belajar sepenuh hatimu, usah hiraukan gejolak masa muda dan ribuan pertanyaan yang datang. Cukup ambil buku pelajaran dan hapalkan, atau latihan mengerjakan soal sebanyak mungkin. Saat masuk ujian universitas, kamu tidak akan ditanya “Apa cita-citamu,” tetapi “Kerjakan soal No 1-40, waktu 90 menit”.

Entah memang hanya di sekolah saya, atau se-Indonesia, saya kurang tau juga.

Jadi, pendidikan seperti apa sih yang saya harapkan? Pendidikan yang membebaskan, memberi keleluasaan bagi muridnya untuk memilih, jalan mana yang akan dia tapaki nanti. Entah itu jalan menari, jalan melukis, jalan laboratorium, jalan pidato, ataupun jalan lainnya. Saya pikir, sudah selesai masanya semua murid harus serupa pintar semua mata pelajaran.

Sekolah dan orangtua harusnya bisa menjadi fasilitator, berikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang, menemukan minat sejak dini, supaya ketika nanti kembangnya mekar, si murid tidak lagi bertanya, “mau jadi apa saya ini.”

Apakah, saya muluk-muluk?