Tentang “Rapuh” dan “Sunyi”

Sebelum baca tulisannya sampai selesai, saya mau kasitau kalau ini bukan tulisan galau dan patah hati. Ini tulisan yang saya bikin karena beberapa kali saya ditertawakan teman, saat menggunakan dua kata ini, “rapuh” dan “sunyi” dalam kalimat.

Rapuh dan Sunyi adalah dua dari beberapa kata yang amat biasa didendangkan di kampung saya, Sumatera Utara, sana. Tetapi sepertinya agak aneh di telinga teman-teman saya di Jakarta. 

———————————————–

RAPUH

Kejadiannya begini. Saya beli keripik, keripiknya enak trus karena saya anaknya baik saya tawarin ke beberapa temen di sebelah kanan-kiri-depan-belakang.

“Kak, aku punya kerupuk, hayok dicobain kalo mau. Enak, kerupuknya rapuh!”

Lalu, grrrr.. diketawain rame-rame.
“Kayak hati aja Re, rapuh”.

Hahaha, ini kayak, uhm, bingung. Tapi terus saya jadi mikir agak lama. Bahasa, xxxx-nya rapuh ini sebenernya jamak dipakai di Medan, biasanya untuk menunjukkan ke-kriuk-an-makanan.
“Rapuh ga kerupuknya?”
“Goreng teri-nya sampai rapuh, supaya enak nanti dimakan!”

Gitu-gitu…

Nah, di sini, saya jarang banget denger “rapuh” dibahasakan untuk makanan. Lebih sering ditujukan untuk perasaan, contohnya :
“Hatinya rapuh, mantan yang lama ninggalin bekas yang lumayan parah. :(”
Iya, eh bukan curhat. :p

Pencarian menyeluruh tentang “RAPUH” di google tidak membawa kabar baik, rapuh adalah kata-kata yang cukup sering dipakai dalam lirik/judul lagu ketimbang percakapan sehari-hari.

Kalau dilihat di KBBI, berikut arti kata rapuh :

rapuh /ra·puh/ a 1 sudah rusak (patah, pecah, sobek putus): kayu yg –; 2 ki lemah, sakit-sakitan (tt tubuh): tubuhnya kecil dan –; 3 ki tidak teguh (tidak tetap pendirian dsb): pendiriannya –;

— hati 1 mudah berputus asa; lemah hati; lembik; 2 mudah tersinggung perasaannya;
— iman tidak teguh iman (pendirian); mudah tergoda; mudah terombang-ambing;
— mulut tidak dapat memelihara kata-kata; tidak dapat menyimpan rahasia;
merapuhkan /me·ra·puh·kan/ v menjadikan (menyebabkan) rapuh;
perapuh /pe·ra·puh/ n sesuatu yg merapuhkan (melemahkan dsb);
kerapuhan /ke·ra·puh·an/ n perihal rapuh; kelemahan (hati dsb)

 

———————————————–

SUNYI

Sekarang masuk ke kata kedua, sunyi.

Sunyi ini sering saya dan keluarga ucapkan untuk menunjukkan suasana hening, lowong, kosong.
“Sunyi ya kalo anak-anak udah tidur”.
“Rumahnya Kak Anu sunyi kali (sekali), ga ada orang di rumah mungkin, pulang aja lah kita.”

“Kalau ke mal jam segini, agak sunyi ya.
Waktu saya bilang begini ke teman, dia bengong terus ketawa ngakak. 😐

Hiks. Hahaha..
Di sini, di kampung Jakarta ini, sunyi punya makna yang lumayan dalam sepertinya.
Pencarian menyeluruh tentang “SUNYI” di google juga tidak berpihak pada saya. Sunyi adalah kata-kata yang jauh lebih sering dipakai dalam puisi/sajak ketimbang percakapan sehari-hari.

Pemakaian kata sunyi yang lumayan diterima contohnya sebagai berikut :
“keriput di matamu, ceritakan sunyi yang pekat.”

Kalau dilihat di KBBI, berikut arti kata sunyi :

sunyi /su·nyi/ a 1 tidak ada bunyi atau suara apa pun; hening; senyap: malam yg –; 2 kosong (tt rumah dsb); tidak ada orang; lengang; sepi: baru pukul 22.00 jalanan sudah –; rumah itu — sekali; 3 tidak banyak transaksi (persetujuan jual beli); tidak banyak pembeli (dl perdagangan): pasar uang mulai –; 4 bebas (lepas, lekang, terhindar): tiada manusia yg — dr kesalahan;

— senyap sepi sekali;
bersunyi /ber·su·nyi/ v bersunyi-sunyi;
bersunyi-sunyi /ber·su·nyi-su·nyi/ v mengasingkan diri ke tempat yg sunyi; menyendiri: rupanya ia seorang yg suka -;
menyunyi /me·nyu·nyi/ ark v menjadi sunyi;
kesunyian /ke·su·nyi·an/ n 1 perihal sunyi; keheningan; kelengangan; kesenyapan: siulan burung itu memecah – malam; 2 merasa sunyi (krn seorang diri dsb); kesepian: semenjak anak istrinya pergi, ia – 
———————————-

 

Jadi, ada yang terinspirasi bikin puisi hari ini?

/salam ranyi (rapuh & sunyi)

 

2 thoughts on “Tentang “Rapuh” dan “Sunyi””

  1. istriku kalo ngomong juga kadang ga nyambung perihal pilihan kata sama diriku..
    contohnya kata “enak”.
    buat dia, “filmnya enak.” itu understandable.
    buat diriku, “lagunya enak.” itu udah paling understandable, karena kata “enak” ga bisa dikaitkan sama mata.

    still anyway, sedikit bersyukur suka eksplorasi bahasa dan kata, pake majas dll, jadinya ya cepet ngertinya. :mrgreen:

    1. Hahhaha, pilihan kataku di rapuh dan sunyi ini bisa dimengerti ndak Bil?

      Bil, mukamu enak diliat deh. ^^
      *emang muka Billy kue keranjang*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *