Tiga Tahun, Sudah

Sejak punya anak, saya berusaha jadi ibu yang benar, kalaupun tidak sempurna ya setidaknya itu tadi, jadi ibu yang benar. Saya ingin anak saya punya kenangan manis jika mendengar kata ibu, ayah, dan keluarga. Kelak, jika dia besar nanti dan memilih berlari dengan kakinya sendiri, rumahnya, rumah kami akan selalu terbuka untuk dia.

Kelak, jika nanti hidup terasa pahit, perjuangan mulai terasa melelahkan, dan dia butuh tempat bersandar, dia tau kemana hendak berlari. Ada saya, ada bapaknya, yang akan menerima dia-selalu menerima dia, bagaimanapun keadaannya.

Saya tidak ingin bayi ini kehilangan tempat mengadu, membuat jarak dengan keluarga, dan berpaling sepenuhnya dari kami. Dua yang terakhir memang murni keinginan saya, pasti sakit sekali kalau ditinggalkan, apalagi kalau ditinggalkan anak.

Supaya semua berjalan sesuai keinginan saya, ada beberapa rencana yang sudah dijalankan sejak dini, diantaranya adalah melimpahi dia dengan kasih sayang, memenuhi semua kebutuhannya, mulai berlatih jadi teman buat dia, dan mendengarkan semua keluhannya.

Tidak semuanya berjalan lancar, tentu saja. Saya cukup sering emosi, kelepasan bicara dan menjerit dengan suara yang bisa bikin tetangga berbondong datang mengetuk pintu rumah. Sering, kalau saya lelah dan dia bikin ulah, saya memilih marah ketimbang bertanya baik-baik dia punya masalah apa, dan apa yang bisa saya bantu untuk mengatasi masalahnya.

Tiga tahun, sudah.

Doa saya untuk dia tetap sama seperti doa di tahun-tahun sebelumnya. Saya hanya ingin dia bahagia.

Selamat Ulang Tahun, Embun!
Selamat Ulang Tahun, Embun!

2 thoughts on “Tiga Tahun, Sudah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *