Tag Archives: sakit

Kalau Anak Sakit

Kalau anak sakit, kepala sampai kaki rasanya ikut lemas. Tak tega rasanya melihat si anak berjuang melawan sakitnya. Rasanya, kalau bisa, pingin minta sama tuhan supaya sakitnya si anak dipindahkan saja ke saya.

Jadi, setelah semalaman tak tenang melihat si bayi muntah dan diare terus-terusan, pagi-nya saya bawa dia ke dokter.

Dari omong-omong hampir setengah jam, kurang lebih dokternya mendiagnosis bayinya kena GE (Gastroenteritis acute). Dokter berharap saya tenang, terus perhatikan asupan cairan dan tanda-tanda kegawatdaruratan pada si anak. Tanda-tanda kegawatdaruratan itu merupakan petunjuk buat saya untuk segera membawa si anak ke rumah sakit (lagi).

Sementara saya hanya diminta observasi, menghitung asupan masuk, memperhatikan asupan keluar dan mengusahakan pengganti cairan tubuh (oralit) bisa masuk ke badannya si anak.

Oh iya, saya juga diminta untuk memperhatikan plan A dan plan B dari WHO untuk kasus acute gastroenteritis ini.

Sekarang anaknya masih lemes, ibunya apalagi.

Dia harus sembuh, dia pasti sembuh.

/salam emak risau

 

Flu Singapura aka Hand Foot Mouth Disease (HFMD)

Bayi, mulai lahir sampai usia 5 tahun, kata-katanya memang gampang sakit. Batuk, pilek, demam, meler, diare, muntah, itu biasa. Tapi, biar sudah seribu kali saya membaca, tetap saja saya akan risau bin galau saat si bayi tergeletak tak berdaya, meracau tak henti, tak mau lepas-nempel di bahu saya bak lem.

Saya patah hati.

Kronologisnya begini, Senin siang saya mengajak serta si bayi ke rumah sakit, menemani bapaknya yang harus rontgen kaki, konsultasi dokter+fisioterapi. Bapaknya si bayi pertengahan bulan lalu kecelakaan, dan kakinya patah. Sudah operasi dan pasang pen sementara, menunggu tulang yang patah menyatu kembali.

Saat menunggui bapaknya itu, badan si bayi mulai hangat. Saya sebenarnya sungguh mengerti sebaiknya tidak membawa bayi sehat ke rumah sakit, karena akan mudah terpapar penyakit yang dibawa pasien lainnya. Tapi, karena satu dan lain hal, si bayi terpaksa saya bawa.

Menjelang sore, badan makin panas. Saya minta tolong suster jaga mengukur suhu si bayi, 39 derajat celcius lewat telinga. Saya sontak kaget, lalu si bayi diukur kembali suhunya lewat termometer ketiak, 38 derajat celcius. Saya agak lega.

Tiba di rumah, si bayi tampak lemas, berjalan tertatih, kebanyakan duduk, suhu badan makin tinggi. Lewat 38,3 derajat celcius, saya meminumkan paracetamol sirup untuk meredakan rasa tidak nyamannya. Suhu sedikit turun, dan si bayi terlihat mau beraktivitas kembali.

Sejak pagi si bayi makan sedikit sekali, sekitar dua suap sekali makan. Sisanya, sepanjang hari dia hanya minum asi saja, langsung dari gentongnya.

Dua-tiga jam sejak minum obat pertama, suhu kembali naik. Kali ini suhunya mencapai 39,3 derajat celcius. Bayi rewel dan lemas. Saya terus memberi asi sembari mengecek frekuensi buang air kecilnya. Alhamdulillah, popok si bayi selalu basah setiap kurang dari enam jam. Observasi dan pencegahan dehidrasi terus dilakukan, sembari mengecek tanda-tanda kegawatdaruratan.

Alhamdulillah tanda gawat darurat seperti, mata cekung, tidak pipis lebih dari enam jam, susah dibangunkan, sesak napas, kejang, muntah/diare terus menerus- tidak terjadi. Saya bertahan tidak berangkat ke rumah sakit.

Sebenarnya akan lebih mudah untuk saya dan suami membawa si bayi ke rumah sakit, antarkan ke UGD, lalu rawat inap. Tapi, nanti saya dan suami tak tambah ilmu, menyerahkan semuanya pada dokter/suster. Tak tahu penyakit, tak tahu penanganan, dan si bayi rentan overtreatment.

Sepanjang malam si bayi saya kompres dengan air hangat.

demam tinggi, kompres air hangat

Saya memakaikan baju longgar dan celana pendek, plus menjaga suhu kamar agar tidak panas-tapi tidak pula terlalu dingin. Jelang tengah malam, paracetamol kedua saya berikan kembali. Si bayi sempat tertidur, bangun, tertidur, bangun, masih rewel tapi suhu mulai normal.

Ada beberapa gelembung isi air di kulit si bayi, saya curiga cacar air. Tetapi, saat usia 6 bulan si bayi sudah pernah terkena. Apa cacar air bisa berulang? *bingung. Konsultasi pada seorang teman, mbak @sisilmahadaya, terus saya lakukan sembari terus belajar, buka buku, browsing web. Belakangan mbak sisil menunjukkan jalan yang terang benderang. “Yakin cacar, bukan hfmd? coba browsing dulu apa gejalanya sama?”

Berdasarkan web milis sehat halaman ini , hfmd bisa bergejala dan bisa juga tidak, kadang orangtua tidak bisa mendeteksi karena si anak hanya luka di tenggorokan. Bagi penderita yang bergejala, bisa cek lepuh di sekitar mulut, gusi, pipi bagian dalam, atau langit-langit. Kadang lepuh berisi cairan itu ada di beberapa bagian tubuh lain. Gejala lainnya adalah demam, rewel. tidur terus menerus, dan mengences.

Penampakan si bayi

bintik merah di sekitar mulut dan pipi bagian dalam
Lepuh Kaki, Tangan, Mulut

Tidak ada penanganan medis yang bisa menyembuhkan flu singapur aka Hand Foot Mouth Disease ini. Penyakit akan sembuh dengan sendirinya sesuai perjalanannya. Jadi, obatnya ya cuma sabar, tenang, dan tidak panik. 😀

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang sangat menular, walaupun biasanya tidak berat, yaitu coxsackievirus & enterovirus. Virus ini hidup di saluran cerna manusia dan biasanya menyebar lewat tangan yang tidak dicuci atau permukaan yang terkontaminasi feses. Anak usia 1-4 tahun paling rentan terkena penyakit ini.

Supaya tidak terkena? biasakan mencuci tangan.

Sampai saat ini, observasi terus saya lakukan, demam sudah mulai reda, tetapi nafsu makan/keinginan mengunyah si bayi sama sekali hilang. Kalau sudah begini, giliran saya putar otak, membuat makanan yang bergizi dan gampang dikunyah si bayi.

Semangaaatttt!