Tengah Hari di Ratu Boko

Awal Maret kemarin jadi kali pertama saya ke Situs Ratu Boko. Meskipun sudah beberapa kali mampir ke Prambanan, dan ada paket langsung dari sana untuk main ke Ratu Boko, waktu selalu tidak berpihak. Kunjungan ke Ratu Boko saya lewatkan lagi dan lagi, hingga kemarin.

Bersama rombongan besar Cultural Amazing Race, Brother Indonesia, kami melawat situs yang pertama kali dilaporkan oleh Van Boeckholzt pada tahun 1790 ini. Kalau dari tulisan yang berserak di internet, Ratu Boko disarankan dikunjungi pada pagi hari atau senja. Pada waktu-waktu itu, posisi matahari dipastikan membuat situs terlihat lebih cantik.

Sayangnya kami tidak punya pilihan, matahari tepat di atas kepala saat kami melangkahkan kaki masuk ke gerbang situs yang ada pada ketinggian 196 meter dari permukaan laut dan memiliki luas sekitar 25 ha itu.

Nama Ratu Baka yang disematkan pada situs berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Baka (bahasa Jawa, arti harafiah: “raja bangau”) adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang namanya juga menjadi nama candi utama pada kompleks Candi Prambanan. Secara administratif, situs ini berada di wilayah dua dukuh, yakni Dukuh Dawung, Desa Bokoharjo dan Dukuh Sumberwatu, Desa Sambireja, Kedua dukuh ada di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Indonesia.

Dari Ratu Boko, kita bisa puas-puas memandang Gunung Merapi. Gunung yang cantik ini bisa juga dijadikan latar belakang untuk foto. ^^

Situs Ratu Boko punya taman yang bukan main luasnya. Jika ingin melepas lelah, silakan duduk di bangku yang sudah disiapkan di bawah pohon-pohon besar. Pepohonan bisa melindungi sejenak dari teriknya matahari. Berada di Ratu Boko, pikiran saya melanglang jauh ke ratusan tahun lampau. Saya membayangkan putri-putri cantik dengan kain terikat di dada, ada dayang mengikuti di belakang. Lalu kali lain ada raja yang masuk diikuti panji-panji kerajaan.

Suasana Ratu Boko yang sendu membuat imajinasi saya makin bebas terbang. Saya seperti mendengar tawa kecil putri-putri dari kolam pemandian, melihat bayang-bayang hilang dan timbul dari area gapura.

tampak belakang
tampak depan

Meskipun tidak berkunjung di waktu premium alias prime time, saya menikmati sekali pengalaman mengunjungi Ratu Boko beberapa waktu lalu. Seandainya punya waktu tidak terbatas, saya pasti akan betah berlama-lama di sini.

Entah karena apa dan bagaimana, hati saya tertinggal di Ratu Boko. Saya pastikan akan ada perjumpaan berikutnya dengan tempat ini. Duduk santai di taman sambil menikmati senja sepertinya akan menyenangkan. ^^

Sampai jumpa, Ratu Boko!

Tips ke Ratu Boko

  1. Pakai baju yang nyaman, kecuali memang niatnya mau foto prewed atau foto untuk kepentingan khusus lainnya.
  2. Pakai alas kaki yang nyaman. Kemarin saya pakai sepatu supaya enak manjatnya. Dari parkiran bus mesti naik ke pintu masuk, lumayan banyak anak tangganya, seratusan kayanya ada.
  3. Bawa bekal minum.
  4. Siapkan uang, masuk ke situs ini harus bayar Rp 25ribu/orang.
  5. Jika masuk dari Candi Prambanan, ada paket tour dengan transportasi langsung ke Ratu Boko. Perhatikan jam pergi dan pulangnya, jangan sampai ketinggalan mobil.
  6. Jika mampir di tengah hari, bawa payung dan pakai sunblock.

/salam turis

 

6 thoughts on “Tengah Hari di Ratu Boko”

  1. periode 2015-2016 lalu udah 2x ke sana. yang pertama siang2 karena ikut paketan candi prambanan itu, yang kedua sore-jelang maghrib.

    dan bener, bagus yang jelang maghrib. sendu-temaram-magis gitu deh.

    tips lain: kalo ke sini bawa anak balita/bayi, jangan bawa stroller. capek bawanya naik turun tangga. *pengalaman*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *