Tag Archives: puisi

Tentang “Rapuh” dan “Sunyi”

Sebelum baca tulisannya sampai selesai, saya mau kasitau kalau ini bukan tulisan galau dan patah hati. Ini tulisan yang saya bikin karena beberapa kali saya ditertawakan teman, saat menggunakan dua kata ini, “rapuh” dan “sunyi” dalam kalimat.

Rapuh dan Sunyi adalah dua dari beberapa kata yang amat biasa didendangkan di kampung saya, Sumatera Utara, sana. Tetapi sepertinya agak aneh di telinga teman-teman saya di Jakarta.  Continue reading Tentang “Rapuh” dan “Sunyi”

Harusnya Cinta

Harusnya cinta merah jambu
Tapi mengapa
Aku kelabu.

Harusnya cinta indah
Tapi mengapa
Aku gelisah.

Harusnya cinta ramah
Tapi mengapa
Aku berdarah.

Harusnya cinta melindungi
Tapi mengapa
Aku sepi.

Harusnya cinta nyaman
Tapi mengapa
Aku tertekan.

Harusnya cinta memahami
Tapi mengapa
Aku sendiri.

Harusnya cinta menyembuhkan
Tapi mengapa
Aku sakit bukan kepalang

Harusnya cinta selalu ada
Tapi mengapa
Aku menunggu tanpa jeda.

Harusnya cinta menemani
Tapi mengapa
Kamu
pergi.

/Jakarta-april2010

Setengah Hati

Kau mencintaiku? Aku tahu. Tapi seberapa besar? Aku tak tahu.

Setahuku, saat mengunyah cintamu, aku harus berbagi dengan ratusan mimpi di otakmu dan janji yang diucapkan mulutmu.

Saat lelapmu, dunia lain datang merenggut.
Meninggalkanku sendirian yang masih nyalang menatap malam.

Kala lain, memang ada kulit bibir menempel, ada kulit tubuh menggesek, jemari menali.
Saat itu, ragamu memang bersamaku, tapi aku hampir yakin hanya setengah hatimu saja yang kau sisakan untukku…

aksara mencari cinta

mencari cinta

Aksara berarak, berjalan pelan, membuka buku, mencari petunjuk.lantas lihat kiri, lihat kanan, diam-diam membentuk kata,

Tapi bentukan tak selesai sepenuhnya, ada yang kurang, terasa timpang.

Aksara kembali berjalan lagi, kali ini ada yang membisiki, katanya kali ini harus lebih cepat, aksara nunut, tak peduli meski langkahnya menyakiti.

Toh, aksara merasa belum mampu membentuk kata, “sedikit lagi” katanya, meminta pengertian pada semua.

Kali lain, ada yang menyikut. Bilang kalau aksara harus ngebut. Serupa motor, aksara pasang gigi empat. Dia berharap bisa jalan lebih cepat.

Tapi perjalanan malah tersendat, karena aksara banyak nabrak. Aksara mesti banyak berhenti untuk minta maaf pada orang-orang yang mengumpat.

Aksara bingung, terduduk sendirian, meratap. Dia telah mencoba banyak jalan, semestinya salah satu diantaranya berhasil bukan?

Belakangan, setelah diam sejenak, aksara menyadari.  Jalan pelan, bergegas, hingga menjatuhkan orang tak akan ada guna.

Karena, tak ada rumus sempurna, untuk membentuk kata cinta.

/re

Puisi Perpisahan

Sahabat, waktu telah mengantarkan kita pada satu titik pemahaman
bahwa di dunia ini tak ada yg abadi

Kini saatnya kita harus berjalan sendiri
Melangkah mengikuti takdir yang telah tergariskan
Dalam ruang dan waktu yang berbeda
Ketika kebersamaan menjadi langka
Ketika canda tawa begitu berharga

Sahabat, semoga waktu tak membuat kita lupa
Bahwa kita pernah ada
Pernah punya cerita
Sahabat, abadilah tercipta lebih dari cinta

/puisi perpisahan dari Danni, pustakawan Tempo yang baik hati..