Tiga Potong Kebaya

Lima bulan lalu, satu langkah aku pilih
Berusaha melupakanmu.
Bukan karena tidak cinta,
Malah karena ia begitu pekat
Dan pandanganku mulai gelap.

Hari itu, usai memelukmu,
Hati kumantapkan.
Kaki kulangkahkan.
Lalu, sebagai simbol perpisahan,
Aku membeli tiga potong kebaya.

Tiap kebaya sama modelnya,
Hanya berbeda warna.
Satu merah serupa darah
Satu putih serupa awan.
Satu lagi hitam serupa malam.

Rencananya, ketiga potong kebaya ini,
Akan kubiarkan tetap perawan.
Sampai nanti, kamu mengirimkan undangan,
Upacara pemberkatan pernikahan.
Undangan yang jadi lonceng keras,
Untukku melepaskan.

Waktunya entah kapan,
Aku tak berani bertanya.
Karena kuatku bohong saja.
Kabar darimu tentu akan buatku hancur,
Seribu kali lebih sakit dari biasanya.

Meski begitu, aku siap kapanpun.
Tak ada yang bisa kulakukan untuk menahan.
Karena toh akhirnya cinta tak mampu sendirian.
Hatimu tak bisa aku paksakan.
Hatiku tak mau kau dengarkan.

Kehadiranku di hari bahagiamu itu pasti.
Yang belum pasti, adalah warna kebaya yang kupilih.
Sepertinya nanti akan tergantung suasana hati.
Akan kukenakan merah jika aku masih marah.
Akan kukenakan putih jika aku akhirnya rela.
Dan akan kukenakan hitam, bila yang ada hanya duka.

Aku punya tiga potong kebaya.
Kusimpan baik-baik untuk kisah cinta yang penat.

/ode untuk rindu yang tak mau pergi

2 thoughts on “Tiga Potong Kebaya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *