Tag Archives: ulang tahun

Selamat Ulang Tahun, Rere

Sehari kemarin, saya mengambil jarak dari semuanya. Dari keluarga, teman, juga bayang-bayang kemarin. Saya berusaha mengenal lebih baik diri saya sendiri. Memberikan waktu untuk berpikir tanpa interupsi.

Perubahan itu hal yang pasti. Beberapa menyenangkan, beberapa lagi tidak. Tumbuhnya jerawat baru atau flek-flek hitam di bokong adalah kejadian menyebalkan. Naik pangkat, dapet transferan, atau sekadar disapa laki-laki idaman, sebaliknya. Continue reading Selamat Ulang Tahun, Rere

Tiga Tahun, Sudah

Sejak punya anak, saya berusaha jadi ibu yang benar, kalaupun tidak sempurna ya setidaknya itu tadi, jadi ibu yang benar. Saya ingin anak saya punya kenangan manis jika mendengar kata ibu, ayah, dan keluarga. Kelak, jika dia besar nanti dan memilih berlari dengan kakinya sendiri, rumahnya, rumah kami akan selalu terbuka untuk dia.

Kelak, jika nanti hidup terasa pahit, perjuangan mulai terasa melelahkan, dan dia butuh tempat bersandar, dia tau kemana hendak berlari. Ada saya, ada bapaknya, yang akan menerima dia-selalu menerima dia, bagaimanapun keadaannya.

Saya tidak ingin bayi ini kehilangan tempat mengadu, membuat jarak dengan keluarga, dan berpaling sepenuhnya dari kami. Dua yang terakhir memang murni keinginan saya, pasti sakit sekali kalau ditinggalkan, apalagi kalau ditinggalkan anak.

Supaya semua berjalan sesuai keinginan saya, ada beberapa rencana yang sudah dijalankan sejak dini, diantaranya adalah melimpahi dia dengan kasih sayang, memenuhi semua kebutuhannya, mulai berlatih jadi teman buat dia, dan mendengarkan semua keluhannya.

Tidak semuanya berjalan lancar, tentu saja. Saya cukup sering emosi, kelepasan bicara dan menjerit dengan suara yang bisa bikin tetangga berbondong datang mengetuk pintu rumah. Sering, kalau saya lelah dan dia bikin ulah, saya memilih marah ketimbang bertanya baik-baik dia punya masalah apa, dan apa yang bisa saya bantu untuk mengatasi masalahnya.

Tiga tahun, sudah.

Doa saya untuk dia tetap sama seperti doa di tahun-tahun sebelumnya. Saya hanya ingin dia bahagia.

Selamat Ulang Tahun, Embun!
Selamat Ulang Tahun, Embun!

Menjelang Tiga Puluh

gambar pinjam dari sini
gambar pinjam dari sini

Apa ya rasanya tiga puluh tahun?

Teman saya bilang, kalau seseorang sudah mendapatkan undangan sunatan anak, akekahan anak, syukuran tujuh bulanan teman, artinya orang itu sudah tua!

Huhuhu, iya, memang sudah tua. Tapi semangatnya (kayaknya) masih cukup muda, sih. hahhaha

Quote hari ini dari Georges Clemenceau! 

Everything I know I learned after I was thirty.

/salam tiga puluh!

Tingkah Opet

6

Pada media apa anda menitipkan memori? Saya banyak sekali menitipkan ingatan pada otak, padahal saya sadar otak saya ini bukan main bebalnya. Ingat sebentar, lupa kemudian. Belakangan, saya mulai mencicil, menitipkan sebagian ingatan pada foto, tulisan di sini dan di sana, dan catatan suara (voice note).

Postingan ini mungkin sama sekali tak penting dibaca untuk sebagian orang, saya minta maklumnya. Beginilah kami, sebagian banyak ibu-ibu dan bapak-bapak, gemar sekali bercerita tentang anak-anak. Sama sekali tak maksud apa-apa, syukur-syukur kalau pembaca yang kebetulan mampir bisa ikut tersenyum. 🙂

——

Edisi “Terbuat dari Apa

Saya : Nak, Embun terbuat dari apa?
Embun : Eskrim.

Saya : Kalo buma terbuat dari apa?
Embun : Sayur.

Saya : Kalo buya terbuat dari apa?
Embun : Roti.

