Tak Cukup Kata

Gerimis turun pelan, dalam tiap tetesnya, ada senyummu. Rasanya ingin kutampung semuanya dalam baskom, dan kusimpan di bawah ranjang. Agar saat malam kamu bisa masuk ke mimpiku. Kita berceloteh tentang ini itu, yang sedih atau gembira.

Tentang gagalku, tentang harapanmu, tentang rencana muluk, tentang waktu yang kita habiskan berdua, dan tentang gairah. Kali lain kita bicara mudah, soal uban di rambutmu, jerawat baru yang timbul di daguku, soal makanan kesukaan, atau binatang peliharaan.

Bersamamu, tak cukup kata, ada jutaan cerita yang dengan senang hati kuceritakan, soal masa lalu, masa kini, dan masa depan. Soal cita-cita untuk bisa mencintaimu tanpa kekhawatiran. Soal pertemuan yang kunantikan.

Dengan riang akan kukisahkan ulang perasaanku. Tentang pelukan yang begitu erat, begitu lekat, dan enggan kulepaskan. Tentang ciuman yang melarutkan rangka tubuh, hingga aku harus berdiri berpegangan. Tentang tatapan yang membuatku istimewa.

Gerimis sudah berhenti, meninggalkan langit yang mulai terang dan aku yang tenggelam dalam lamunan. Harusnya hari ini kita berkasih sayang, seperti miliaran manusia lain. Berbagi bunga, hadiah, dan genggaman.

Apa kabarmu, tuan?

 

/ode rindu nomor empat belas ribu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *