Tag Archives: sarihusada

Hargai Makananmu!

Memang benar apa yang dikatakan orang-orang. “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Untuk saya, ungkapan ini mesti ditambah satu bait lagi. “Tak Kenal Maka Tak Menghargai”.

Adalah thiwul dan gathot, dua jenis pangan berbahan dasar singkong yang membuat saya semakin menghargai makanan. Dulu kala, thiwul dan gathot dikonsumsi warga Gunungkidul sebagai pengganti nasi, tapi sekarang penganan ini lebih sering dinikmati sebagai cemilan saja.

Meski sekarang mulai sulit menemukan penganan ini dijual, Thiwul adalah makanan yang sangat murah, bisa dibeli di Pasar seharga Rp 1000 saja, begitupun dengan gathot.

Harganya yang murah kerap membuat saya memandang sebelah mata. “Beli saja dulu, kalau tidak habis kan tinggal dibuang, toh murah”.

Kalau perbuatan saya ini dilihat oleh Yu Tum (Tumirah), pemilik warung thiwul dan gathot di Gunungkidul, mungkin saya sudah habis diceramahi plus dicubiti.

Pasalnya, bikin thiwul dan gathot itu tak gampang. Butuh kesabaran. Berbeda dengan makanan lain yang bisa “beli bahan pagi sore sudah jadi”, proses pembuatan thiwul dan gathot makan waktu berhari-hari.

—————

BIKIN THIWUL dan GATHOT itu TIDAK MUDAH

Cara Bikin Thiwul

Singkong segar, yang telah dikupas, dijemur sampai kering selama 3-4 hari. Singkong yang telah kering ini dinamakan gaplek. Nah, gaplek ini lalu digiling halus menjadi tepung. Didihkan air dan gula, kemudian dinginkan.

Setelah dingin campuran air+gula tadi dicampurkan dengan tepung singkong dan diaduk rata. Campuran itu kemudian diayak dan diambil butiran halusnya.

Kalau sudah, kukus thiwul mentah tadi selama 15 menit. Kalau sudah matang, angkat, dan sajikan dengan taburan kelapa parut yang sebelumnya sudah dibubuhi garam.

Cara Bikin Gathot

Singkong segar, yang telah dikupas, dilembabkan agar berfermentasi. Proses fermentasi ini dilakukan dengan cara, membasahi singkong dan menutupnya dengan plastik. Singkong dikatakan telah berfermentasi jika jamur yang berwarna kehitaman sudah muncul sampai ke bagian dalam umbi.

Kalau jamurnya sudah muncul, jemur singkong tadi di terik matahari sampai benar-benar kering. Singkong kering berjamur itu disebut gaplek gathotan. Gaplek gathotan kemudian direndam selama 1-2 malam dengan air kapur sirih. Setelah itu, iris kecil-kecil dan bersihkan kembali.

Jika sudah, rendam lagi gaplek gathotan yang sudah berbentuk irisan itu selama 1 malam. Lalu cuci bersih dan kukus selama 2 jam.

Sambil menunggu gaplek matang, cairkan gula merah sampai mendidih dan mengental. Angkat gaplek dari kukusan dan campurkan dengan gula. Aduk rata. Seperti thiwul, gathot akan lebih nikmat dimakan dengan taburan kelapa parut.

—————

Kalau kamu kangen thiwul dan gathot, tapi udah cari-cari, eh tetep aja gak ketemu penampakannya di pasar, silakan mampir ke Warung Yu Tum yang berlokasi di Jalan Pramuka No 36, Wonosari, Jogjakarta.

Yu Tum sudah meramu thiwul dan gathot sejak 1985. Dulu, ia berjualan dengan berkeliling kampung. Lalu pada 2004 lalu, warung pertamanya dibuka. Gathot Thiwul “Yu Tum” demikian warungnya diberi nama.

Saat ini warung Yu Tum bisa menghabiskan 50 kilogram tepung singkong pada hari biasa, dan 70 kilogram tepung pada akhir pekan. Omsetnya juga luar biasa, sekitar 3-4 juta rupiah perharinya.