Jawaban ini bisa berganti tiap hari, tergantung mood-nya si bayi. Tapi untuk pertanyaan pertama dia hampir pasti menjawab dengan “eskrim” atau “coklat”. 😀

——

Edisi “Pinjam Bantal”

Bantal siapa?
Bantal siapa?

Kejadian satu : Daku permisi numpang ikut bobok di bantalnya si bayi. Lalu dia menjauh sambil bilang, “Susah, ma. ga muat.”

Kejadian dua : Segera setelah menjawab demikian, dia masuk ke kamar, ambil dua bantal lagi. Satu bantal dipakai untuk alas kaki, satu lagi diberikan pada saya. “Ini buat buma, ya…” kata dia sambil pukpuk bantalnya.

Kejadian tiga : Dua menit kemudian dia tarik bantal yang sedang saya pakai sambil bilang, “Ma, ini punya buya.”

Kejadian empat : Saya elus-elus dada.

——

Edisi “Buka Kulkas”

Saya lupa kapan persisnya, kurang lebih tiga bulan belakangan ini si bayi punya kemampuan untuk buka kulkas sendiri. Sebelumnya, saya perhatikan, dia memang punya semacam obsesi mendalam pada kulkas, setiap ibu-nya buka kulkas, secepat flash dia datang mendekat. Memindai isi rak demi rak, mengambil satu atau dua makanan, dan kabur.

Berapa kali? Ratusan. :|
Berapa kali? Ratusan. 😐

Karena kebisaannya itu, saya mendekor ulang kulkas, demi kebaikan dan keamanan bersama. Obat-obatan lekas saya pindahkan ke lemari.

——

Edisi “Cemilan Siapa?”

Anak saya adalah gabungan yang sempurna dari saya dan suami. Beberapa kebiasaan saya dan beberapa kebiasaan suami diadopsi begitu lekat oleh dia. Saya tidak begitu suka makanan manis seperti coklat dan cake, si bayi persis seperti bapaknya, mampu menghabiskan cake, coklat, dan es krim coklat berurutan. Ewwww…

Suami saya tidak begitu suka keju dan yoghurt. Si bayi sebaliknya, seperti saya, bisa mengudap keju batangan dan menikmati tiap tetes yoghurt.

Itu punya saya.. :'((
Itu punya saya.. :'((

——

Edisi “Tak Pandai Berbagi”
IMG-20130306-00651

Kemarin saya mengajak bayi saya main ke rumah sepupunya. Sepupunya itu adalah anak ke-4, perempuan satu-satunya. Embun, saya perhatikan kurang bisa berbagi mainan dengan sepupunya, “Ini punya Embun, ini punya Embun..” kata dia sambil meraup semua mainan yang tergeletak di lantai.

Sepupunya lain lagi, saat saya tanya ‘Ghaitsa, ini mainan siapa?” dengan bijak dia menjawab, “Punya Abang Galih.”

Kakak saya bilang, kemungkinan besar karena Embun tidak punya saingan dan teman berbagi/berebut barang di rumah. Semua yang ada, milik dia seorang.

Baiklah, sementara, ini akan jadi PR untuk saya. 😀

——

Edisi “Punya Akuuu”

8
Bayi saya tidak mengijinkan saya menggandeng, menggendong, memeluk siapapun, termasuk bapaknya sendiri. Dia akan datang pada saya, memeluk lalu lekas dan tegas bilang, “Punya akuuuu!”

Begitu pula bapaknya, tidak boleh melakukan hal yang serupa, termasuk memeluk saya.

——

Selamat ulang tahun Embun. Maaf sekali, postingan ini tertunda sebulan lebih, tetapi yakinlah cinta buma pada Embun berlebih-lebih, tumpah-tumpah, tak terhingga.

We love you, alot.
*edisi berharap bayinya bisa baca*

Di akhir postingan ini, Embun ingin berterima kasih kepada semua Oom dan Tante yang pernah datang ke rumah, pernah bilang ingin datang ke rumah, pernah kirim salam, pernah tanya-tanya soal Embun, dan yang pernah mendoakan Embun waktu embun tak enak badan.

Ini dia, Embun bernyanyi untuk semua Tik Tik Bunyi Hujan, oleh Embun

——

/salam sayang