Tag Archives: sampoerna school education

Guru Jaman Sekarang, Senjatanya Kasih Sayang

Guru – jika ingin disegani, dihormati, dan didengarkan perkataannya – menurut saya tidak perlu galak. Ada banyak cara lainnya, semisal: pintar, mau mendengarkan murid, atau pandai menjaga bicara. Guru yang pintar memaki atau memukul, sudah tidak jamannya lagi. Sudah lewat masanya penggaris jadi senjata untuk memukul, dan kapur tulis dilempar jauh sampai mengenai murid. Hukuman tidak membuat jera, tapi membawa luka.

Ada yang pernah punya pengalaman dipukul guru?

Saya pernah. Walaupun hanya di tangan dan tidak meninggalkan bekas di kulit, tetapi pengalaman tersebut membekas selamanya, di hati saya.  Memori yang jelek, ya.

Beda dengan guru jaman sekarang, berlomba mengukir prestasi. Bisa lewat event olimpiade, kontes seni daerah, ataupun olahraga.

Kali ini saya ingin cerita tentang adik saya, yang seorang guru pendidikan jasmani di SMU 6 Bandar Lampung. Sejak kecil adik saya ini, namanya Maya Octa Sari, memang punya bakat adu jotos. Laki-laki atau perempuan, jangan berani menganggu, siap saja ditunggu si adik pulang sekolah. Panggilan untuk orangtua dari sekolah datang bukan sekali atau dua kali, tetapi si adik selalu mampu berkelit. Perkelahian, kata dia, terjadi bukan karena dia yang memulai. Dia hanya berusaha membela diri, demikian si adik berargumen.

Titik balik kehidupan si adik bermula saat dia mengenal ekstrakurikuler taekwondo. Energi berlebih yang dia punya akhirnya bisa tersalurkan dengan kegiatan yang baik. Prestasi demi prestasi dia torehkan,  bahkan beberapa kali mewakili daerah Lampung untuk event olahraga nasional. Belakangan si adik mulai menekuni Olahraga Gulat. Olahraga ini pula yang membawanya menjadi utusan Lampung pada Pekan Olahraga Nasional di Kalimantan Timur,  2008 lalu. Saat masuk universitas, bakat dan prestasi si adik terbukti menyelamatkan. Dia diterima masuk kuliah jurusan ilmu pendidikan lewat program Penelusuran Minat Dan Bakat (PMDK).

Perjalanan panjang dilalui si adik sampai akhirnya dia diterima menjadi guru pegawai negeri sipil. Si adik lekas saja melihat potensi luar biasa di sekolah tempat dia mengajar, hanya saja potensi itu belum dikembangkan. Rasa gemas melingkupi batinnya. “Saya harus bisa bisa membuat perubahan,” begitu tekadnya.

Sebagai seorang guru muda, yang penuh bakat dan prestasi, wajar saja si adik begitu bersemangat. Menyimak ke belakang, dia adalah siswa yang aktif mengembangkan minat dan bakat, maka hal serupa tentu saja dia inginkan terjadi pada siswa yang ia ajar.

Si adik hampir selalu menggunakan lapangan saat jam mengajarnya dimulai. Berada di luar ruangan setelah seharian belajar di ruangan-dengan bangku tersusun rapi memanjang ke belakang-tentu saja membuat siswa kembali segar dan bersemangat kembali.

Perlahan tapi pasti, siswa yang menjadi tanggung jawabnya mulai menunjukkan prestasi. Piala dari olahraga futsal dan sepakbola sukses dibawa pulang dari beberapa kompetisi tingkat daerah. Bukan hanya disayang sekolah, dia juga disayang siswanya.

Bahkan, begitu disayangnya dia, siswa berani “melampaui” ruang mengajar. Tidak lagi hanya di sekolah, dia dikejar hingga ke rumah. Siswa jatuh sayang, mudah diajar, prestasi diraih. Kurang apa senangnya dia.

Pendidikan yang membebaskan dianut si adik. Siswa dibagi berdasarkan minatnya.  Tidak harus setiap siswa menyukai olahraga renang, dan tidak harus pula setiap siswa gemar permainan bola basket.

Pendidikan yang membahagiakan seperti itu, patutnya bisa berkembang. Guru yang mengajar dengan hati, akan mudah dikenali siswanya. Bahkan pelajaran eksakta pun, harusnya bisa dibungkus menarik, tidak menegangkan.

Siswa yang bahagia akan membawa pengalamannya itu sampai kapanpun. Jika kelak ia memutuskan menjadi pendidik, cara mendidik menyenangkan itulah yang akan dipraktekkannya.  Hal itu terbukti pada adik saya, bukan? Jika kelak dia pindah tugas/mengajar di sekolah lain, kenangan baik akan selalu hadir mengikuti namanya. J

Menurut saya, pendidikan harusnya membahagiakan, bukannya membawa trauma.

/salam untuk pendidik Indonesia

Pendidikan, Dalam Ingatan Saya

Cerita tentang pendidikan, tak akan ada habisnya. Setiap orang punya argumentasi masing-masing. Bisa berbeda, atau sangat berbeda.  Bisa mirip, ataupun serupa.

Keluarga suami saya, misalnya, menganggap pendidikan berbasis pesantren adalah pendidikan yang paling baik. Si murid ditempa sejak pagi hingga pagi lagi, berbulan, lalu bertahun lamanya. Bukan cuma pelajaran dasar yang nantinya akan dijadikan bahan ujian, tetapi juga pendidikan akhlak, pendidikan agama. Lulusan pesantren, diharapkan bukan hanya pintar tetapi juga baik perangai dan tingkah lakunya.

Lain lagi dengan keluarga saya, kami menganggap pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bisa mengantarkan si muridnya mendapatkan pekerjaan, selekas mungkin. Kalau bisa, hari ini diwisuda, besoknya sudah masuk kerja. Pendidikan yang jadi pilihan adalah pendidikan kejuruan. “Percuma sekolah tinggi kalau otaknya tidak mampu, lebih baik masuk sekolah kejuruan, bisa langsung cari kerja,” demikian ibu saya bertutur.

Kehendak ibu saya, kebetulan tidak berlaku mutlak untuk saya. Saya, pada saat itu dianggap rajin belajar dan diramalkan memiliki masa depan cerah. Masa depan cerah dalam pikiran ibu saya adalah “karyawan bank atau pegawai negeri sipil”. Karena dirasa pintar, saya dibebaskan memilih sekolah, jurusan, dan kampus untuk kuliah.

Pendidikan yang selama ini saya kenal adalah pendidikannya sekolah negeri. Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Umum, dan Universitas saya habiskan di lembaga bersubsidi. Biaya pendidikan yang murah menjadi pertimbangan orangtua saya saat memilih sekolah untuk anaknya.

Apa yang saya ingat dari sekolah? Hampir tidak ada, kecuali ejekan serupa bullying dan pukulan maut penggarisnya papan tulis saat SD, coret-coretan cinta monyet saat SMP, dan belajar mati-matian supaya bisa masuk universitas negeri saat SMU.

Kenangan manis mungkin pernah mampir dalam hidup saya. Sayangnya kenangan tersebut tidak tinggal lama, dan terlupa sama sekali. Sekolah sama sekali tidak menyenangkan. Isi sekolah kebanyakan adalah hapalan, PR, hukuman, upacara, dan bersih-bersih kelas. Sekolah sama sekali, tidak menyenangkan. Pendidikan dalam ingatan saya adalah tekanan, hukuman, dan cara mudah untuk keluar dari rumah (tanpa terlihat nakal).

Pendidikan dalam ingatan saya adalah, duduk manis, diam rapi, tanpa suara, mendengarkan guru berbicara sekian menit, lalu mengeluarkan buku latihan. Mengerjakan tugas latihan sekian menit, lalu membawa pulang pekerjaan rumah sekian halaman. Ekspresi tidaklah haram, tetapi tidak berekspresi akan lebih baik.

Pintar atau tidaknya murid, akan dinilai dari daftar hadir, tata krama saat di sekolah, nilai latihan soal, nilai ulangan harian, dan nilai ulangan umum. Jadikan satu, jika sempurna, maka akan jadi murid idola. Semakin murid tidak menyusahkan, akan semakin baik nilainya di mata guru.

Sekolah memang menyediakan sarana menghabiskan energi muda lewat ekstrakurikuler. Tetapi apalah artinya pandai main basket/juara cheerleaders kalau nilai sekolahnya lima? 😀

To Be, or Not To Be, pilihan yang harus diambil pelajar manapun. Dedikasikan waktu untuk belajar sepenuh hatimu, usah hiraukan gejolak masa muda dan ribuan pertanyaan yang datang. Cukup ambil buku pelajaran dan hapalkan, atau latihan mengerjakan soal sebanyak mungkin. Saat masuk ujian universitas, kamu tidak akan ditanya “Apa cita-citamu,” tetapi “Kerjakan soal No 1-40, waktu 90 menit”.

Entah memang hanya di sekolah saya, atau se-Indonesia, saya kurang tau juga.

Jadi, pendidikan seperti apa sih yang saya harapkan? Pendidikan yang membebaskan, memberi keleluasaan bagi muridnya untuk memilih, jalan mana yang akan dia tapaki nanti. Entah itu jalan menari, jalan melukis, jalan laboratorium, jalan pidato, ataupun jalan lainnya. Saya pikir, sudah selesai masanya semua murid harus serupa pintar semua mata pelajaran.

Sekolah dan orangtua harusnya bisa menjadi fasilitator, berikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang, menemukan minat sejak dini, supaya ketika nanti kembangnya mekar, si murid tidak lagi bertanya, “mau jadi apa saya ini.”

Apakah, saya muluk-muluk?