Oh iya, Yu Tum juga menerima pesanan khusus seperti Thiwul rasa coklat dan keju. Khusus Gathot, selain gathot biasa, ada juga gathot rasa nangka. Karena tidak menggunakan pengawet, penganan ini hanya tahan maksimal dua hari saja.

—————

CARA BIKIN THIWUL dan GHATOT (dalam gambar)

Singkong segar yang telah diproses menjadi “Tepung Singkong” dan “Gaplek Gathotan”
Gaplek Gathotan yang telah direndam dan diiris. Gaplek ini kemudian direndam satu malam lagi sebelum dikukus.
Tepung singkong yang telah diaduk rata dengan (gula+air)diayak. Bagian halusnya kemudian dikukus selama 15 menit.
Pendiangan tempat mengukus thiwul. Yang unik dari usaha Yu Tum adalah penggunaan “luweng” (tungku) tradisional dan kayu bakar.
Gathot dan Thiwul yang sudah matang dan siap disajikan.
Kiri : Kelapa dikikir lebih dulu kulit luarnya
Kanan : Setelah dikikir, kelapa diparut kemudian diratakan dengan garam secukupnya.
Gathot dan Thiwul bisa dibeli masing-masing satu besek atau masing-masing setengah. Harganya Rp 12ribu per besek.

—————

Kandungan Gizi Thiwul dan Gathot

Menurut Guru Besar Ilmu Gizi Institut IPB, Prof Ahmad Sulaiman, Kandungan asam amino atau protein dalam gatot lebih besar daripada pada thiwul, karena keberadaan jamur setelah fermentasi.

Singkong atau ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu sumber karbohidrat lokal Indonesia yang menduduki urutan ketiga terbesar setelah padi dan jagung. Tanaman ini merupakan bahan baku yang paling potensial untuk diolah menjadi tepung.

Singkong segar mempunyai komposisi kimiawi terdiri dari kadar air sekitar 60%, pati 35%, serat kasar 2,5%, kadar protein 1%, kadar lemak, 0,5% dan kadar abu 1%, karenanya merupakan sumber karbohidrat dan serat makanan, namun sedikit kandungan zat gizi seperti protein.

Berikut tabel kandungan gizi singkong :

/salam singkong

sumber :

http://www.litbang.deptan.go.id/download/one/104/file/Manfaat-Singkong.pdf

Ibu Bidan Tak Hanya Urus Air Ketuban

Jangan sekali-kali meremehkan ibu bidan, apalagi ibu bidan yang satu ini. Berbagai penghargaan telah ia terima, dan berkat jasanya pula warga Desa Sambirejo, Gunungkidul mendapatkan akses air bersih.

Daerah Gunungkidul dulu sempat mengalami kekeringan yang cukup parah. Untuk mendapatkan air, warga Desa Sambirejo harus mengambil air dari sumber air terdekat yang jaraknya sekitar 2km ke arah gunung.

Sebelumnya warga menggantungkan harapan pada sendang (mata air) yang berlokasi di dalam kampung. Tetapi, entah kenapa setelah gempa Jogja 2006 lalu, air tidak mengucur lagi ke dalam sendang. Saat ini sendang berfungsi seperti sumur tadah hujan saja.

Sendang Sambirejo

Maka, tidak ada pilihan selain mengambil air dari sumber air yang jauh itu. Bukan cuma mesti jalan jauh, sampai di lokasi warga mesti antri kembali. Memang, pada akhirnya setiap warga akan mendapatkan jatah air, tetapi tidak jarang terjadi adu mulut saat mengantri.

“Iya, namanya juga sudah jalan jauh, mengantri dari jam 1-2 pagi, lalu misalnya ada yang ‘nyelak’ antrian, bisa ribut,” demikian Bidan Liestiyani Ritawati mengenang. Belum lagi jika harus mengantri air pada Bulan Ramadhan. Warga, kata dia, bukannya pendekatan pada Allah, malahan pendekatan pada AIR.

Keprihatinan Bidan Listi, demikian ia biasa dipanggil, bermula saat ia harus membantu persalinan. Proses persalinan membutuhkan air bersih agar kemungkinan terjadinya infeksi bisa diminimalkan. Bayi yang baru lahir mesti segera dibersihkan, begitu pula dengan ibu yang baru melahirkan. Tak jarang, Bidan Listi menggunakan air untuk keperluan pribadi keluarganya.

“Anak saya ke sekolah gak mandi, karena airnya saya pakai. Untung saja teman-temannya gak kebauan. Mungkin alam sudah menyatu dengan warga Sambirejo,” ujar dia terkikik.

Rumah Bidan Listi, bersebelahan dengan klinik dan sumur bor.

Ia juga mencemaskan ibu hamil yang mesti mengangkat air. “Kalau jatuh gimana, malah bahaya untuk ibu dan bayinya. Anak juga, kalau makanannya kotor nanti diare, kurus, berat badannya turun terus, malah jadi gizi buruk.”

Bidan Listi bukan warga asli Sambirejo. Ia warga Temanggung yang pindah karena tuntutan profesi.  Di Temanggung, kata dia, air berlimpah.

Wajar saja Ibu Bidan jadi frustasi, “selama empat tahun saya merasakan kekeringan, rasanya mau nangis saja,” katanya lagi. Suami Bidan Listi, Bapak Hasyim, untung saja terus menguatkan hati Ibu Bidan.

Awalnya Bidan Listi sudah mengebor air menggunakan biaya pribadi. Total dana yang dihabiskan sudah mencapai Rp 4juta dan dalamnya sumur sudah mencapai 4 meter. Tapi sayang, tidak ada air disana. Kondisi tanah Gunungkidul mengharuskan Bidan Listi mengebor jauh lebih dalam lagi, tetapi kondisi finansial saat itu sama sekali tidak memungkinkan.

Bermula dari stress kekurangan air itulah Bidan Listi berinisiatif mencari info di internet. Maksudnya, mau mencari dukungan dana.  Kebetulan saat itu Sarihusada sedang membuat program Pos Bhakti Bidan. Program ini merupakan program sosial kerjasama Sarihusada dan Ikatan Bidan Indonesia.

Proposal yang ia ajukan ternyata diterima. Ia sempat bingung dan bertanya mengapa ia bisa berhasil? Sarihusada lalu memberi alasan, ide Bidan Listi diterima karena bermanfaat bagi orang banyak.

—————

Menurunkan Angka Kematian Harus Tau Dasarnya

Bidan Listi mempunya prinsip, apapun yang ia lakukan, mesti tahu dahulu, apa dasarnya. Kesehatan dan gizi yang memburuk tidak cukup ditanggulangi dengan pemberian makanan/gizi seimbang. Harus dilihat juga, apa yang melandasi keadaan itu.

Air.. Air.. Air..

Bidan Listi sangat paham, air adalah sumber utama kehidupan. Proposal sumur bor yang ia ajukan dulu memang hanya mampu mengalirkan air ke 5 rumah saja. Tetapi, sekarang air sudah mengalir langsung ke 157 rumah.

Yang hebat, sudah ada manajemen ala PDAM untuk mengurusi air. Jadi setiap ‘pelanggan’ bisa menggunakan dan membayar sesuai hak dan kewajibannya.

Atas : Kantor PDAM Tirtamukti
Bawah : Mesin dan sumur bor buah gagasan Bidan Listi

Warga yang menggunakan jasa mesti membayar beban sebesar Rp 2500/bulan dan membayar penggunaan air sebesar Rp 2000 per meter kubik. Saat ini, kata Ketua PDAM Bapak Suyadi, warga dengan anggota keluarga di atas 5 orang rata-rata harus membayar Rp 20-25 ribu per bulannya.

“Warga memenuhi kewajibannya, gak ada yang protes. Karena semua sadar, kalau gak ada air itu susah,” kata Bapak Suyadi.

Untuk memenuhi kebutuhan air yang semakin banyak, sumur bor sudah mengalami pendalaman. Awalnya hanya sedalam 80 meter, sekarang sudah 116 meter.  Mati lampu? Jangan kuatir, PDAM  sudah memiliki mesin genset.

Sekarang seperti bunga, nama Bidan Listi begitu harum wanginya di seputaran Gunung Kidul. Prestasinya memberdayakan masyarakat malah sudah mendapatkan penghargaan dari Menko Kesra berupa “GKPM (Gelar Karya Program Masyarakat) Award 2012” untuk CSR Best Practice for MGDs.   

Senior Manajer Corporate Affairs PT Sarihusada, Arif Mujahidin menyerahkan Piagam Penghargaan Anugerah Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat Award kepada Bidan Liestiani Ritawati di Dusun Sambirejo Ngawen Gunung Kidul, Yogyakarta, 2 November 2012.

Bidan Liestiani memperoleh peringkat terbaik kedua tingkat pelaku mitra perusahaan PT Sarihusada.

Cukup air? TIDAK!

Bidan Listi juga mendorong warga sekitar, khususnya ibu-ibu PKK untuk mengembangkan sumber daya pangan lokal. Kalau sudah sejak dulu Gunungkidul punya Gathot dan Thiwul, mungkin nanti ke depannya wilayah ini akan terkenal pula dengan penganan berbahan dasar ketelanya.

Kebun ketela di depan rumah Bidan Listi

Bidan Listi mulai menanam ketela di halaman rumahnya. Ketela ini, kemudian diusahakannya bisa dikonsumsi dengan sebagai makanan yang “berbeda”. Tak lagi goreng/rebus ketela, warga Desa Sambirejo kini sudah mampu menyulap ketela jadi dua macam makanan yang tak cuma cantik, tapi juga lezat.

Ketela dikenal juga sebagai ubi rambat, ubi jalar atau mantang.   Karbohidrat ketela memiliki indeks glisemik 54 (rendah). Artinya, karbohidrat pada ketela tidak mudah diubah menjadi gula, sehingga cocok bagi penderita diabetes. Ketela merah, mengandung serat oligosakarida bertipe larut yang berperan vital untuk menyedot kolesterol “jahat” di dalam darah.

Kemarin, kami peserta jelajah gizi sempat menikmati olahan unik dari ketela, yaitu es krim ketela dan bakpao ketela. Es krim ketela rasanya manis, masih terasa bau umbi ketelanya. Bakpao ketela, yang oleh warga Sambirejo diisi dengan kacang hijau kupas, tak kalah rasanya.

Es Krim Ketela dan Bapao Ketela isi kacang hijau

Ibu Siti, salah satu warga Sambirejo bilang, Bidan Listi ini semacam malaikat. Tak cuma menghilangkan kekuatiran warga yang sedang mengandung atau melahirkan, tetapi juga mampu mengobati kekuatiran saat ada anak/warga yang sakit. “Bidan ajari kami bikin makanan sehat dan bergizi, kami beruntung Bidan Listi mau tinggal disini,” demikian katanya sembari mengucap syukur.

—————

Maka, jangan sekali-kali meremehkan Ibu Bidan Listi. Jangan pernah bilang “bidan itu harusnya mengurusi air ketuban saja”, karena ia akan marah besar.

“Itu keliru”, katanya melotot sambil menahan emosi.

—————

Sore itu, saya meninggalkan warga Sambirejo, Bidan Listi, dan “karya”nya dengan kesadaran penuh, berbuat baik bisa dilakukan asal ada kemauan, cukup kemauan. Ketika kemauan sudah ada, akan ada orang-orang baik di sekeliling dan semesta yang membantu niat itu menjadi kenyataan.

Salam hormat saya pada Ibu Bidan, semoga prestasi dan ide-ide cemerlangnya menyebar serta warga Gunungkidul semakin jaya dan makmur.

/salam