Tongkonan: Tak Sekadar Rumah Adat

Jika berkunjung ke Toraja, mampirlah sejenak untuk menikmati keindahan Tongkonan. Lalu, cari orang tua/warga tongkonan yang sedang duduk-duduk di sana, minta mereka bercerita soal tongkonan, dan sempatkan masuk ke dalam rumah adat yang jadi pusat kehidupan orang Toraja ini. Saya pastikan, setelah itu, cerita tongkonan akan meraja dan melekat di ingatan, untuk selamanya.

Tongkonan bukan cuma rumah adat. Bangunan yang disusun dari kayu ini memegang peranan yang sangat penting secara spiritual dan sosial. Ukiran dan hiasan tak sekadar elok dipandang mata, tapi menyimpan banyak cerita dan pesan untuk generasi yang ditinggalkan.

Berasal dari kata tongkon yang berarti “duduk”, tongkonan memiliki fungsi utama sebagai tempat berkumpul untuk duduk mendengarkan. Di dalam tongkonan, semua isu sosial, ekonomi, keagamaan, dibicarakan bersama. Jika ada masalah, To Parenge’ akan memanggil semua pihak yang terkait dan menyelesaikannya bersama tanpa konflik.

Bagian bawah alang (lumbung padi) ini dijadikan tempat menerima tamu dan berkumpul.

To Parenge’ adalah sebutan untuk orang Toraja dengan kasta tertinggi. Golongan bangsawan punya peranan yang sangat penting untuk membuat aturan-aturan yang harus dipatuhi seluruh warga tongkonan. Sebagai ketua pemerintahan adat tertinggi untuk kelompok kelompok adat tertentu, To’ Parenge sekaligus juga mengatur mekanisme pengolahan harta (biasanya sawah), milik tongkonan.

Bukan, tongkonan bukan hanya satu rumah adat, tapi lebih ke rangkaian beberapa bangunan sekaligus. Biasanya dalam satu tongkonan ada beberapa bangunan yang menyertai, yaitu Banua Sura’ (rumah yang diukir/rumah utama), Alang Sura’ (lumbung yang diukir), dan Lemba (lumbung tanpa ukiran).

Alang Sura’
Banua Sura’
tangga naik menuju kale banua (bagian tengah tongkonan).

Tongkonan dengan ukiran biasanya menggunakan empat warna dasar. Setiap warnanya mewakili pesan tertentu yaitu putih sebagai lambang kesucian dan kemandirian, kemudian ada kuning yang menjadi lambang kekuasaan dan keagungan, warna hitam yang paling dominan ditemui di tongkonan adalah pesan agar berani berbuat baik, dan warna merah merupakan lambang keberanian.

Jika dilihat dari segi struktur, tongkonan rumah berukir terbagi jadi tiga bagian, yaitu:

RATTIANG BANUA

Rattiang Banua adalah bagian paling atas (atap) dari tongkonan. Bagian atap ini dianggap sebagai tempat bersemayamnya puang matua (pencipta semesta). Bagian ini difungsikan juga untuk menyimpan peralatan rumah tangga, kain-kain untuk upacara dan barang berharga milik tongkonan.

tampak samping tongkonan
bambu untuk atap tongkonan

Atap tongkonan yang asli menggunakan bambu yang disusun tumpang tindih, tetapi belakangan ini cukup banyak tongkonan yang menggunakan pelapis seng.

KALE BANUA

pintu masuk tongkonan

Bagian tengah (kale banua), yang juga merupakan bagian inti inti dari tongkonan, dibagi ke dalam tiga ruangan terpisah. Setiap ruangan punya fungsi yang selalu sama di tiap tongkonan.

  • Tangdo: Bagian paling utara (paling depan) dari tongkonan ini digunakan sebagai tempat istirahat nenek, kakek, dan anak laki-laki. Ruangan ini digunakan juga untuk menerima tamu dan meletakan sesaji (persembahan).

    area istirahat terbuka di TANGDO
  • Sali: Bagian tengah di Kale Banua.  Ruangan ini dipakai untuk segala keperluan, termasuk sebagai tempat berkumpul keluarga, dapur, dan sekaligus ruang makan. Sali juga akan menjadi tempat jenazah (To’ Makula) disimpan sebelum diupacarakan.

    bagian tengah rumah (SALI), tempat diletakkannya dapur.
  • Sumbung: Bagian paling selatan dari tongkonan ini difungsikan sebagai kamar kepala keluarga. Hanya bagian ini saja dari tongkonan yang desainnya tertutup dengan pintu kecil sebagai jalan masuk.

    bagian sumbung ini cukup tertutup dan tidak sembarang orang boleh masuk

SULLUK BANUA

Bagian bawah dari tongkonan. Bagian ini biasanya digunakan untuk menyimpan alat-alat pertanian atau tempat memelihara binatang. Minggu lalu saat mampir ke tongkonan, saya menemukan bagian ini lebih sering kosong.

SULLUK BANUA

Oh iya, soal mata angin, ternyata pembangunan tongkonan harus selalu menghadap ke utara. Tujuannya agar kepala rumah menghadap dengan kepala langit (ulunna langi’) yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan.

Tongkonan memakan waktu lama dan uang yang luar biasa banyak dalam pembangunannya. Terakhir ketika berkunjung ke salah satu tongkonan di Sanggalle Utara, keluarga bilang total biaya yang dihabiskan untuk membangun tongkonan sekitar Rp 800 juta. Jangan lupakan juga pengeluaran yang dihabiskan untuk kewajiban mengadakan upacara.

Iya, Toraja mengenal dua macam upacara adat, selain upacara Rambu Solo’ yang cukup dikenal dan menjadi tujuan kunjung wisatawan (berhubungan dengan kedukaan/kematian), ada pula upacara Rambu Tuka’. Rambu Tuka’ ini berkaitan dengan syukuran, diantaranya ada syukuran rumah (mangrara banua), dan syukuran pernikahan.

Tongkonan bukan hanya rumah yang dihias ukiran cantik warna-warni. Bukan. Tongkonan adalah sistem adat masyarakat Toraja yang sepertinya dan semoga akan terus lestari.

Tongkonan Karuaya di Sangalle Utara, Toraja.

Sayang sekali karena waktu berkunjung ke Toraja yang cukup sempit, saya tidak sempat mencicipi rasanya tidur di tongkonan. Mungkin lain waktu, jika umur dan rezeki memungkinkan. ^^

/salam tongkonan

Catatan: Banyak sekali tongkonan yang ada di Toraja, lokasi paling terkenal dan cukup ramai turis adalah Ke’te Ke’su dan Pallawa. Jika ingin mampir ke tongkonan yang lebih sepi, minta pemandu wisata untuk mengantarkan ke Tongkonan Pabane dan Tongkonan Karuaya di daerah Tumpang Datu, Sangalle Utara. ^^

Sumber tulisan:
– http://torajabahasa.blogspot.co.id

6 thoughts on “Tongkonan: Tak Sekadar Rumah Adat”

  1. Ngeliat bagian rumah ini jadi inget rumah nenek di daerah SulSel juga, yaitu di Soppeng. Ah aku iriiii aku yang orang Makassar aja belum pernah ke Torajaa :))

  2. Toraja ini kok menarik sekali yaa..semakin membaca tulisan kak re makin mau melipir kesana. Semoga berjodoh dengan Toraja diliburan selanjutnya. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *